Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
27 Begal


__ADS_3

Drt... drt...


Ponsel milik Lisa yang tergeletak di atas meja berdering. Sementara Lisa sendiri sedang berada di kamar mandi tepatnya di bawah guyuran air shower.


Suara percikan air membuat Lisa tak mendengar jika ponselnya berdering sejak tadi. Baru setelah keluar kamar mandi sambil masih menggunakan bathrobe, dia meraih ponsel dan berapa terkejutnya dia melihat 13 panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.


Jemari Lisa ingin menghubungi balik nomor tersebut. Namun, sebelum itu terjadi, satu panggilan telepon kembali masuk di ponsel Lisa.


Kali ini telepon dari nomor yang berbeda dan Lisa langsung mengangkat telepon itu begitu tahu dari siapa.


“Kak Devan?”


“Halo, Lisa, malam ini kamu ada acara?” tanya Devan to the point.


“Tidak ada, Kak. Ada apa memangnya Kak?”


“Ada film bagus yang sedang diputar di bioskop. Kamu mau menonton denganku?”


Lisa tersentak begitu mendengar Devan mengajaknya menonton film. Dia memijat pelipis sejenak menimbangkan keputusan untuk pergi dengan Devan atau tidak.


Sebenarnya aku ingin istirahat malam ini, tapi pergi keluar sebentar tidak masalah mungkin. Untuk refresh otak sejenak.


“Halo, Lisa?” tanya Devan karena tak kunjung mendengar jawaban dari gadis itu. "Kamu mendengar perkataanku?"


Menjadikan Lisa tersentak dari lamunannya.


“Oh hmm iya Kak.”


“Jadi kita akan pergi?” Devan sekali lagi meyakinkan.


“Iya, Kak. Jam berapa kita akan pergi?”


Di seberang sana Devan tersenyum semringah. Hatinya terasa bahagia saat Lisa tak menolak ajakannya.


“Akan akan jemput kamu jam tujuh malam.”


“Hah? Jam tujuh?” Lisa melirik jam yang kini menunjukkan pukul tujuh malam kurang satu menit. “Itu artinya...”

__ADS_1


“Itu artinya aku sudah ada di depan gedung apartemenmu,” kata Devan cepat memotong ucapan Lisa.


Sementara Lisa sendiri menepuk jidatnya. Dia ikut terkekeh saat mendengar suara Devan yang juga tertawa nyaring.


“Tapi aku belum siap-siap, Kak.”


“No problem. Aku akan tunggu dan satu lagi, jangan dandan yang menor! Karena tak perlu dandan kamu, juga sudah cantik.”


Tut.


Tanpa sadar Lisa menutup telepon, sebab dia terkejut akan pujian Devan. Lalu tak mau membuang waktu lama, Lisa mengambil baju di lemari dan memoles wajahnya dengan riasan yang natural.


Lisa turun dari lantai apartemen yang belum satu minggu dia tinggali. Dia melamun di dalam lift menyadari begitu sangat mengherankan saat kehidupannya berubah dalam waktu singkat.


Di luar gedung apartemen, Lisa menghampiri Devan yang menyandarkan bokongnya ke sebuah sepeda motor sport berwarna biru tua.


Kemudian pria itu menyodorkan helm dan tangan Lisa bergerak menerimanya. Akan tetapi, nyatanya, Devan menyodorkan untuk memakaikan langsung helm itu ke kepala Lisa.


Menjadikan wajah Lisa dan Devan berdekatan dan pemandangan itu tak luput dari seseorang yang berada di dalam mobil mewah. Pria itu mengepalkan tangan dan menyorot tatapan tajam pada Lisa serta Devan.


“Tidak apa-apa, Kak.”


“Pegangan yang kencang. Aku akan mengebut. Jam tayang filmnya sebentar lagi dimulai.”


Sejenak Lisa terdiam dan ragu untuk memeluk pinggang Devan. Menyadari Lisa yang hanya diam, Devan meraih kedua tangan Lisa lalu memaksa tangan itu melingkar di perutnya.


Kemudian Devan pun melajukan motor memecah jalanan malam.


“Ikuti mereka!” perintah Gustav yang sejak tadi mengawasi tindak-tanduk Lisa dan Devan.


“Baik, Tuan.”


Jerri yang duduk di kursi kemudi, menjalankan mobil menyusul sepeda motor yang dikendarai oleh Devan.


Tadinya Gustav ingin menemui Lisa di apartemennya. Dia ingin memberi kejutan sekaligus mengatakan bahwa besok dia akan pergi ke London. Tapi yang ada dia sendiri yang dikejutkan akan Lisa yang pergi dengan pria lain.


Sementara Lisa yang berdebar ketakutan karena Devan melajukan motor dengan kecepatan di atas batas normal, semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di perut Devan. Bahkan Lisa meletakan kepalanya di pundak pria itu dan memilih memejamkan mata.

__ADS_1


Sontak tindakan Lisa itu membuat Devan menerbitkan senyuman tipis di balik kaca helm yang menutupi wajahnya. Dia memang sengaja mengebut agar Lisa memeluk dari belakang.


Lisa sendiri yang masih tetap memejamkan mata dengan kepala bersandar pada Devan secara mendadak teringat akan dirinya bersama Edgar saat naik sepeda berdua.


Hal itu menjadikan Lisa tersentak, membuka mata lebar-lebar, serta mengendurkan pergelangan tangan. Lisa menarik nafas panjang dan tatapannya menerawang ke depan.


Kenapa aku selalu saja teringat Edgar? Dia itu kan sudah bahagia dengan keluarganya.


“Argh. Sial.”


Devan mengumpat saat tiba-tiba motornya dikepung oleh empat sepeda motor yang ada di depan, belakang, kanan dan kirinya.


Lima pengendara sepeda motor itu menggerungkan mesin seolah menantang Devan. Menjadikan Lisa yang duduk di jok belakang ketakutan.


Tak hanya itu, pengendara yang berada di sebelah kiri juga mengacungkan golok ke arah mereka.


“Kak Devan, mereka...”


“Iya, aku tahu. Mereka ingin membegal kita.”


“Berhenti kalian!” perintah pengendara yang memegang golok.


Tak ada pilihan, Devan menghentikan sepeda motornya. Lalu dia dan Lisa turun saat lima pria memakai topeng mengerubungi mereka.


Satu pria dengan cepat mengambil alih sepeda motor dan sisanya menghajar Devan yang kewalahan. Bukan hanya karena empat lawan satu, tapi juga disebabkan Devan yang tidak memiliki kemampuan bela diri.


Sedangkan Lisa yang berdiri gemetar ketakutan memilih berteriak sambil berlari untuk mencari pertolongan. Namun, baru beberapa langkah, Lisa merasakan tengkuknya dipukul benda keras.


Bugh.


Lisa menjerit sekaligus meringis kesakitan. Perlahan penglihatannya kabur, kakinya lemas tak sanggup menopang tubuh.


Detik berikutnya tubuh Lisa ambruk di atas aspal yang keras. Sebelum kedua manik mata Lisa menutup, samar-samar Lisa melihat sosok pria mendekatinya.


Semakin lama wajah pria itu semakin jelas.


“Edgar?” ucap Lisa begitu lirih.

__ADS_1


__ADS_2