
Lisa berdiri menatap pantulan bayangannya di depan cermin dan memperhatikan gaun biru muda yang kini melekat sangat pas di badan.
Lisa merasa tak percaya beberapa jam lagi, dia akan bertemu dengan pria yang selama ini hanya hadir dalam mimpinya. Untuk ke sekian kali, Lisa menarik nafas untuk mengusir rasa gugup.
Setelah memastikan penampilannya telah sempurna, Lisa pun berangkat menuju tempat pesta ulang tahun Camilla.
Sambil menyetir, Lisa terkekeh saat menyadari jika rumah sakit itu adalah milik Gustav dan yang lebih mengejutkan, alasan utama Gustav mendirikan rumah sakit hanya demi mewujudkan impian Lisa sebagai dokter pertama di desa.
Sampailah mobil Lisa berada di depan gedung tempat pesta diadakan. Lisa turun dari mobil bersamaan dengan seorang pria yang juga memarkirkan mobil tepat di samping Lisa.
“Kebetulan sekali kita bertemu di sini,” ucap Devan memandang penampilan Lisa dari bawah sampai naik ke atas.
“Kak Devan.”
“Kamu terlihat cantik malam ini,” Devan memuji Lisa sambil berdecak kagum.
Namun, Lisa sendiri tampak biasa saja dan memilih mengajak Devan masuk ke dalam.
Pemandangan Devan yang berjalan berdampingan dengan Lisa tak luput dari penglihatan Gustav yang berdiri mengobrol dengan rekan bisnisnya.
Pria itu baru tiba di tanah air beberapa jam yang lalu dan terpaksa harus menghadiri pesta ulang tahun Camilla. Kalau bukan karena Lisa yang akan datang, Gustav lebih memilih tidur di kamar.
Begitu Lisa dan Devan masuk ke dalam aula, perlahan Gustav mengayunkan kaki mendekati mereka. Pandangan mata Gustav tak pernah lepas sedikit pun dari Lisa.
Dan Devan menyadari tatapan penuh damba dari seorang Gustav pada Lisa yang berada sampingnya. Tangan Devan mengepal kuat, lalu seketika menarik pinggang Lisa tepat saat Gustav telah berdiri di hadapannya.
“Kak Devan, aku mohon lepaskan!” bisik Lisa sambil menghempaskan tangan Devan. Menjadikan pria itu melayangkan tatapan tajam sekaligus terheran pada Lisa.
Sementara Gustav melengkungkan bibir membentuk senyuman tipis.
“Dokter Devan, saya pinjam Dokter Lisa dulu sebentar,” Gustav menarik lengan Lisa dan segera membawa gadis itu pergi.
Devan menatap dua punggung yang perlahan menjauh darinya dengan amarah yang bergemuruh di dada.
Lisa sendiri terus dituntun oleh Gustav menuju ruangan yang sepi dan temaram. Jantung Lisa berdegup kencang kala Gustav menatapnya intens tanpa berbicara apapun.
__ADS_1
Demi mengalihkan perasaan yang tidak karuan, Lisa memalingkan wajah serta berjalan menuju balkon ruangan itu. Sekarang ini dia membutuhkan udara segar sebab sejak tadi nafasnya naik turun akibat dilanda gugup.
“Katakan! Kenapa kamu lakukan ini semua?” tanya Lisa to the point.
“Melakukan yang mana?” Gustav balik bertanya sambil berjalan ke belakang Lisa yang kini tengah menatap pemandangan di luar ruangan.
Gustav menarik nafas dalam untuk dapat mencium aroma wangi rambut Lisa. Hampir lima tahun dia tak sedekat ini dengan wanita yang dia cintai.
Menjadikan Gustav ingin sekali merengkuh Lisa ke dalam dekapan.
Lisa sedikit kesal karena Gustav seolah pura-pura tidak tahu. Dia pun memutar badan untuk menghadap Gustav.
Namun, seketika dia dibuat terlonjak saat Gustav ternyata telah berdiri di belakangnya dengan jarak yang sangat dekat. Tak dapat terelakkan, pandangan mata mereka pun bertemu.
“Apakah kamu yang memberikan aku beasiswa, apartemen, mobil? Kamu juga yang mengubah desa dan merenovasi rumahku? Dan apalagi yang belum aku tahu? Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini semua?”
Lisa mencecar pertanyaan pada Gustav seraya memberikan pukulan di dada bidang pria itu secara bertubi-tubi.
Lisa meluapkan rasa rindunya melalui setiap pukulan yang diberikan. Belum lagi salah paham yang selama ini bersarang di benak Lisa. Membuat dia sungguh-sungguh kesal dengan Gustav.
“Satu pertanyaan yang paling penting,” Lisa menyipitkan mata dengan bibir mengerucut. “Kenapa kamu tak menemuiku selama lima tahun terakhir ini?”
Melihat hidung yang kembang kempis saat Lisa marah, menjadikan Gustav tersenyum tipis. Lalu tangan Gustav bergerak menarik pinggang Lisa dan menjadikan tak ada lagi jarak di antara keduanya.
Sesaat Lisa terpaku merasakan dua lengan kekar memeluk, menjadikan tubuhnya terasa hangat, dan belum lagi aroma musk yang menguar dari tubuh Gustav sangat memabukkan bagi Lisa.
“Sudah selesai bicaranya?” Gustav bertanya tanpa melepas pelukan.
Menjadikan Lisa tersadar dan segera mendorong tubuh Gustav untuk terlepas dari pelukan pria itu. Bagaimana pun juga Lisa sedang marah pada Gustav karena telah pergi meninggalkannya tanpa memberi kabar.
“Jawab pertanyaanku!” gertak Lisa menatap sinis Gustav.
“Aku memang tidak pernah menemuimu tapi percayalah, aku sangat ingin selalu berada di dekatmu.”
Gustav menyisir lembut rambut Lisa dan merapikannya ke belakang telinga.
__ADS_1
“Aku sangat menanti hari ini. Hari di mana aku akan memperkenalkanmu pada Grandma. Dengan statusmu sebagai dokter, aku yakin Grandma pasti akan menerimamu,” ucap Gustav yang terkesan berbicara pada diri sendiri bukan pada Lisa.
Hening sesaat. Tidak ada suara yang keluar dari dua insan yang saling menatap penuh rasa rindu itu. Hanya terdengar samar suara deru nafas dari keduanya.
“Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu,” Gustav tiba-tiba teringat lalu mengurai pelukan.
Sementara Lisa hanya mengernyit kala Gustav berjalan masuk ke dalam ruangan remang dan kembali lagi sambil membawa sebuah kotak.
“Sesuai janjiku, aku ingin mengembalikan ini.”
Gustav membuka kotak hitam itu yang memperlihatkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati.
Kedua mata Lisa membelalak, menyadari kalung itu adalah kalung mendiang ibunya. Perlahan Lisa mengambil dan mengamati kalung itu.
Lisa yakin betul kalung yang ada di tangannya memang benar kalung mendiang ibunya. Bukan kalung tiruan.
“Bagaimana kamu bisa mendapatkan kalung ini?” Lisa bertanya dengan tatapan takjub.
“Untuk memperbaiki jalan di desa saja sanggup untuk aku lakukan, apalagi untuk menemukan kalung ini.”
Gustav memutar badan Lisa, memasang kalung di leher jenjang gadis itu, lalu melemparkan pandangan ke kaca jendela yang memantulkan bayangan mereka berdua.
Jemari Lisa mengusap ujung liontin kalung, seraya merekahkan senyuman manis. Dia sungguh tak menyangka kalung pemberian dari mendiang sang ibu dapat kembali lagi ke padanya.
Kemudian, Lisa membalik badan, menatap Gustav dan hendak mengucapkan terima kasih.
Namun, belum sempat Lisa berucap, sesuatu yang kenyal dan hangat membungkam bibirnya. Tentu hal itu menjadikan Lisa terkesiap dan detik berikutnya...
Plak.
Tangan Lisa refleks menampar pipi Gustav yang telah berani menciumnya. Seketika Lisa mengayunkan kaki berlari meninggalkan Gustav seorang diri.
Lisa berlari sampai dia berada di sebuah lorong yang sepi. Dia menghentikan langkah dengan tangan yang terus memegangi dada.
Jantung Lisa berdetak di atas batas normal, jemari bergetar hebat dan pasti pipinya kini sudah semerah buah tomat. Andai saja Lisa tidak langsung menampar Gustav dan segera kabur, mungkin Lisa bisa mati berdiri saat Gustav menciumnya tadi.
__ADS_1
“Huft, bisa-bisa aku kena serangan jantung bila terus di dekat Gustav.”