
Seperti tujuan awal Lisa. Dia akan mampir ke toko buku sebelum pulang ke kontrakan.
Kebetulan toko buku yang dikunjungi Lisa berada di dalam salah satu mall terbesar di kota. Sehingga Lisa berniat berjalan-jalan keliling mall setelah dia membeli buku.
Baru saja Lisa melangkah keluar dari toko buku, dia mendengar suara isak tangis yang membuatnya menoleh ke sumber suara.
Ternyata di sudut sana, ada seorang bocah laki-laki yang sedang menunduk dan menangis. Merasa iba, Lisa pun mendekat dan membungkukkan badan untuk menyejajarkan pandangan.
“Hai, kamu kenapa?” Lisa menyapa.
Akan tetapi bocah itu terus menunduk tidak mau memperlihatkan wajahnya. Sementara Lisa menengok kanan kiri untuk mencari orang dewasa yang sekiranya membawa bocah ini
“Kamu sama siapa?” tanya Lisa setelah menyadari tak ada siapa pun di dekat mereka. Membuat Lisa yakin jika bocah ini terpisah dari orang tuanya.
Karena tak kunjung menjawab, membuat Lisa mengulurkan tangan.
“Jangan takut! Tante bantu kamu cari orang tua kamu ya?"
"Kata Mommy, aku tidak boleh percaya sama orang asing," kata si bocah dengan suara parau.
Lisa menganggukkan kepala.
"Mommy kamu benar. Tapi Tante bisa bantu kamu ke pos penjaga. Biar security yang nanti akan mempertemukan kamu sama orang tuamu. Bagaimana?"
Barulah bocah laki-laki itu mendongakkan kepala yang memperlihatkan wajah tampan sejak dini. Lalu senyum di bibir Lisa perlahan mengendur saat mengenali siapa bocah di depannya.
Dia kan... anak kecil yang memanggil Edgar dengan sebutan Daddy.
“Kamu kesini sama siapa?” tanya Lisa dengan suara lembut.
“Sama Daddy.”
Deg.
Manik mata Lisa membola sempurna. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil berharap di dalam hati agar tidak bertemu dengan Edgar.
Bukan karena tidak rindu akan pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Namun, Lisa tak mau bertemu lagi dengan Edgar agar perasaan cinta itu tak muncul lagi setelah dia mencoba membuangnya.
“Kalau begitu, Tante antar kamu ke security ya? Saat ini Daddy kamu pasti juga sedang mencarimu. Oh ya, namamu siapa?”
“Rafael, Tante.”
Selama perjalanan mengantar Rafael ke security mall, Lisa terus menengok kanan dan kiri. Dia yakin jika saat ini Edgar pasti sedang ada di mall itu juga.
Tak lama, langkah kaki Rafael mendadak berhenti. Gurat kecemasan yang tadi tergambar di wajahnya kini berganti menjadi raut bahagia saat melihat sosok di ujung sana.
__ADS_1
“Daddy,” pekik Rafael.
Menjadikan Lisa mengikuti arah pandang bocah lima tahun itu, lalu segera membalikkan badan dan berjalan cepat menghindari Edgar.
Gustav yang mendengar suara Rafael menoleh ke sumber suara. Dia langsung menarik nafas lega begitu melihat Rafael berlari ke arahnya.
Tadi Gwen sempat menitipkan Rafael pada Gustav. Lalu paman dan keponakan itu makan siang di sebuah restoran cepat saji yang ada di salah satu mall.
Namun, saat Gustav menerima telepon dari Jerri, tanpa dia sadari Rafael berjalan sendiri masuk ke toko mainan dan berakhir anak itu terpisah dari pamannya.
Entah apa jadinya jika Gwen tahu Rafael hilang. Dapat dipastikan dia akan mengamuk pada Gustav.
“Kamu dari mana saja, El?” Gustav bertanya dengan nada cemas saat dia mengurai pelukan.
“Daddy, tadi aku ditolong oleh tante cantik,” tutur Rafael yang tidak tahu nama Lisa.
Gustav hanya melengkungkan senyuman tipis sambil tangannya mengusap rambut Rafael.
Sejak dulu Gustav tidak keberatan jika Rafael memanggilnya dengan sebutan Daddy. Sebab Rafael lahir tanpa kehadiran sosok ayah dan Gustav lah pria yang paling dekat dengan Rafael.
Menjadikan anak lima tahun itu menganggap Gustav adalah sosok ayah yang selama ini dia rindukan.
"Kita pulang sekarang. Mommy kamu pasti sudah menunggu lama."
Dan pemandangan Gustav dan Rafael dilihat oleh Lisa yang bersembunyi di balik pilar. Di mata Lisa, pria yang dia kenal sebagai Edgar itu sangat menyayangi anaknya.
Gustav menuntun tangan Rafael untuk pergi dari mall karena Gwen telah menghubunginya untuk segera pulang.
Begitu pula dengan Lisa yang berniat pulang. Namun, baru juga memutar badan, Lisa menabrak seseorang yang alhasil membuat buku-buku yang ada di dekapannya berjatuhan.
Serempak Lisa dan orang itu berjongkok, bersamaan memungut buku satu per satu.
Mulut Lisa terus mengucapkan maaf tanpa melirik siapa yang dia tabrak. Baru lah saat pria itu memanggil namanya, Lisa mendongakkan kepala.
Pandangan Lisa dan pria itu bertemu. Sesaat mereka terlihat terkejut, lalu pelan-pelan senyum mengambang di bibir keduanya.
“Lisa?”
“Kak Devan?”
“Kamu sedang buru-buru sekali. Memangnya mau ke mana?” tanya Devan menyodorkan buku yang dia ambil.
Lisa menerima buku itu dan mendekapnya. Lalu mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
“Tidak apa-apa, Kak. Oh ya, Kak Devan apa kabar?”
__ADS_1
“Aku baik. Aku dengar kamu melanjutkan kuliah lagi?”
Lisa hanya mengangguk sebagai jawaban.
Kemudian terciptalah perbincangan Devan dengan Lisa. Devan adalah senior Lisa dan mereka sering bertemu beberapa kali di kegiatan kampus yang akhirnya membuat keduanya saling kenal.
Mereka berbincang hangat sambil berjalan tanpa terasa langkah kaki membawa mereka ke tempat parkir mall.
“Lisa, bagaimana kalau kamu ikut mobilku saja?” Devan menunjuk mobil hitam yang terparkir di sampingnya.
“Tidak, Kak. Aku naik bis saja.”
Jawaban Lisa membuat alis Devan menaut dan seketika dia tertawa. Devan menggelengkan kepala menyadari Lisa tak seperti kebanyakan wanita pada umumnya.
“Kenapa harus naik bis kalau ada tumpangan gratis?” Devan membukakan pintu mobil. “Ayo, masuk! Akan aku antar sampai tempat tinggalmu.”
Lisa membuka mulut untuk menolak ajakan Devan. Namun, manik mata Lisa menangkap Gustav yang sedang berjalan bersama Rafael menuju arahnya.
Tanpa pikir panjang, Lisa segera masuk ke dalam mobil agar Gustav tidak melihat keberadaan Lisa. Bukannya lega karena berhasil bersembunyi Lisa justru semakin dibuat panik begitu Gustav berhenti tepat di depan mobil Devan.
Sedangkan Devan yang sudah duduk di kursi pengemudi terheran saat melihat Lisa yang membungkukkan badan seolah sedang mencari sesuatu di bawah dashboard.
“Lisa, ada apa?”
“Tidak, Kak. Kaki aku tiba-tiba sakit,” kata Lisa berbohong sambil sedikit mengangkat kepala. Memastikan jika Gustav sudah pergi atau belum.
Dan Lisa secepat kilat kembali menunduk ketika Gustav ternyata belum enyah dari hadapannya.
Devan yang percaya jika kaki Lisa sakit, ikut membungkukkan badannya dengan tangan terulur menyentuh pergelangan kaki putih mulus itu.
“Mana yang sakit?”
Lisa tak menggubris karena perhatiannya terpusat pada Gustav yang mulai berjalan pelan sambil menerima telepon entah dari siapa.
Kemudian Lisa menghela nafas panjang, menegakkan punggung serta bersender di sandaran kursi mobil.
Syukurlah dia sudah pergi.
“Lisa, are you oke?” tanya Devan yang menyadari tingkah aneh Lisa.
Lisa melirik Devan, tersenyum kaku dengan manik mata yang bergerak gelisah.
“Aku tidak apa-apa, Kak. Terima kasih tumpangannya Kak Devan. Sampai ketemu lagi.”
Secepat mungkin Lisa turun dari mobil meninggalkan Devan yang mengerutkan dahi.
__ADS_1
“Lisa, tunggu! Aku kan belum menjalankan mobil. Kenapa kamu turun di sini?”
Devan berteriak memanggil Lisa. Namun, gadis itu telah berlari dan menghilang di balik pilar.