Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
31 Pusara


__ADS_3

Lisa berdiri menatap dua pusara yang tampak terawat. Bahkan ada buket bunga yang sudah layu di atas pusara itu.


Pertanda bahwa beberapa hari yang lalu ada seseorang yang meletakan bunga di atas makam ayah dan ibu Lisa dan mungkin saja orang itu yang selalu merawat makam orang tua Lisa selama dia tinggal di kota.


Lisa bersimpuh untuk mengganti bunga yang layu dengan buket bunga segar yang dibawanya. Secara bergantian, manik mata Lisa menatap batu nisan yang mengukir nama ayah dan ibu.


“Ayah, Ibu, aku pulang. Maafkan aku karena baru sekarang aku mengunjungi makam ayah dan ibu.”


Sudut mata Lisa kini telah menggenang dan suaranya pun mulai terdengar serak.


“Tapi nama ayah dan ibu selalu ada di setiap doa yang aku panjatkan.”


Lisa terisak, dengan cepat dia menyeka jejak air mata yang membasahi pipi. Lalu dia paksakan untuk tertawa sambil mengeluarkan ijazah kuliahnya.


Lisa perlihatkan ijazah ke arah makam ayah dan ibu. Berandai kedua orang tuanya dapat melihat tulisan yang tertera di secarik kertas itu.


“Ayah, Ibu, lihatlah! Ini ijazahku. Aku mendapat nilai terbaik,” ucap Lisa sebisa mungkin menahan isak agar tak menangis.


Kemudian, Lisa pun mengeluarkan kertas yang lain dari dalam tasnya.


“Dan ini surat izin praktikku sebagai dokter. Sekarang aku sudah menjadi dokter seperti yang selama ini aku impikan.”


Air mata tak mampu untuk Lisa bendung lagi. Dia pun menumpahkan semua perasaan di dalam hatinya.


Perasaan bahagia karena impiannya tercapai, perasan rindu akan kedua orang tuanya, tapi yang paling mendominasi adalah perasaan sedih sebab ayah dan ibu tidak melihat Lisa yang kini menyandang sebagai dokter.


Cukup lama Lisa menangis di depan makam orang tuanya. Tanpa disadari seorang wanita memotret Lisa dari kejauhan lalu foto hasil jepretannya itu langsung dikirim pada Gustav.


Bermil-mil jauhnya, Gustav yang sedang rapat bersama klien penting mendadak memalingkan perhatian pada sebuah pesan masuk.


Pupil mata Gustav melebar saat melihat foto yang memperlihatkan Lisa menangis di depan pusara kedua orang tuannya.


*


*


*

__ADS_1


Lisa berjalan pulang ke rumah dengan langkah berat, sepanjang jalan dia hanya menundukkan kepala hingga dia tiba di halaman depan rumah.


Dahi Lisa mengerut saat melihat ada satu mobil asing yang terparkir di depan rumahnya dan kerutan di dahi Lisa semakin jelas begitu sang pemilik mobil keluar.


Kedua mata Lisa membelalak ketika wanita yang dia kenali sebagai istri Edgar turun dari mobil dan tersenyum padanya. Serangkai pertanyaan bermunculan di benak Lisa.


Dan pertanyaan yang paling membuatnya penasaran adalah mengapa wanita itu datang ke rumah?


“Halo, saya Gwen. Apa boleh masuk ke dalam?” kata Gwen mengulurkan tangan karena sejak tadi Lisa diam di tempat.


Lisa sedikit terlonjak dan pipinya bersemu merah menahan malu kedapatan tengah melamun. Lalu Lisa menganggukkan kepala dengan sangat canggung dan menuntun Gwen masuk ke dalam rumah.


Sesaat Gwen melepas kacamata hitamnya, mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan, kemudian menghempaskan bokong untuk duduk di sebuah sofa ketika Lisa datang dari dapur membawa minuman.


Dua wanita cantik itu duduk berhadapan dengan saling menatap satu sama lain. Lalu tautan mata mereka putus karena Gwen memalingkan wajah menatap ke luar jendela.


“Jadi di sinilah Gustav berada selama dia amnesia?”


“Iya,” Lisa menjawab singkat. Dia menarik nafas setelah akhirnya dia tahu nama asli Edgar.


Lisa mengernyit tak paham akan maksud ucapan Gwen. Melihat ekspresi Lisa, membuat Gwen tersenyum simpul.


“Apa kamu tidak tahu Gustav lah yang sudah memperbaiki jalanan di desa hanya karena dia tidak mau melihatmu berjalan di jalanan berbatu. Oh, dia juga yang telah merenovasi rumah ini.”


Gwen kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling yang kemudian berakhir menatap Lisa. Wanita muda itu tampak tercengang akan penuturan dari Gwen.


“T-tapi kenapa dia melakukan semua itu?” Lisa bertanya terbata-bata.


Gwen menaikkan alisnya. Sekarang giliran dia yang kebingungan akan pertanyaan Lisa.


“Kenapa dia melakukan semua itu?” Gwen mengulang ucapan Lisa. Tapi detik berikutnya senyuman terbit di bibir manis Gwen.


“Bukankah sudah jelas bahwa itu tandanya kamu dan tempat ini sangat berarti bagi Gustav.”


Manik mata Lisa menelisik raut wajah Gwen yang terlihat bisa saja. Menjadikan Lisa ragu apakah benar wanita ini istri dari Gustav atau bukan.


“Tapi bukankah dia suamimu?”

__ADS_1


“Suami?” Gwen terlonjak dan gelak tawa langsung membahana ke penjuru ruangan.


Gwen tertawa lepas. Bahkan sampai mengeluarkan bulir bening di sudut mata. Sementara Lisa semakin dibuat bingung sebab menurutnya tak ada yang lucu sama sekali.


“Suami? Jadi selama ini kamu... Oh astaga, Lisa.”


Gwen kembali tertawa selama beberapa saat. Lalu dia menarik nafas panjang untuk menetralkan diri. Ditatapnya Lisa dengan sisa senyum yang masih berkembang di bibir.


“Aku bukan istrinya Gustav. Aku kakak perempuannya. Ya, meski umur kami hanya berselang lima menit,” ungkap Gwen yang kemudian menyeruput teh.


“Kalian saudara kembar?”


Gwen mengangguk. “Kembar non identik. Gustav mewarisi wajah Daddy dan aku mirip seperti Mommy.”


Lisa tampak terkejut akan ucapan Gwen. Karena setahu dia, anak kecil yang bernama Rafael memanggil Gustav dengan sebutan Daddy dan Mommy untuk Gwen.


“Tapi aku melihat ada anak laki-laki memanggil Daddy pada Gustav.”


“Oh ya, dia Rafael anakku. Meskipun sering kali aku mengajari Rafael tapi di selalu saja memanggil Gustav dengan sebutan Daddy.”


Akhirnya Gwen pun menceritakan tentang masalah rumah tangganya pada Lisa. Saat dulu dia ditinggalkan oleh sang suami dalam keadaan mengandung Rafael.


Hingga Rafael lahir dan tumbuh besar tanpa sosok ayah. Namun, selalu ada Gustav yang selalu membantu Gwen menamani tumbuh kembang Rafael. Sampai tertanam di benak Rafael bahwa Gustav adalah sosok ayah yang selama ini dirindukan.


Lisa merasa iba dengan nasib yang menimpa rumah tangga Gwen. Dia tak mau bertanya lebih tentang perceraian Gwen dan Lukas sebab hatinya kini menyimpan perasaan campur aduk.


Bahkan mulut Lisa serasa tercekat tak tahu harus berkata apa. Selama ini dia salah paham pada Gustav. Dia mengira Gustav telah bahagia bersama keluarga kecilnya.


Meskipun begitu, ada satu hal yang mengganjal di pikiran Lisa.


“Kalau begitu, kenapa selama ini Gustav tidak menemuiku?” Lisa bertanya setelah Gwen selesai bercerita.


Gwen hanya tersenyum penuh arti. Lalu tangannya merogoh tas untuk mengeluarkan sebuah kartu undangan.


“Kalau untuk itu, kamu tanyakan langsung pada orangnya,” Gwen menyodorkan kartu undangan pesta ulang tahun Camilla.


“Kamu diundang ke pesta ulang tahun Grandma Camilla dan temui Gustav di sana.”

__ADS_1


__ADS_2