
Pagi hari menyambut, Lisa terbangun lebih awal daripada dua pria yang tadi malam menginap di rumahnya.
Hari ini hari pertama Lisa bekerja di rumah sakit baru. Tapi sebelum itu, Lisa ingin jogging sekaligus menghirup udara pagi yang masih segar.
Perlahan Lisa menutup pintu tanpa menimbulkan suara agar tak membangunkan Gustav yang masih terlelap di atas sofa ruang tamu.
Lisa berlari menapaki jalanan desa yang kini mulus tak seperti dahulu. Tak terasa ayunan kaki Lisa telah membawanya ke bendungan dan Lisa memutuskan untuk berhenti sejenak.
Gadis berambut gelombang itu terengah sambil berkacak pinggang. Manik matanya menelisik pemandangan sekitar bendungan yang berselimut kabut tipis.
Sontak tubuh Lisa menegang saat pandangan matanya berakhir pada seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Orang itu berjalan perlahan mendekati Lisa dengan mengembangkan senyum penuh arti.
"Kamu? "
*
*
*
"Lisaaa… "
Gustav seketika membulatkan mata dengan nafas terengah dan bulir peluh yang mengalir di kening. Dia bermimpi Lisa tercebur ke dalam air dan sontak terbangun.
Gustav menghela nafas, bersyukur karena yang dia lihat hanyalah sebuah mimpi. Namun, perasaan Gustav tidak tenang sehingga dia segera beranjak bangun dan memeriksa kamar Lisa.
Tidak ada siapapun di kamar itu. Lalu bahu Gustav ditepuk oleh Devan yang juga baru bangun tidur.
"Di mana Lisa?" tanya Devan sambil menahan untuk tidak menguap lebar.
Gustav tergugu. Perasaan aneh yang bersarang di hatinya semakin kuat. Dia yakin saat ini terjadi sesuatu pada Lisa.
"Hai, aku tanya di mana Lisa? Kenapa kamu diam saja?" Devan menaikkan nada suara karena Gustav mengabaikan pertanyaannya.
Dan bukannya menjawab, Gustav malah berjalan mengelilingi setiap sudut rumah dan tak kunjung menekukan sosok Lisa. Menjadikan Gustav khawatir setengah mati.
Sementara Devan terus membuntuti Gustav dengan mulut yang tak pernah lelah menanyakan keberadaan Lisa.
"Shut Up! Kamu bisa diam tidak, hah?" gertak Gustav yang telinganya sakit akibat celoteh Devan. "Aku juga tidak tahu Lisa di mana sekarang."
*
*
__ADS_1
*
"Kamu?" Lisa mundur satu langkah saat orang itu semakin dekat.
"Ya, aku."
Orang itu tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi. Namun, sorot matanya menatap Lisa bagaikan seekor harimau memandangi mangsa.
"Bukan hanya kamu saja yang kembali ke desa ini, Lisa. Tapi aku pun juga kembali."
"Kamu seharusnya mati membusuk di penjara, Roy," desis Lisa saking menahan amarah yang memuncak di dada.
Lisa tak akan pernah lupa akan apa yang telah diperbuat oleh Roy hingga tega mengakhiri nyawa ayahnya. Dia tidak terima Roy bebas penjara hanya dalam lima tahun.
Terlebih perilaku Roy sama sekali tak berubah. Pria itu terlihat menelan saliva ketika memandangi lekuk tubuh Lisa.
"Lisa, kamu bertambah cantik. Tapi sayangnya aku tidak lagi berselera terhadapmu karena kamu… "
Secepat kilat Roy merangkup kasar pipi Lisa, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya.
"Karena kamu telah membuatku merasakan sengsaranya berada di sel penjara. Dan sekarang, akan aku tunjukan betapa sengsara saat kematian menjemputmu."
Sekuat tenaga Roy mendorong tubuh Lisa yang memekik ketakutan saat tubuhnya terhempas ke danau.
Dingin air danau langsung menusuk sampai ke tulang dan sebisa mungkin Lisa menggerakkan tangan ke permukaan. Sial, Lisa tak pandai berenang. Yang terjadi malah tubuhnya yang semakin lama semakin terseret ke dasar air.
Di tempatnya berdiri, Roy tertawa melihat detik-detik Lisa tenggelam. Lalu tiba-tiba…
Bugh.
Satu bogem mentah mendarat di ujung bibir Roy dan berhasil membuat pria itu terhuyun jatuh mencium tanah.
Roy berdecih kala menyadari siapa pelaku pemukulan yang tak lain dan tak bukan adalah Gustav. Dia memilih kabur ketika Gustav menceburkan diri ke danau.
Sementara Devan yang berlari di belakang Gustav hanya bisa pasrah ketika pria lain menyelamatkan Lisa.
Gelembung udara keluar dari mulut Lisa. Tepat saat hampir kehabisan nafas, Lisa melihat Gustav yang berenang menghampiri dan meraih tangannya yang sangat dingin.
"Lisa, buka matamu!" kata Gustav saat dia telah berhasil membaringkan Lisa atas rerumputan.
Gustav memangku kepala Lisa dan menepuk lembut pipi sedingin es itu. Dia tak peduli akan tubuhnya yang basah kuyup karena yang paling dia inginkan hanyalah melihat Lisa membuka kelopak mata.
"Aku akan membuat nafas buatan," ucap Devan menawarkan bantuan saat melihat Lisa yang tak kunjung sadarkan diri.
__ADS_1
Devan berjongkok siap memberikan nafas buatan untuk Lisa. Namun, seketika kerah kemeja Devan ditarik oleh Gustav agar menjauh dari Lisa.
"Apa-apaan kamu ini. Aku ingin menolong Lisa," Devan melepaskan diri dari cengkeraman tangan Gustav dengan memasang wajah murka.
"Aku tidak akan membiarkan bibirmu menempel pada bibir Lisa," bentak Gustav melototkan kedua mata.
"Cih, posesif sekali. Tuan Gustav yang terhormat tolong turunkan egomu itu. Aku hanya berniat menolong."
"Kau mencari kesempatan dalam kesempitan. Bukan menolong," ucap Gustav tegas.
Di tengah perdebatan Devan dan Gustav, terdengar suara terbatuk yang menjadikan dua pria itu menoleh ke sumber suara dan saling berlomba menghampiri Lisa.
"Uhuk, jangan bertengkar! Uhuk, uhuk," kata Lisa lirih.
"Lisa, pakai ini!" Devan memakaikan jasnya yang kering ke bahu Lisa agar gadis itu tak kedinginan.
Baru satu detik, jas milik Devan bertengger di bahu Lisa, tangan Gustav secepat mungkin menyambar jas dan membuangnya asal.
"Jas ini tak ada gunanya. Ayo, Lisa, kita pulang. "
Gustav langsung menggendong Lisa ala pengantin baru, dan pergi meninggalkan Devan yang memungut jasnya.
Di dalam gendongan Gustav, Lisa bergerak minta diturunkan. Akan tetapi semakin Lisa bergerak saat itu juga Gustav semakin mempererat lengan.
"Gus, turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri," Lisa memberontak sambil mengayun-ayunkan kaki.
"Diam!" bentak Gustav yang membuat Lisa diam seketika.
Lisa mendongak menatap wajah Gustav yang sedang menahan marah. Kini Lisa menyadari ada perbedaan besar antara sikap Gustav sebelum dan sesudah pria itu amnesia.
Setibanya di rumah, Gustav menurunkan Lisa tepat di depan pintu kamar. Lalu datanglah Devan dengan nafas terengah karena mengejar Gustav.
"Lisa, apa kamu perlu bantuanku?" Devan bertanya.
"Bantuan mengganti baju maksudmu?" bukan Lisa yang berkata, melainkan Gustav dengan nada ketus.
Menjadikan Devan menoleh pada Gustav dan kedua pria itu lagi-lagi menatap dengan sorot mata saling memusuhi. Lisa yang berada di antara mereka hanya bisa menghela nafas dan segera menutup pintu.
Devan maju satu langkah mencengkeram kemeja Gustav yang basah.
"Kita berdua adalah laki-laki dewasa, jadi aku minta kita sama-sama memperjuangkan cinta dengan fair, " kata Devan yang tak terima karena sejak tadi Gustav selalu menghalanginya untuk mendapatkan perhatian Lisa.
"Oke, kita tanyakan langsung pada Lisa. Siapa yang dia pilih di antara kita berdua. Aku," Gustav menunjuk dadanya, lalu berpindah menunjuk dada Devan. "Atau Kau."
__ADS_1
Devan mengangguk setuju.
"Setuju. Siapa pun yang kalah, harus pergi menjauh dan tidak mengganggu Lisa lagi."