Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
51 Part 51


__ADS_3

Setelah mengantar Lisa ke kamar, Gustav segera masuk ke ruang kerja sebab dia ingin menghubungi Jerri untuk menanyakan hasil tugas yang diberikan.


"Jadi, bagaimana?" tanya Gustav sambil melirik ke arah pintu memastikan jika Lisa tak akan masuk ke ruang kerjanya.


"Kami sudah menyelidiki semuanya, Tuan, dan ternyata pasien dokter Lisa itu tidak salah menerima resep."


"Kalau begitu, ada yang mencoba menjatuhkan nama baik istriku?" terka Gustav.


"Benar, Tuan. Kami telah berhasil menyelidiki siapa orang tersebut."


"Siapa?" Gustav bertanya penuh antusias.


"Orang itu Martha, teman kuliah dokter Lisa."


Senyum tipis terukir di wajah Gustav. Sebab dia tahu tujuan utama Martha ingin bekerja sebagai pelayannya.


Martha, kamu pikir dirimu pintar? Tidak, Martha. Karena aku satu langkah lebih maju darimu. Batin Gustav dalam hati.


Jerri menjelaskan jika saat ini nenek yang pernah ditangani Lisa telah berobat di rumah sakit lain dan keadaannya berangsur membaik.


Lama Gustav tak merespon, menjadikan Jerri memberanikan diri untuk bertanya.


"Jadi, bagaimana, Tuan? Apa langkang yang akan Tuan ambil selanjutnya?"


"Cukup disini dulu tugasmu, Jer. Nanti akan aku perintahkan lagi."


Tut.


Gustav langsung menutup telepon. Dia tak habis pikir dengan Martha yang telah berani melawannya.


Setelah tahu muslihat licik Martha, Gustav bisa saja memecat wanita itu tapi pikirannya berkata lain. Gustav ingin memberi sedikit pelajaran selagi Martha menjadi pelayannya.


*


*


*


Lisa berjalan diantara bunga-bunga anggrek yang tertanam indah di taman belakang. Tadinya dia ingin menghabiskan waktu di dalam kamar sesuai perintah dari Gustav.


Namun, lima belas menit berdiam diri di dalam kamar membuat Lisa jenuh dan ingin keluar menghirup udara segar.


Lisa menghempaskan diri ke bangku taman dan mendongak untuk melihat gumpalan awan yang menganak di atas sana.


Tepat saat itu, Martha yang ditugaskan untuk menyapu halaman taman melihat sosok Lisa. Dia tersenyum dan sejenak mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk memastikan jika hanya ada mereka berdua di tempat itu.


Perlahan Martha Menghampiri Lisa. Dia berdehem agar Lisa tersadar dari lamunannya.


"Lisa, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Boleh aku duduk di sini?"


Lisa mengangguk dan menggeser duduknya, memberikan ruang pada Martha untuk duduk.

__ADS_1


"Sebenarnya aku ingin menyampaikan ini tapi aku takut jika berkata di depan suamimu secara langsung," jelas Martha.


"Katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan! Jangan takut!"


"Apa kamu tahu jika sekarang ini kamu sedang dituduh melakukan malpraktik?"


Seketika Lisa tersentak mendengar ucapan Martha. Dia melempar pandangan penuh keterkejutan pada mantan teman kuliahnya itu.


"Apa? Aku?"


Martha mengangguk mantap, meyakinkan Lisa jika dia tidak berbohong.


"Tapi kenapa Gustav tidak memberitahuku?"


"Itulah yang ingin aku tanyakan sejak tadi."


Lisa kembali tersentak saat menyadari jika dari semalam, Gustav tak mengizinkan dia menyentuh ponselnya sendiri. Menjadikan Lisa yakin jika itu berkaitan dengan tuduhan yang sedang menimpanya.


"Aku harus menemui Gustav," ucap Lisa tegas sembari bangkit dari duduknya.


Akan tetapi pergerakan Lisa dicegah oleh Martha dengan cara menahan tangan Lisa.


"Tunggu!"


"Apa?"


Martha melirik kanan dan kiri sekali lagi memastikan tidak ada orang yang melihat dan menguping pembicaraan mereka berdua.


Lisa berdecak kesal. Tak mau menggubris Martha, dia lebih memilih melepaskan cengkraman tangan wanita itu lalu pergi menghambur ke dalam mansion.


Sementara Martha diam sambil menyunggingkan senyum seringai.


Tepat di depan pintu ruang kerja Gustav, Lisa bertemu dengan Trevor, sang kepala palayan. Pria paruh baya itu mencegah Lisa yang hendak masuk.


"Nyonya, tadi Tuan berpesan agar tak boleh ada yang mengganggu, termasuk Nyonya Lisa," kata Trevor lemah lembut seraya menundukan kepala.


"Tapi ada yang ingin aku bicarakan dengan suamiku. Ini penting," Lisa berkata dengan nada sedikit kesal sekaligus marah.


Kemarahan yang dia rasa bertambah saat dirinya tak diizinkan masuk ke dalam ruang kerja suaminya sendiri.


Tiba-tiba pintu ruangan berderak terbuka, cukup untuk memperlihatkan wajah Gustav yang datar tanpa ekspresi.


Gustav mendengar pembicaraan Trevor dan Lisa dari dalam. Dia juga mendengar suara Lisa yang seperti sedang menahan emosi, sehingga dia membukakan pintu.


"Masuklah!"


Sejenak Lisa menarik panjang untuk meredakan amarah yang berkecamuk, lalu melenggang masuk ke dalam ruangan.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Lisa saat Gustav menutup kembali pintu.


"Katakan saja tapi terlebih dahulu tenangkan dirimu dulu. Ingat, Lisa, kamu sedang hamil," Gustav menuntun sang istri duduk ke kursi sofa, dan mengelus punggung sang istri.

__ADS_1


Tentu saja perlakuan lembut Gustav itu membuat emosi Lisa berangsur reda.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


Lisa menarik nafas terlebih dahulu lalu menanyakan kebenaran akan berita miring yang menimpanya. 


Gustav menjawab hanya dengan sebuah anggukan.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" 


"Aku tidak mau kamu banyak pikiran. Apalagi saat aku tahu kamu sedang mengandung anakku."


"Tapi kan, ini…"


"Ini hanya gosip murahan yang dilakukan oleh orang bodoh," Gustav memotong perkataan Lisa yang terheran.


Lisa memicingkan mata seketika, sambil dahi yang mengkerut tengah berpikir.


"Dilakukan oleh orang bodoh? Maksudnya?"


Tangan Gustav bergerak membelai lembut rambut Lisa. Mendapatkan tatapan teduh dari Gustav, membuat hati Lisa sedikit tenang dan sesaat mampu melupakan masalah yang terjadi.


Kembali Gustav mengusap dan menyisir rambut Lisa menggunakan jemarinya.


"Semuanya sudah diurus oleh Jerri. Kamu sama sekali tidak bersalah, aku tahu itu."


"Iya tapi aku tetap saja marah. Kenapa masalah seperti ini kamu tidak bilang saja padaku? Dan saat kita ke rumah sakit tadi tidak ada yang memberitahuku?"


"Lebih tepatnya tidak berani memberitahu," ucap Gustav dengan penuh penekanan pada kata berani.


Sejenak sepasang suami istri itu terdiam. Pandangan Gustav tak pernah lepas dari Lisa yang tengah memandang lurus ke luar jendela dengan tatapan kosong.


"Abaikan apa yang dikatakan orang terhadapmu dan aku minta satu hal padamu, mulai hari ini berhenti bekerja."


Lisa langsung melempar pandangan  pada Gustav dengan sorot mata tercengang.


Gustav tahu jika bibir istrinya itu akan mengeluarkan kalimat protes namun, sebelum itu terjadi, segera Gustav menganggukan kepala untuk menyakinkan Lisa.


Satu kecupan mendarat di dahi Lisa dan tangan kekar dari seorang Gustav merengkuh tubuh mungil Lisa ke dalam dekapan.


"Aku ingin tahu siapa otak dari gosip itu?" Lisa bertanya tanpa melepas pelukan.


"Kamu tidak perlu tahu. Yang kau pedulikan sekarang hanyalah aku dan anak dikandunganmu. Mengerti?"


Lisa mengangguk patuh bertepatan dengan bunyi suara perut yang terdengar samar-samar.


"Aku lapar."


"What? Bukankah tadi kita sudah makan di restoran?" Gustav tercengang, mengurai pelukan dan manik matanya tertuju pada perut Lisa yang masih rata.


Lisa menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali. Dia sendiri juga bingung kenapa dia mudah sekali lapar. Apakah mungkin ini pembawaan dari bayi?

__ADS_1


__ADS_2