
Dalam beberapa menit, di sinilah mereka bertiga berada. Di dalam kamar Lisa yang mana sang pemilik kamar duduk di atas ranjang dengan selimut tebal membalut setengah badannya.
Di hadapan Lisa berdiri dua pria yang sama-sama telah menyatakan cinta. Sekali lagi, Lisa menatap mereka berdua satu per satu.
Lisa tak pernah menyangka jika dia yang dahulu seorang gadis dari petani miskin, sekarang diperebutkan oleh dua pria. Satu dokter yang menjadi teman sekaligus seniornya dan satu lagi CEO yang selama ini diam-diam membantu Lisa meraih impian.
"Keputusan ada di tanganmu, Sa. Cepat jatuhkan pilihanmu pada pria yang tepat!" kata Devan tidak sabar menunggu jawaban Lisa sambil melirik sinis ke arah Gustav.
Gustav sendiri hanya diam melipat kedua tangan, dan pandangan mata lurus menatap intens Lisa. Pria itu tampak tenang. Berbeda dari Devan yang tidak sabaran.
"Aku pilih… " jawaban Lisa menggantung.
Kalau boleh jujur, Lisa merasa seperti sedang berada di toko dan diharuskan memilih sebuah barang.
Lantas Lisa pun mengusap tengkuk setelah memikirkan pilihannya.
"Siapa? Siapa yang kamu pilih, Sa? Cepat jawab!"
"Kak Devan..."
Seketika Devan terlonjak girang. Bahkan saking senangnya dia sampai menempuk keras bahu Gustav.
"Kamu dengar kan? Lisa memilih aku."
"Kak Devan, bisa tidak jangan menyela saat aku bicara?" ucapan Lisa itu langsung membungkam Devan dan berganti Gustav yang menahan tawa.
Lisa melempar pandangan pada Gustav dan meminta pria itu untuk menunggu di luar. Meski sempat menolak tapi pada akhirnya Gustav menurut dan memilih membiarkan Lisa dan Devan berbicara empat mata.
Sejenak hening di kamar, baik Lisa dan Devan sama-sama terdiam. Dari sorot mata Lisa, Devan memiliki perasaan jika gadis itu akan menolaknya untuk kedua kali.
"Katakan saja, kamu pasti lebih memilih pria itu daripada aku, iya kan?" kata Devan sinis.
Dia mendengus lalu membuang muka.
"Kenapa, Sa? Kenapa kamu pilih dia? Jelas-jelas aku yang selama ini selalu ada di sampingmu. Sedangkan pria itu hanya orang yang baru hadir di hidupmu, Sa."
"Kak Devan, aku minta maaf tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku."
Devan menghela nafas sekaligus mengacak rambut frustrasi. Dia menggerang marah lalu mencengkeram bahu Lisa sangat kuat.
"Apa karena dia lebih kaya raya dan lebih berkuasa dari aku? Maka dari itu kamu lebih memilih dia?" Devan mencecar pertanyaan dengan menampilkan wajah garang.
Cengkeraman di bahu Lisa semakin kuat, membuat gadis berambut gelombang itu sedikit meringis kesakitan.
"Ayo, jawab!" bentak Devan sampai terdengar oleh Gustav yang ada di luar kamar.
__ADS_1
Dengan cepat Lisa menggelengkan kepala di saat dia menahan sakit karena bahunya terus ditekan.
"Bukan begitu. Aku mencintai Gustav bahkan sebelum aku tahu identitas dia yang sebenarnya. Kak Devan tahu sendiri sejak dulu aku tidak pernah bisa melupakan pria amnesia yang pernah aku tolong. Dan dia pria itu adalah Gustav."
Perlahan Devan mengendurkan cengkeramannya. Dia berjalan mundur beberapa langkah dengan kepala tertunduk.
Raut wajah Devan jelas menunjukan kekecewaan yang amat dalam dan Lisa merasa tidak enak hati tapi di sisi lain dia pun harus tegas akan perasaannya.
"Maaf, Kak. Sebelumnya aku sudah menegaskan pada Kakak untuk tidak menaruh harapan padaku."
Devan mendongak menatap Lisa. "Kamu yakin dengan keputusanmu?"
"Iya, Kak. Aku yakin," jawab Lisa mantap.
"Baik. Aku pergi sekarang."
Devan berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun, seketika Lisa berteriak memanggil Devan yang membuat pria itu menghentikan ayunan kakinya.
"Kak Devan, kita masih tetap bisa berteman seperti sedia kala."
Devan tak menyahut ucapan Lisa dan lebih memilih melanjutkan langkah kaki meninggalkan kamar. Di luar, Devan berpapasan dengan Gustav.
Dua pria itu saling menatap tajam untuk beberapa saat yang lama.
"Aku mau kamu menepati kesepakatan kita. Siapa pun yang kalah maka dia harus berhenti mengganggu Lisa," ucap Gustav menyerungai tipis.
"Tentu aku akan menjaga Lisa. Oh by the way, aku sudah memerintahkan anak buahku untuk mengantarmu pulang. Jadi segera pergi dari rumah ini!"
Gustav menunjuk satu mobil yang baru saja tiba dan tak mau berlama-lama, Devan pun masuk ke dalam mobil yang membawanya meninggalkan rumah Lisa.
Tak berselang lama, satu mobil yang lain memasuki pekarangan rumah. Si pengemudi yang tak lain adalah Jerri turun, dan memberikan paper bag berisi pakaian ganti untuk tuannya.
"Kenapa lama sekali?" sentak Gustav menyambar paper bag.
"Maaf, Tuan."
"Ada satu lagi tugas yang harus kamu kerjakan."
"Tugas apa, Tuan."
*
*
*
__ADS_1
Gustav yang sudah memakai pakaian kering masuk ke dalam kamar, manik matanya langsung terfokus pada Lisa yang sudah bersiap rapi.
"Hari ini kamu tidak perlu bekerja."
Lisa menggelengkan kepala, tanda dia kurang setuju akan usul Gustav.
"Tidak, aku harus ke rumah sakit sekarang."
"Hari ini kamu tidak perlu bekerja. Ini perintah!" seru Gustav menaikan nada bicaranya.
Sontak hal itu membuat Lisa melempar pandangan pada Gustav sekaligus mengernyitkan dahi.
Sekarang Lisa menyadari betul sifat asli dari seorang Gustav yang dinilai pemarah dan suka memerintah. Jauh berbeda dari Gustav sebelum dia amnesia. Yang mana pria itu selalu menuruti ucapan Lisa.
Sadar telah membentak Lisa, Gustav pun menarik nafas panjang untuk menetralkan pikiran.
"Aku minta maaf," ucap Gustav lirih.
Kemudian Gustav meminta Lisa untuk duduk di tepi ranjang karena ada sesuatu yang harus dia bicarakan. Namun, Lisa menolak dengan alasan sudah terlambat berangkat kerja.
Gustav yang tidak menerima sebuah penolakan, menarik lengan Lisa dengan sangat kuat. Hingga menjadikan kedua insan itu terjerembab di atas kasur.
Lisa yang berada di atas tubuh Gustav, memberontak berniat turun dari tempat tidur. Tapi sebelum sempat kaki Lisa menapak di lantai, Gustav membalikkan tubuhnya dan kini berganti Gustav yang menindihi Lisa.
"Gus, aku harus berangkat sekarang," ucap Lisa mendorong dada bidang Gustav.
Tak bisa dipungkiri Lisa tak mau berada di posisi seperti sekarang ini. Sebab jantungnya berdegub tak karuan.
Gustav menyeringai tipis. Ada rasa cemburu yang bersemanyam di hati Gustav saat mendengar Lisa memanggil namanya. Sedangkan gadis itu selalu memakai sapaan kakak ketika memanggil Devan.
"Panggil aku sayang!"
"Apa?"
"Panggil aku sayang!" titah Gustav sekali lagi. "Cepat katakan! Ini perintah!"
"Kalau aku menolak?" Lisa bertanya dengan sikap menantang.
"Turuti atau kamu akan menyesal telah menolak perintahku!" jawab Gustav tegas.
Menjadikan Lisa menelan saliva dan tersadar jika posisinya saat ini tidak menguntungkan bagi Lisa.
"Baiklah, Sayang. Sekarang lepaskan aku, please."
Terpaksa Lisa mengatakan itu meski di dalam hati dia merasa begidik saat mengucapkan kata sayang.
__ADS_1
Sekilas bibir Gustav melengkung membentuk senyum tipis. Lalu manik matanya terpaku pada bibir Lisa dan jemari Gustav bergerak membelai lembut bibir itu.
"Let me kiss you."