
Siang itu Jerome berlari dengan kecepatan yang tidak seperti biasanya membawa Aurora yang semakin bersimbah darah dan wajahnya mulai pucat pasi, Jerome harus rela mengurangi kecepatan berlarinya karena tekanan angin membuat luka Aurora semakin menganga dan hal itu semakin memperparah keadaan Aurora. Sebuah rumah sakit terdekat menjadi tujuan Jerome yang datang secara tiba - tiba, beberapa perawat rumah sakit terlihat kaget ketika melihat Jerome muncul entah darimana diruang unit gawat darurat. Namun ketika para perawat melihat Jerome bersimbah darah, mereka pun tidak sempat untuk memikirkan bagaimana cara Jerome sampai diruang unit gawat darurat itu tanpa terlihat dari pintu masuk.
Dengan terburu - buru para perawat itu mengarahkan Jerome untuk mendekati salah satu brankar dorong, perlahan Jerome meletakkan tubuh tak berdaya Aurora diatas brankar. Para perawat disana pun segera meminta Jerome untuk menunggu diluar karena mereka harus segera memberikan perawatan kepada Aurora yang detak jantungnya semakin melemah.
Rasa cemas menyelimuti hati Jerome yang ketika itu harus menunggu diluar dari ruang UGD, beberapa kali Jerome terlihat mondar - mandir berkeliling lorong rumah sakit menunggu kabar dari para perawat tentang kondisi Aurora. Rasa bersalah juga tidak luput didalam hati Jerome, dia berpikir kenapa hal ini bisa sampai terjadi padahal dirinya sudah berada cukup dekat disekitar Aurora.
"Sial!!! apa gunanya semua keistimewaanku kalau melindungi Aurora pun aku tidak mampu!!" ucap Jerome melepaskan semua amarahnya dalam satu tarikan nafas
Jerome pun berjalan untuk mendekati tembok lalu duduk dilantai bersandar pada tembok itu, dia melamun dan memikirkan semua hal yang seharusnya dia lakukan tadi sembari berharap dia bisa mengulang semuanya lalu memperbaiki apapun yang bisa membuat Aurora tidak sampai mengalami hal nahas seperti sekarang. Ditengah melamun nya Jerome ketika itu, suara televisi menarik perhatiannya.
Segera tatapan matanya menuju kearah sumber suara, Jerome berdiri dan berjalan perlahan hingga sampai disebuah tempat dimana keluarga pasien sedang menunggu sanak saudara mereka yang tengah dirawat dirumah sakit itu. Berita breaking news siang itu membuat Jerome terkejut, dermaga tempat pertempuran antara dirinya, Arion, dan Aurora melawan para gerombolan mafia kini terlihat luluh lantak. Bangunan hanggar - hanggar terlihat runtuh hampir rata dengan tanah, mobil - mobil juga terlihat hangus terbakar.
****Suara Di Televisi****
"Masih tidak jelas apa yang terjadi didalam, karena sebelumnya dermaga ini ditutup untuk umum namun tiba - tiba terjadi hingar bingar yang berdampak pada hancurnya isi didalam dermaga itu" ucap reporter yang memandu acara breaking news siang itu
***************************
"Arion..." gumam Jerome seraya menatap layar televisi itu
Dari layar televisi Jerome melihat kondisi hanggar yang banyak hancur dibeberapa bagian, kerusakan yang tidak masuk akal jika hanya dilakukan manusia biasa dengan menggunakan alat sederhana. Kerusakan itu bahkan bisa terlihat seperti paska terkena angin ****** beliung. Kerusakan hanggar yang terjadi karena ulah Arion membuat Jerome memikirkan beberapa hal yang menggangu pikirannya.
__ADS_1
Tidak terbayangkan didalam benak Jerome ketika itu jika Arion akan sampai semarah itu dan tidak menahan kekuatannya sama sekali, namun sesuatu hal membuatnya curiga. "Darimana kekuatan sebesar itu, Arion? apa benar kamu hanya melepaskan kemarahan atau ada rahasia dibalik kekuatan itu?" tanya Jerome dalam benaknya, semua pertanyaan itu muncul karena baik dirinya dan juga pasti Arion sudah semakin melemah dibanding dengan ras vampir pendahulu mereka.
Melemahnya ras vampir di zaman sekarang tidak lepas dari ketidakmauan dari Arion dan Jerome untuk berburu manusia dan meminum darah segar langsung dari tubuh manusia, meski dirasa baik untuk keberlangsungan hidup keduanya yang ingin tenang ditengah - tengah kehidupan manusia namun hal itu membuat mereka berdua semakin lemah dan lemah setiap tahunnya.
Hanya darah suci yang dapat membuat keduanya bisa menggapai kesempurnaan menjadi vampir kembali selayaknya para pendahulu mereka, tapi hidup ditengah manusia sudah membuat Arion dan Jerome merasa nyaman sehingga keduanya mengesampingkan untuk meminum darah suci Aurora meski ada gejolak kuat didalam hati masing - masing untuk melakukannya.
"Ada yang tidak beres" gumam Jerome
Jerome berlari keluar dari rumah sakit dengan tujuan kembali ke dermaga untuk mencari keberadaan Arion disana, dengan kecepatannya Jerome tidak memerlukan waktu yang lama untuk kembali sampai di dermaga. Kini dermaga itu terlihat ramai oleh orang - orang dan juga media - media yang meliput, dari kejauhan diatas sebuah gedung tinggi Jerome mencoba mencari celah dimana dia bisa masuk kedalam area dermaga tanpa ketahuan para polisi yang sedang mengolah tempat kejadian perkara. Namun melihat betapa ramainya lokasi itu membuat Jerome yakin jika Arion sudah lama meninggalkan tempat itu entah kemana, dalam hati Jerome berkata "Kemana kamu, Arion?".
Jerome segera berlari kembali dari satu atap gedung ke atap gedung lain dan langkahnya terhenti seketika saat dia melihat jejak kaki yang terlihat begitu berat sampai membuat bekas tekanan pada atap gedung itu, dengan segera Jerome mendekati jejak kaki itu lalu memeriksanya.
"Kaki siapa ini?" tanya Jerome penasaran dan juga terkejut, begitu besarnya jejak kaki itu sampai membuat Jerome tidak yakin jika bekas yang tertinggal itu adalah kaki Arion.
"Jika itu bekas kaki Arion, berarti dia meminum darah suci... tapi darimana darah suci yang dia dapatkan? Tidak... tidak mungkin, kalau pun dia meminumnya pasti saat ini dia mengamuk tanpa mempedulikan sekitar... apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Jerome keheranan, tapi dalam hatinya merasa lega karena dengan tidak ditemukannya Arion saat itu menandakan jika Arion baik - baik saja.
Disisi lain saat bersamaan, terlihat Arion melompat tinggi hingga sampai diatas gedung Gervaso tower. Dengan tubuh yang terlihat mengeluarkan asap karena terbakar sinar matahari dan juga raut wajah yang terlihat kelelahan, perlahan Arion mengatur nafasnya yang terengah - engah. Langkah kakinya terlihat terhuyung - huyung mendekati pintu darurat, disaat bersamaan Danilson pun membuka pintu itu dengan nafas yang terengah - engah.
"Tuan!! apa anda baik - baik saja?!" tanya Danilson terdengar panik, bersamaan dengan itu Danilson memberikan sebuah kain khusus yang membuat Arion terhindar dari sinar matahari.
"Lanjutkan penelitian tentang darah suci itu.... itu bekerja dengan sangat baik" ucap Arion dengan nafas yang masih tidak beraturan, setelah mengatakan itu Arion pun memberikan dua injeksi yang terlihat tidak ada lagi isinya kepada Danilson.
__ADS_1
"Anda... menggunakan keduanya, apa artinya..." belum selesai Danilson berkata, Arion memotongnya.
"Aku tidak bisa mengendalikan diriku, efek sampingnya terlalu kuat dan membuatku kehilangan kesadaran" timpal Arion
"Lalu bagaimana tuan bisa... menggunakan antidot ini?" tanya Danilson penasaran, Arion pun terdiam beberapa saat. Raut wajahnya terlihat begitu menyesal.
"Aku tersadar ketika membayangkan wajah Aurora yang tersenyum padaku... aku kembali melakukan hal bodoh, Danilson... saat ini Aurora sedang berjuang antara hidup dan mati... apa yang harus aku lakukan, Danilson?!" tanya Arion terdengar sedih dan penuh penyesalan, Danilson pun terlihat sangat terkejut mendengar perkataan Arion.
Danilson meminta Arion untuk masuk kedalam gedung dan memintanya menceritakan semua yang telah terjadi, masih dengan langkah yang terhuyung - huyung Arion menyetujui permintaan Danilson. Disalah satu ruangan yang ada didalam Gervaso tower, Arion pun menceritakan semua yang telah terjadi antara dirinya, Aurora, Jerome dan para mafia. Dengan sangat fokus Danilson mendengarkan setiap cerita Arion, meski raut wajahnya menampakkan kesedihan dan juga penyesalan.
Untuk pertama kalinya Danilson melihat kondisi tubuh dan mental Arion tidak baik - baik saja, saat itulah Danilson menyadari jika tuannya itu memang sangat mencintai Aurora. Hal itu membuat Danilson memikirkan cara terbaik agar Arion segera pulih dan dapat melakukan yang terbaik untuk Aurora, penyesalan yang tampak dari raut wajah Arion membuat Danilson merasa bersalah.
Adalah Danilson sosok dibalik terlibatnya Aurora untuk melakukan peliputan terhadap transaksi para mafia itu, dengan persetujuan Arion akhirnya mereka menyusun rencana agar Arion menjadi pahlawan ketika Aurora terdesak karena Jerome dalam kepungan mafia. Bekerja sama dengan Robert, baik Danilson maupun Arion merasa jika rencananya akan sempurna namun mereka melupakan satu hal penting jika tidak semua anggota mafia mengetahui untuk tidak melakukan penyerangan terhadap Aurora. Hingga hal tidak terduga pun terjadi dan Aurora dalam keadaan sekarat. Kini Danilson harus menghadapi keadaan Arion yang ketakutan akan kondisi Aurora yang memburuk.
Tidak menemukan Arion membuat Jerome akhirnya memutuskan untuk menemui Diego dikediamannya. Didepan pintu rumah Diego, pikiran kalut Jerome mulai merasuki kepalanya. Datang untuk memberikan kabar buruk tentang kondisi Aurora bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, berkali - kali Jerome mencoba untuk mengetuk namun dia urungkan hingga akhirnya tiba - tiba pintu terbuka, terlihat dari balik pintu Diego sedang ingin membuang sampah. Melihat Jerome tepat didepan rumahnya dengan wajah sedih, tanpa berkata apapun saat itu Diego paham kalau Aurora sedang mendapatkan masalah. Diego menarik kerah baju Jerome, lalu berkata..
"Apa yang terjadi, Jerome?!!" bentak Diego dengan nada marah yang tersirat kekhawatiran yang begitu besar
"Maaf Diego, aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Semua terjadi... begitu cepat dan diluar ken..." belum selesai Jerome berkata, Diego memotongnya.
"Lalu apa gunamu ada disampingnya?! kali ini apa yang terjadi padanya?! kenapa kalian para vampir tidak pernah berguna untuk anakku?!! lalu untuk apa aku biarkan kalian berada disekitar Aurora?!!" timpal Diego begitu marah, karena rasa bersalah yang teramat besar membuat Jerome hanya dapat diam dan menerima semua amarah Diego padanya.
__ADS_1
"Bawa aku... ketempat Aurora..." ucap Diego terbata, Jerome hanya mengangguk menerima permintaan Diego.