
Gustav membaca berkas yang ada di genggamannya, tapi tak berselang lama dia melempar berkas itu ke atas meja dengan kasar. Membuat seorang pria yang duduk di hadapannya tersentak.
Pria itu adalah Mario. Dia melirik Gustav dan berkas yang ada di meja secara bergantian. Perasaan Mario menjadi gelisah karena Gustav tak kunjung menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan miliknya.
Meskipun Mario pria yang lebih tua dari Gustav, tetapi pria bermanik mata hijau itu memancarkan aura dingin dan mencekam. Membuat siapa pun akan tunduk padanya.
“Saya tidak akan menandatangani kontrak itu. Kerja sama dibatalkan,” ucap Gustav dengan begitu mudah membatalkan kerja sama yang sudah lama direncanakan.
Mario menelan salivanya. Terbayang dengan jelas akan nasib perusahaan yang kini sedang berada di ambang kebangkrutan.
Hanya Gustav lah harapan satu-satunya bagi Mario untuk membebaskan perusahaannya dari hutang yang menumpuk.
“T-tapi kenapa, Tuan? Apa ada yang salah?” Mario melirik berkas yang ada di meja.
“Tidak ada yang salah dengan berkasnya. Tapi yang salah adalah anakmu.” Kata Gustav menatap tajam Mario.
Yang ditatap justru mengerutkan dahi, tak mengerti maksud ucapan Gustav. Setahu Mario anaknya yang bernama Martha tak memiliki keterkaitan dengan kontrak kerja sama ini.
Melihat Mario yang kebingungan, menjadikan Gustav menghela nafas dan langsung menjelaskan maksud perkataannya.
“Anakmu, Martha, pernah menuduh seorang gadis bernama Lisa. Benar bukan?”
“Sebelumnya maaf, Tuan. Martha tidak menuduh. Memang gadis itu telah mencuri kalung berlian milik anak saya,” bantah Mario.
Meski dalam diri Mario bertanya-tanya bagaimana bisa Gustav mengetahui tentang kasus Martha dengan Lisa.
Sebenarnya Mario sendiri tahu jika Martha memang telah memfitnah Lisa. Dari pengakuan Martha, anaknya nekat melakukan fitnah karena tidak suka dengan Lisa yang sering dipuji oleh para dosen akan kepintaran gadis itu di kampus.
Dan Mario yang sejak dulu selalu memanjakan sang anak, sepenuhnya mendukung perbuatan Martha. Bahkan dia juga yang telah membuat beasiswa Lisa dicabut.
Gustav menari salah satu ujung bibirnya. Tentu saja dia tak mempercayai orang yang bernama Mario ini.
“Aku memiliki bukti kuat jika Martha telah memfitnah Lisa,” ucap Gustav yang sebenarnya hanya untuk mengintimidasi Mario.
“Sekarang aku tahu sifat anakmu seperti apa. Dan biasanya, sifat seorang anak diturunkan dari orang tuanya. Maka dari itu, saya membatalkan kontrak karena tak ingin bekerja sama dengan orang licik seperti Anda.”
__ADS_1
Mario menggigit bibir bawah. Pertanda jika saat ini otaknya tengah berpikir keras bagaimana cara agar kerja sama dengan perusahaan Alastar Corp bisa terjalin.
“Sebaiknya Anda pergi. Anda hanya membuat saya membuang waktu tak berguna.”
Mario diam membeku. Tak ada pilihan kecuali bertekuk lutut di hadapan Tuan Gustav Green. Mario tak peduli lagi akan harga dirinya.
Gustav melirik Mario yang bersimpuh, membuang muka serta menyeringai tipis.
“Saya mohon, Tuan. Saya siap melakukan apa saja asalkan Tuan Gustav mau menandatangani kontrak,” Mario memelas dengan tubuh yang bergetar.
“Melakukan apa saja?” ulang Gustav.
“Iya, Tuan. Apa pun akan saya lakukan,” sahut Mario tegas.
“Baiklah. Jika itu maumu, ada syarat yang harus kau lakukan.”
“Syarat apa, Tuan?” Mario bertanya dengan hati yang tidak tenang.
*
*
*
Saat ini Martha sedang berada di kamarnya yang dipenuhi barang-barang mahal. Dia sangat terkejut mendengar Tuan Gustav menuntut dirinya untuk membuat video permohonan maaf pada Lisa dan harus diunggah ke sosial media.
Martha mengurut kening serta menarik nafas panjang untuk menenangkan emosi yang tengah bergejolak.
“Apa tidak ada cara lain, Dad?”
Mario menggelengkan kepala. Dia sendiri juga harus menyampaikan maaf langsung kepada Lisa.
Martha memberengut dan mengentak-entakkan kaki.
“Martha, please. Kali ini saja kamu menurut apa yang diperintahkan Daddy.”
__ADS_1
“Aku tidak mau, Dad. Aku membuat video minta maaf pada Lisa, itu sama saja aku mengaku telah memfitnah gadis kampungan itu,” seru Martha yang suaranya menggema ke penjutu ruangan.
Apa kata dunia jika seorang selebram cantik seperti Martha -yang pengikutnya sudah menyentuh angka jutaan- tahu dia telah memfitnah hanya karena gadis itu unggul di bidang akademis?
Martha mengepalkan tangan dan memukul kasur sebagai pelampiasan amarahnya.
“Yang ada nanti aku akan dapat hate comment, Dad. Pamorku sebagai selebgram bakal turun.”
Martha meracau membayangkan nasibnya nanti. Lalu Mario mengusap bahu putrinya. Bagaimana pun dia harus bisa membujuk Martha.
“Darling, setelah kamu membuat video permintaan maaf, kamu bisa hiatus dulu dari media sosial. Lama-kelamaan pasti komentar negatif itu akan hilang dengan sendirinya,” ucap Mario memberi saran.
Martha tidak menjawab. Dia melipat tangan di depan dada dan membuang muka.
Sementara Mario berdecak, memikat pangkal hidungnya yang menjadi tanda dia sangat kewalahan mengurus sikap Martha.
Namun begitu, Mario sadar betul jika sikap manja Martha juga karena dirinya yang selalu menuruti permintaan putrinya.
Mario mengacak rambutnya frustrasi, menghela nafas, lalu dia putuskan untuk tegas pada Martha untuk sekali ini saja.
“Oke, kalau kamu tidak mau melakukan yang diminta oleh Tuan Gustav juga tidak apa-apa.”
Seketika Martha memalingkan wajahnya dengan cepat sekaligus melengkungkan senyum gembira.
“Serius, Dad?”
Mario mengangguk sebagai jawaban.
“Tapi Daddy akan menjual semua tas, sepatu, dan pakaian mahalmu,” Mario mengedarkan pandangan menyapu ke penjuru kamar. Ditatapnya barang-barang branded yang terpajang.
“No!” raung Martha histeris.
“Daddy juga akan memblokir kartu kredit mu.”
“Daddy! Daddy jahat!”
__ADS_1