
Keysha menoleh kanan kiri mencari keberadaan Lisa dan Devan. Lalu samar-samar terdengar suara cekikikan dari balik rak sepatu.
Keysha menjulurkan leher untuk dapat melihat orang yang sedang tertawa itu dan ternyata mereka adalah Devan dan Lisa.
Mereka berdua sengaja bersembunyi di balik tak ketika Keysha salah menarik orang. Bahkan Devan sempat merekam aksi konyol Keysha itu di ponselnya.
Devan berencana untuk mengunggah video Keysha ke sosial media. Siapa tahu viral.
"Kalian itu ya, jahat sekali," gerutu Keysha seraya berkacak pinggang.
"Sorry, Key. Habis tadi kamu buru-buru sekali," kata Lisa yang masih terkekeh mengingat kejadian tadi.
Bibir Keysha mengerucut tapi detik berikutnya dia kembali tersadar akan tujuan utama dia membawa Devan ke toko sepatu.
Kali ini Keysha tak salah lagi menarik tangan Devan. Dia membawa pria itu menyusuri rak sepatu dan meminta untuk memilihkan sepatu yang bagus.
Sementara Lisa tersenyum tipis ketika memandang aksi Keysha yang terus menempel pada Devan. Pelan-pelan dia berjalan keluar toko tanpa disadari oleh Devan dan juga Keysha.
Lisa tak mau terlibat lagi dalam urusan asmara Keysha. Terlebih dia belum sempat memberi kabar pada Gustav.
Namun, saat Lisa mengambil ponsel di dalam tas, benda pipih itu ternyata mati total.
"Mana aku tidak bawa charger lagi," gerutu Lisa sambil terus mengayunkan kaki sampai ke pelataran toko.
Seketika tubuh Lisa membeku begitu dia melihat sosok pria yang sedang memandanginya penuh amarah. Siapa lagi kalau bukan Gustav.
"Sayang, kenapa kamu di sini?" Lisa bertanya setelah dia menelan saliva dengan susah payah.
Dapat Lisa rasakan aura dingin dan sorot mata yang tajam menghunus dari seorang Gustav. Menjadikan tengkuk Lisa meremang dan tubuhnya gemetar karena ketakutan.
Tak menjawab, Gustav malah menarik Lisa untuk masuk ke kursi belakang mobil yang langsung melaju dengan Jerri sebagai sopirnya.
"Duduk!"
Gustav menepuk ruang yang ada di sampingnya. Sebab kini Lisa duduk terlalu jauh darinya.
Sesaat Lisa ragu, tapi akhirnya dia menurut dan menggeserkan duduk lebih dekat dengan kekasihnya yang sedang marah itu.
"Kamu tahu apa kesalahanmu?"
"Aku pergi dengan Devan tanpa meminta izin dulu darimu," jawab Lisa berusaha sebisa mungkin menutupi ketakutannya.
"Bagus kalau kamu tahu."
Lisa menarik nafas. Satu-satunya cara agar kemarahan Gustav reda adalah dengan sedikit rayuan.
Sehingga kini Lisa menjatuhkan kepalanya di dada bidang Gustav dengan kedua lengan melingkar di perut pria itu.
"Kamu marah? Aku minta maaf. Hp ku mati dan tadi itu aku hanya sedang berusaha menjodohkan Keysha dengan Devan," jelas Lisa berbicara dengan nada lembut.
Semerbak aroma wangi yang menguar dari rambut Lisa tertangkap oleh indra penciuman Gustav. Ditambah sikap Lisa yang mendadak manja kepadanya, membuat Gustav melunak dalam sekejap.
__ADS_1
Mana mungkin aku marah padamu. Kata Gustav yang hanya diucapkan dalam hati seraya mengecup puncak kepala Lisa.
"Supaya kamu tidak marah lagi, aku akan setuju jika hari pernikahan dimajukan jadi minggu ini."
Salah satu sudut bibir Gustav naik ke atas. Terbesit ide untuk mengerjai Lisa.
"Sayangnya aku masih marah," kata Gustav berbohong.
"Baiklah. Bagaimana kalau lusa?"
"Really?"
Lisa mendongak untuk melihat wajah Gustav, lalu dia pun mengangguk cepat. Menandakan bahwa dia serius dengan ucapannya.
"Fine. Lusa kita menikah," ucap Gustav setuju.
Detik berikutnya, Gustav melabukan kecupan di bibir Lisa. Akan tetapi gadia itu dengan cepat memundurkan kepala.
Gustav mengernyit mendapati Lisa yang menolak ciuman darinya. Lalu dia paham saat Lisa melirik ke arah Jerri yang sedang menyetir mobil.
"Tenang saja. Jerri akan pura-pura tuli dan buta. Bukan begitu, Jer?"
Tak ada sahutan dari Jerri.
"See. Dia tidak mendengarkan aku."
"Tapi.. Uhmp."
Tak dapat terelakan lagi, suasana di dalam mobil dipenuhi oleh suara kecapan yang membuat konsentrasi Jerri terganggu.
Jerri menghela nafas panjang, sebisa mungkin dia berusaha untuk tidak melirik ke belakang. Meski rasa penasarannya sangat besar akan apa yang tengah dilakukan dua orang di belakang sana.
*
*
*
Lisa dan Gustav turun dari mobil lalu melintasi halaman mansion. Gustav berencana akan memberitahu Camilla tentang hari pernikahan yang akan diadakan lusa.
Mereka berdua melenggang menuju kamar Camilla. Namun, saat mereka berada di depan pintu, Gordon tiba-tiba keluar.
Mendadak Gustav membulatkan kedua manik matanya. Dia tak menyangka ada Gordon sebab pria itu seharusnya masih ada di London.
"Kapan kau kemari?" Gustav bertanya dengan menampilkan raut muka tidak senang.
"Baru saja. Aku mendengar kabar jika kondisi kesehatan Grandma memburuk. Jadi aku langsung kemari tanpa sempat memberitahumu," terang Gordon dengan santai.
Melihat interaksi dua pria di hadapannya, Lisa mengerutkan dahi keheranan karena dia menangkap raut wajah tidak suka pada pri yang bernama Gordon ini.
Meski Gordon mendapat tatapan tajam dari Gustav, dia tampak tenang dan bahkan cukup lama dia memandangi Lisa.
__ADS_1
"Jadi, ini calon istrimu?" tanya Gordon setelah puas menatap Lisa.
Tak ada sahutan dari Gustav, menjadikan Lisa sendiri yang berinisiatif memperkenalkan diri. Dia mengulurkan tangan sambil tersenyum.
"Perkenalkan, Lisa."
Belum sempat Gordon menyambut jabatan tangan Lisa, dengan cepat Gustav menarik tangan wanitanya.
"Tidak perlu jabat tangan," ucap Gustav tanpa melepas lirikan tajam ke arah Gordon.
"Kenapa?" Lisa bertanya keheranan.
"Tidak penting."
Kemudian tanpa berbicara apa-apa lagi, Gustav menuntun Lisa meninggalkan Gordon begitu saja.
Gustav mengurungkan niat bertemu Camilla dan memutuskan untuk membawa Lisa ke dalam kamarnya.
Di sebuah kamar yang luas dengan nuansa monokrom, Lisa memutar pandangan untuk melihat setiap sudut ruangan.
"Kamu istirahat di sini sampai hari pernikahan kita tiba. Jika perlu apa pun perintah saja pelayan yang ada di sini," terang Gustav masih dengan raut muka menahan emosi.
Lisa terheran akan sikap Gustav yang tiba-tiba berubah dingin begitu bertemu dengan Gordon. Belum lagi kini Lisa diminta menghuni kamar Gustav, bukannya kamar tamu.
"Tapi kenapa? Kenapa aku istirahat di sini?"
"Karena sistem keamanan di kamar ini yang terbaik di banding ruangan lain," Gustav menjawab sambil ekor matanya melirik cctv yang terpasang di beberapa titik.
Jawaban Gustav bukan membuat Lisa puas tapi malah semakin membingungkan.
" Lalu kamu akan istirahat di mana?"
"Di kamar tamu."
Lisa tak mengerti dengan pemikiran Gustav. Namun, satu hal yang pasti, Lisa menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Gustav.
Lantas Lisa mendekati Gustav, memeluk dari belakang dan menjatuhkan kepala di bahu kelar pria itu.
"Everything is oke?" Lisa bertanya dengan suara lirih.
Dan Gustav mengangguk sebagai jawaban. Demi menutupi perasaan yang ada, dia pun mengulum senyum.
Kemudian satu tangannya bergerak mengusap puncak kepala Lisa.
"Aku pergi sebentar. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Tetap berada di sini dan…"
Gustav mencondongkan kepala, berbisik di depan telinga Lisa dengan nada penuh ancaman. "Jangan pergi ke mana pun."
Lisa hanya menghela nafas dan menjawab santai.
"Baik, Baginda Raja."
__ADS_1
Kemudian Lisa terkekeh tapi tidak dengan Gustav yang tetap tenang meski matanya tersimpan sebuah misteri.