
Didalam gedung pencakar langit bernama Gervaso Tower, Danilson dan Aurora berdiri saling berhadapan disalah satu koridor gedung lantai enam puluh. Aurora saat itu memaksa Danilson untuk mengatakan apa yang terjadi pada ayah, rekan - rekan kerjanya dan juga para pegawai dibawah Arion, namun Danilson menolak mengatakan apapun selain meminta Aurora untuk bertanya sendiri pada Arion.
"Baiklah, aku akan tanyakan langsung padanya" ucap Aurora dengan nada yang terdengar begitu kesal, Danilson kembali berbalik untuk memandu Aurora sampai di ruangan Arion.
Beberapa saat ketika itu Aurora pun sampai disebuah ujung dari gedung dimana terdapat pintu yang menghubungkannya dengan ruangan Arion, Danilson berbalik untuk menatap Aurora yang masih berada dibelakangnya, dengan senyum dan gestur tangan yang sopan saat itu Danilson meminta Aurora untuk masuk dan membuka pintu itu.
"Disini ruang pribadi tuan Arion, nona Aurora sudah ditunggu jadi nona bisa langsung masuk saja" ucap Danilson dengan ramah
"Kamu tidak ikut masuk?" tanya Aurora bingung
"Danilson tidak berani untuk masuk jika tuan Arion tidak memerintahkan Danilson untuk masuk" jawab Danilson dengan nada yang ramah
Aurora menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan, setelah itu Aurora pun berjalan mendekati pintu itu dan menggenggam ganggang pintu untuk membukanya. Entah mengapa saat itu jantung Aurora berdetak sangat cepat, Aurora merasa gugup dan tegang padahal ini bukanlah pertama kali Aurora bertemu Arion.
"Nona baik - baik saja?" tanya Danilson memecah keheningan diantara mereka, mendengar pertanyaan Danilson saat itu membuat Aurora sedikit kaget sampai dia menoleh menatap Danilson yang heran.
"Aaa.. ya ya, aku baik. Hanya saja... kenapa aku jadi gugup begini ya?" sedikit bergumam Aurora mengucapkannya, Danilson hanya tertawa lalu membantu Aurora untuk membuka pintu ruangan Arion.
Begitu terbuka, yang didapati oleh Aurora adalah sebuah ruangan yang mendapatkan cahaya dari lampu - lampu berwarna kuning, tidak seperti gedung mewah khas milik CEO biasanya yang biasanya terlihat sangat terang dengan cahaya putih. Yang lebih membuat Aurora heran adalah ketika itu dia melihat seluruh jendelanya tertutupi oleh gorden - gorden mewah, padahal saat itu cahaya luar masih sangat terang.
Ruangan yang seperti itu tentu saja membosankan untuk Aurora yang terbiasa bekerja sambil menikmati indahnya pemandangan alam sekitar, ruangan tertutup dengan gorden cahaya yang redup sangat membuat Aurora tidak nyaman. Ini keanehan yang kesekian kali didapati oleh Aurora tentang Arion.
"Masuklah nona Aurora" celetuk Danilson
"Aaah... ii.. iya" timpal Aurora sembari kakinya melangkah memasuki ruangan itu, tidak lama pintu mulai tertutup.
"Aurora, disini" ucap seorang pria dengan suara yang terdengar begitu maskulin
Aurora menoleh ke kanan dan melihat Arion sedang duduk disebuah kursi meja makan yang tersedia di ruangan itu, senyumnya yang hangat membuat Arion semakin terlihat tampan. Aurora sampai tersipu malu ketika mendapatkan senyuman hangat Arion, perlahan kakinya mulai melangkah mendekati meja makan. Ketika sudah dekat, Arion mempersilahkan Aurora untuk duduk didepannya.
Sejenak Aurora masih terdiam dan melihat makanan di atas meja makan itu, semua nampak normal dan mewah. Perlahan Aurora menarik kursi dan duduk di kursi tepat berhadap - hadapan dengan Arion, kembali dengan gestur tangan Arion meminta Aurora untuk mengambil apapun menu yang sudah dihidangkan di atas meja makan itu.
Jamuan makan siang yang tampak seperti kencan mewah, Aurora yang belum pernah mengalami hal itu tentulah gugup dan berusaha untuk menutupi kegugupannya didepan Vampir tampan dan maskulin itu.
"Semoga makanan ini sesuai dengan seleramu, Aurora" celetuk Arion
__ADS_1
"Ini... lebih dari apa yang sering aku makan, apa ini tidak berlebihan tuan Arion?" tanya Aurora terbata
"Bukankah sudah aku katakan panggil aku Arion saja?" tanya Arion dengan nada yang sedikit menggoda Aurora
"Aah yah... tapi ini di kantor kan, aku juga sudah membiasakan diri untuk memanggil namamu saja selama ini" jawab Aurora, Arion pun tertawa kecil lalu kembali memberi gestur tangan agar Aurora mulai menikmati makan siang.
Aurora masih terdiam dengan tatapan mata kini menatap Arion dengan tajam, didalam kepalanya masih terbesit keinginan untuk menanyakan semua kejadian - kejadian aneh yang akhir - akhir ini menimpanya. Namun Aurora masih bingung bagaimana cara untuk bertanya agar dirinya tidak dianggap orang aneh oleh Arion, diwaktu bersamaan Arion merasa heran karena Aurora hanya diam dan menatapnya begitu tajam.
Tatapan mata Aurora kepada Arion jelas saja membuat Arion menyadari sesuatu, namun vampir yang terkenal dingin dan berkharisma itu selalu memerankan sosok dirinya dengan baik dihadapan banyak orang. Dengan nada bicaranya yang anggun dan suaranya yang berat Arion mulai bertanya kepada Aurora tentang sikap yang Aurora tunjukkan kepadanya.
"Apa ada yang salah, Aurora?" tanya Arion heran, Aurora sedikit terkejut ketika Arion memecah keheningan diantara mereka.
"Hah? eeh apa? hmm.. tidak, aku cuma sedang memikirkan sesuatu..." jawab Aurora dengan terbata
"Apa itu? mau kamu bagikan pikiranmu itu denganku?" tanya Arion, sejenak Aurora terdiam agar hatinya semakin yakin untuk menanyakan semua kejadian aneh yang dirinya alami.
"Sebenarnya aku ingin bertanya hal aneh, mungkin kamu juga akan tertawa ketika mendengarkan pertanyaanku ini..." jawab Aurora lalu dia menggantung kalimatnya untuk menunggu reaksi dari Arion.
"Katakan saja, aku akan menjawab sebisaku" timpal Arion
Menyiapkan mental dengan baik, Aurora dengan raut wajah yang mulai bingung dan sedih memberanikan diri bertanya kepada Arion tentang sikap Diego yang aneh hari ini kepadanya. Jantungnya yang kembali berdegup kencang karena cemas hal itu akan membuat Arion marah semakin menambah kecemasan Aurora Varsha. Tentu saja Aurora takut hal itu sangat lancang untuk ditanyakan oleh seorang bawahan kepada atasannya, namunĀ rasa penasaran Aurora sudah tidak terbendung lagi dan membuatnya nekad untuk bertanya kepada Arion dengan keberanian diri yang hanya tiga puluh persen.
"Tidak, kenapa dengan ayahmu?" tanya balik Arion
"Yaah... kamu tahu, ayahku itu orang yang periang dan selalu heboh. Namun setelah pertemuan denganmu... dia berubah seratus delapan puluh derajat, dia menjadi lebih pendiam, melamun sepanjang hari, dan selalu... memuji - muji dirimu..." jawab Aurora sedikit terbata, Arion hanya terdiam dan menatap Aurora dengan wajah datar.
"Aaah tidak... bukan maksudku seharusnya ayah menjelek - jelekkan namamu!" agak panik Aurora mengatakannya karena saat itu Aurora menganggap Arion sedang tersinggung dengan perkataannya
"Tidak apa, lanjutkan saja" timpal Arion
"Maksudku... ayah biasanya selalu menjelek - jelekkan setiap pria yang ingin bertemu denganku, dia terlihat cemburu ketika anak gadisnya didekati oleh pria asing yang tidak dia kenal..." belum selesai Aurora berkata, Arion memotong.
"Ayahmu pasti mengenalku dengan baik, aku Arion Gervaso. Siapa yang tidak tahu namaku?" timpal Arion terdengar sedikit sombong, sejenak Aurora terdiam namun matanya tetap menatap Arion dengan tajam.
Benar, siapa yang tidak tahu dengan Arion Gervaso. Pengusaha kaya raya yang tampan dan juga terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tertutup, tentu saja semua orang tahu akan sosok itu. Tapi Aurora yakin sosok seperti itu tidak akan mempengaruhi sikap Diego terhadapnya, karena Diego akan selalu cemburu dengan semua pria yang selalu mendekati dirinya itu.
__ADS_1
"Aku tahu itu... tapi itu tetaplah bukan kebiasaan ayah, aku sangat mengenal ayahku dengan baik dan dia berubah sejak bertemu denganmu" ucap Aurora setelah sebelumnya dia terdiam beberapa saat
"Maaf, aku tidak tahu harus menjawab apa karena aku tidak paham apa yang terjadi pada ayahmu" ucap Arion terdengar menyesal atas apa yang terjadi pada Diego, seketika itu Aurora mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Arion.
"Baik, bagaimana kalau pertanyaan selanjutnya?" tanya Aurora pada Arion, kali ini nada bicara Aurora sedikit meninggi dari biasanya.
"Katakan" timpal Arion singkat
"Kenapa ruang ini begitu tertutup? apa kamu alergi sinar matahari atau.... kamu takut sama sinar matahari?" tanya Aurora sedikit menekan, Arion hanya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya suara helaan nafas terdengar.
Naluri seorang wartawan dari Aurora Varsha terpancing dengan semua hal yang membuatnya penasaran, Arion terlihat menahan diri untuk tertawa melihat sikap Aurora yang seperti sedang mewawancarai dirinya dengan banyak pertanyaan. Sang Vampir itu harus mempertahankan citra dirinya dihadapan Aurora dengan bersikap biasa saja.
"Aurora, ini lantai enam puluh. Sinar matahari akan sangat menyengat keruangan ini jika gorden itu tidak menghalanginya, aku memang sengaja menutupnya disaat siang hari sampai sore menjelang ketika matahari akan terbenam. Aku rasa semua pemilik gedung pencakar langit akan memahami apa yang aku lakukan" jawab Arion
"Oke... lalu kenapa sekertaris yang kamu berikan padaku seperti boneka hidup? dia memang membantuku dalam segala hal, tapi dia terlihat seperti robot yang kamu program untuk selalu memujimu. Apa yang sebenarnya kamu lakukan padanya?" tanya Aurora lagi masih dengan nada yang begitu menekan
"Aku sengaja mengirim Revana untuk membantu pekerjaanmu karena dia sangat profesional dalam pekerjaannya, selain itu aku tidak punya jawaban apapun untuk pertanyaanmu tentang Revana yang selalu memujiku. Mungkin aku memang pantas untuk mendapatkannya" jawab Arion, namun kali ini Arion mulai menunjukkan bahwa dia sudah gerah dengan semua pertanyaan Aurora.
Aurora sebenarnya paham betul jika Arion mulai jengah dengan semua pertanyaan - pertanyaan itu, tapi bagi Aurora ini adalah kesempatan yang baik untuk mencari tahu tentang semua kejadian aneh yang menimpanya akhir - akhir ini. Aurora tidak ingin membuang - buang kesempatan emas, dia tidak ingin mempedulikan apapun selain berusaha mencari jawaban atas pertanyaannya.
"Apa itu termasuk pekerja lama di kantorku? itu aneh, mereka bahkan tidak mengenalmu selain dari berita" tanya Aurora lagi
"Aku tidak tahu ada apa dengan mereka, hanya ada satu jawaban jika aku memang pantas mendapatkan banyak pujian dari semua kerja kerasku! apa kamu tidak merasakan jika aku pantas mendapatkannya?!" agak membentak Arion menjawab pertanyaan Aurora sampai membuat Arion berdiri dari duduknya, seketika itu suasana ruangan itu menjadi canggung.
Aurora terdiam menatap wajah Arion yang terlihat emosi padanya, saat itu Arion kembali mempersilahkan Aurora untuk menikmati hidangan makan siang yang sudah ada di atas meja. Sejenak Aurora menatap hidangan itu lalu mengambil beberapa kue dan segera memakannya, melihat Aurora mulai menikmati hidangan itu membuat emosi Arion sedikit mereda.
Arion pun duduk kembali sembari menatap Aurora yang menikmati kue yang dia ambil, mereka saling terdiam dan tidak ada yang ingin untuk memulai obrolan sampai akhirnya Aurora telah menghabiskan kue yang ada ditangannya lalu mulai meminum air yang ada didekatnya. Ketika selesai meminum air dari gelas didekatnya, ketika itu Aurora kembali menatap Arion dengan tajam.
"Arion... kamu benar - benar tidak ingin memberitahu apa yang terjadi padaku?" tanya Aurora menekan Arion
"Keluar!" bentak Arion saat itu, suara bentakannya sampai menggema di seluruh ruangan.
"Baik, terima kasih atas jamuannya" timpal Aurora lalu berdiri dari duduknya, dengan sedikit menunduk Aurora memberikan ucapan terima kasih pada Arion.
Setelah menunduk dan memberikan ucapan terima kasih, Aurora pun mulai melangkah untuk meninggalkan ruangan Arion. Hingga sampai di pintu, sebelum Aurora menggenggam ganggang pintu ketika itu Aurora kembali berbalik dan menatap Arion yang masih tetap duduk ditempatnya.
__ADS_1
"Aku akan mencari tahu sendiri apa yang terjadi" celetuk Aurora ketika itu
Sesaat setelah itu Aurora kembali berbalik dan keluar dari ruangan Arion, sedangkan Arion langsung membuang semua makanan di atas meja dengan sapuan tangannya yang begitu kuat. Arion terlihat begitu marah atas apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Aurora.