
Selama seharian penuh Gwen sibuk menemani Rafael yang tengah mengikuti lomba olimpiade. Ibu dan anak itu baru dapat pulang saat sore hari.
Turun dari mobil, Gwen tercengang begitu melihat Gustav yang keluar dari mansion dengan menggendong Lisa.
Lebih terkejut lagi ketika manik mata Gwen menangkap ada luka tembak di bahu calon adik iparnya itu.
"Gus, ada apa dengan Lisa?"
Gustav tak menjawab. Dia langsung melajukan mobil dengan kecepatan maksimal.
Belum terjawab satu pertanyaan, muncul pertanyaan lain begitu anak buah Gustav menyeret Gordon. Secara refleks, Gwen menarik Rafael ke belakang badannya.
"Mom, Uncle mau dibawa kemana?" tanya Rafael.
Hanya dengan melihat Gordon yang diseret oleh anak buah Gustav, menjadikan Gwen langsung paham akan apa yang telah terjadi.
Tak pikir panjang, Gwen meminta Rafael untuk masuk kembali ke dalam mobil. Karena Gwen memutuskan untuk menyusul Gustav ke rumah sakit.
Sedangakan tepat ketika Gordon akan dimasukan ke dalam mobil. Pria kurus itu memberontak menyerang seorang sopir untuk merebut kemudi dan berhasil kabur dengan mobil itu.
*
*
*
Di rumah sakit.
Gustav berdiri dengan perasaan berkecamuk di dalam dada. Pandangannya tak pernah lepas dari pintu ruang operasi di mana ada Lisa yang sedang ditangani oleh dokter di dalam sana.
Gustav sama sekali tak menoleh saat Gwen dan Rafael menghampirinya.
Gwen menepuk bahu Gustav untuk memberikan sedikit ketabahan pada adiknya. Tanpa bertanya, Gwen tahu jika Lisa masih ditangani oleh dokter.
Gwen tahu karena melihat raut wajah Gustav yang masih gelisah.
Tak lama, pintu ruangan terbuka memunculkan sosok Devan yang memakai seragam operasi berwarna hijau. Tatapan tajam langsung Devan layangkan pada Gustav.
Devan menarik kerah kemeja Gustav agar pria itu melihat wajahnya yang sangat murka.
"Bagaimana kondisi Lisa?" Gustav bertanya dengan ekor mata melirik pintu yang tadi dilewati Devan.
"Kenapa ini bisa terjadi pada Lisa? Katakan! Kenapa Lisa bisa tertembak?" Devan balik bertanya dengan berteriak meluapkan amarah.
__ADS_1
Gustav menghempaskan tangan Devan yang mencengkeram kerah kemejanya. Dia membalas tatapan penuh amarah Devan.
Meskipun begitu, Gustav tetap mengakui bahwa semua ini terjadi karena kesalahannya.
"Ini salahku. Sekarang cepat katakan bagaimana kondisi Lisa?"
"Kami sudah berhasil mengeluarkan pelurunya tapi kondisi Lisa saat ini mengalami kritis."
"Apa?" Gwen mengatupkan mulut yang menganga karena tercengang mendengar Lisa dalam kondisi kritis.
Kini giliran Gustav yang meremas bagian depan baju Devan, menariknya agar pria itu membalas tatapannya.
"Lakukan yang terbaik untuk Lisa!"
Dengan gerakan cepat Devan menyingkirkan tangan Gustav.
"Tanpa kau meminta pun, sudah aku lakukan dengan senang hati. Aku menyesal sudah menyerah begitu Lisa memilihmu. Tahu akan seperti ini, lebih baik aku rebut Lisa darimu."
Bugh.
Gustav tak dapat mengontrol lagi emosinya. Dia meninju wajah Devan tak peduli jika pria itu adalah dokter yang menangani Lisa.
Sontak Gwen menjerit melihat pertengakaran dua pria di hadapannya.
Devan yang kala itu hendak melayangkan pukulan pada Gustav mendadak menggentikan aksinya. Dia pun tak sadar jika dirinya kini berada di rumah sakit.
Kemudian, Devan dan Gustav pun berpisah setelah Gwen melerai mereka. Bersamaan dengan datangnya Jerri sang asisten pribadi Gustav.
"Kenapa kau kemari, bukankah seharusnya kau dan anak buahku yang lain mengurus sepupu tidak tahu diri itu?" kata Gustav menggeram kesal.
Raut wajah Jerri tak dapat terbaca. Pria itu menundukan kepala tampak ingin berbicara namun bingung harus memulai dari mana.
"Tuan, Gordon melarikan diri dengan membawa kabur salah satu mobil."
"What?" pekik Gustav tercengang dan terdengar begitu marah.
"Kalian semua tidak ada yang becus. Mengurus satu orang saja kalian tidak bisa."
"Kami telah mengejarnya, Tuan. Dan mobil yang ditumpangi Gordon mendadak mengalami rem blong dan akhirnya masuk ke jurang."
Baik Gustav maupun Gwen sama-sama tak menampilkan wajah terkejut. Meskipun begitu mereka sangat syok mendapati jika saudara sepupu mereka tewas di lokasi kecelakaan.
Beberapa saat berlalu dengan Gwen dan Gustav yang saling terdiam. Lalu Gwen bangun dari duduk karena wanita itu ingin melihat kondisi Camilla.
__ADS_1
Gustav menghela nafas. Karena terlalu memikirkan Lisa, dia sampai lupa akan kondisi Camilla setelah menenggak racun yang diberikan Gordon.
Hanya dalam hitungan jam, beberapa kejadian tak terduga silih berganti menjadikan Gustav membutuhkan waktu untuk menerima semua yang terjadi.
*
*
*
"Bukalah matamu. Aku ingin melihatmu bangun," ucap Gustav membelai lembut pipi Lisa yang saat ini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Lisa telah dinyatakan melewati masa kritis. Namun gadis berambut gelombang itu tak kunjung membuka matanya.
Seketika Gustav menundukan kepala dan membenamkam di ceruk leher Lisa. Dia sangat bersalah. Andai dia tidak gegabah membuka pintu kamarnya.
Lima menit yang lalu, Gustav mendapat kabar jika Camilla tak dapat tertolong. Bukan karena racun, namun penyakit yang selama ini menggerogoti Camilla lah yang menjadi penyebab utama wanita tua itu meninggal.
"Aku tak mau kehilanganmu. Jadi aku mohon buka matamu itu!" bisik Gustav dengan nada memaksa.
"Percuma saja. Lisa tak akan mendengarkanmu," ucap seorang pria yang tanpa disadari telah berdiri di belakang Gustav.
"Mau apa kau?" Gustav bertanya tanpa menoleh ke orang yang di belakangnya.
"Aku dokter di sini. Tentu saja aku ingin memeriksa pasienku," jawab Devan dengan santai sambil melakukan tugasnya sebagai dokter.
Gustav menarik nafas agar tak terpancing emosi. Lalu menatap serius pada Devan yang selesai memeriksa kondisi Lisa.
"Apa ada kemajuan? Jika tidak ada kemajuan, aku akan membawa Lisa pada dokter yang lebih kompeten."
"Kondisi Lisa membaik," sahut Devan singkat.
"Tapi Lisa belum juga sadarkan diri," Gustav menatap tajam pada Devan, sebab dia merasa Devan tampak kurang serius.
Devan diam tak menyahut. Malah pria itu menyelonong keluar tak ingin memberikan penjelasan pada Gustav.
"Hai, jika kamu tidak serius menangani Lisa. Aku akan pindahkan Lisa ke rumah sakit yang lain," teriak Gustav menahan kerah belakang jas dokter yang dikenakan Devan.
"Lisa baik-baik saja. Apa kamu mengerti?" Devan membebaskan diri, lalu mendengus kesal seraya melirik Guatav.
"Kamu selalu saja mengatakan Lisa baik-baik saja tapi aku melihat Lisa tak ada kemajuan," ucap Gustav tak kalah kesal.
Devan menyeringai. "Coba kamu pikirkan sendiri alsananya."
__ADS_1
Devan meneruskan langkahnya meninggalkan Gustav yang tertunduk menahan emosi.