Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
37 Kamu Berubah


__ADS_3

Teringat saat terakhir kali Gustav mencium Lisa justru mendapatkan tamparan keras, menjadikan Gustav kali ini meminta izin terlebih dahulu. 


Dan entah dorongan dari mana, Lisa refleks mengangguk yang membuat Gustav menjatuhkan kepala untuk melabuhkan kecupan di bibir wanitanya. 


Kecupan yang bagi Lisa terasa lembut itu perlahan berubah menjadi ciuman yang menuntut. Bahkan membuat Lisa memukul dada Gustav karena tak dapat mengimbangi. 


Bibir Lisa terbuka ingin berbicara. Namun, Gustav malah memakai kesempatan itu untuk memasukan lidah dan menyusuri rongga mulut Lisa. 


Tak dapat berkutik, pada akhirnya Lisa terbuai akan ciuman Gustav dan dia pun membalas dengan ikut menggerakan lidah.


Seketika terdengar suara kecapan yang memenuhi segala penjuru kamar. Lalu ciuman itu berhenti kala keduanya kehabisan nafas. 


Pelan-pelan Lisa membuka mata dan pandangannya langsung bertemu dengan manik mata hijau dari seorang Gustav. Dapat Lisa rasakan pipi yang terasa panas. 


Suhu tubuh Lisa naik drastis. Padahal beberapa menit yang lalu dia kedinginan karena tercebur ke dalam air, tapi kini dia kegerahan setelah ciuman tadi. 


Lisa berdehem untuk menenangkan perasaan yang berkecamuk di dada. Lalu membuang muka agar Gustav tak menyadari dirinya yang dilanda gugup. 


"Aku rasa cukup! Aku harus berangkat kerja sekarang."


"Aku ingin kita menikah besok."


"Besok? Apa itu tidak terlalu lama?" tanya Lisa yang dimaksudkan menyidir Gustav karena memutuskan hari pernikahan terlalu cepat. 


"Baik. Kalau begitu kita menikah hari ini," ucap Gustav datar dan santai. 


"Tidak, tidak, jangan hari ini dan jangan pula besok."


"Lalu kamu ingin kapan?" Gustav menyatukan keningnya ke kening Lisa dengan sorot mata yang tak lepas dari bibir wanita itu. 


"Kita sudah menunda sampai lima tahun."


Ucapan Gustav menjadikan Lisa tersadar akan janji Gustav dulu yang akan menikahi Lisa setelah pulih dari amnesia. 


Akan tetapi karena Camilla menuntut Gustav untuk menikahi wanita yang berkelas, Gustav memutuskan untuk menunggu Lisa menjadi seorang dokter terlebih dahulu.


"Tiga bulan lagi bagaimana? Aku kan belum terlalu mengenalmu."


Sontak Gustav naik darah mendengar penuturan Lisa. Dia kembali me-***** bibir Lisa yang dengan santai mengatakan tidak mengenalnya. 


Gustav salurkan semua amarah melalui ciuman yang panas dan sangat menuntut itu. Sampai dia menggigit bibir bawah Lisa.

__ADS_1


"Aku Edgar yang dulu kamu kenal, Lisa," kata Gustav setelah tautan bibir mereka terlepas. 


Dengan ragu Lisa menggelangkan kepala. 


"Bukan. Kamu bukan Edgar yang dulu aku kenal. Menurutku kamu sedikit berubah."


Dahi Gustav mengerut dan menatap wajah Lisa dengan penuh keheranan. 


"Aku tidak berubah, Lisa."


"Sikapmu sedikit berbeda dan aku perlu waktu untuk mengenal kamu," ucap Lisa tak kalah tegas. 


Gustav tergugu. Detik berikutnya dia menghela nafas dan berdecak. 


Seketika Gustav teringat akan ucapan Devan tadi malam yang mengatakan jika Lisa belum mengenal dirinya. 


"Apa itu penting Lisa?" Gustav bertanya yang dijawab dengan sebuah anggukan oleh Lisa. 


Kemudian Gustav meraih ponsel dan jemarinya menggulirkan sebuah pesan singkat pada Jerri. 


*


*


*


Jerri menundukan kepala saat Gustav dan Lisa berdiri tepat di hadapannya. Sedangkan Gustav melempar pandangan pada Lisa yang mengerutkan dahi. 


Lisa tampak keheranan akan buku-buku yang dibawa oleh asisten kekasihnya itu. 


"Kamu bilang kalau kamu perlu waktu untuk mengenalku kan?" Gustav bertanya pada Lisa yang tampak ragu menganggukan kepala.


Lisa mengusap tengkuk sebab dia bisa merasakan sesuatu yang tidak enak. Dan benar saja, Gustav mengambil semua buku yang dibawa Jerri lalu memaksa Lisa untuk menerimanya. 


Dengan gelagapan, Lisa mendekap lima buah buku yang dia yakin masing-masing buku memiliki seribu halaman.


"Ini semua dapat membantumu untuk mengenal aku dan juga keluargaku."


"Maksudmu?"


"Buku-buku ini berisi biografi tentang aku dan juga keluargaku. Semua lengkap dari biografi Rafael sampai kakek buyutku dan aku ingin kamu membacanya dalam dua hari. "

__ADS_1


"Apa?" tanya Lisa tercengang akan perintah dari Gustav. 


Sekilas Lisa melirik buku di dalam dekapan dengan mulut yang sedikit menganga. 


"Tapi kan."


"Tidak ada tapi karena ini perintah," ucap Gustav tegas. 


Menjadikan Lisa menghela nafas pasrah. Mau tidak mau dia mengiyakan saja kemauan Gustav. 


Kemudian dua pasangan kekasih itu berpisah. Lisa masuk ke dalam rumah sakit sedangkan Gustav naik ke dalam mobil. 


"Kamu sudah menjalankan tugas dariku?"


"Sudah, Tuan."


Jerri menyerahkan ponsel yang menunjukan beberapa foto Roy dengan kondisi terikat dan babak belur. 


Sebuah senyum tipis terukir di bibir Gustav kala dia menggeser setiap foto. Lalu menyerahkan kembali pada Jerri. 


Tadi Gustav meminta Jerri untuk mencari serta memberi sedikit pelajaran pada Roy dan dalam waktu tak sampai satu jam, anak buah Gustav berhasil menangkap pria itu. 


"Apa sudah cukup kita menyiksanya, Tuan?" Jerri bertanya dengan ragu-ragu. 


"Tidak. Bahkan sampai menangis darah pun, terus sekap dia."


Susah payah Jerri menelan salivanya. Inilah sisi lain dari seorang Gustav jika dia sangat marah pada seseorang. 


Tak mengherankan jika ada beberapa pihak yang mungkin saja menyimpan dendam dan menginginkan Gustav mati. 


Di tempat lain, Lisa membanting buku-buku ke atas meja hingga menumbulkan suara keras. Lalu dokter muda itu berkacak pinggang dengan menyunggingkan seringai. 


"Dia pikir aku akan mau menghabiskan waktu hanya untuk membaca buku-buku ini?"


Lisa terkekeh mengingat ekspresi Gustav saat dia meminta mengulur hari pernikahan. 


Sebenarnya alasan utama Lisa hanya ingin mengerjai Gustav semata. Sebab pria itu telah meninggalkan Lisa selama lima tahun tanpa memberi kabar.


Lisa menghempaskan diri ke kursi kerjanya, menatap buku dengan pandangan kosong sambil membayangkan wajah Gustav. Tanpa sadar senyum merekah di bibir Lisa. 


"Boleh kan sekali-kali mengerjai calon suami sendiri."

__ADS_1


__ADS_2