
Brak. Brak. Brak.
Gustav menggebrak pintu kamar mandi untuk kesekian kali. Namun, Lisa tak kunjung keluar.
Kesabaran Guatav hampir habis. Dia tak habis pikir akan dirinya yang dengan mudah dibodohi oleh sang istri.
"Lisa, sampai kapan kamu akan berada di dalam?" teriak Gustav penuh amarah.
"Sampai kamu keluar dari kamar," jawab Lisa berteriak dari dalam kamar mandi.
"Kamu bercanda? Ini kamarku dan malam ini malam pertama kita. Apa kamu akan di dalam terus, hah?"
Gustav menggeram marah. Bahkan sekarang dia mengguncangkan gagang pintu hingga rusak.
Kemudian dilemparkan gagang pintu yang rusak itu ke sembarang arah. Sekali lagi Gustav menggebrak pintu sampai tangannya terasa sakit.
"Buka pintunya atau aku akan dobrak!"
"Aku akan buka pintu setelah kamu keluar," ucap Lisa bersikukuh.
Gustav menarik nafas panjang, berjalan gelisah mondar-mandir di depan pintu, lalu akhirnya dia mengiyakan permintaan Lisa.
Di dalam kamar mandi, Lisa menempelkan daun telinga di pintu. Hening. Tak ada suara apa pun dari luar sana.
Lalu perlahan pintu berderik terbuka sedikit. Cukup untuk Lisa mengintip keadaan di kamar.
Dan setelah tidak melihat keberadaan Gustav, baru lah Lisa keluar dari kamar mandi. Dia menghela nafas lega sambil mengelus dada.
"Huft, syukurlah dia sudah tidak ada. Aku jadi bisa ganti baju dengan leluasa."
Lisa menurunkan gaun pernikahannya yang berwarna putih itu. Namun, ketika baru sebatas pinggang, Lisa memutar badan dan seketika dia terlonjak sekaligus menjerit ketika melihat Gustav ternyata ada di belakangnya.
Pria yang berstatus suami itu ternyata bersembunyi di balik tirai jendela kamar.
Lisa berusaha menaikan kembali gaun untuk dapat menutupi bagian dada ketika Gustav berjalan mendekatinya.
"Kenapa harus ditutupi? Aku ini suamimu. Tak ada larangan untuk melihat tubuhmu," ucap Gustav sambil tangannya bergerak untuk menurunkan gaun yang dipakai Lisa.
"Ta-ta tapi… tapi tetap saja aku merasa canggung."
Lisa menggenggam ujung gaun agar tak merosot. Sehingga terjadilah tarik menarik gaun antara Lisa dan Gustav.
Dan yang terjadi berikutnya adalah…
Bret.
Gaun putih dengan hiasan rendra itu sobek akibat ulah Gustav yang tidak mau kalah.
Sementara manik mata Lisa membola sempurna dan menjerit histeris. Sebab gaun indah itu dirobek begitu saja oleh sang suami.
"Kenapa disobek? Kan jadi tidak bisa dipakai lagi," raung Lisa kecewa.
"Dipakai untuk apa?"
"Dipakai untuk menikah lagi."
"Apa katamu?" Gustav berteriak naik pitam.
__ADS_1
"Aku bercanda, Sayang. Mana mungkin aku menikah lagi. Kamu itu suamiku yang pertama dan terakhir."
Lisa memutar bola mata jengah menghadapi Gustav yang sedikit-sedikit marah.
"Bagus. Itu baru istriku."
Melihat tubuh sang istri yang hanya memakai kain penutup di area pribadi, menjadikan Gustav menelan saliva dengan kasar.
Sekali dorongan, tubuh Lisa terjerembab ke atas ranjang dan segera Gustav menindihi tubuh istrinya agar tak kabur lagi.
Gustav melabuhkan kecupan di bibir ranum Lisa. Ciuman yang lembut lama-kelamaan semakin menuntut dan meminta lebih.
Kedua manik mata Gustav tertutup oleh kabut gairah. Ditambah dengan tangan yang tidak bisa diam memainkan bagian depan tubuh Lisa.
Jemari Gustav berhasil melepas pengait bra, lalu membuang benda itu entah ke mana.
Pandangan Gustav turun seiring dengan ciuman yang juga turun ke leher dan berakhir di bagian yang tadi dimainkan oleh kedua tangannya.
Tubuh Lisa berdesir merasakan sensasi aneh kala tubuhnya dijamah oleh lelaki untuk pertama kali. Membuat dia tak bisa menahan suara des**an yang meluncur begitu saja dari mulutnya.
Tanpa melepas permainan di dua aset milik Lisa, Gustav melepas pakaian yang melekat di tubuhnya. Menjadikan tubuh mereka kini polos tanpa sebenag helai pun.
"Sayang, bahuku sakit," ringis Lisa yang berhasil membuat Gustav menghentikan perbuatannya.
Gustav mendongak melirik bekas luka di bahu Lisa penuh kecemasan.
"Sakit? Sungguh?" tanya Gustav khawatir.
"Tapi bohong."
Lisa tertawa lepas namun tak lama tawa itu berubah menjadi jeritan ketika merasakan sesuatu yang keras menghentak miliknya di bawah sana.
Tak dapat dipungkiri rasa sakit itu seperti ada pisau yang menancap ke dalam tubuhnya.
"Auh, Gustav, kali ini benar-benar sakit. Aku tidak berbohong. Sumpah ini sakit sekali," Lisa merintih sampai menitikan air mata.
Tapi Gustav seolah tuli, sebab dia telah terlanjur marah pada Lisa yang terus saja mengerjainya.
Hingga milik Gustav sepenuhnya masuk ke inti tibuh Lisa dan tiba-tiba…
Tok… tok… tok…
"Lisa, kamu kenapa?" Gwen berteriak sambil terus mengetuk pintu kamar.
Sejenak Lisa dan Gustav terdiam menatap ke arah pintu. Tanpa berkata, Lisa memberi isyarat agar Gustav melepas penyatuan mereka.
Gustav tidak setuju. Dia tetap melanjutkan kegiatannya dengan bergerak di atas tubuh sang istri.
"Lisa, kamu baik-baik saja? Lisa?"
Gwen menempelkan telinga ke pintu sebab tidak mendengar jawaban dari Lisa. Malah yang dia dengar adalah suara-suara khas percintaan dari Gustav dan Lisa.
Sontak Gwen membelalakan mata dan menutup mulutnya yang menganga. Dia baru tersadar akan apa yang sedang dia lakukan.
"Oh my god. Apa yang sedang aku lakukan? Mereka kan sudah menikah."
Saking mendadaknya pernikahan Gustav dan Lisa, membuat Gwen lupa jika mereka telah resmi menjadi suami istri.
__ADS_1
Dan tentunya mereka akan melakukan kegiatan yang sudah halal bagi mereka berdua.
Lantas Gwen pun segera pergi sebelum telinganya panas mendengar suara berisik itu.
*
*
*
Pagi hari.
Lisa melenguh, menggeliat di bawah selimut tebal, lalu mengerjapkan mata. Dapat Lisa rasakan lengan kekar yang melingkar di perutnya sangat posesif seakan tak ingin Lisa pergi.
Lantas Lisa pun menoleh pada pria yang semalam tak berhenti menyentuhnya. Dia mengulum senyum sambil perlahan membelai lembut pipi Gustav.
Setelah puas memandangi wajah tampan sang suami, Lisa menyingkirkan lengan Gustav dan berniat bangkit dari tempat tidur.
Tapi seketika itu, lengan Gustav semakin mempererat perut Lisa. Bahkan menariknya untuk kembali ke tempat peraduan.
"Mau ke mana kamu?" tanya Gustav dengan melayangkan sorot penuh ancaman.
"Aku mau mandi. Aku harus bekerja kan, Sayang?" kata Lisa mengeluarkan suara lemah lembut agar Gustav mengizinkan dia bekerja hari ini.
"Bekerja? Pekerjaanmu sekarang hanya melayani aku."
"Tapi bagaimana dengan pasien-pasienku di rumah sakit?"
"Sudah ada dokter yang menggantikanmu selama satu bulan."
Lisa mengerutkan dahi keheranan. "Satu bulan?"
Gustav mengangguk. "Karena kamu membohongiku selama satu minggu, sebagai hukuman kamu harus tetap di kamar ini selama satu bulan."
"Apa?" pekik Lisa terkesiap.
Tak mau menerima hukuman, Lisa pun melayangkan protes pada Gustav yang masih berbaring di tempat tidur.
Bahkan Gustav memposisikan diri ingin melanjutkan mimpi yang tadi sempat tertunda.
"Tapi, Sayang. Apa yang harus aku lakukan di dalam kamar selama satu bulan? Aku itu ingin bekerja, aku ingin mendapatkan sesuatu dengan hasil kerasku sendiri, dan aku ingin hasil kerjaku berguna bagi orang lain," cicit Lisa panjang lebar.
Kemudian Gustav kembali membuka mata, menatap Lisa dengan intens, dan menyunggingkan seringai.
"Kamu ingin bekerja?" tanya Gustav.
Lisa mengangguk. "Iya."
"Ingin mendapatkan sesuatu dengan hasil kerja kerasmu sendiri?" Gustav bertanya lagi.
Lisa mengangguk lebih semangat.
"Dan ingin hasil kerjamu berguna bagi orang lain?"
Lisa menganggukan kepala dengan mantap sambil mengulas senyum.
"Aku punya ide. Bagaimana kalau kamu bekerja membuatkan aku anak?"
__ADS_1
Satu detik senyum di bibir Lisa menghilang berganti dengan raut wajah tegang. Apalagi saat Gustav menyibak selimut dan menariknya kembali ke dalam dekapan.