Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
48 Part 48


__ADS_3

"Kalian sedang membicarakan apa?" 


Gustav yang baru pulang bekerja mendapati istrinya asyik mengobrol dengan Keysha melalui panggilan video. 


Menjadikan percikan api cemburu muncul di hati Gustav. Karena Lisa keasyikan mengobrol sampai-sampai melupakan kedatangan Gustav dan tidak menyambutnya seperti biasa. 


Lisa menoleh, sedikit terkejut saat melihat Gustav sudah pulang lebih cepat dari biasanya. Segera dia menutup telepon lalu menghampiri sang suami. 


"Kamu sudah pulang?"


Sebuah pertanyaan dilontarkan Lisa yang tak perlu dijawab oleh Gustav. Pria itu menaikan alisnya, menatap tajam Lisa yang tersenyum semanis mungkin agar kemarahan Gustav sirna. 


"Jangan jawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan. Apalagi pertanyaan tidak berbobot seperti tadi," kata Gustav ketus. 


Lisa menarik nafas mengisi paru-parunya dengan udara, sekaligus mengisi hatinya dengan kesabaran. 


"Kami sedang membicarakan Devan," jawab Lisa jujur. Dia tak mau di dalam pernikahannya ada yang dia dan Gustav sembunyikan. 


Mendengar itu, Gustav berdecak kesal dan memalingkan muka. Tapi tangan Lisa bergerak menarik dagu Gustav agar menatapnya. 


"Jangan marah! Keysha hanya sedang curhat karena cintanya bertepuk sebelah tangan," ucap Lisa lembut. Lalu mendaratkan kecupan di pipi pria yang menjadi suaminya itu. 


"Apa kamu memiliki rasa pada pria itu?" Gustav menatap intens Lisa. Menelisik setiap gurat di wajah untuk mengetahui wanitanya berbohong atau tidak. 


Namun, Lisa malah tertawa mendengar pertanyaan yang dilontarkan Gustav. Bahkan Lisa sampai menepuk bahu Gustav yang hanya diam tak bergeming. 


"Kamu itu bicara apa sih. Aku sudah memiliki seorang suami sepertimu. Mana mungkin aku berpaling."


Lisa melingkarkan lengan di perut dan membenamkan kepala di dada bidang Gustav. Dia tidak melihat jika Gustav melengkungkan senyuman tipis. 


"Memangnya aku seperti apa di matamu?"


Tanpa melepas pelukan Lisa berkata, "Kamu itu menyebalkan, pemaksa, pemarah, dan apalagi ya.. "


Dahi Lisa berkerut memikirkan kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Gustav. 


Seketika senyum yang tadi terukir di wajah tampan Gustav hilang dalam sekejap bagaikan ditiup angin tornado. 


"Kamu sedang menghina suamimu sendiri atau apa, hah?" kata Gustav sinis. 


Segera Gustav melepas pelukan, tapi Lisa menahannga sekuat tenaga. 


"Tunggu aku belum selesai," Lisa berucap cepat. Didongakan kepalanya sehingga kini wajah mereka saling menatap satu sama lain.


"Dan kamu sangat mencintai aku. Itu yang membuat aku tak bisa berpaling darimu."


Gustav menatap lekat Lisa yang menunjukan kesungguhan dalam setiap kata-katanya. 

__ADS_1


"Selain itu apalagi?" 


Tampan dan kaya raya. Kata Lisa yang hanya diucapkan dalam hati.


"Hemm, tidak ada."


Gustav mendengus kasar sebab dia tahu Lisa berbohong. Sekarang Gustav tahu hobi baru Lisa yaitu memancing.


Memancing emosinya naik turun. 


"Aku ingin mandi," Gustav mengurai pelukan, lalu membuka kancing kemejanya satu per satu. 


"Kamu itu tipe kekasih ideal," bisik Lisa sebelum akhirnya mendaratkan ciuman di pipu Gustav. 


Senyum merekah di bibir Lisa menyadari jika Gustav memang sosok pria tanpa cela menurutnya. Meskipun dia pemarah dan pemaksa tapi Lisa tahu iti adalah tanda cinta Gustav padanya. 


Begitu mendapat ciuman dadakan dari sang istri, membuat gairah Gustav terpancing. 


Kau benar-benar hobi memancing, Lisa. Selain memancing emosi, kau juga pandai memancing sesuatu yang aku nantikan sejak tadi. 


Gustav membalas dengan mencium bibor ranum yang menjadi candunya sekaligus mendorong pelan tubuh Lisa sehingga mereka terjerembab di atas tempat peraduan. 


Gustav mencium Lisa tanpa memberi waktu untuk Lisa mengambil nafas.


Hingga ciuman itu berakhir, dada Lisa naik turun karena terengah. Lalu Gustav mengusap lembut bibir Lisa yang bengkak akibat perbuatannya. 


Gustav memajukan kepala berniat melancarkan serangan kedua tapi Lisa segera menahan dada bidang itu menggunakan kedua tangannya. 


Lisa mengibaskan tangan di depan hidung sebab tak tahu mengapa dia mencium aroma tak sedap dari tubuh suaminya. 


Bahkan aroma itu bagi Lisa mampu membuat Lisa mual. 


Melihat tingkah Lisa, Gustav mengendus-endus baju dan badannya. 


"Aku tidak bau, Lisa."


"Tidak. Kamu bau sekali." Kali ini Lisa menjepit hidungnya. 


Sontak Lisa berdiri untuk mengambil jarak aman dari Gustav. 


"Kita lakukan setelah kamu mandi. Aku tidak tahan dengan baunya. Kamu tunggu saja! Aku akan siapkan air."


Lisa masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan keperluan mandi suaminya. Sedangkan Gustav masih terheran mengapa Lisa mengatakan dia bau. 


Padahal tubuhnya masih tercium harum dari parfum yang dia pakai. 


Tepat saat Gustav mengendus kemeja, ponsel miliknya berbunyi menandakan ada satu pesan masuk. 

__ADS_1


Gustav meraih ponsel dan manik matanya membola sempurna saat melihat berita di sosial media yang mengatakan sang istri diduga melakukan mallpraktik. 


Awalnya Gustav hanya terkekeh kecil. Karena dia tahu dan terlihat dengan jelas berita itu hanya hoax belaka. Namun, Gustav juga tak mau Lisa mendengar berita sampah itu. 


Sehingga dia menelepon Jerri untuk membereskan semuanya. 


"Kamu sudah melihag berita mengenai istriku di sosial media? "


"Baru saja, Tuan." jawab Jerri yang terdengar tegas melalui sambungan telepon. 


"Bagus, urus semua itu secepatnya."


Tut. 


"Sayang, ada apa?"


Gustav terlonjak saat tiba-tiba Lisa sudah berdiri di belakangnya. Dia menarik nafas untuk mengeyahkan rasa gugup. 


Lalu tanpa berkata apapun, Gustav melangkah menuju kamar mandi. Namun,  mendadak dia berhenti karena teringat sesuatu. 


Gustav membalik badan, merebut ponsel yang sedang dimainkan oleh Lisa, memasukan ke dalam laci dan menguncinya. 


"Ponselmu disita sementara sebagai hukumanmu tidak menyambutku tadi."


"Tapi kan… "


"Tidak ada tapi," sahut Gustav tegas. 


Kemudian Gustav kembali melangkahkan kaki. Ketika dia berada di ambang pintu kamar mandi, Gustav menoleh untuk melihat Lisa yang memberengut dan memilih merebahkan diri di tempat tidur. 


Maafkan aku, Lisa. Ini aku lakukan demi kebaikanmu. 


Gustav berucap dalam hati, mengulas senyum tipis, dan akhirnya masuk ke dalam kamar mandi. 


Tak butuh waktu lama bagi Gustav untuk mandi, sebab dia sudah tidak sabar menerkam sang istri seperti malam-malam sebelumnya. 


Senyum berkembang di wajah Gustav saat keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit di pinggang. 


Akan tetapi sayang seribu sayang, karena senyum di bibir Gustav sirna seketika begitu melihat Lisa tertidur pulas. 


"Lisa, enak sekali kamu tidur."


Gustav mengguncangkan tubuh Lisa dengan lumayan kasar. Bahkan mencipratkan air di wajah cantik wanitanya. 


Namun, Lisa hanya melengkuh, berpindah posisi, lalu melanjutkan tidur. 


Melihat Lisa yang sepertinya sangat kelelahan dan begitu terlelap, Gustav menghela nafas sambil menunduk. 

__ADS_1


Untuk kali ini saja Gustav akan mengalah meski gejolak hasratnya sudah tak tertahankan. 


"Terpaksa aku harus bermain solo."


__ADS_2