
Lisa meneliti wajah Gustav yang tampak tercengang dan dapat Lisa pastikan jika suaminya itu telah memerintahkan orang untuk melakukan hal yang buruk pada Martha.
Lisa menghela nafas. Dia memang tidak menyukai Martha, tapi bukan dengan cara kekerasan dia membalas perbuatan wanita itu.
"Kamu tidak melakukan hal buruk pada Martha kan?" Lisa mengulang pertanyaanya.
"Tidak. Mana mungkin aku melakukan hal buruk," jawab Gustav berbohong sambil melingkarkan lengan ke perut Lisa.
Hasrat untuk mengulangi permainan panas kembali menyelimuti tubuh Gustav sampai bergejolak di ubun-ubun. Dia dekap tubuh mungil Lisa namun, kali ini tubuh mungil itu memberontak.
Menjadikan Gustav tercengang akan respon dari Lisa. Sesaat dia menatap intes kedua bola mata wanita yang kini mengandung anaknya.
"Sayang, kenapa? Aku ingin sekali lagi."
Lisa menghela nafas panjang.
"Baiklah, tapi setelah itu kamu tidur di kamar lain ya?"
"What?" Gustav tambah terkejut dengan ucapan yang terlontar dari bibir mungil Lisa.
Terlebih Lisa mengucapkannya tanpa beban dan tanpa dosa sama sekali.
"Tapi kenapa, Lisa? Kenapa aku harus tidur di kamar lain?"
Sejenak Lisa memikirkan apa yang membuatnya tak suka bila berada di dekat Gustav. Tak menemukan jawaban, Lisa pun menggelengkan kepala.
Gustav yang terheran, langsung menegakkan punggung duduk di atas tempat tidur.
"Sudahlah. Mau diulang atau tidak? Kalau tidak cepat pergi dari sini!"
"Katakan! Kenapa kamu menyuruhku tidur di kamar lain?" ujar Gustav memaksa.
Lisa berdecak dan menjawab, "Karena kamu jelek.
*
*
*
Brak.
"Gwen!"
Gustav membanting pintu perpustakaan dan berteriak memanggil Gwen yang terlonjak kaget hingga buku yang ada di tangannya terjatuh ke lantai.
Gwen mengelus dada, memungut bukunya kembali, dan menoleh kesal pada Gustav yang kini mengacak rambutnya frustasi.
"Gus, ada apa sih?" Gwen bertanya pada Gustav yang kini duduk di depannya.
"Lisa."
"Kenapa Lisa?"
"Semenjak dia hamil kenapa dia selalu memintaku pindah kamar setelah kami bercinta? Bahkan dia bilang aku jelek," tutur Gustav meluapkan seluruh emosi yang ada dalam dirinya.
Mendengar cerita Gustav, Gwen hanya menghela nafas sekaligus memutar bola matanya. Lalu perhatiannya kembali lagi ke buku yang dia genggam.
"Gwen, kenapa kamu juga ikut diam saja? Katakan sejak kapan aku jelek!"
"Gus, kamu tidak jelek," kata Gwen menyakinkan.
__ADS_1
"Bohong."
"Serius. Aku tidak bohong. Lisa nya saja yang sedang hamil dan di usia kehamilan yang masih muda biasanya para wanita akan sedikit labil. Jadi kamu maklumi saja."
Gustav menegakkan punggung dan menatap serius Gwen.
"Sampai kapan wanita hamil mengalami perubahan mood swing seperti Lisa?" Gustav bertanya penuh antusias menunggu jawaban dari Gwen.
"Tunggu saja sampai tiga bulan. Kebanyakan ibu hamil akan mengalami perubahaan mood di trimester pertama, setelah itu aman-aman saja kok," jelas Gwen santai.
Gustav menarik nafas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. Tangannya terkepal kuat, sekuat tekadnya untuk bersabar selama tiga bulan ke depan.
Setelah cukup yakin dirinya bisa bersabar, Gustav menganggukan kepala dan bergumam, "Baiklah, hanya tiga bulan."
Lima bulan kemudian.
"Tidak! Argh!"
Gustav mengacak rambutnya. Dia berjalan mondar-mandir di ruang kerja. Tempat yang selama ini menjadi tempat tidurnya.
Gustav frustasi sebab sudah lima bulan berlalu tapi Lisa tetap saja meminta untuk pisah kamar.
Lisa memang tidak menolak saat Gustav meminta jatah, tapi setelah pergulatan panas mereka lakukan, Lisa pasti akan meminta Gustav untuk pergi dari kamarnya.
Dan hal itu jauh lebih menyengsarakan bagi Gustav. Karena dia tak dapat tidur dengan mendekap tubuh mungil sang istri.
Banyak alasan yang Lisa lontarkan. Dari badannya yang bau, padahal Gustav sudah menyemprot parfum banyak-banyak. Sampai Lisa beralasan jika wajah Gustav tidak sedap dipandang.
Bahkan karena hal itu Gustav sampai terlintas niat untuk operasi plastik.
"Apa seperti ini perjuangan semua Daddy?" gumam Gustav yang kemudian merebahkan diri di sofa.
Tak lama, pintu ruang kerja Gustav terbuka menampilkan sosok perempuan yang membuat Gustav ketar-ketir selama ini.
Lisa menutup pintu tanpa melepas pandangan pada suaminya yang mencoba tertidur di atas sofa panjang. Dia berjalan mendekat dan duduk di tepi sofa.
"Sayang, kenapa kamu pergi?"
"What? Bukankah kamu sendiri yang menyuruhku pergi?" tanya Gustav dengan nada kesal dan langsung memiringkan badan menghindari tatapan Lisa.
"Aku minta maaf. Aku tidak akan memintamu pindah kamar lagi," Lisa berkata dengan begitu manja.
Tak lupa Lisa menjatuhkan kepala di bahu Gustav agar hati pria itu luluh.
"Aku tidak akan memintamu untuk berpindah kamar lagi. Aku janji. Aku akan selalu berada di sisimu ke mana pun kamu pergi."
Mendengar ucapan Lisa yang sepertinya sangat bersungguh-sungguh, Gustav memiringkan badan ke sisi yang lain agar bisa melihat wajah Lisa.
Pandangan mereka bertemu dan keduanya serempak merekahkan senyuman.
Dan apa yang dikatakan Lisa tentang berada di samping Gustav kemanapun dia pergi, ternyata benar adanya.
Lisa selalu mengekori Gustav tiap kali suaminya itu melangkah. Tak peduli Gustav akan berangkat kerja ke kantor atau lebih parahnya masuk ke toilet.
Seperti sekarang ini, Gustav mendesah frustasi melirik pada Lisa yang duduk di sudut ruangan rapat.
Gustav sedang mengadakan rapat bersama para koleganya dan Lisa bersikeras untuk ikut. Meskipun dia hanya duduk mendengarkan sambil menatap wajah pria yang menjadi suami dan sebentar lagi akan menjadi ayah dari anaknya.
"Lisa, sebaik kamu pulang saja ya?" bujuk Gustav penuh kesabaran.
Lisa menggelengkan kepala pertanda dia tak mau menuruti perintah dari Gustav.
__ADS_1
Bukan Gustav tak mau Lisa ada di dekatnya. Melainkan Gustav tak mau bila Lisa kelelahan menunggunya bekerja.
"Kamu kan bisa menungguku di mansion. Malah jika kamu menunggu di mansion kamu bisa sambil rebahan," Gustav terus membujuk untuk bagaimana caranya Lisa mau pulang.
"Tidak. Kalau kamu mau aku pulang, kamu juga pulang," sahut Lisa tegas.
"Astaga, aku sangat ingin anak yang di perut Lisa cepat keluar," Gustav bergumam sambil memijat kepala dan melirik ke perut Lisa yang kini telah membesar.
*
*
*
Delapan bulan kemudian.
Devan turun dari mobil dan melangkah melintasi taman sebuah mansion yang luas. Ayunan kakinya berhenti kala melihat dua anak laki-laki bermain ditemani bersama pengasuhnya.
Satu anak laki-laki mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun sedang mencoba mengajak seorang bayi laki-laki yang baru berumur empat bulan.
Langkah kaki Devan berbelok mendekati lalu membungkukkan badan menyapa kedua bocah itu.
"Uncle Dokter," sapa Rafael pada Devan yang membalas dengan senyuman.
"Dia pasti anak dari Lisa ya? Wah kamu lucu sekali."
Devan yang hendak mencubit pipi bayi laki-laki itu tidak jadi setelah mendengar suara deheman dari arah belakang. Dia pun memutar badan dan melihat Lisa yang menggendong bayi perempuan.
"Eh, tunggu! Anakmu yang ini atau yang itu?"
Devan menunjuk bayi yang ada di gendongan Lisa dan yang sedang bermain bersama Rafael.
Lisa tersenyum dan menjawab, "Dua-duanya anak kami. Namanya Gerald dan yang sedang aku gendong, Ginevra."
Devan menurunkan pandangan untuk melihat Ginevra yang wajahnya sangat mirip dengan Lisa.
"Ginevra cantik sekali sepertimu, Lisa," ucap Devan yang tidak sadar Gustav ada di dekat mereka.
"Apa katamu?" sentak Gustav melayangkan tatapan membunuh pada Devan yang terlonjak kaget.
"Aku hanya bilang, anak-anakmu mirip seperti ibunya. Itu saja," sahut Devan santai.
Devan malas berdebat dengan Gustav yang kini melingkarkan tangan di pinggang Lisa begitu posesif. Seakan-akan takut wanitanya itu akan dicuri.
"Yang terpenting, warna mata mereka sama seperti aku," kata Gustav memberengut.
Sejak melihat kedua anaknya lahir, Gustav sangat kecewa karena Gerald dan Ginevra tidak mewarisi wajahnya. Melainkan wajah Lisa.
Tapi Gustav tetap bersyukur anak kembarnya itu lahir selamat ke dunia dan pastinya yang membuat dia sedikit lega, setidaknya mereka mewarisi manik mata hijau dari sang ayah.
"Ya, ya, terserah. Yang penting, sifat menyebalkan darimu tidak menurun ke Gerald dan Ginevra," sindir Devan menyeringai tipis.
"Hei, ulangi sekali lagi perkataanmu maka aku akan…"
"Gus, Devan, sudah! Jangan bertengkar," seru Lisa yang cukup membuat Ginevra yang ada di gendongan terkejut.
Gustav menarik nafas. Masih melirik tajam pada Devan, dia bertanya, "Mau apa kamu kemari?"
Devan menyodorkan sebuah kartu undangan yang langsung diterima oleh Gustav.
"Aku kemari untuk memberikan undangan pernikahanku dengan Keysha."
__ADS_1
Gustav dan Lisa saling bertatap muka, lalu tersenyum. Begitu pula Devan yang meskipun sering tidak akur dengan Gustav tapi sudah tidak ada lagi persaingan di antara mereka.