Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
41 Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Serena mengintip dari balik tirai jendela. Dia menyipitkan mata saat melihat di depan rumah sana, Keysha diantar pulang oleh seorang pria.


Wajah pria itu tak terlihat jelas oleh penglihatan Serena yang mengidap rabun jauh. Tapi satu hal yang pasti pria itu bukanlah Gustav seperti yang dia harapkan.


Serena mengetahui dari mobil yang kini berhenti di rumahnya, bukan mobil yang biasa dipakai Gustav.


Kemudian, Serena segera menutup tirai begitu Keysha melangkah masuk ke rumah.


"Key, siapa pria tadi?" Serena bertanya ketika Keysha baru saja menutup pintu sambil senyum-senyum sendiri.


"Oh, itu Dokter Devan, Mom."


Serena memberengut. Dia kecewa pada sang putri yang tidak menuruti perintahnya.


Dia meminta Keysha untuk mendekati Gustav dan menggagalkan niat Gustav menikahi Lisa. 


"Mom, please, jangan ajari aku menjadi pelakor. Kalau Mommy ingin aku cepat menikah Mommy cukup doakan aku berjodoh dengan Dokter Devan. Oke?"


"Keysha," teriak Serena sebab anak semata wayangnya itu malah seenaknya saja melenggang pergi.


Mendadak Keysha menghentikan langkah kakinya, memutar badan menatap Serena, tapi bukan untuk menyahut panggilan Serena melainkan mengusulkan sebuah ide.


"Mom, bagaimana kalau Mommy bujuk Daddy agar menjodohkan aku dengan Dokter Devan? Boleh ya, Mom? Boleh ya?"


Serena berdecak dan menghela nafas. Dia dibuat pusing akan permintaan Keysha. Namun, dia juga sadar jika sikap manja putrinya itu juga karena perlakuan dia sendiri yang selalu memanjakan Keysha.


Tak ingin mendengar ceramah dari sang ibu, Keysha segera melangkah menuju kamar meninggalkan Serena yang berkacak pinggang dengan wajah ditekuk.


"Memang Devan itu siapa, hah? Sampai putriku tergila-gila padanya."


*


*


*


Gustav keluar dari mansion, masuk ke dalam mobil untuk menyelesaikan suatu urusan yang tidak bisa ditunda.


Perginya mobil yang ditumpangi Gustav, diamati secara diam-diam oleh Gordon melalui jendela lantai dua. Gordon menutup kembali tirai setelah memastikan mobil Gustav berbelok ke jalanan.


Lalu pria kurus itu melangkah masuk ke dalam kamar Camilla. Ada sesuatu yang perlu dibicarakan dengan neneknya itu.


Ketika Gordon masuk, Camilla yang duduk di atas ranjang baru saja menghabiskan makanan. Manik mata wanita tua itu menangkap Gordon dan meminta pelayan untuk segera pergi.


"Kamu tahu jika aku paling tidak suka ada orang masuk ke kamarku di saat aku sedang istirahat," ucap Camilla setelah pelayan meninggalkan kamar sehingga hanya tersisa Camilla dan Gordon.


"Aku tahu. Aku hanya ingin melihat kondisi Grandma."


"Bukankah kau sudah melihatku beberapa menit yang lalu. Kenapa kau kembali lagi kemari?" Camilla menatap Gordon penuh selidik.

__ADS_1


"Kenapa Grandma selalu membedakan aku dengan Gustav dan Gwen?" mendadak Gordon balik bertanya. Pandangan matanya kosong menatap Camilla.


"Karena kamu anak hasil perselingkuhan Andrew dengan seorang wanita malam," jawab Camilla meski nada bicaranya terkesan main-main tapi telah berhasil menyulut emosi di dalam diri Gordon.


"Ah sudahlah. Kau membuat waktuku terbuang sia-sia. Tolong ambilkan obat yang ada di atas meja sana."


Camilla menunjuk botol obat yang ada di meja lumayan jauh dari jangkauannya dan Gordon pun menuruti perintah Camilla. Dia mengambil botol obat lalu menyerahkannya pada sang nenek.


Dengan cepat Camilla meneguk obat dengan dosis yang telah dianjurkan dokter. Dia menarik selimut berniat untuk tidur, tapi seketika wajahnya mengerut kala Gordon masih enggan keluar dari kamar.


"Kenapa kau masih di sini?"


Gordon tersenyum penuh arti yang menjadikan Camilla semakin terheran.


"Untuk memastikan jika racunnya sudah bekerja atau belum," ucap Gordon menyeringai.


Sejenak Camilla tak paham akan ucapan Gordon. Namun, seketika manik mata Camilla membelalak ketika Gordon mengeluarkan botol obat dari saku jas.


Ya, saat Gordon diminta mengambilkan botol obat, diam-diam dia menukar obat itu dengan racun yang sudah dikemas di dalam botol yang sama. Lalu obat yang asli dia masukan ke dalam saku jas saat berbalik badan.


Camila menatap obat yang di tangan Gordon dan yang baru saja dia minum. Kedua botol itu memiliki kemasan yang sama.


Detik berikutnya, Camilla langsung paham dan segera membanting botol yang berisi racun.


"Kau kurang ajar!" pekik Camilla melotot pada Gordon yang sedang melirik jam tangan.


Gordon tertawa terpingkal-pingkal. Lalu dia mengikat tangan dan kaki Camilla agar wanita tua itu tidak lari meminta bantuan pelayan.


Camilla terus berteriak. Sayangnya kamar Camilla dirancang kedap suara. Jadi tidak akan ada orang yang akan mendengar.


Terlebih saat ini Camilla merasa tubuhnya semakin lemas dan mulai bergemetar.


"Dari pada tenagamu itu dipakai untuk berteriak, lebih baik tanda tangan dokumen ini saja," kata Gordon menekan tubuh Camilla supaya diam di atas tempat tidur dan satu tangan yang lain menyodorkan sebuah berkas dokumen.


Dengan nafas tersengal, Camilla bertanya, "Apa ini?"


"Ini surat wasiat yang menyatakan bahwa kau akan mewariskan semua hartamu termasuk Alastar Corp hanya padaku seorang."


Camilla menyeringai di saat tubuhnya semakin bergetar hebat.


"Sekarang aku paham. Pasti kaulah orang yang telah berniat membunuh Gustav hingga dia mengalami amnesia," ucap Camilla menatap jijik pada Gordon.


"Benar. Memang aku yang menyuruh orang menghajar Gustav sampai mati. Supaya apa? Supaya Alastar Corp diwariskan padaku bukan Gustav. Tapi sayang, Gustav selamat dan bahkan dia memperketat penjagaan dengan menyewa anak buah. Jadi kini aku mengincar kematianmu saja lalu aku akan memalsukan surat wasiat."


"Kau benar-benar licik. Aku tidak mau menandatangani surat itu," Camilla berkata tegas lalu kembali berteriak berharap ada seseorang masuk ke dalam kamarnya.


Kali ini Gordon tidak tinggal diam. Dia mengambil sehelai kain untuk membekap mulut Camilla. Kemudian dia menuntun tangan Camilla untuk mau tanda tangan di surat wasiat palsu.


Sekelebat bayangan masuk ke dalam memori Camilla. Tepatnya saat Camilla mendapat kabar bahwa putra bungsunya bernama Andrew meninggal karena kecelakaan.

__ADS_1


Flashback on.


Malam itu setelah acara pemakaman selesai, Aaron, anak sulung Camilla sekaligus kakak Andrew membawa bocah laki-laki berusia tujuh tahun ke rumah.


Bocah itu tampak malu-malu di matanya yang sembab karena menangis. Lalu bocah itu melempar pandangan pada Aaron.


"Nah, Gordon, kau bisa bermain bersama Gustav dan Gwen. Paman ingin bicara sebentar dengan Grandma."


Gordon kecil mengangguk, dan mengikuti seorang pelayan yang telah diperintahkan untuk menunjukan kamar dimana Gustav dan Gwen sedang bermain.


Sementara itu masih di ruang tamu, Camilla menatap tajam pada Aaron. Dia masih belum menerima Gordon di dalam anggota keluarga setelah Andrew tanpa tahu malu mengungkap perselingkuhannya dan memilih bercerai dengan istri pilihan Camilla.


"Andrew sudah sepakat jika dia dan anaknya dicoret dari anggota keluarga Green. Kenapa kamu malah membawa anak itu kemari?"


"Mom," panggil Aaron pada Camilla.


"Andrew dan Lucy kini telah pergi untuk selamanya. Mereka mengalami kecelakaan mobil dan Gordon sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali kita. Jadi aku mohon Mom mau menerima dia sebagai cucu."


Camilla membuang muka agar Aaron tidak melihat wajahnya yang menahan kesal. Meskipun begitu di lubuk hati yang paling dalam, Camilla menangis begitu mengetahui Andrew meninggal.


Sekelebat bayangan masa lalu, menjadikan Camilla kembali dikuasai oleh amarah. Bayangan saat Camilla mengetahui perselingkuhan Andrew.


"Dia sudah membuat malu keluarga kita dan setiap aku melihat wajah anak itu, aku selalu ingat akan skandal itu."


"Mom, cobalah untuk menerima dan berdamai dengan semua yang telah terjadi," pinta Aaron.


Melihat Camilla yang diam saja, membuat Aaron menarik nafas panjang. Dia beranjak berdiri untuk menyudahi perbincangannya dengan sang ibu.


Aaron akan tetap mengasuh Gordon tanpa atau dengan izin dari Camilla.


Sebelum pergi, Aaron menatap Camilla.


"Mom, seandainya aku juga mati di usia yang terbilang muda, aku ingin Gordon juga mendapat hak waris."


"Dia tidak akan mendapat apa pun kecuali tempat tinggal dan makan," jawab Camilla tegas.


Aaron menghela nafas. Dia tahu Camilla adalah tipe wanita yang keras kepala. Jadi butuh kesabaran ekstra untuk membujuk ibunya itu.


Camilla melirik pada cermin yang tergantung di dinding. Dia melihat bayangan Gordon kecil yang sedang mencuri dengar pembicaraan dia dengan Aaron.


Terlihat jelas di pantulan cermin itu, wajah Gordon menahan marah. Sama seperti Camilla yang juga murka pada anak itu.


Flashback off.


Terpaksa Camilla menandatangani surat yang disodorkan Gordon. Sebab kini dia tak memiliki daya untuk melawan.


Seketika Gordon terlonjak senang. Melihat apa yang selama ini dia impikan menjadi kenyataan.


"Yeah, akhirnya. Setelah sekian lama aku nantikan."

__ADS_1


__ADS_2