Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
30 Kesempatan Terakhir


__ADS_3

Di dalam ruangan kerja, seorang pria berdiri menatap pemandangan kota London melalui dinding kaca. Pria itu terus melamun memikirkan sesuatu sambil kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


Telinga pria itu menangkap suara pintu terbuka. Namun, dia diam tak bergeming saat seseorang melangkahkan kaki memasuki ruangan.


Hingga seseorang yang baru saja masuk berhenti tepat di ruangan luas itu.


“Mulai minggu depan, aku ingin kamu menghandle pekerjaanku di sini. Aku harus pulang ke Indonesia,” ucap Gustav mengalihkan pandangan dari pemandangan kota, lalu memutar badan untuk menatap Gordon yang baru saja masuk.


“Percayakan saja padaku, Gus.” Salah satu ujung bibir Gordon melengkung ke atas.


“By the way, tidak biasanya kamu bersedia menemui wanita yang akan dijodohkan denganmu.”


Mendengar hal itu, Gustav berdecak lalu menghempaskan diri ke kursi kebesarannya. Dia melayangkan tatapan tajam pada saudara sepupu yang umurnya lebih muda satu tahun dengan Gustav.


“Bukan itu tujuanku pulang. Aku punya tujuan lain. Sudahlah, aku hanya ingin menyampaikan itu saja,” kata Gustav yang kemudian melempar perhatian ke laptop yang ada di meja kerja.


"Hanya itu saja?" Gordon terkesiap. Sebab dirinya dipanggil hanya untuk mendengar satu kalimat perintah dari Gustav yang padahal bisa dia bicarakan melalui telepon.


Tak ada sahutan dari Gustav menjadikan Gordon pun memilih keluar dari ruang kerja saudara sepupunya itu.


Selepas pintu ditutup, Gustav mendapat kabar dari Henri jika Lisa akan dipindah tugaskan ke rumah sakit cabang. Lalu seulas senyuman pun terbit di bibir tipis Gustav.


Kemudian Gustav menghubungi orang kepercayaannya yang ditugaskan untuk menangani pembangunan desa tempat tinggal Lisa.


Gustav ingin mengetahui sampai sejauh mana pembangunan telah berlangsung dan Gustav kembali tersenyum tipis kala mendapat laporan jika semua telah beres.


Dari foto-foto yang dikirim oleh anak buahnya, tampak desa kini telah mengalami banyak perubahan.


Jalanan desa yang dahulu hanya jalanan berbatu, sekarang sudah di aspal dengan kualitas terbaik. Menara Tower didirikan agar akses komunikasi lancar.


Tak lupa juga bendungan dan saluran air bersih yang sengaja dibangun agar warga desa tak lagi kesulitan mendapat air bersih ketika musim kemarau.


“Kamu pasti tidak akan menyangka akan perubahan desamu, Lisa. Aku melakukan ini semua karena aku tahu kamu pasti akan kembali ke desamu,” gumam Gustav.


Lalu Gustav menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Menarik nafas sejenak lalu jemarinya menggeser layar ponsel yang menampilkan foto Lisa saat wisuda.


Selama ini, Gustav telah menempatkan beberapa pengawal yang tak disadari Lisa. Pengawal itu memberi laporan tentang keadaan Lisa secara berkala. Jadi tak heran jika ponsel milik Gustav dipenuhi oleh foto-foto Lisa.

__ADS_1


Tepat saat Gustav tengah memandangi foto Lisa, satu panggilan telepon masuk dengan nama Grandma tertera pada layar ponsel.


Gustav mendesah frustrasi sebab dia tahu bahwa neneknya itu menelepon hanya untuk membahas tentang masalah perjodohan.


“Halo, Gus, Grandma dengar kamu akan pulang ke Indonesia,” kata Camilla begitu telepon terhubung.


“Ya, Grandma. Memangnya ada apa? Jangan katakan Grandma akan memperkenalkan aku dengan seorang wanita,” sahut Gustav tak bersemangat.


Di ujung sana, Gustav mendengar Camilla menghela nafas.


“Grandma tak percaya kamu memiliki seorang kekasih karena nyatanya sampai saat ini kamu belum memperkenalkan dia pada Grandma. Jadi Grandma akan memberimu kesempatan terakhir.”


Gustav memijat pangkal hidungnya. Pertanda dia sedang sangat pusing akan tingkah Camilla yang seolah selalu mengatur urusan pribadinya.


Bahkan untuk urusan percintaan sekalipun. Gustav tak habis pikir jika nanti dia menikah, apakah neneknya itu juga akan mengatur urusan ranjangnya juga?


“Grandma, aku memang akan memperkenalkan Lisa pada Grandma saat aku pulang nanti,” ucap Gustav tegas.


“Oke, fine. Tapi Grandma memberi batas waktu sampai acara ulang tahun Grandma. Jika di acara ulang tahun kamu tidak bisa membawa wanita bernama Lisa, maka Grandma akan menikahkanmu dengan wanita pilihan Grandma,” ucapan Camilla pun tak kalah tegas dari sang cucu.


Kemudian, Camilla menutup telepon secara sepihak yang menjadikan Gustav melempar ponselnya ke atas meja lalu mengacak rambut frustrasi.


Sejenak Gustav menimbang. Namun, tak berapa lama, Gustav kembali menegakkan punggung sebab kini di benaknya terlintas sebuah ide.


*


*


*


Sebuah mobil merah melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalanan pedesaan yang lengang. Seorang wanita yang menjadi pengemudi mobil tampak terheran sekaligus takjub akan pemandangan desa.


Terlebih keadaan desa kini tampak berbeda dari terakhir kali dia tinggalkan.


Wanita itu memperlambat kecepatan mobil ketika manik matanya melihat bendungan yang terlihat baru saja selesai dibangun. Sudut bibir wanita itu naik membentuk senyuman. Lalu dia kembali melajukan mobilnya.


Hingga sampailah dia di pekarangan rumah yang sudah lima tahun ditinggalkan. Pintu mobil terbuka dan kaki jenjang sang wanita turun menapaki rerumputan hijau.

__ADS_1


“Lisa?” sebuah suara berat memanggil nama wanita itu yang membuat dia menoleh ke sumber suara.


“Aku tidak salah lihat kan? Kamu Lisa?” ucap Doni sambil mengayunkan kaki mendekati Lisa.


Beberapa kali Doni mengerjapkan mata tampak tak percaya akan indra penglihatannya.


Sedangkan Lisa hanya tersenyum dapat bertemu lagi dengan sahabat mendiang ayahnya. Rambut pria itu kini mulai beruban dan kerutan pun tampak jelas di sudut mata.


“Benar. Aku Lisa. Pak Doni, apa kabar?”


Doni tergelak dan menepuk bahu Lisa. Kedua orang itu mulai mengobrol hingga sorot mata Doni melirik mobil yang tadi ditumpangi Lisa.


“Ini mobilmu?”


Lisa mengangguk sebagai jawaban.


“Wah sekarang kamu sudah jadi orang sukses. Mendiang ayah dan ibumu pasti bangga padamu, Lisa.”


Kedua mata Doni berbinar saat menatap mobil merah di depannya. Meskipun dia lelaki tua dari desa, tapi dia tahu dengan yakin jika mobil yang dimiliki Lisa itu dibanderol dengan harga yang mahal.


Bahkan Doni tak henti-hentinya memuji mobil milik Lisa.


“Sebenarnya mobil ini aku dapatkan dari hadiah undian,” kata Lisa menggaruk kepala yang tidak gatal.


Jujur, Lisa pun heran akan kejadian-kejadian yang dialaminya selama kurang lebih lima tahun ke belakang. Sebab tak jarang Lisa mendapatkan hadiah yang mengatas namakan undian, give away, atau semacamnya.


Termasuk mobil merah yang kini menjadi miliknya adalah mobil yang dia dapatkan tepat di hari wisuda.


Tak mau ambil pusing, Lisa memutar badan untuk melihat rumah yang terawat sangat baik. Menjadikan dahi Lisa mengerut.


Rumah yang dia tinggalkan sekian lama bukan hanya terawat dengan baik. Namun, terlihat jelas jika rumah itu telah direnovasi.


“Pak Doni, siapa yang sudah merenovasi rumah saya?” Lisa bertanya pada Doni yang masih setia mengagumi setiap bagian mobil.


“Oh, itu,” Doni melirik sekilas ke arah rumah lalu kembali menatap mobil.


“Beberapa tahun yang lalu, ada seorang pria datang kemari. Dia bilang kamu telah menjual rumah ini padanya. Jadi aku tidak terlalu curiga saat orang itu melakukan renovasi,” tutur Doni.

__ADS_1


Kerutan di dahi Lisa semakin jelas terlihat. Seingatnya dia tak menjual tanah dan rumah yang merupakan peninggalan satu-satunya dari sang ayah. Bahkan surat kepemilikan tanah masih tersimpan oleh Lisa.


__ADS_2