
Tepatnya satu minggu Lisa terbaring di brangkar rumah sakit. Namun, begitu Gwen tetap mempersiapkan acara pernikahan Gustav dan Lisa.
Bahkan persiapan pesta sudah sembilan puluh persen, hanya tinggal menunggu kondisi Lisa.
Gaun pengantin pun sudah dipilih oleh Gwen. Entah mengapa Gwen yakin betul gaun pilihannya akan sangat disukai oleh Lisa.
Berbeda dari Gwen yang sangat antusias, Gustav sendiri tak terlalu bersemangat membahas pesta pernikahan. Karena yang terpenting baginya adalah kesehatan calon istrinya itu.
Pagi hari menyambut, seperti hari-hari sebelumnya, Gustav selalu tertidur di kursi dengan kepala yang tergeletak di samping lengan Lisa.
Perlahan Lisa membuka kelopak matanya, lalu mengibaskan tangan di depan wajah Gustav yang terlelap untuk memeriksa apakah pria itu masih terjaga dari tidurnya atau tidak.
Melihat tak ada respon dari Gustav, membuat Lisa bangun terduduk, mencabut infus dan menyibak selimut yang menutupi setengah badannya.
"Pura-pura pingsan ternyata menyusahkan juga," gumam Lisa yang turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.
Lisa terkekeh mengingat selama satu minggu ini dia berhasil mengerjai Gustav, calon suaminya sendiri.
Bagaimana tidak terkekeh? Pria yang akan menjadi suaminya itu percaya saja jika selama ini dia pingsan. Bahkan Lisa harus menahan tawa saat Gustav terus memohon agar dia membuka mata.
Hanya saat Gustav pergi dari ruangannya saja Lisa akan bangun dan melakukan aktifitas biasa.
Ya, sebenarnya Lisa meminta pada Devan jika dirinya mengalami kritis dan Gustav percaya akan hal itu.
Gwen pun juga sempat percaya, namun tanpa sepengetahuan Gustav, Devan memberitahu tentang semua yang sedang dijalani Lisa dan Gwen justru ikut mendukung sandiwara itu.
Setelah menuntaskan hajatnya di kamar mandi, Lisa berjalan keluar dan tercengang melihat Gustav tak ada ditempat semula.
"Di mana dia?" gumam Lisa bertanya pada dirinya sendiri.
Seketika itu, sebuah lengan kekar menarik pinggang Lisa dan membawanya ke dalam dekapan.
Sontak Lisa menjerit karena kaget. Dia memutar badan untuk melihat orang yang telah memeluknya.
"Jadi kamu selama ini pura-pura pingsan?" Gustav menggeram tanda dia sedang sangat marah.
"Sayang, jangan marah! Aku bisa jelaskan," ucap Lisa yang tubuhnya meremang karena merasakan hawa dingin yang tiba-tiba mencekam.
"Jelaskan itu nanti saat malam pertama kita."
Tiba-tiba Lisa merasa tubuhnya terangkat dan benar saja ternyata kini dia sudah digendong oleh Guatav seperti layaknya karung beras.
"Sayang, kita mau ke mana?" Lisa bertanya ketika Guatav membawa dia keluar ruang rawat inap.
Namun, Gustav diam seribu bahasa. Dia hanya mengeratkan lengan agar Lisa yang sedang mencoba memberontak tak dapat terlepas.
Lisa meminta tolong pada setiap orang yang berpapasan dengan mereka. Tapi yang ada orang-orang itu malah menertawakan tingkah Guatav dan Lisa.
"Devan, Devan, tolong bantu aku!" Lisa berteriak kala melihat Devan di ujung lorong rumah sakit.
__ADS_1
Sayangnya, Devan sedang terlibat perbincangan serius dengan Keysha. Entah apa yang sedang mereka berdua bicarakan sampai-sampai tidak mendengarkan teriakan Lisa.
"Ah sial."
"Sekali lagi kau meminta bantuan padanya, aku akan mengurungmu seumur hidup," kata Gustav penuh ancaman.
Hingga sampailah mereka di halaman rumah sakit dan kebetulan mereka berpapasan dengan Gwen yang hari ini berencana menjenguk Lisa sekaligus membahas persiapan pernikahan adiknya itu.
Ya, secara diam-diam Gwen dan Lisa membahas pesta pernikaha ketika Gustav pergi ke kantor.
Itulah sebabnya Gwen sangat yakin gaun pernikahan yang dia pilih akan disukai oleh Lisa karena memang itu adalah pilihan Lisa sendiri.
"Kak Gwen, tolong aku!" seru Lisa mengulurkan tangan meminta bantuan.
Gwen maju satu langkah tapi seketika itu Gustav meliriknya dengan tatapan tajam dan dingin.
"Diam! Kau juga terlibat dalam sandiwara ini, kan?"
Gwen hanya bisa menelan salivanya dengan kedua mata membelalak.
"Gus, kamu mau bawa Lisa ke mana?" teriak Gwen saat Gustav menurunkan Lisa dan meminta gadis itu masuk ke dalam mobil.
Setelah Lisa masuk, Gustav memutar tumit untuk menatap Gwen yang keheranan.
"Kau sudah mempersiapkan pesta pernikahanku kan?"
"Aku mau pestanya diadakan hari ini juga."
*
*
*
Pesta pernikahan Gustav dan Lisa seharusnya diadakan dua hari lagi, tapi karena sandiwara Lisa terbongkar, menjadikan pernikahan dimajukan pada hari itu juga.
Padahal rencananya Lisa akan pura-pura tersadar dengan dramatis seperti di film-film. Namun, rencana itu gagal.
Malah yang terjadi sekarang, Lisa harus bersiap menghadapi kemarahan Gustav ketika malam pertama mereka nanti.
Sebab saat ini tepatnya disaat Gustav dan Lisa menyalami tamu satu per satu, Gustav tampak biasa saja. Bermuka datar tanpa ekspresi.
Gustav memasang muka datar bukan karena dia tidak senang akan pernikahannya, tapi karena dia tengah menahan amarah pada Lisa, wanita yang kini resmi menyandang status sebagai istri.
Berbeda dari Gustav, Lisa mampu menutupi kegundahan hati dengan tersenyum pada setiap tamu yang mengucapkan selamat pada mereka. Lisa tahu diamnya Gustav pertanda bahwa suaminya itu sedang marah.
"Jangan tersenyum pada mereka! Kau hanya boleh tersenyum padaku!" Gustav berbisik penuh ancaman.
"Tapi masa iya aku harus memasang muka datar sepertimu," sahut Lisa santai.
__ADS_1
"Lakukan! Ini perintah!"
"Tidak mau!"
Gustav berdecak kesal. Kemarahan Gustav bertambah setelah melihat banyak tamu pria yang memuji kecantikan istrinya.
Kemudian, Gustav memberikan kode pada Jerri yang berdiri tak jauh darinya agar sebisa mungkin pesta dipercepat.
*
*
*
Brak.
Gustav membanting pintu kamar dengan sangat keras. Lalu dia masuk dengan menggendong Lisa yang sejak tadi meronta minta diturunkan.
Alasan Lisa minta diturunkan tak lain karena Gustav menggendong Lisa layaknya karung beras. Bukan menggendong ala bridal style seperti pengantin baru pada umumnya.
Setelah mengunci pintu, Gustav menghempaskan tubuh Lisa yang masih menggenakan gaun ke atas ranjang.
Bugh.
Untung saja ranjang itu sangat empuk. Kalau tidak, mungkin Lisa bisa mengalami patah tulang.
Meskipun begitu, Lisa mengelus punggung berpura-pura sakit agar Gustav merasa kasihan dan siapa tahu dapat meredam emosi pria itu.
Namun, tampaknya Gustav sama sekali tak percaya akan sandiwara Lisa kali ini.
"Kau berhutang penjelasan padaku. Katakan! Kenapa kau melakukan ini padaku?"
Lisa mengangkat badannya agar bisa duduk di atas ranjang.
"Sebenarnya aku sama sekali tidak mengalami kritis, Sayang. Tapi aku meminta Kak Devan untuk bersandiwara. Aku hanya ingin mengerjaimu karena dulu kamu pernah meninggalkan aku cukup lama."
Gustav mencondongkan tubuh, perlahan mengikis jarak untuk mendekati Lisa. Wanita yang kini resmi menjadi istrinya menundukan kepala mengira Gustav akan memarahinya.
Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Gustav melabuhkan kecupan di dahi sang istri.
"Aku hampir gila saat tahu kamu kritis. Jadi jangan lakukan lagi!"
Lisa mengangguk patuh. "Aku janji itu terakhir kali aku mengerjai suamiku sendiri."
"Janji?" Gustav mengangkat dua alis.
"Tapi bohong."
Secepat mungkin Lisa berlari ke dalam kamar mandi dan menutup pintu sebelum Gustav menangkapnya.
__ADS_1