Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
46 Hukuman.


__ADS_3

Sudah setengah jalan Lisa menjalankan hukumannya. Dia benar-benar bosan seharian hanya tinggal di dalam mansion.


Minggu pertama Lisa mendapatkan hukuman, dia hanya diperbolehkan berdiam di dalam kamar. Namun, lama-kelamaan Gustav pun tidak tega dan akhirnya melonggarkan hukuman dengan memperbolehkan Lisa beraktivitas di dalam mansion.


Perlu di garis bawahi, hanya di dalam mansion. Itu artinya Lisa tak boleh keluar. Untuk keluar ke halaman mansion saja dia hanya diperbolehkan pada pagi hari, saat dirinya berjemur di bawah sinar matahari pagi.


Seperti sekarang ini, Lisa duduk di halaman belakang sambil merasakan terpaan cahaya sang surya. Otak Lisa tengah berpikir keras supaya hukuman yang dia jalani mendapatkan keringanan.


"Ah, membosankan."


Lisa berdecak dengan kaki yang menjejak-jejakkan ke rumput. 


"Setiap hari pasti selalu seperti ini."


Seketika Lisa menegakkan punggung ketika mendadak lampu di otaknya menyala terang. Dia mendapat ide agar suaminya itu mau menuruti permintaannya.


Lantas Lisa pun mengambil ponsel untuk menghubungi Gustav yang sekarang ini sedang berada di kantor.


"Halo, Sayang, aku boleh menyusulmu ke kantor?" tanya Lisa begitu sambungan telepon terhubung.


"Diam saja di mansion!" sahut Gustav tegas.


Tak mau menyerah begitu saja, Lisa pun melancarkan aksinya. Apalagi kalau bukan merayu suaminya itu.


"Tapi, Sayang, aku… kangen," Lisa mengucapkan kata kangen dengan suara yang menggoda.


Membuat Gustav yang ada di seberang sana mengulum senyum tipis.


"Baiklah. Kamu akan diantar pengawal ke kantor."


"Yes."


Lisa berjingkrak riang di taman begitu telepon dimatikan. 


Setelah Lisa bersiap dan menempuh perjalanan selama setengah jam, kini Lisa berada di depan gedung Alastor Corp. Dia sempat dibuat takjub dengan bangunan pencakar langit yang ada di depannya.


Di depan pintu masuk, sudah ada Jerri yang menyambut Lisa dan mengantar sang nyonya ke ruang kerja Gustav.


Setelah mengantar Lisa, Jerri langsung keluar dan menutup pintu karena dia tak mau menjadi obat nyamuk di antara sepasang pengantin baru.


Menyadari hanya ada mereka berdua di ruangan luas itu, Lisa duduk di pangkuan Gustav yang sedang fokus pada pekerjaan.


Gustav tersentak, tak menyangka Lisa akan menggodanya. Dia pun mengalihkan atensinya untuk menatap sang istri.


"Sayang, izinkan aku bekerja ya? Aku mohon."


"Tidak."


Lisa berdecak, memutar bola malas, lalu menghela nafas.


"Aku janji, meskipun aku bekerja tapi aku tidak akan melupakan tugasku sebagai istri."

__ADS_1


Gustav diam sejenak. Sebenarnya dia tidak melarang Lisa untuk bekerja sebagai dokter. 


Hanya saja Gustav ingin melihat istrinya itu bermanja-manja padanya. 


Lantas Gustav pun menggelengkan kepala tidak setuju yang membuat Lisa mengerucutkan bibir.


Akan tetapi bukan Lisa namanya jika menyerah begitu saja. Dengan menahan malu, Lisa melepas jas dan dasi Gustav sambil terus membujuk agar sang suami mau menuruti kemauannya


Seringai tipis terukir di wajah Gustav karena Lisa masuk ke dalam perangkap. Dia melabuhkan kecupan di bibir Lisa yang terasa begitu manis.


Kemudian, dua insan itu melakukan penyatuan yang biasa mereka lakukan di kamar. 


"Sayang, aku boleh bekerja kan?" ucap Lisa untuk kesekian kali di tengah kegiatan panas yang sedang dilakukan bersama sang suami.


Akhirnya Gustav mengangguk. Sebab telinganya selalu terganggu oleh pertanyaan Lisa itu.


"Sungguh? Ah, terima kasih, Sayang." Tidak lupa Lisa memberi kecupan singkat di pipi Gustav agar senang.


"Tapi ada syaratnya."


"Syarat apa?"


"Kamu harus mengandung anakku."


Lisa mengulum senyum dan mengiyakan syarat dari Gustav.


"Dan setelah hamil, kamu harus selalu mengutamakan anak kita dari semua urusanmu yang lain. Kamu paham?" ucap Gustav menatap tajam Lisa.


Gustav sangat berharap jika nanti Lisa hamil, istrinya itu tak perlu lagi bekerja dan hanya fokus pada kehamilannya.


"Good girl," Gustav mengusap puncak kepala Lisa.


"Termasuk mengesampingkan urusan ranjang, kan?"


Detik berikutnya Gustav terdiam untuk berpikir sejenak.


Ucapan Lisa ada benarnya juga. Jika nanti ada masalah dengan kehamilan Lisa, bisa saja dia harus libur mendapatkan jatah.


Namun, demi calon anak-anaknya, Gustav akan berusaha menahan hasratnya itu. 


"Gus, kenapa diam saja?" Lisa menepuk lengan Gustav untuk menyadarkan pria itu dari lamunan.


"Iya tentu, Sayang."


Gustav tersenyum, tapi saat Lisa tak menatapnya, senyum itu berubah menjadi ekspresi horor membayangkan dirinya libur menyentuh sang istri.


Semoga kehamilan Lisa berjalan baik-baik saja. Batin Gustav.


Sedangkan tanpa dilihat oleh Gustav, Lisa tersenyum karena dia menemukan cara untuk mengerjai suaminya.


*

__ADS_1


*


*


Siang itu, setelah Lisa dan Gustav pergi ke dokter kandungan untuk merencanakan program kehamilan, mereka pun kembali ke mansion. 


Lisa yang pada saat itu belum makan siang meminta Gustav untuk makan bersamanya. 


Dan di sinilah Lisa dan Gustav berada, di meja makan panjang dengan deretan masakan yang semuanya memakai bahan tauge. 


Gustav menghela nafas panjang dan menatap semua masakan itu tanpa ada rasa semangat. Kebalikan dari Lisa yang terus tersenyum. 


"Kenapa harus makan tauge?" tanya Gustav dengan memasang muka lesu. 


"Apa kamu lupa penjelasan dokter tadi. Kita disarankan makan makanan yang menambah kesuburan salah satunya tauge."


Lisa tersenyum saat mendorong piring lebih dekat pada suaminya.


Sejenak Gustav menatap makanan itu lalu melirik pada Lisa. Hanya melihat sorot mata, Lisa tahu jika Gustav tidak mau makan makanan yang ada di depannya itu. 


"Ayo, dimakan. Kamu bilang, apapun akan kamu lakukan untuk calon buah hati kita."


Gustav menarik nafas panjang, pada akhirnya dia mengambil sendok dan melahap sedikit dan dia paksakan makanan itu agar segera meluncur ke kerongkongan.


Sontak Lisa bertepuk tangan mengapresiasi usaha Gustav yang mau makan tauge. 


Pada saat yang bersamaan, Gwen datang bergabung untuk duduk di kursi meja makan. Pandangan Gwen menatap sepasang pengantin baru secara bergantian. 


Kemudian pandangannya berakhir pada menu makanan di meja. Seketika Gwen terkekeh yang membuat Gustav menatapnya sebal. 


"Jangan tertawa! Tidak ada yang lucu," kata Gustav ketus. 


Namun, Gwen tak menggubris. Dia malah memandang takjub pada adik kembarnya itu. 


"Aku tidak menyangka kamu akan mau makan tauge."


"Kalau bukan karena Lisa, aku juga tidak sudi menyentuh apalagi memakannya."


"Bukan karena aku, tapi untuk kebaikan calon anak kita, Sayang," ucap Lisa meralat perkataan Gustav. 


Kemudian Gwen menatap Lisa, wanita yang telah membawa banyak perubahan pada hidup Gustav.


"Kamu tahu, Lisa sejak Gustav pulih dari amnesia, dia jadi sering makan ubi rebus. Aku penasaran, memang dulu kamu apakan dia sampai adikku ini sangat menyukai ubi rebus."


Lisa mengerjapkan mata terkesiap akan penuturan Gwen. Pasalnya dia juga baru tahu jika Gustav sangat menyukai ubi rebus, makanan yang sering dia makan saat dulu ayahnya masih hidup. 


"Benarkah?"


Seketika gelak tawa langsung pecah dari mulut Lisa.  Hingga dia memegangi perut saking tak bisa berhenti tertawa. 


Lisa teringat akan dulu ketika pertama kali Gustav mencoba makan ubi rebus, pria itu protes hanya karena makan seadanya. 

__ADS_1


Melihat Lisa yang tertawa, Gwen menautkan alis keheranan. 


dokter kandunga untuk merencanakan program kehamilan.


__ADS_2