Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
34 Kita Pernah Seperti Ini


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Lisa tak kuasa menahan rasa kantuk yang mendera. Beberapa kali gadis itu menguap dengan kelopak mata yang terasa berat.


Tak berselang lama, Lisa terlelap dengan kepala menyender di kaca jendela. Gustav yang melihat Lisa begitu kelelahan, perlahan memindahkan kepala Lisa untuk bersandar di bahunya.


Sementara Devan hanya bisa mendengus saat melirik dari kaca spion tengah. Genggaman tangannya semakin kuat mencengkeram kemudi.


Devan sengaja mempercepat laju kendaraan agar mereka cepat sampai. Sekaligus Lisa dan Gustav tidak berlama-lama berduaan.


Hingga sampailah mobil berhenti di halaman rumah Lisa, Gustav dengan sangat hati-hati menggendong tubuh Lisa ala pengantin baru agar tidak mengganggu tidur sang wanitanya.


“Buka pintunya!” titah Gustav pada Devan yang masih betah duduk di dalam mobil.


“Kamu saja yang buka,” sahut Devan malas.


“Kamu buta ya? Aku sedang menggendong Lisa. Mana mungkin aku membuka pintu rumah,” Gustav membalas dengan nada ketus.


Devan berdecak, berat hati dia turun dari mobil dan seketika Gustav menerobos masuk saat Devan membukakan pintu.


Gustav langsung membaringkan Lisa di atas tempat tidur, lalu menarik selimut hingga sebatas leher.


“Aku ingin bicara empat mata denganmu,” Devan melipat dua tangan di depan dada saat dirinya berada di ambang pintu.


Tak mau Lisa terganggu, Gustav memilih untuk berbicara di ruang tamu. Baik Gustav maupun Devan lebih memilih berdiri. Lalu secara tiba-tiba, Devan mendorong kasar tubuh Gustav.


Mendapat perlakuan kasar, Gustav pun membalas mendorong Devan hingga pria itu mundur beberapa langkah.


“Sekarang aku tahu, kamu itu pria amnesia yang pernah menumpang hidup pada Lisa kan?” Devan mencengkeram kerah baju Gustav sambil menghunuskan tatapan dingin.


Bagaimana Devan tahu Gustav adalah pria amnesia yang pernah diselamatkan Lisa? Jawabnya karena Devan mencari informasi dari Henri. Dia tahu betul Henri memiliki hubungan yang dekat dengan Gustav.


“Apa masalahmu, hah?” Gustav menghempas kasar tangan Devan.


“Jauhi Lisa! Apa kamu tahu selama ini akulah orang yang selalu berada di samping Lisa di saat dia mengalami masa sulit. Dan kau,” Devan mengacungkan jari telunjuk tepat ke hidung Gustav. “Kau hanya pria yang telah meninggalkan Lisa dan datang kembali setelah Lisa sukses.”


Mendengar semua celotehan Devan, menjadikan Gustav menyeringai.


“Kamu pikir selama aku meninggalkan Lisa, aku membiarkan dia begitu saja? No,” Gustav menggelengkan kepalanya perlahan.


“Aku juga tahu bagaimana hubungan kalian berdua dan Lisa telah menegaskan bahwa dia menolak cinta darimu kan?.”


Deg.


Sontak bola mata Devan membulat. Dia tak mengira Gustav tahu semua hal tentang hubungan dia dengan Lisa.


Namun, detik berikutnya Devan sadar siapa orang yang berada di hadapannya. Bukan tidak mungkin selama ini Gustav menempatkan orang untuk mengawasi Lisa.


“Tapi aku yakin bisa merebut Lisa darimu. Mungkin kamu tahu semua hal tentang Lisa tapi Lisa sama sekali tidak mengenal dirimu,” kata Devan penuh penekanan pada akhir ucapannya.


“Bukankah kamu selalu berada di dekat Lisa? Jadi kamu sendiri pasti tahu seberapa jauh dan lama kami berpisah, Lisa tidak pernah bisa melupakan aku. Itu berarti cinta kami berdua sangat kuat,” ucap Gustav percaya diri.


“Jadi aku sarankan untuk kamu menyerah saja, Dokter Devan.”

__ADS_1


“Selama Lisa belum menikah, aku bebas merebut dia dari siapa pun termasuk Anda, Tuan Gustav.”


Devan melangkah melewati Gustav berniat untuk pergi dari rumah Lisa. Namun, saat di halaman depan, Devan baru tersadar jika mobilnya masih berada di gedung pesta.


Sial.


Devan memutar badan kembali masuk ke dalam rumah. Di ambang pintu sudah ada Gustav yang bersender sambil melipat kedua tangan.


“Lupa di mana memarkirkan mobil, heh?” Gustav memberikan senyum seringai.


“Diam! Aku akan menginap di sini.”


Devan mendorong bahu Gustav dan menerobos masuk. Gustav yang tahu Devan akan masuk ke kamar tamu, mencoba menahan pria itu.


Akan tetapi usaha Gustav sia-sia karena Devan berlari dan menutup pintu tepat di depan hidung Gustav.


“Sial,” Gustav mengusap ujung hidungnya.


Dia pun memutuskan untuk menginap daripada membiarkan Devan bermalam di rumah Lisa. Namun, karena hanya ada dua kamar, terpaksa Gustav tidur di sofa ruang tamu.


Gustav melepas jas yang melekat di tubuhnya. Lalu membaringkan diri di sofa.


Sekilas Gustav teringat akan dirinya yang tidur di sofa ruang tamu dalam keadaan babak belur dan luka di kepala.


Gustav mengedarkan pandangan ke sekeliling, mengamati perubahan drastis kondisi rumah Lisa sekarang dan tersenyum puas akan hasil kerja anak buahnya.


Kruyukk...


Lantas Gustav pun berjalan ke dapur. Lalu mencari sesuatu yang sekiranya bisa dijadikan makan malam.


Sementara itu, Lisa yang terbaring di atas kasur menggeliat dan membuka matanya. Dia mengerjap-ngerjap lalu melirik jam yang menggantung di dinding.


Lisa menyibak selimut, turun dari ranjang sebab dia tersadar belum menghapus make up yang menempel di wajah.


Terlebih dahulu Lisa mengganti pakaiannya dengan piama dan tepat saat itu, Lisa mendengar suara kelontang di dapur yang sontak membuat tubuh Lisa menegang.


“Jangan-jangan ada maling,” gumam Lisa penuh ketakutan.


Segera dia memakai piama, lalu mengambil sapu untuk dijadikan senjata pertahanan diri. Pelan-pelan kaki Lisa mengayun menuju dapur.


Manik mata Lisa membelalak ketika dia melihat seorang pria yang tengah membelakanginya. Dia menggeram dan mengayunkan sapu berniat memukul pria itu dengan sekuat tenaga.


Hiyaaa...


Tap.


Untung saja Gustav berbalik cepat dan menahan gagang sapu yang hampir saja mengenai wajah tampannya. Manik mata Lisa membola sempurna menyadari pria yang dikira maling ternyata adalah Gustav. 


"Gus?  Aku pikir tadi… "


"Kamu kira aku maling," terka Gustav sambil menurunkan gagang sapu. 

__ADS_1


Dengan menahan malu,  Lisa menganggukan kepala serta mengusap tengkuk lalu tersenyum canggung. 


"Maaf. Kamu sendiri sedang apa di dapur?"


Belum sempat Gustav menjawab, bunyi perut keroncongan terdengar di antara kesunyian malam itu. Menjadikan Lisa ingin tertawa tapi sebisa mungkin dia tahan. 


"Kamu lapar? Akan aku buatkan spagetti, mau? "


Gustav menghela nafas. "Apa saja yang penting bisa mengganjal perutku."


Lima belas menit kemudian, sepiring spagetti tersaji di meja makan. Gustav mengambil garpu dan bersiap melahap spagetti namun pergerakannya terhenti kala melihat Lisa yang terdiam. 


Saat ini Lisa tengah duduk di depan Gustav dengan tangan bertumpu pada dagu dan pandangan mata tertuju hanya pada Gustav. 


"Aku tidak berselera makan sendirian."


Lantas Gustav mendorong piring menjauh darinya.


"Kalau begitu aku juga akan makan," kata Lisa mengambil garpu. "Ayo makan."


"Ayo. "


Detik berikutnya. 


Dug. 


"Awh"


Baik Gustav dan Lisa sama-sama meringis mengusap kening mereka yang berbenturan. Lalu keduanya tergelak menertawakan tingkah mereka sendiri. 


"Kamu ingat dulu kita pernah seperti ini?" Gustav bertanya. 


"Iya."


Bayangan Lisa melayang saat dulu dia dan Gustav makan di kedai mie.  Kemudian saat mereka menunduk untuk menyantap mie yang terjadi malah dahi mereka yang saling berbenturan. 


"Gus,  apa aku boleh tahu bagaimana bisa kamu babak belur hingga membuat kamu amnesia?"


Akhirnya Gustav pun bercerita awal mula dirinya datang ke Indonesia untuk meninjau proyek yang sedang dikembangkan perusahaannya. 


Akan tetapi saat sore menjelang malam saat dia dalam perjalanan pulang ke hotel, sebuah mobil jeep menabrak bagin samping hingga mobil yang ditumpangi Gustav terseret ke luar jalur jalan. 


Gustav tak begitu mengungat kejadian selanjutnya karena ketika tersadar dia sudah berada di ruangan gelap dengan kondisi tangan dan kaki terikat. Lalu James dan Billy datang untuk menghajarnya sampai tak sadarkan diri. 


"Dua pelaku yang menyiksaku sudah lama tewas.  Tapi aku yakin mereka berdua hanyalah tangan kanan dari seseorang yang ingin aku mati."


Gustav melirik Lusa dan menemukan segumpal saus bolognese di ujung bibir Lisa. Lantas dia menyeka saus itu menggunakan ibu jari. 


"Apa kamu mencurigai seseorang di sekitarmu? Mungkin saingan bisnis?"


Gustav terdiam untuk beberapa saat yang lama.  Lalu dia menggelangkan kepala dan kembali menyantap spagetti. 

__ADS_1


__ADS_2