
Mario menundukkan kepala ke arah Lisa yang membuat Martha menautkan alis dan menganga lebar. Bahkan gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali, seakan tidak percaya akan indra penglihatannya.
“Lisa, saya meminta maaf atas nama Martha. Dia sudah keterlaluan menamparmu.”
Lisa terperangah syok akan sikap Mario yang seingatnya arogan dan sangat menyayangi Martha. Saking terkejutnya, tak ada kata yang keluar dari mulut Lisa.
Gadis itu menatap bingung pada ayah dan anak di depannya. Bingung apa yang menjadikan sikap mereka berubah.
“Lisa, kami pamit pulang dulu. Makanan yang sudah dipesan ini sudah saya bayar dan bisa kamu bawa pulang semua,” jelas Mario sekali lagi menundukan kepala.
Kemudian Mario menyerat lengan Martha yang masih terheran. Sebelum meninggalkan cafe, Martha melirik penuh benci pada Lisa yang kini duduk seorang diri.
“Dad, kenapa aku ditampar? Apa salah aku? Harusnya yang Daddy tampar itu Lisa,” protes Martha begitu mereka berada di dalam mobil.
“Apa kau sadar, Martha. Nasib perusahaan Daddy tergantung pada sikap kita pada Lisa, dan kau sudah melakukan kesalahan fatal.”
Mario menggeram kesal sambil mencengkeram erat kemudi. Lalu mengucap wajahnya dengan kasar.
Gagal sudah kesempatan untuk membangun kerja sama dengan Tuan Gustav dan entah bagaimana kehidupannya nanti. Mengingat hutang perusahaan yang semakin menumpuk.
“Tapi Dad...”
“Martha,” seru Mario memotong ucapan anaknya.
“Bisa sekali saja, kamu menurunkan egomu di depan Lisa. Kalau perusahaan Daddy bangkrut itu karena kamu,” kata Mario dengan nada yang semakin meninggi.
Mulut Martha menganga lebar. Dia tak percaya ayah yang selalu mengabulkan permintaan dan juga memanjakannya, kini membentak hanya karena dia menampar Lisa.
Tak mau disalahkan bahkan oleh ayahnya sekalipun, Martha melipat tangan di depan dada serta membuang muka.
“Daddy lebih mementingkan perusahaan daripada aku. Daddy sudah tidak sayang lagi denganku,” Martha mengerucutkan bibir.
Seperti yang sudah-sudah, Martha yakin Daddy nya akan melunak setelah mengeluarkan senjata ampuh yaitu, mengucapkan kalimat – 'Daddy sudah tidak sayang lagi denganku.'
__ADS_1
Dan benar saja, Mario yang memijat pangkal hidungnya seketika menarik nafas dalam, lalu merangkul Martha.
“Darling, sorry. Daddy bukannya tidak sayang tapi ini menyangkut hidup kita. Kamu mau kita hidup miskin dan tinggal di kolong jembatan,” kata Mario yang berusaha melunakkan suaranya.
Martha semakin memajukan bibirnya karena bukan itu jawaban yang dia harapkan dari sang ayah.
*
*
*
Sementara masih di dalam cafe, setelah Jerri melihat Mario dan Martha meninggalkan Lisa, lalu dia menghampiri gadis itu.
Jerri duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Mario dan membuat Jerri mendapat sorot mata menelisik dari Lisa.
Tubuh Lisa bergerak siap mengambil ancang-ancang untuk pergi. Sebab dia tidak mengenal pria yang tiba-tiba saja duduk di hadapannya.
“Tunggu, Nona Lisa! Jangan dulu pergi!” pinta Jerri menahan pergelangan tangan Lisa.
Bibir Jerri melengkungkan senyuman penuh arti. Perlahan tangannya melepas cengkeraman saat dilihatnya Lisa tak ingin kabur.
“Nama saya Jerri. Saya asisten pribadi dari CEO Alastar Corp. ingin memberitahukan jika Nona Lisa mendapatkan hadiah berupa satu unit apartemen,” tutur Jerri yang berbicara seraya menundukkan kepala layaknya dia berbicara dengan Tuan Gustav.
Perkataan Jerri tentu saja tidak langsung dipercaya oleh Lisa. Gadis itu malah tertawa terbahak-bahak sampai tangannya menggebrak meja.
Menjadikan Jerri yang melihatnya hanya bisa mengerutkan dahi.
“Aku tahu modus orang-orang seperti kau,” Lisa mengacungkan jari telunjuk tepat di hidung Jerri.
“Kau mencoba ingin menipuku kan? Dengan mengatakan aku mendapat hadiah. Kamu pikir aku akan percaya?” ucap Lisa ketus lalu beranjak dari tempat duduknya.
Akan tetapi sekali lagi, Jerri menahan gadis muda itu. Bola mata Jerri bergerak tak tentu. Pertanda dia sedang sangat bingung.
__ADS_1
Tanpa alasan Jerri bersikap seperti itu. Sebab Tuan Gustav telah melarangnya untuk mengatakan jika Lisa mendapat hadiah apartemen darinya.
Gustav ingin membuat kejutan untuk Lisa dengan memberikan tempat tinggal yang layak.
Akan tetapi sikap Jerri yang gelagapan malah membuat Lisa semakin yakin jika orang yang sedang bersamanya kali ini hanya sekedar orang yang berniat menipu.
Lisa menghempaskan tangan agar terlepas dari cengkeraman Jerri.
“Maaf saya harus pergi.”
“Tunggu, Nona. Saya bukan penipu. Anda memang akan telah mendapatkan satu unit apartemen,” jelas Jerri dengan nada cepat.
“Oh ya? Dan saya harus bayar berapa?” tanya Lisa yang merupakan sebuah sindiran.
Dia hafal akan modus penipuan berkedok hadiah yang ujung-ujungnya dia akan diminta sejumlah uang.
“Nona tidak dipungut biaya apa pun. Nona hanya tinggal menempati apartemen yang telah kami hadiahkan.”
Lisa memajukan kepalanya dengan tatapan tajam yang tak pernah redup meski hanya satu detik.
“Aku tidak percaya,” kata Lisa singkat dan berlalu pergi.
Detik berikutnya terjadi keributan yang mana Jerri meyakinkan Lisa untuk melihat dulu apartemennya. Namun, Lisa bukan tipe wanita yang mudah percaya apalagi dengan orang asing.
Merasa cukup terganggu, Lisa berteriak kencang yang membuatnya menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Aarrggh, tolong! Aku mau diperkaos," teriak Lisa dengan suara dibuat tersiksa.
"Sial," rutuk Jerri ketika dikerubungi oleh banyak orang.
Dan saat itulah Lisa mencoba melarikan diri.
Sambil melangkahkan kaki, Lisa menertawakan bagaimana raut wajah Jerri yang kewalahan menghadapi kerumunan orang.
__ADS_1
Perlahan tawanya berhenti dan Lisa menggelengkan kepala mengingat betapa bodohnya orang yang mengaku sebagai asisten pribadi itu.