
Lisa menjahit luka di kepala seorang pemuda dengan sangat hati-hati. Sedangkan pemuda itu sendiri hanya duduk layaknya patung tak bergerak sama sekali.
Tak jauh dari mereka, pria paruh baya duduk memandang begitu khawatir pada si pemuda.
“Dokter, apa luka di kepala Bian bisa cepat sembuh? Dia tidak akan amnesia kan?” cecar pria paruh baya yang tampaknya seorang pelatih baseball.
Lisa melirik untuk memberikan seulas senyuman lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
“Ini hanya luka ringan tidak akan membuat seseorang menjadi amnesia, Pak.”
Pria itu mengelus dada. “Oh, syukurlah. Aku cemas jika dia sampai amnesia dan lupa akan semua peraturan bermain baseball. Dia itu pemain andalan tim kami,” jelas pria itu panjang lebar.
Mendengar kata amnesia, sontak membuat Lisa teringat akan pria amnesia yang dulu pernah singgah di hidup Lisa.
Terlebih luka yang didapat oleh pasiennya itu sangat persis dengan luka yang pernah dialami oleh Edgar. Hanya saja luka Edgar jauh lebih parah.
Setelah selesai, kini hanya Lisa yang duduk sendirian di ruang kerjanya. Dia melamun sambil tangan yang mengetuk-ketukan pensil ke meja.
Lima tahun telah berlalu. Lisa berpikir jika waktu akan mampu menghapus Edgar dari benaknya. Namun, ternyata salah. Karena yang terjadi justru Lisa semakin merindukan pria itu.
“Bagaimana kabar dia sekarang ya?” gumam Lisa.
Pikiran Lisa perlahan melayang pada kejadian malam saat dia dipukul oleh geng begal dan berakhir dengan dirinya pingsan.
Lisa saat itu seperti sedang bermimpi mendengar suara Edgar. Bahkan di dalam mimpi itu Edgar menghujani wajahnya dengan ciuman.
Tanpa sadar Lisa mengusap bibirnya menggunakan ujung jari begitu mengingat mimpi itu. Lalu sebuah tangan menepuk pelan lengan Lisa yang membuatnya kembali tersadar dan menoleh pada perempuan yang menjadi asistennya.
“Dokter Lisa, sudah tidak ada pasien lagi yang mengantre.”
Lisa berdehem untuk menetralkan diri yang malu karena ketahuan sedang melamun.
“Oh, kalau begitu aku akan ke ruangan Tuan Henri,” kata Lisa sembari bangkit dari duduk.
*
*
*
“Jadi saya akan dipindahkan ke rumah sakit cabang?” tanya Lisa setelah mendengar penjelasan dari direktur rumah sakit.
Henri hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ada perasaan berat hati dalam diri Henri menyadari Lisa yang kini telah bekerja sebagai dokter di rumah sakitnya harus dipindahkan.
__ADS_1
Bukan karena kinerja Lisa yang buruk, akan tetapi karena rumah sakit cabang sangat membutuhkan tenaga medis. Sebenarnya Henri pun tidak rela mengingat banyak pasien yang sangat menyukai pelayanan dokter Lisa.
Berbeda dari Henri, Lisa justru melengkungkan senyum semringah. Karena letak rumah sakit cabang tak jauh dari kampung halamannya.
Sudah bertahun-tahun Lisa tak pulang ke desa itu. Sekelebat bayangan setiap sudut rumah yang telah lama dia tinggalkan perlahan terlihat jelas di matanya.
“Mulai senin depan kamu sudah mulai bekerja di sana, Lisa.”
Lisa menganggukkan kepala dengan cepat. Setelah tak ada lagi pembicaraan, Lisa pun keluar dari ruangan.
Sepanjang perjalanan dari ruang direktur rumah sakit, Lisa berjalan dengan hati yang tak kuasa lagi menahan rindu. Dia tak menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya.
Seorang pria mengamati Lisa yang berjalan di lorong rumah sakit. Sesaat pria itu ragu namun segera dia membulatkan tekad untuk berbicara dengan Lisa.
“Sa, jam praktikmu sudah selesai kan?”
Lisa menoleh dan bibirnya melengkungkan senyuman pada Devan yang sudah berdiri di belakang.
“Dokter Devan,” sapa Lisa alih-alih menjawab pertanyaan Devan.
Membuat pria itu menghela nafas. Dia tidak begitu suka saat Lisa bersikap terlalu formal dengan dirinya.
“Jam praktikmu sudah selesai?” Devan mengulang pertanyaannya lagi.
Lisa mengangguk. “Aku juga ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.”
Lalu mereka berdua berjalan berdampingan ke rooftop rumah sakit. Tempat mereka berdua biasa merehatkan pikiran sejenak sambil melihat pemandangan kota dari atas gedung.
Kini kedua tangan Lisa menggenggam tembok pembatas dengan manik mata yang menatap jauh gedung-gedung bertingkat. Angin mengusap lembut rambut Lisa dari wajahnya.
“Dokter Devan, ingin bicara apa?”
“Lisa, bisakah kamu tidak memanggilku dokter? Kita ini sudah lama saling mengenal,” kata Devan dengan nada sedikit kesal.
“Ya, tapi bagaimana pun juga kamu seniorku, Kak. Meskipun kita selama ini kita bersahabat,” sahut Lisa tanpa memandang wajah Devan yang tertekuk.
Manik mata Lisa terus menelisik setiap sudut kota dari tempatnya berdiri.
“Sahabat?” gumam Devan. Lalu pria itu mendengus.
Menjadikan Lisa yang berdiri di samping menoleh dan mengerutkan dahi kala menyadari perubahan pancaran mata Devan.
“Memangnya ada yang salah ya, Kak? Selama ini kita memang bersahabat kan?”
__ADS_1
Devan tersenyum getir dengan pandangan mata yang tak lepas dari wajah cantik Lisa.
“Iya, kita memang bersahabat, tapi aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar sahabat, Sa.”
Lisa membalas tatapan Devan. Dia meneliti raut yang ditampilkan oleh pria yang selama ini dia anggap sebagai kakak.
Melihat Lisa yang diam saja, Devan menarik tangan Lisa dan menggenggamnya erat.
“Lisa, aku ingin kamu menjadi pacarku.”
Sontak Lisa tertawa yang malah membuat Devan mengernyit. Pelan-pelan Lisa melepaskan tangannya dari genggaman Devan.
“Kak Devan, leluconmu itu tidak lucu.”
“Apa aku sedang seperti bercanda, Sa?”
Lisa terdiam. Sekali lagi dia menatap raut wajah Devan dan menyadari bahwa pria itu sedang bersungguh-sungguh.
“Tapi, Kak Devan, aku minta maaf... aku.”
Lisa tak mampu melanjutkan ucapannya. Sehingga Devan sendiri yang menerka.
“Kamu belum bisa melupakan pria amnesia itu?” tebak Devan yang dijawab oleh Lisa dengan sebuah anggukan.
Devan berdecak sambil menggelengkan kepala. Sebagai orang yang telah lama mengenal, dia tahu jika di hati Lisa telah dihuni oleh seorang pria yang tak pernah sekali pun menemui gadis itu.
Sebab ini bukan pertama kalinya Lisa mendapatkan pernyataan cinta dari seorang pria. Devan ingat betul ada banyak laki-laki yang menyatakan cinta, bahkan ada yang berani melamar Lisa.
Akan tetapi semua pria itu ditolak dan hanya Devan yang tahu alasan sebenarnya yaitu, Lisa yang masih menyimpan rasa pada seorang pria amnesia yang dahulu pernah ditolongnya.
“Tapi, Lisa. Kenapa? Kenapa kamu masih mengingat pria itu. Dia bahkan tak pernah menemui kamu lagi. Sekarang dia mungkin sudah bahagia dengan wanita lain.”
Lisa tertunduk. Semua yang dikatakan Devan memang benar adanya dan dia pun tak tahu kenapa dia susah sekali untuk melupakan Edgar.
“Aku tahu, Kak. Aku pun telah berusaha untuk melupakan dia tapi yang terjadi aku malah semakin merindukan dia,” ungkap Lisa tetap tertunduk tak berani menatap manik mata Devan yang sudah dipastikan menyiratkan sebuah kekecewaan.
“Cobalah untuk terima aku sebagai kekasihmu, Sa,” pinta Devan penuh pemaksaan.
Hening sejenak karena baik Lisa maupun Devan tak mengeluarkan suara untuk berbicara. Sampai pada akhirnya Lisa mendongakkan kepala membalas tatapan tajam Devan.
“Jika aku memaksakan diri untuk menerima Kak Devan, bukankah aku akan semakin menyakiti perasaan Kakak? Maaf, Kak. Aku tidak bisa.”
Sesaat Lisa berniat melangkahkan kaki hendak pergi. Namun, dia terhenti dan menatap kembali Devan yang menampilkan wajah sendu.
__ADS_1
“Dan satu lagi, Kak. Aku akan dipindahkan ke rumah sakit cabang dan mungkin kita akan jarang bertemu. Tapi aku merasa senang bisa berteman dengan Kak Devan.”