Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
47 Part 47


__ADS_3

"Selamat pagi, Dokter Lisa," sambil menundukan kepala seorang perawat menyapa ketika berpapasan dengan Lisa.


"Pagi," balas Lisa tersenyum memamerkan deretan giginya. 


Satu bulan berlalu, Lisa sudah dapat kembali bekerja sebagai dokter di rumah sakit  yang dimiliki Gustav. 


Sejak berita pernikahan Gustav dan Lisa tersebar, semua staf rumah sakit tak terkecuali para rekan dokter sangat menyegani Lisa. 


Semua orang akan menundukan kepala memberi hormat saat berpapasan dengan dokter muda itu. 


Pada awalnya Lisa sangat canggung dengan kondisi seperti itu. Sebab sejak dulu dia tak pernah diperlakukan bak ratu di cerita-cerita dongeng. 


Bahkan sejak kecil Lisa selalu dipandang sebelah mata karena statusnya yang hanya seorang anak petani miskin. 


Lisa yang kebetulan berjalan melewati lobi rumah sakit, mendengar percakapan petugas resepsionis yang sedang menerima kedatangan pasien. . 


Langkah kaki Lisa terhenti sebab dia mendengar bahwa ada nenek tua yang sedang sakit tapi tak memiliki cukup uang apalagi asuransi kesehatan. 


"Sus, tolong bantu nenek itu ke ruangan saya," perintah Lisa. 


"Tapi, Dokter Lisa. Nenek ini… "


Lisa yang tahu arah pembicaraan sang perawat langsung berkata dengan tegas, "Saya akan periksa nenek itu. Soal biaya biar saya yang cover seluruhnya."


Tak lama, Lisa memeriksa seorang pasien wanita tua yang rupanya tinggal sebatang kara di sebuah rumah reot. 


Beberapa kali Lisa menempelkan ujung stetoskop di bagian dada nenek renta itu. Lalu beralih mengecek tekanan darah.


Setelah memberikan penjelasan singkat akan penyakit darah tinggi yang diderita sang nenek, Lisa pun menuliskan resep obat yang dapat ditebus langsung di apotek rumah sakit tanpa perlu sang nenek mengeluarkan biaya.


Tak lupa sebelum nenek itu pergi, beliau mengucapkan banyak terima kasih. Lalu ke apotek untuk mengambil obat. 


Pada saat sang nenek berada di halaman rumah sakit untuk pulang, seorang wanita memakai masker berjalan tergesa-gesa yang menjadikan tak sengaja menabrak nenek itu 


"Maaf, Nek. Tidak sengaja," kata wanita bermasker sambil memunguti obat sang nenek yang jatuh. 


"Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati."


Wanita bernasker itu segera masuk ke dalam mobil yang di sana ada Mario duduk di kursi pengemudi. 


"Apa kamu yakin dengan rencanamu ini, Martha?" tanya Mario pada anaknya yang baru saja masuk ke dalam mobil. 


Martha menurunkan masker yang sejak tadi menutupi area mulut. Lalu dia menganggukan mantap sebagai jawaban atas pertanyaan Mario. 

__ADS_1


"Yakin, Dad. Aku tidak bisa hidup tenang jika Lisa hidup bahagia."


"Tapi, Martha, kamu harus ingat yang kamu hadapi itu istri Tuan Gustav," ucap Mario memperingati sang anak. 


Jujur Mario kurang setuju akan niat yang sudah disusun kali ini. Takut jika akan menjatuhkan nama baik keluarga. 


Mario tidak mau hidupnya hancur untuk ke dua kali.  Setelah dulu Martha membuat ulah dengan memfitnah Lisa hingga berujung perusahaannya bangkrut. 


"Aku tahu, Dad. Daddy jangan banyak bicara. Biarkan aku saja yang beraksi dan Daddy harus ingat, gara-gara dia, hidup kita hancur."


"Martha, tidak bisakah kita melupakan masa lalu. Kita sudah memulai hidup baru dan Daddy tidak mau kita kalah lagi."


"Aku yakin kali ini kita tak akan kalah. Sekalipun kalah, Lisa juga akan ikut kalah, Dad," Martha berkata mantap sambil menatap lekat Mario. 


Sedangkan Mario hanya bisa menarik nafas panjang. Dia berharap tindakan Martha menukar obat nenek yang menjadi pasien Lisa itu tak menimbulkan masalah di kemudian hari. 


*


*


*


Tap tap tap. 


Dia melangkah dengan buru-buru ke ruangan dokter Lisa yang kebetulan baru selesai menangani pasien. 


Lalu tanpa menunggu dipersilahkan, gadis itu masuk dan langsung duduk di kursi depan meja kerja Lisa. 


"Dokter, tolong aku… " rengek Keysha memanyunkan bibir.


"Keysha, ada apa lagi?" tanya Lisa sedikit jengah karena dia mengerti jika kedatangan gadis itu hanya untuk membahas Devan. 


"Tolong bantu aku."


Lisa menghela nafas dan kemudian berkata, "Soal Devan? "


Keysha menganggukkan kepala dengan bibir mengerucut. 


"Aku sudah membujuk Daddy agar menjodohkan aku dengan Kak Devan, tapi ternyata dia menolak perjodohan itu," ucap Keysha dengan nada sendu. 


Melihat wajah Keysha yang murung, berhasil membuat Lisa merasa iba. 


"Jadi kedatanganmu kemari untuk meminta bantuanku lagi?"

__ADS_1


Keysha kembali mengangguk. 


"Maaf, Key. Bukan aku tak mau membantu, tapi aku ingin menjaga perasaan suamiku. Aku takut Gustav salah paham dan yang lebih parah dari itu… "


Lisa tak meneruskan perkataannya sebab pikirannya melayang teringat saat dia membantu mengenalkan Keysha dengan Devan, yang terjadi malah Devan dan Lisa yang bertambah dekat. 


Kali ini Lisa ingin menjaga perasaan Gustav. Terlebih kini dia menjadi sorotan publik setelah menikah dengan pria itu. 


Lisa khawatir bukan hanya Gustav saja yang salah paham tapi orang-orang di luar sana menganggapnya berselingkuh. 


"Tapi, Dok. Kali ini saja, please." Keysha memohon dengan mengatupkan kedua telapak tangan. 


Namun, Lisa menggelengkan kepala dengan tegas. Menjadikan Keysha membungkukkan badan sekaligus menghela nafas kasar. 


"Kalau boleh aku kasih saran, lebih baik kamu beri Devan sedikit waktu. Yang aku lihat kamu terlalu cepat meminta perjodohan itu terjadi."


Keysha mendongakkan kepala untuk dapat melihat wajah Lisa. 


"Dokter Lisa yakin?"


"Aku mengenal Devan cukup lama. Jadi aku tahu karakter dia seperti apa."


"Tapi, kalau aku memberi waktu agar Devan mengenalku, apakah nanti dia tidak diembat wanita lain?" tanya Keysha memasang wajah polos. 


Gadis berwajah bundar itu tak dapat membayangkan jika ada wanita lain yang merebut Devan. Pasti akan Keysha cakar-cakar wajah wanita itu. 


"Kalau Devan ternyata bersama wanita lain, itu artinya dia bukan jodohmu. Simpel kan," Lisa berkata dengan santai tak memperhatikan raut wajah Keysha yang berubah garang. 


"Dokter!" pekik Keysha sambil di dalam hati merapal doa penolak pelakor. 


"Jangan bilang seperti itu, Dokter Lisa! Amit-amit kalau sampai Devan direbut wanita lain."


Lisa berdecak dan tersenyum melihat Keysha yang begitu khawatir. 


"Lelaki bujangan di dunia ini bukan Devan saja, Key. Kenapa kamu ambil pusing."


Lisa melirik pada perawat yang memberikan kode bahwa masih banyak pasien yang menunggu antrian, membuat Lisa mengangguk dan kembali menatap Keysha. 


"Aku harus melanjutkan pekerjaanku memeriksa pasien. Kasihan mereka sudah menunggu lama. Kita bisa bicarakan urusan asmaramu itu nanti. Oke?"


Keysha menganggukan kepala meski bibirnya maju lima senti. Dia kesal karena susah sekali bisa memiliki waktu bersama Lisa. 


Sebab jika di mansion, Lisa sibuk mengurus suaminya yang super posesif dan over protektif. 

__ADS_1


Tidak mungkin bukan jika Keysha berada di dekat pasangan pengantin baru itu? Yang ada dia akan dianggap sebagai cicak yang menempel di dinding. 


__ADS_2