Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Kecurigaan Aurora


__ADS_3

Malam yang dingin dan sunyi di atas sebuah gedung pencakar langit yang biasa disebut Tower Gervaso, dua vampir dengan wujud asli mereka masing - masing kini bertarung secara brutal dan membabi buta, Arion dan Jerome dengan bentangan sayap mereka yang besar serta badan mereka yang tidak tertutup oleh baju menunjukkan otot keduanya yang kekar dan badan yang atletis saling balas pukulan, tendangan, dan banting namun mereka terlihat saling menahan kekuatannya masing - masing agar tidak menarik perhatian orang - orang disekitar mereka. Tatapan keduanya dengan mata merahnya menunjukkan amarah yang sangat penuh dendam, bibir keduanya yang sesekali menarik nafas hingga menimbulkan bunyi seperti mengendus dan menampakkan taring itu kental sekali dengan pertarungan vampir.


Braak... Satu pukulan telak pada titik fital berhasil membuat Arion terkapar, pukulan yang Jerome hantam kan pada perut Arion sangat keras hingga kemenangan seakan tampak menjadi milik Jerome. Tetesan darah mengalir deras dari mulut Arion yang sudah terkapar karena kalah oleh Jerome, menahan sakit yang begitu hebat membuat tubuhnya kini kembali seperti wujud manusia. Jerome yang melihat hal itu dengan cepat merubah wujudnya dan dengan kecepatan geraknya, satu kaki milik Jerome sudah berada di atas dada bidang Arion Gervaso.


"Apa kau sudah sadar Arion?!" bentak Jerome pada Arion


Tidak akan ada ampun untuk Arion, Jerome yang geram dengan cara Arion menarik perhatian Aurora merasa tindakan Arion tidak bisa di terima.


"Uhuk... uhuk... hah... hah... persetan denganmu, Jerome!!" bentak Arion, mendapat bentakan itu membuat emosi Jerome kembali naik. Jerome mengangkat kaki yang dia gunakan untuk menginjak dada Arion, lalu menghentakkan dengan keras kembali ke dada Arion sampai Arion meronta kesakitan.


"Apa kau sudah sadar atas kesalahanmu, Arion?!!" bentak Jerome lagi pada Arion, namun Arion tidak sanggup untuk menjawab bentakan Jerome karena nafasnya terengah - engah.


"Kita sudah berjanji untuk bersaing sebagai manusia tanpa melibatkan sosok kita sebenarnya!! kenapa kau langgar janji diantara kita?!!" bentak Jerome lagi, Arion tertawa terbahak - bahak sampai dirinya batuk dan memuntahkan darah lagi.


"Haah... sepertinya kehidupan keras yang kamu lalui selama ini membuatmu jauh lebih kuat dariku" celetuk Arion dengan sedikit suara tawa, perkataan Arion kembali mematik emosi Jerome. Kakinya dia hentakkan kembali ke dada Arion, hal itu membuat Arion kembali merintih kesakitan.


"Arion, aku tidak marah dan menyimpan dendam ketika kamu membuat fitnah sampai aku dimasukkan ke penjara karena itu memang cara manusia untuk menyingkirkan saingan... tapi menghipnotis semua orang yang ada di sekeliling Aurora agar menaikkan nama baikmu dihadapan Aurora, kamu tahu seberapa takutnya Aurora melihat ayahnya bersikap seperti boneka?!!" bentak Jerome


"Itu karena kemampuan curang mu!! dari dulu klan mu punya imunitas lebih tinggi terhadap sinar matahari dan klanmu menggunakan kelebihan itu untuk menyerang kami!!! Sekarang kamu juga melakukan hal sama untuk merebut Aurora dariku!! semua karena kamu selalu memiliki lebih banyak waktu bertemu Aurora, kamu lebih dulu curang, Jerome!!" bentak Arion pada Jerome


Jerome pun terdiam mendengar perkataan Arion karena apa yang dikatakan Arion adalah kebenaran, dirinya sebagai keturunan terakhir dari klan Galant memang memiliki daya tahan terhadap sinar matahari lebih baik daripada Jerome yang merupakan keturunan terakhir dari klan Gervaso. Secara tidak langsung memang sejak awal Jerome telah memanfaatkan kemampuan khususnya untuk memenangkan hati Aurora, ketika itu Jerome dapat memahami mengapa Arion sampai berbuat sejauh itu demi mengalahkannya.


Kaki yang sejak tadi Jerome injakkan pada dada Arion kini terlepas dengan pelan, Jerome perlahan berjalan menjauhi Arion yang masih terkapar. Dengan sisa kekuatannya Arion berdiri dan berusaha menyembuhkan dirinya dari cidera yang diderita paska pertempurannya dengan Jerome, tatapan mata Arion tertuju pada punggung Jerome yang berdiri tepat ditengah gedung sembari menatap langit gelap malam itu.


"Mungkin kamu ada benarnya, aku tidak sadar memanfaatkan kemampuan khusus ku yang tidak kamu miliki untuk mendekati Aurora" celetuk Jerome


"Aku tidak sepenuhnya melanggar perjanjian darah kita, aku hanya memanfaatkan satu kemampuan khusus ku untuk mengimbangi kemampuanmu. Jika kau ingin pertandingan yang adil, minta Aurora untuk membawa bawang pada siang hari" timpal Arion menantang Jerome, mendengar perkataan Arion saat itu membuat Jerome berbalik untuk menatap mata Arion.


Antara Arion dan Jerome memang terlahir dari ras vampir dengan klan yang berbeda, masing - masing dari mereka memiliki kemampuan tersendiri. Kelebihan Jerome dari klan Galant yang lebih tinggi imunitas terhadap matahari membuat Arion iri, karena itulah Jerome bisa bebas berkeliaran di siang hari dengan pengamanan dari pakaian yang Jerome kenakan sementara Arion harus membuat ruang kerjanya tidak tersentuh sinar matahari sedikitpun karena hal itu akan membakar tubuh vampirnya. Namun bukan berarti Arion tidak memiliki kelebihan karena dibandingkan dengan Jerome, Arion lebih tahan dengan aroma bawang putih.


"Kau bodoh ya, Aurora akan mengetahui identitas kita kalau aku atau kamu meminta hal aneh itu secara tiba - tiba" dengan nada yang terdengar mengejek Jerome menimpali ide Arion, Arion pun tertawa kecil mendengar ejekan dari Jerome.


"Bagaimana pun itu aku minta kamu lepaskan orang - orang disekitar Aurora dari pengaruh hipnotis mu, kamu tidak tahu seberapa takutnya dia melihat orang - orang yang dia kenal bersikap aneh" ucap Jerome lagi sedikit menekan, Arion terdiam sejenak lalu dia mengernyitkan dahinya menatap Jerome dengan tajam.


"Dengan begitu kamu bisa lebih leluasa mendekati Aurora pada saat matahari terbit? apa kamu pikir kamu bertanding secara adil?!" tanya Arion dengan bentakan


"Arion, aku tahu kamu akan berjuang mati - matian untuk mendapatkan Aurora karena dia adalah satu - satunya ras manusia yang mungkin bisa memberikan keturunan untuk kita ras vampir. Tapi tidak bisakah kamu menerima kenyataan jika ras kita memang sudah saatnya punah karena kebodohan pendahulu kita?" tanya Jerome


"Kamu juga akan melakukan hal yang sama kan?! jangan bodohi aku dengan perkataan bodoh mu itu!!" bentak Arion


"Aku mendekatinya karena ingin melindungi Aurora darimu!! jangan samakan aku denganmu!!" bentak balik Jerome


"Hah!! kau pikir aku percaya?!" ucap Arion

__ADS_1


Aurora Varsha, sang gadis pemilik darah suci itu berhasil membuat dua vampir tampan itu bertarung demi kepentingan keduanya. Hanya Aurora satu - satunya pemilik darah suci yang tersisa, tentu saja keberadaannya menjadi sasaran bagi vampir yang akan punah.


"Arion... sudah berapa manusia yang kamu korbankan untuk mencari wanita yang mampu menjadi penampung janin vampir?" sindir Jerome, seketika itu Arion terkejut dan terdiam seribu bahasa.


"Hmp... ratusan ya, apa kamu tahu berapa manusia yang aku korbankan selama ini?" tanya Jerome lagi, namun Arion tetap hanya terdiam.


"Tidak ada, aku sudah menerima takdirku untuk punah Arion!!" ucap Jerome dengan berteriak


"Bohong!! jangan membohongiku Jerome!!! Andai saja aku punya kemampuan membaca pikiran sepertimu, aku tentu sudah mengetahui kamu berbohong!!!" bentak balik Arion


"Kemari dan hipnotis aku dengan kemampuanmu, minta aku untuk mengatakan apa aku sedang jujur atau tidak" tantang Jerome, namun saat itu Arion hanya terdiam.


"Tidak berani ya? kemampuan hipnotis mu itu mutlak dan tidak mampu untuk dipatahkan, aku pasti tidak akan mampu untuk berbohong saat aku ada dalam kendalimu" ucap Jerome


"Tapi pada akhirnya kamu dapat mematahkan hipnotis ku, sepertinya memang kamu berkembang jauh lebih kuat dariku sekarang" timpal Arion datar, Jerome tersenyum sinis lalu hendak melompat dari tempat itu.


"Satu pesanku Arion, lepaskan pengaruh hipnotis mu dan aku tidak akan menemui Aurora saat matahari masih terbit agar semua menjadi impas dan adil. Jika aku masih melihatmu menggunakan kemampuan konyol mu itu lagi disekitar Aurora, aku akan benar - benar membunuhmu" celetuk Jerome lalu dia menjatuhkan tubuhnya dari puncak tower itu


Tidak lama Arion melihat Jerome berubah wujud menjadi wujud manusia kelelawarnya dan terbang menjauhi Gervaso tower, saat itu Arion nampak marah lalu memukul lantai dihadapannya dengan cukup keras sampai tower itu bergetar.


"Sialan kau Jerome!!" teriak Arion melepaskan rasa kesalnya


Malam berganti pagi, di rumah keluarga Varsha terlihat Aurora terbangun dari tidurnya. Aurora saat itu teringat kata - kata Jerome yang mengatakan jika Diego akan sedikit ling lung pagi ini karena efek samping penyembuhan yang dilakukan oleh Jerome, dengan terburu - buru Aurora bangkit dari tidurnya lalu keluar kamar untuk mencari keberadaan Diego.


Mendengar ayahnya bersenandung lagu favorit membuat harapan Aurora atas kondisi Diego berangsur normal pun tinggi, perlahan Aurora berjalan mendekati Diego dengan penuh keraguan. Hatinya masih belum siap jika menerima kenyataan kalau ayahnya masih belum normal kembali, tapi Aurora tidak memiliki pilihan lain selain mencoba kemungkinan ini.


"Aa... ayah..." sapa Aurora terbata, perlahan kepala Diego memutar menoleh Aurora yang berada dibelakangnya. Sorot mata Diego saat itu terlihat datar, bersamaan dengan sorot mata Diego saat itu hati Aurora terasa sakit.


"Waah anak gadis ayah sudah bangun, tumben bangun sendiri" sapa balik Diego dengan sedikit suara tawa yang terdengar, Aurora pun terkejut karena respon ayahnya berbeda dari kemarin.


"Ba... bagaimana keadaan... ayah?" tanya Aurora lagi, Diego terdengar menghela nafasnya.


"Encok, tubuh tua ayah sudah tidak sekuat dulu. Banyak sendi - sendi yang juga terasa sakit" keluh Diego, mendengar jawaban itu membuat Aurora menangis terharu.


Aurora begitu senang melihat ayahnya sudah kembali normal, Aurora berlari memeluk erat tubuh Diego dari belakang dengan air mata yang bercucuran deras.


"Aurora?! ada apa nak?! kenapa tiba - tiba kamu menangis?! apa ada orang kantor yang menyakitimu?! atau tetangga kembali menghinamu?!! katakan pada ayah, ada apa?!!" tanya Diego panik, Aurora menjawab semua pertanyaan Diego dengan gelengan kepala.


"Tidak ayah... aku hanya senang melihat ayah kembali normal... aku senang" jawab Aurora yang masih terharu


"Hah?! ayah ini normal dari dulu, emang sejak kapan ayah tidak normal?!" terdengar heran saat Diego mengatakannya, Aurora tiba - tiba terdiam lalu melepaskan pelukannya.


"Ayah... tidak tahu apa yang terjadi?" tanya Aurora bingung, Diego berbalik dan menatap Aurora dengan ekspresi wajah bingung juga.

__ADS_1


"Memang apa yang terjadi? bukannya tidak ada hal apapun beberapa hari belakangan ini?" tanya balik Diego terdengar begitu heran


Untuk sejenak Aurora hanya terdiam sembari memikirkan apa yang sedang terjadi, Diego seperti hidup di dunia pararel seakan ketika Diego bersikap aneh dan mengira semuanya menjadi baik - baik saja. Kali ini Aurora bingung harus berkata apa, tapi ketika itu ada hal yang sangat mengulik keingintahuan Aurora pada ingatan Diego beberapa hari ini.


"Ayah... apa ayah ingat apa pekerjaanku sekarang?" tanya Aurora sedikit menekan dan cenderung memancing ingatan Diego


"Kamu... wartawan di media tidak terkenal itu kan?" tanya balik Diego mencoba memastikan jika jawabannya benar, Aurora terkejut mendengar jawaban Diego.


"Selama beberapa hari ini, apa yang ayah ingat?!" tanya Aurora lagi sedikit menekan, kepanikan dari pertanyaan Aurora semakin menambah kebingungan Diego yang dia tampakkan dari ekspresi wajahnya.


"Apa ya...? tidak ada yang aneh... kamu bekerja setiap pagi, pulang menjelang senja, aku masih dengan aktivitasku begitu pula denganmu... semua berjalan normal..." jawab Diego terbata


Jawaban Diego membuat Aurora yakin jika selama beberapa hari belakangan ini Diego seperti hidup dalam dunia paralel dimana semua berjalan normal bagi Diego. Sejenak Aurora terdiam dan memikirkan tentang bagaimana cara untuk menjelaskan kepada Diego jika terjadi keanehan dalam hidup Aurora beberapa hari belakangan ini, termasuk keanehan yang sebenarnya ditunjukkan Diego dihadapannya.


"Aurora... ada apa? apa aku mengatakan hal aneh?" tanya Diego memecahkan keheningan diantara mereka berdua


"Ayah... kehidupan tidak berjalan normal sejak kedatangan Arion ke rumah ini, apa ayah ingat Arion datang ke rumah kita?" tanya Aurora lagi, seketika itu Diego nampak sangat terkejut mendengar perkataan Aurora.


"Arion datang ke rumah kita?!! apa kamu menjamunya dengan baik?!! apa dia berniat menangkap ku?!! kenapa aku tidak tahu Arion datang ke rumah kita?!!" Diego membombardir Aurora dengan begitu banyak pertanyaan, kepanikan Diego membuat Aurora yakin jika Diego benar - benar hidup dalam dunia pararel selama beberapa hari belakangan ini.


Diego memang ayah yang menyebalkan dengan pemikirannya yang aneh bagi Aurora, namun Aurora sangat menyayangi ayahnya itu. Sejak kepergian ibunya diusia Aurora yang masih sangat kecil, hanya Diego lah yang Aurora miliki. Keanehan yang terjadi pada Diego membuat Aurora bersedih. Selama ini Aurora sangat terganggu dengan pemikiran Diego tentang Vampir, namun kejadian yang menimpanya belakangan ini membuat Aurora merasa jika Diego mungkin benar.


"Itu sudah tidak jadi masalah, ayah. Ada yang lebih penting daripada hilangnya ingatan ayah" timpal Aurora dengan tegas, Diego mengernyitkan dahinya dan menatap Aurora dengan tajam.


"Apa itu?" tanya Diego


"Pertama, semua keanehan terjadi sejak kedatangan Arion ditambah ayah meyakini jika Arion adalah vampir. Kedua, Jerome bisa menyembuhkan ayah dari keanehan yang ayah alami dan antara Jerome dan Arion terlihat saling mengenal... aku yakin Jerome tahu jika Arion adalah vampir" jawab Aurora, mendengar perkataan Aurora membuat Diego menatap Aurora dengan ekspresi heran dan juga kaget.


"Kamu... jadi terdengar seperti ayah..." timpal Diego terbata


"Ayah~ ini serius.... aku jadi berpikir jika Arion adalah vampir dengan kemampuan khusus untuk memanipulasi pikiran manusia. Aku butuh semua hasil penelitian ayah selama ini, aku harus mencari tahu semua yang terjadi" dengan nada kesal Aurora mengatakannya


"Kalau begitu kamu harus membawa bawang putih, benda - benda yang terbuat dari perak dan juga selalu menemui Arion ditempat - tempat yang disinari matahari" ucap Diego


"Kenapa seperti itu?" tanya Aurora


"Seperti katamu tadi, vampir memang memiliki kekuatan khusus sebagai kelebihan, tetapi disisi lain vampir memiliki kelemahan yang fatal yaitu sinar matahari, bawang putih dan benda - benda yang terbuat dari perak" jawab Diego


"Perak bukan benda yang murah untuk didapat, tapi jika bawang putih dan sinar matahari.. aku bisa mengusahakan sesuatu..." timpal Aurora


"Kemari lah, ayah akan jelaskan semua hal - hal yang berbau vampir padamu" ajak Diego


Diego mengajak Aurora untuk memasuki ruang perpustakaan keluarga yang dimiliki Diego, disana Diego memberikan beberapa buku kepada Aurora agar Aurora paham ciri - ciri vampir, cara terhindar darinya, dan juga efek - efek yang akan terjadi jika bersinggungan dengan vampir. Begitu seriusnya Aurora mempelajari hal - hal berbau vampir itu, hal itu membuat Diego menjadi senang karena akhirnya anaknya percaya atas keberadaan ras vampir ditengah - tengah kehidupan mereka.

__ADS_1


__ADS_2