Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
39 Kamu Milikku


__ADS_3

"Aku peringatkan padamu. Jangan lagi bertemu dengan Devan!" titah Gustav dengan pandangan mata lurus ke depan. 


Manik mata Lisa melirik sekilas pada genggaman tangan Gustav yang sangat kuat pada stir kemudi. Hingga buku-buku jarinya memutih. 


"Jika kamu akan menemui seorang pria, kamu harus mendapatkan izin dulu dariku. Kamu paham?" Gustav berkata tegas. 


Lisa menelan saliva, menganggukan kepala kaku.


"Iya, aku mengerti."


Mendadak Gustav mengerem mobil di tepi jalan, menjadikan Lisa terpental ke depan dan hampir saja mencium dashboard. 


Gustav menoleh cepat pada Lisa. Kemarahan masih terpancar pada kedua manik matanya. 


Sangat jelas terdapat api cemburu di mata Gustav, saat teringat Lisa dan Devan terlihat bisa dengan cepat akrab kembali.


Gustav mencodongkan tubuh mendekati Lisa, mengikis jarak di antara mereka, dan satu kecupan pun mendarat sempurna di bibir ranum Lisa. 


Ciuman itu sangat menuntut. Bahkan Gustav menahan tengkuk Lisa agar wanita itu tak dapat terlepas darinya dan mereka melepas ciuman setelah kehabisan nafas. 


"Kamu hanya milikku, Lisa."


Sebuah ungkapan yang berhasil membuat kedua pipi Lisa bersemu merah. 


"Kamu sudah membaca buku yang aku berikan?"


Lisa mengangguk. Sebenarnya tidak semua buku dia baca, hanya biografi dari beberapa anggota keluarga Gustav saja. 


Gustav menaikan alis karena dia tak mau Lisa menjawab pertanyaan darinya hanya dengan sekedar mengangguk. 


"Iya sudah dan kita akan menikah bulan depan," kata Lisa dengan menambahkan ucapan 'Kau puas?' dalam hati. 


Gustav mengulum senyum tipis. Lalu kembali melajukan kendaraan yang mereka tumpangi. 


*


*


*


Keesokan hari. 


Seorang perawat wanita memanggil nama Keysha untuk masuk ke dalam ruangan dokter dan gadis berwajah bundar itu pun penuh semangat beranjak dari duduk. 


Keysha melenggang masuk ke ruangan Lisa yang sesaat tampak mengenalinya. 


"Pagi, Dokter Lisa," sapa Keysha sambil menerbitkan senyum cerah ceria. 


Hingga Keysha duduk di kursi depan Lisa senyum itu tak pernah sedikit pun pudar. 


"Pagi, ada keluhan apa?"


"Keluhan?" wajah Keysha mengernyit sejenak dia berpikir. 


Saking semangatnya Keysha datang menemui Lisa sampai lupa akan tujuan utamanya. Tapi tak butuh waktu lama, dia kembali ingat. 

__ADS_1


"Oh ya. Saya mengeluhkan akan tanda-tanda cinta bertepuk sebelah tangan, Dok."


Lisa menautkan alis, terheran akan ucapan gadis yang ada di depannya. Melihat kebingungan di wajah Lisa, Keysha pun terkekeh. 


"Dokter Lisa, apa dokter tidak mengenali aku? Aku gadis yang kemarin malam datang ke restoran bersama Kak Gustav."


Lisa tersentak karena dia baru ingat akan siapa gadia yang kali ini menjadi pasiennya itu. Dia pun tersenyum dan menganggukan kepala. 


"Oh ya iya aku ingat. Kamu tadi mengeluhkan tanda-tanda cinta bertepuk setelah tangan maksudnya apa?"


Keysha tertawa sebelum akhirnya dia menceritakan permasalahan asmaranya. Dia mengaku telah jatuh cinta pada Devan pada pandangan pertama. 


Tapi Keysha merasa jika Devan tidak menyambut cinta darinya. Keysha tahu jika Lisa berteman baik dengan Devan, begitu melihat mereka berbincang di restoran kemarin malam. 


Maka dari itu, Keysha meminta bantuan Lisa untuk menjadi mak comblang dan mendekatkan dia dengan Devan. 


"Jadi begitu, Dokter Lisa," ucap Keysha mengakhiri cerita panjangnya. 


Lisa memijat pangkal hidung. Pertanda dia sedang menimbang untuk membantu Keysha atau tidak. 


Selagi menunggu jawaban Lisa, Keysha terus merengek seperti anak kecil minta dibelikan es krim. Dia tak peduli pada suster yang berdiri di ruangan itu sambil menahan senyum. 


"Tolong bantu aku, Dokter Lisa. Please, please, please." Keysha memelas sambil menggenggam kedua tangan Lisa. 


"Iya, baiklah. Aku akan membantumu tapi aku tidak punya ide bagaimana cara mendekatkan kalian."


"Ide? Oh Dokter Lisa tak perlu khawatir. Karena di otakku sudah tersimpan seribu satu cara."


Keysha tersenyum semringah. Dia sungguh tidak sabar bertemu dengan Devan. Sedangkan Lisa menautkan alis keheranan. 


"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Keysha mencondongkan tubuh, mengibaskan tangan untuk meminta Lisa sedikit mendekatinya, lalu membisikan sesuatu di telinga Lisa. 


*


*


*


Ting. 


Satu notifikasi pesan masuk ke ponsel Devan. Dia baru selesai memeriksa pasien dan atensinya langsung teralihkan pada nama peringim pesan. 


"Lisa? Tumben dia chat aku," gumam Devan yang kemudian tersenyum girang. 


Saking tidak percayanya, Devan berulang kali membaca ulang pesan yang dikirimkan oleh Lisa, takut jika dia salah baca. 


Pesan itu meminta agar Devan menemui Lisa di sebuah cafe nanti sore. Tentu saja Devan sangat bersemangat dalam membalas pesan. 


Sore hari, seperti waktu yang sudah ditentukan, Devan melenggang memasuki sebuah cafe yang sudah di janjikan bersama Lisa. 


Di setiap langkah, Devan tak henti-hentinya bersiul sambil menyisir rambut menggunakan jemari. Hal itu membuat Keysha yang memperhatikan pria itu sejak tadi semakin terpana. 


Sejenak Devan mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan untuk mencari keberadaan Lisa dan senyum merekah saat Devan melihat Lisa sedang duduk bersama seorang gadis muda. 

__ADS_1


"Maaf sudah menunggu lama ya?" Devan bertanya begitu mendekati meja.


Lisa yang sedang mengobrol dengan Keysha mengalihkan pandangan pada Devan. 


"Tidak kok. Oh ya, Kak, kenalkan Keysha."


Satu detik senyum di wajah Devan langsung hilang berganti dengan tatapan horor melirik Keysha. Lalu dia menghela nafas frustrasi. 


Rencana yang diatur oleh Keysha tampaknya gagal total karena dia pikir dirinya bisa mengobrol dengan Devan. Tapi nyatanya, Devan selalu tertuju pada Lisa. 


Keysha seperti tak dianggap oleh Devan meski Lisa berusaha melibatkan Keysha dalam perbincangan mereka.


Oke, no problem. Rencana A gagal tapi aku masih punya rencana B. Gumam Keysha dalam hati. 


"Kak Lisa, bisa temani aku membeli sepatu untuk kado sepupuku, tidak?" Keysha bertanya sambil mengirimkan signal sos melalui kedipan mata. 


Lisa yang tanggap akan kode dari Keysha menganggukan kepala.


"Baiklah," Lisa menoleh pada Devan. "Kamu ikut juga kan, Kak?"


Devan diam sejenak.


"Oh kebetulan kado ini akan aku berikan pada sepupu laki-laki aku. Jadi aku perlu bantuan Kak Devan untuk memilihkan sepatu mana yang bagus. Kak Devan ikut ya? Please,"


Keysha mengatupkan kedua telapak tangan dan tidak lupa memasang puppy eyes agar Devan menuruti kemauannya. 


Devan menarik nafas panjang dan akhirnya menganggukan kepala. 


Dalam lima belas menit mereka tiba di toko sepatu sebuah brand ternama. Keysha yang sudah tidak sabar langsung menyambar tangan Devan untuk menarik pria itu masuk. 


Namun, tiba-tiba terdengar suara deheman dan membuat Keysha menoleh pada orang yang dia tarik.


Ternyata pria yang ditarik Keysha bukanlah Devan.  Melainkan seorang pria bertubuh tambun dan kumis baplang. 


Di belakang pria itu, tampak seorang wanita yang juga tak kalah gemuk berjalan setengah berlari menghampiri Keysha. 


"Mau dibawa kemana suami saya, hah?" raung wanita itu yang disinyalir istri dari pria yang ditarik Keysha. 


"Maaf, Tante. Aku salah bawa orang," ucap Keysha menahan malu. 


Dia segera kabur sebelum urusannya panjang. Kemudian dia baru mengedarkan pandangan mencari keberadaan Lisa dan Devan. 


"Mereka kemana? Kok hilang?"


*


*


*


Sementara itu, di lantai teratas gedung Alastar Corp Gustav berusaha menghubungi Lisa tapi nomor ponsel wanitanya itu tidak aktif. Menjadikan Gustav khawatir karena hal itu jarang sekali terjadi. 


Gustav berdecak kesal saat ke dua puluh panggilan teleponnya tak kunjung diangkat. 


Kemudiam Gustav menghubungi anak buahnya untuk mencari Lisa dan kenapa gadis itu tidak menjawab telepon darinya 

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, anak buah Gustav memberi laporan dengan disertai bukti foto. 


Dan alangkah terkejutnya Gustav sampai dia seketika beranjak berdiri dari duduk ketika mendapati bahwa sekarang Lisa ada bersama Devan dan Keysha. 


__ADS_2