Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
42 Tertembak


__ADS_3

Lisa merebahkan diri ke aras ranjang berukuran king size yang super duper empuk itu. Dapat Lisa rasakan tubuhnya dapat seperti melayang di atas awan.


Bukan hanya itu, samar-samar tercium pula wangi parfum yang sama seperti ketika Lisa berada di dekat Gustav. Menjadikan seolah-olah, pria itu memang tengah berada di sampingnya.


Lisa memandang ke langit-langit kamar. Pikirannya melayang memikirkan dirinya yang sebentar lagi akan menjadi istri dari seorang Gustav Green.


"Aku seperti sedang dipinyit. Tapi dipinyit di rumah calon suami sendiri. Sama juga bohong," Lisa bergumam yang disusul sebuah tawa.


Lisa kembali mengangkat tubuhnya untuk dapat duduk di tepi ranjang. Dia tak tahu alasan pasti kenapa Gustav meminta dia diam di dalam kamar.


Lalu terbesit niat untuk melanggar perintah dari pria yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.


Tapi sayang sekali, Lisa harus menanggung kecewa karena saat dia ingin membuka pintu, ternyata pintu itu dikunci dari luar.


"Yah kenapa dikunci dari luar?"


*


*


*


Brak.


Pintu di kamar Camilla terbanting terbuka, dan setidaknya empat orang berpakaian serba hitam masuk ke dalam kamar.


Tawa yang sempat terulas di wajah Gordon seketika pudar diganti dengan raut muka terkejut begitu melihat satu diantara lima orang di depannya.


"Gustav?"


Gustav tak menyahut. Manik matanya langsung tertuju pada Camilla yang terbaring lemas di atas ranjang dengan nafas yang terengah-engah.


Segera Gustav memerintahkan dua orang membawa untuk membawa Camilla ke rumah sakit. 


Kemudian Gustav menatap intens pada saudara sepupunya itu. Dia sudah tahu semuanya dari kamera pengawas yang ada di kamar Camilla.

__ADS_1


Sebenarnya, Gustav pergi dari mansion hanya sekedar memancing Gordon untuk melakukan aksinya. Selama satu tahun terakhir, dia telah menaruh curiga pada Gordon.


Dan kecurigaan itu semakin bertambah begitu Gordon pulang setelah mengetahui bahwa kondisi Camilla sedang tidak sehat. 


"Aku tak menyangka kau sekeji dan selicik itu, Gordon," ucap Gustav mengepalkan tangan menahan amarah.


Gordon menyeringai dan membalas tatapan tajam saudara sepupunya itu.


"Terima kasih atas pujiannya, Saudaraku. Aku pintar, bukan? Bahkan kamu pun tak menyadari jika akulah dalang dibalik penyerangan terhadap dirimu."


"Aku bukan orang bodoh yang tidak tahu jika ternyata saudaraku sendiri menusuku dari belakang," kata Gustav tersenyum penuh arti.


"Oh kamu sudah tahu rupanya. Aku kira belum," Gordon dengan santai melipat kedua tangan di depan dada.


"Tentu saja aku tahu. Kamu memerintahkan James dan Billy untuk menyiksaku. Mereka pikir aku telah mati lalu mereka membuangku ke hutan. Semantara kau yang sedang berada di London, pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi padaku. Bukan begitu?"


Gordon mengangguk setuju akan penjelasan dari Gustav. Kemudian sebuah seringai terbit di bibir pria itu.


"Tapi semua rencanaku gagal hanya karena ada wanita yang menyelamatkanmu. Hingga saat kita tak sengaja bertemu di rumah sakit, sebenarnya aku tahu pria yang menabrakku adalah kau. Aku segera menyuruh Jams dan Billy untuk menghabisi nyawamu sekali lagi. Tak heran jika kamu bisa satu bis dengan mereka, karena aku yang telah memberikan informasi tentangmu."


"Ya, aku ingat. Kedua anak buahmu itu sangat payah. Bukannya membunuhku untuk kedua kali, justru kemunculan mereka membuat ingatanku kembali. Maka dari itu kamu membunuh mereka tapi kamu merekayasa TKP agar seolah mereka mati karena bertengkar dan akhirnya saling menembak."


"Tebakan yang tepat, Gus," ucap Gordon sambil tersenyum mengejek. "Tapi kali ini kamu pasti tidak dapat menebak apa yang telah aku siapkan."


Secepat mungkin, Gordon mengeluarkan pistol lalu menembakan peluru ke penjuru arah. Membuat Gustav dan seorang pengawal tiarap ke lantai demi menghindari tembakan.


Kesempatan itu dipakai Gordon untuk meloloskan diri. Dia menghabur ke luar kamar yang kemudian disusul oleh Gustav.


Tadi Gustav sempat menghitung jumlah tembakan yang diluncurkan Gordon dan dapat Gustav prediksi hanya tinggal satu peluru yang ada di pistol itu.


Dengan mudah Gustav menyusul Gordon. Dia menyambar tangan Gordon dari belakang lalu memelintirnya. Membuat pistol di tangan Gordon terlepas.


Dan secepat kilat Gustav menendang pistol itu hingga menghilang di bawah kolong meja.


Detik berikutnya, terjadilah perkelahian adu tinju antara Gustav dan Gordon. Mereka sama-sama kuat dan saling meninggalkan jejak lebam di wajah lawan.

__ADS_1


Secara kebetulan tempat mereka berkelahi tepat di depan pintu kamar Gistav yang tentu saja suara gaduh terdengar oleh Lisa yang berada di dalam kamar.


Lisa menempelkan telinga di daun pintu. Jelas tertangkap oleh indra pendengarannya suara-suara perkelahian dengan sesekali diiringi makian dari Gustav dan Gordon.


Menjadikan Lisa panik dan keheranan. Lantas dia mengetuk pintu dari dalam.


"Gus, apa yang terjadi? Buka pintunya aku mohon."


Tangan Lisa menepuk keras daun pintu sambil sesekali mencoba memutar gagang pintu.


Gustav saat ini tengah berada di atas tubuh Gordon. Menindihi sembari menghujani bogem mentah di bagaian wajah hingga Gordon terkulai lemas.


Dirasa Gordon telah tak sadarkan diri, Gustav bangkit berdiri. Telinganya terusik oleh teriakan Lisa dari dalam kamar.


Kemudian Gustav pun membukakan pintu yang detik berikutnya menampilkan sosok Lisa dengan menampilkan wajah sangat cemas.


"Are you oke?" Lisa bertanya menyentuh ujung bibir Gustav yang membiru.


Gustav mengangguk sebagai jawaban.


Lalu manik mata Lisa melihat dari  balik bahu Gustav, jauh di tengah lorong sana Gordon berdiri dengan tangan mengacungkan senjata api tepat ke arah mereka berdua.


Dor.


Sontak Lisa menghempaskan tubuh Gustav agar pria itu tak terkena tembakan. Namun dia sendiri tidak sempat menghindar, menyebabkan timah panas menembus ke dalam bahu Lisa.


"No! Lisa!" pekik Gustav melihat Lisa tertembak.


Gustav memeluk tubuh Lisa yang hendak limbung jatuh ke lantai. Lalu dia melempar pandangan pada Gordon yang tertawa puas di seberang sana.


Tepat saat itu, anak buah Gustav tiba dan segera mengamankan Gordon yang berusaha memberontak.


Gustav tak peduli pada saudara sepupunya itu, atau lebih tepatnya orang yang dia anggap sebagai saudara sepupu. Karena yang paling Gustav pedulikan saat ini hanyalah Lisa.


Dia menggendong tubuh Lisa, lalu membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2