
Sore yang melelahkan bagi Aurora dimulai kembali, kali ini bukan tubuhnya yang lelah melainkan pikirannya. Perkataan Arion seperti menembus pertahanan di kepala Aurora tentang penilaiannya terhadap Jerome, pikiran Aurora mulai dilema dan memikirkan setiap ucapan Arion dengan cermat. Membiarkan logikanya bermain dan mengabaikan perasaannya, Aurora Varsha memejamkan matanya untuk mencari ketenangan.
"Siapa yang lebih jahat, Aurora? aku yang hanya ingin membangun kembali ras ku atau dia yang ingin memanfaatkan darah suci agar dia hidup lebih kekal dari yang seharusnya?" tanya Arion masih dengan gaya duduknya yang terkesan sombong itu menekan Aurora, seketika itu Aurora merasa bimbang.
Kepercayaan Aurora terhadap Jerome mulai runtuh, pertanyaan benarkah vampir baik hati yang selalu ada untuknya dan bahkan hari itu telah memberikan kado yang indah serta bukti perlindungan kepada dirinya adalah vampir yang jahat mulai berkecamuk. Hatinya ingin menolak namun kenyataan yang Arion utarakan bukanlah hal yang bisa disepelekan. Aurora membenci harinya saat itu, kejadian hari itu lebih menyebalkan dibandingkan dengan semua orang yang bertingkah seperti robot.
Menyaksikan Aurora dan Arion berdebat membuat Diego berpikir keras, Arion yang menyebut putrinya itu adalah gadis pemilik darah suci membuatnya tidak menyangka akan fakta tentang anaknya itu. Diego menyadari jika hal itu membuat Aurora menjadi incaran bagi ras vampir. Mendengar pertanyaan Arion tentang siapa yang lebih jahat antara dia dan Jerome membuat Diego marah, tidak ada satupun diantara mereka yang baik untuk Aurora bagi Diego.
"Kalian sama buruknya, aku tidak ingin menyerahkan anakku baik kepadamu atau kepada Jerome!" agak membentak Diego menjawab pertanyaan Arion setelah sebelumnya hanya mendengarkan Aurora dan Arion berdebat.
"Kamu tidak ingin melihat Aurora menikah, Diego?" tanya Arion
"Aku ingin melihatnya menikah, tapi tidak dengan ras vampir sepertimu! Mengandung anak vampir tentu akan menyiksanya, aku tidak ingin melihat anakku tersiksa" jawab Diego dengan tegas
Tidak ada satu ayah pun yang menginginkan putrinya menikah dengan vampir, begitu juga dengan Diego. Ketertarikannya terhadap dunia vampir hanyalah sebatas untuk mencari kebenaran bahwa sosok itu nyata dan ada di dunia. Kenyataan bahwa Aurora memiliki darah suci membuat Diego sangat mencemaskan keselamatan Aurora, dengan pengetahuan yang dimilikinya tentu saja Diego tahu benar jika mengandung anak vampir adalah hal yang buruk bagi Aurora yang merupakan manusia.
"Itulah keistimewaan dari darah suci" timpal Arion dengan serius.
Sorot mata vampir itu tajam menatap Aurora dan Diego secara bergantian, kemudian Arion berdiri dan merogoh saku didalam jasnya. Sebuah buku berwarna hitam dengan tulisan berwarna merah dilemparkannya keatas meja dengan pelan. Gerak tubuhnya mengisyaratkan Diego dan Aurora untuk membaca buku itu lalu Arion kembali duduk dengan kaki yang menyilang serta satu tangan yang kembali dia letakkan ditepian sofa.
Sebuah buku yang berhasil menarik perhatian Diego, buku yang sangat Diego cari selama ini. isi Didalam buku itu tertulis lengkap segalanya tentang ras vampir, Diego sempat ragu akan mengambil buku itu sampai Arion memberi gestur tangan agar Diego mengambilnya.
"Buku apa itu?" tanya Aurora yang sedari tadi berkutat dengan pikirannya yang kalut sampai - sampai membiarkan perdebatan antara Diego dan Aurora terjadi.
Diego lah yang menjawab pertanyaan Aurora, mata Diego terbelalak melihat buku yang berada didepannya. Sangat terlihat bahwa Diego mengetahui buku itu berisi tentang sesuatu yang berharga.
"Buku ini adalah buku legendaris ciptaan seorang ras manusia yang meneliti semua hal tentang vampir! ini adalah buku yang sudah hilang ratusan tahun lalu, bagaimana caramu memiliki buku ini?" seru Diego takjub.
Melihat Diego dengan antusiasnya membuat Arion seperti memiliki kesempatan untuk mempengaruhi Aurora melalui Diego. Arion tahu betul gadis cantik pemilik darah suci incarannya itu sangat mencintai ayahnya, kesempatan yang bagus menjadikan Diego berada di pihaknya.
Arion... sang vampir tampan yang sangat kaya raya itu memanglah selalu melakukan cara yang licik dengan kekuasaan yang dimilikinya. Dia tidak akan membiarkan siapapun yang menghalangi keinginannya untuk mendapatkan sesuatu yang dia mau.
"Itu milik ibuku dan buku itu adalah satu - satunya buku tentang vampir yang valid yang masih tersisa di dunia, disana kamu bisa menemukan cara untuk mengalahkan vampir meski kamu adalah ras manusia. Karena buku itu ada kejadian langka dimana klan ku dan klan Jerome saling bekerjasama untuk memusnahkan buku itu dari bumi" jawab Arion dengan tegas tanpa keraguan sedikit pun, sejenak Arion menghela nafas sebelum dia melanjutkan ceritanya.
"Buku itu dibangun oleh kakek Jerome bersama seorang manusia, bagi ras vampir apa yang dilakukan kakek Jerome adalah pengkhianatan. Atas pengkhianatan itu, kedua klan memberi hukuman setimpal kepada kakek Jerome yang dinyatakan bersalah. Itu satu - satunya kerjasama antar klan yang pernah terjadi di dunia vampir, Jerome pasti tahu sejarah itu" ucap Arion
Mendengar jika buku itu memiliki cara untuk mengalahkan vampir, membuat Aurora terkejut. Informasi yang didapatkan oleh Aurora dari Jerome adalah ras manusia tidak akan pernah bisa mengalahkan ras vampir, Jerome seakan menjelaskan bahwa Aurora hanya bisa pasrah ketika dirinya menjadi incaran vampir.
Kemarahan Jerome dengan wujud aslinya di perbukitan pagi itu membuat Aurora menduga bahwa itu hanya sebuah pembuktian jika vampir begitu kuat dan Aurora tidak akan mampu melawan, dan sandiwara itu dilakukan oleh Jerome hanya sebagai alat untuk menakuti Aurora.
Dengan pikirannya yang kalut, Aurora sangat ingin agar Jerome berada disisinya. Aurora berharap Jerome mampu membaca pikirannya dan membuktikan kalau semua yang Arion katakan adalah kebohongan. Aurora masih berharap bahwa Jerome memanglah vampir yang tulus dan baik, Aurora bahkan juga berharap jika Arion bisa memiliki ketulusan hati yang sama dengan Jerome. Pertempuran kedua vampir tampan itu bukanlah hal yang diingkan oleh Aurora.
"Apa Jerome mengatakan jika ras kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan ras vampir? jika itu benar, maka Jerome sedang membohongimu" celetuk Arion memecah keheningan sesaat diantara mereka bertiga.
"Mungkin Jerome tidak tahu tentang buku ini" timpal Aurora terdengar seperti gumamam
Tawa sang vampir itu pun menggema diruang tamu Aurora varsha. Tanpa merespon apapun yang Aurora katakan, Arion seakan menegaskan jawabannya dengan tawanya itu.
"Arion... kenapa kamu memberikan buku ini?" tanya Diego yang semakin tertarik dengan sejarah vampir.
__ADS_1
"Karena aku ingin memiliki kepercayaan Aurora, aku ingin dia menjadi pendampingku dan jika aku macam - macam kepadanya... aku ingin Aurora punya kekuatan untuk membunuhku.. apa itu setimpal, Aurora?" jawab Arion terdengar begitu tulus, ketulusan Arion semakin membuat Aurora bimbang tentang siapa yang sebenarnya sedang berniat jahat padanya.
Keheningan terjadi, ketiganya terdiam membisu untuk beberapa saat. Arion dengan ambisinya untuk membuat Aurora percaya kepadanya memutuskan untuk sejenak memberi Aurora waktu untuk berfikir, Arion yakin Aurora sedang bimbang saat ini.
Arion kini mulai melunak, kalimatnya mulai lembut untuk didengar bahkan sorot mata sang vampir itu nyaris teduh untuk Aurora. Sementara Diego sibuk dengan membaca buku milik Arion itu dengan seriusnya, Aurora berfikir tentang keberuntungan wanita yang menjadi incaran para pria tampan. Tentu saja itu dambaan wanita, namun jika yang mengincar adalah seorang vampir hanya demi darah suci yang dimiliki wanita itu adalah hal yang menyedihkan.
"Aku... tidak tahu... siapa yang jahat diantara kalian..." gumam Aurora ketika itu, dia sangat bimbang dengan semua kenyataan yang terjadi berturut - turut dihari yang sama.
"Aku mengerti, mempercayai seorang vampir memang tidak mudah apa lagi kamu adalah manusia. Tapi pikirkan baik - baik Aurora, aku yakin kamu bisa memilah siapa yang benar dan salah dalam kasus ini" timpal Arion lalu berdiri dari duduknya, bersiap untuk pulang karena merasa sudah cukup untuk meyakinkan Aurora.
"Aurora, aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi tolong jangan menjauhiku, aku.... merasakan getaran aneh yang ada didalam hatiku... kata Danilson aku... jatuh cinta padamu" celetuk Arion ketika itu
Pernyataan cinta dari Arion mengejutkan Aurora, tidak pernah dia sangka dalam hidupnya akan dicintai oleh makhluk beda ras seperti ini. Meski terlihat tampan dan mempesona, namun cinta beda ras seperti ini tidak akan pernah dia bayangkan akan terjadi pada hidupnya. Arion adalah seorang vampir dengan keistimewaan dan kebutuhan yang tentu berbeda dari Aurora yang merupakan manusia, sudah seharusnya Aurora mewaspadai Arion karena vampir membutuhkan darah untuk bertahan hidup.
"Arion... aku tidak akan menjauhi mu jika kamu menuruti permintaanku..." ucap Aurora sembari menundukkan pandangannya
Arion pun senang mendengar kesempatan yang diberikan Aurora kepadanya meski Aurora memiliki syarat khusus, tapi bagi Arion yang telah jatuh cinta kepada Aurora maka syarat apapun tentu akan dipenuhi olehnya. Seketika itu Arion berjalan mendekati Aurora, berlutut, lalu menggenggam kedua tangan Aurora dengan kedua tangannya, sikap yang ditunjukkan Arion dihadapan Aurora membuatnya terkejut.
"Apapun Aurora, asal kamu memberikanku kesempatan untuk dekat denganmu" ucap Arion terdengar senang
Perubahan sikap Arion membuat Aurora bingung, sejak awal Aurora menduga bahwa Arion akan marah besar terhadapnya namun ketika Arion berlutut dan menggenggam tangannya Aurora tidak bisa menemukan jawaban atas sikap Arion yang berubah menjadi lembut kepadanya.
"Eeh.. ii.. iya, dengarkan aku, oke? aku tidak mau ada tawar menawar" timpal Aurora, Arion pun menganggukkan kepalanya.
"Pertama, aku tidak ingin lagi melihatmu menghipnotis ayah apapun alasanmu. Kedua, aku ingin hidup bebas yang jauh dari pengawasanmu. Kamu bisa temui aku kapan pun kamu mau asal aku memang sedang senggang, kalau kamu mencintaiku... aku harap kamu menunjukkannya dengan tulus, bukan dengan cara - caramu seperti itu" ucap Aurora
Mendengar pemintaan Aurora membuat Arion semakin senang karena baginya syarat yang diminta oleh Aurora sangat ringan, tapi berbeda dengan Diego yang tidak mau melihat anaknya dekat dengan vampir. Diego terlihat tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aurora, dengan segera tangan Diego menepis kedua tangan Aurora dan Arion yang saling berpegangan itu.
"Kalau dia macam - macam, ayah bisa ajarkan aku cara untuk membunuhnya kan? toh kita punya kelemahan ras vampir dari buku yang Arion berikan kepada kita" jawab Aurora tanpa beban
"Tapi..." belum selesai Diego berkata, Arion tiba - tiba memberikan sesuatu yang membuat tangan Aurora terasa begitu panas.
Aurora menarik kedua tangannya dan terkejut menatap Arion, tapi Arion kembali menarik kedua tangan Aurora dan kembali menggenggamnya dengan erat.
"Arion!! apa yang kamu lakukan?!!" bentak Aurora
"Arion!! jangan macam - macam sama anakku!!" bentak Diego
Tapi Arion bergeming dan terus diam sembari menggenggam kedua tangan Aurora, saat itu begitu terasa panas tangan Aurora sampai pada satu titik Aurora merasa sudah tidak kuat menahan rasa panas itu. Dengan keras Aurora mendorong Arion hingga membuat Arion terlempar sampai menabrak tembok, pemandangan itu membuat Aurora dan Diego terkejut. Bagaimana mungkin Aurora bisa mendorong Arion begitu kuat
"Uhuk... aah, yah begitu... kamu sudah memiliki kekuatan untuk melemparkan ras vampir, Aurora. Setidaknya kamu bisa melukaiku dengan kekuatanmu itu jika kamu merasa terancam olehku maupun Jerome" ucap Arion dengan sedikit merintih kesakitan, Aurora terkejut karena ternyata Arion memberikannya kekuatan untuk melawan ras vampir.
Itulah cara yang Arion pilih untuk lebih menarik simpati dan perhatian Aurora agar Aurora mempercayainya, tidak hanya memberitahu cara untuk mengalahkan vampir namun Arion juga memberikan kemampuan khusus kepada Aurora agar dirinya memiliki kesempatan untuk melawan jika sewaktu - waktu Arion ataupun Jerome menyerang Aurora.
Setelah sedikit pembicaraan, Arion pun berpamitan untuk pulang. Aurora mengutarakan keinginannya untuk resign dari perusahaannya sekarang dan meminta Arion bertingkah seperti manusia pada umumnya, Aurora tidak ingin kembali melihat orang yang dipengaruhi hipnotis Arion untuk memata - matainya.
Meski awalnya Arion merasa berat hati menerima permintaan resign Aurora, tapi pada akhirnya Arion pun menerima permintaannya itu. Arion juga mengatakan jika Aurora kesulitan uang, jangan segan - segan untuk meminta padanya. Tawaran Arion saat itu hanya ditanggapi dengan senyuman, lalu berakhirlah pertemuan keduanya di rumah.
Aurora tidak mengantar Arion dan meminta Diego untuk mengatakan pada Jerome yang masih menunggu diluar rumah agar dirinya pulang, Aurora ingin menenangkan pikirannya sebelum bertemu lagi dengan para vampir. Seharian itu Aurora terus berusaha memikirkan siapa yang sebenarnya sedang berniat jahat padanya, tapi hingga malam berganti pagi Aurora tidak juga mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
__ADS_1
Pagi hari setelah sarapan dengan Diego, Aurora berpamitan untuk mencari pekerjaan baru demi menopang kehidupan keluarga mereka. Diego sempat meminta Aurora untuk tinggal di rumah saja dan membiarkan Diego yang mencari pekerjaan. Namun karena rasa sayangnya kepada sang ayah, Aurora tidak ingin ayahnya dihina oleh orang - orang di luaran sana karena pemikirannya tentang vampir yang membuat Diego dianggap gila.
Keputusannya untuk resign membuat Aurora harus kembali mencari pekerjaan yang memang sulit untuk didapat. Sampai pada akhirnya ketika tengah siang di panas yang begitu terik, Aurora akhirnya kembali mendapatkan pekerjaan sebagai wartawan untuk media lokal disana. Meski senang, tapi Aurora harus kembali memulai semua karirnya dari nol.
Disiang yang panas terik, Aurora memutuskan untuk istirahat disebuah taman membawa segelas es kopi untuk meredakan panas tubuhnya yang dirasa berlebih. Berharap akan ada berita yang datang kepadanya, Aurora melirik kanan - kiri mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan bahan berita pertamanya setelah dinyatakan diterima menjadi karyawan lepas salah satu kantor media lokal.
Tapi matanya terpaku pada sebuah pohon, disana Aurora seperti melihat seseorang sedang bersembunyi dibaliknya. Perlahan Aurora beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati pohon yang mencurigakan itu, Aurora memutari pohon namun dia tidak melihat siapapun disana. Sampai tiba - tiba, Jerome turun dari atas pohon dan mengagetkan Aurora.
"Baaa!!" teriak Jerome kepada Aurora
"Kyaaaa!!!" teriak Aurora dan tanpa sengaja dia menampar wajah Jerome hingga Jerome terpelanting ketanah.
Terkejut lah Jerome ketika tangan kecil nan lentik Aurora mampu membuatnya terpelanting, sejenak Jerome terdiam dan menatap Aurora yang juga kaget kenapa dirinya bisa membuat Jerome terpelanting seperti itu. Kemudian dia teringat akan kekuatan yang diberikan oleh Arion kepadanya, ternyata Arion benar - benar memberikan kekuatan kepada Aurora untuk melawan vampir.
"Kekuatan Arion ya?" tanya Jerome ketika sembari berusaha untuk bangkit dengan rintih kesakitan
"Ma.. maaf Jerome, aku tidak tahu kalau kekuatan itu akan permanen!" ucap Aurora panik, Jerome memberikan gestur tangan yang mengatakan dia baik - baik saja.
"Ka.. kamu sih ngagetin, aku jadi refleks kan!" ucap Aurora dengan nada kesal, Jerome hanya tertawa mendengar kekesalan Aurora kepadanya.
Aurora bersikap seperti biasa terhadap Jerome, dirinya bahkan tidak menyadari jika harus waspada terhadap Jerome setelah penjelasan yang Arion berikan. Berada didekat Jerome selalu membuat Aurora nyaman dan aman.
Sulit bagi Aurora untuk percaya bahwa jerome adalah vampir yang jahat.
"Tidak apa, aku pantas mendapatkannya. Aku dengan kamu diterima jadi wartawan baru di perusahan media lokal, apa aku benar?" tanya Jerome dengan sedikit suara tawa
"Eeh.. kamu membuntuti ku?" penuh curiga Aurora bertanya, Jerome menggelengkan kepalanya.
"Satpam tempat kamu bekerja adalah temanku, kami sama - sama menyukai lukisan dan kebetulan tadi aku bertemu dengannya saat istirahat makan siang. Dia bilang ada bidadari yang masuk menjadi wartawan baru, bidadari yang menjadi wartawan tentu saja cuma dirimu" jawab Jerome
"Benarkah?" tanya Aurora terus menaruh curiga
"Tentu saja, aku tidak bercanda tentang bida..." belum selesai Jerome berkata, Aurora memotong.
"Bukan tentang itu, tapi tentang membuntuti ku" timpal Aurora terdengar sedikit marah, sejenak Jerome terdiam dan membaca apa yang sebenarnya Aurora pikirkan.
"Jangan mencoba membaca pikiranku, Jerome!!" bentak Aurora, kemarahan Aurora pun membuat Jerome menyesal.
Tidak ada yang berbeda dari keduanya, Aurora dan Jerome masih menjadi dua orang yang saling nyaman dengan kedekatan mereka masing - masing.
"Yaah.. aku sempat membuntuti mu, tapi tentang temanku... itu benar, Aurora. Dia yang memberitahu kalau ada wartawan baru, aku hanya yakin itu kamu karena kamu bilang ingin lepas dari pengawasan Arion" ucap Jerome penuh penyesalan, Aurora pun menghela nafasnya mendengar perkataan Jerome.
"Lalu buat apa kamu membuntuti ku?" tanya Aurora
"Aku cuma ingin membantumu untuk mencari berita seperti dulu" jawab Jerome
"Aku tidak butuh..." timpal Aurora
"Ayolah, Aurora... aku bosan kalau sehari saja tidak bersamamu. Aku sudah hidup ratusan tahun dan sejujurnya aku sudah bosan hidup, hanya kamu satu - satunya sumber keseruan dalam hidupku. Boleh ya?" pinta Jerome dengan memohon, Aurora menatap Jerome dengan tajam dan kembali berpikir tentang apa yang sedang direncanakan Jerome kepadanya.
__ADS_1
Tapi Aurora tidak mendapatkan jawaban apapun, pada akhirnya Aurora pun menerima permintaan Jerome karena itu akan menguntungkan baginya. Bos barunya pasti akan senang jika Aurora bisa membawa banyak berita bagus untuk perusahaan, pada akhirnya hari ini menjadi titik pertama kedekatan Aurora dengan Jerome.