
Binar mata bahagia tak bisa disembunyikan dari Lisa kala pelayan satu per satu menyajikan hidangan di atas meja. Berbeda dengan Lisa, terlihat Gustav menelan saliva nya dengan kasar.
Dia tak habis pikir akan porsi yang dimakan oleh istrinya. Memandang tumpukan makanan itu saja sudah membuat dia kenyang.
Meskipun begitu, Gustav tetap bersyukur asalkan Lisa dan janin yang ada di dalam kandungannya sehat.
Mulai besok akan ada ahli gizi yang akan datang kemari untuk mengontrol asupan makanan yang masuk ke dalam mulutmu. Batin Gustav sambil melengkungkan salah satu ujung bibirnya.
Tangan Lisa bergerak ingin mengambil salah satu kudapan tapi mendadak Gustav mencengkram tangan Lisa begitu kuat.
"Auh, Sayang, apa yang kamu lakukan? Tanganku sakit!"
Perlahan Gustav merenggangkan cengkramannya. Bola mata Gustav menatap satu per satu pelayan yang kini berbaris rapi di samping meja makan.
Sedangkan Lisa mengernyit heran akan tingkah suaminya itu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Lisa menyadari jika suaminya itu menatap aneh pada para pelayan.
"Di mana Martha?"
Para pelayan saling menoleh satu sama lain. Tampak gurat kebingungan pada wajah mereka.
"Aku tanya, di mana Martha? Kenapa kalian diam? Panggil dia kemari!"
Salah satu pelayan memisahkan diri dari barisan. Dengan langkah cepat dia keluar ke ruang makan tapi tak lama setelah itu, dia kembali dengan Martha yang berwajah kebingungan.
Wanita yang baru beberapa jam memakai seragam pelayan itu melirik Lisa dan Gustav secara bergantian.
Dapat Martha lihat wajah Lisa yang juga sama bingung dengan dirinya, sehingga jawaban kenapa dia bisa dipanggil pasti ada pada Gustav.
"Tuan, kenapa saya dipanggil kemari?" Martha bertanya setelah berhasil mengumpulkan keberanian.
"Duduk!" titah Gustav menunjuk salah satu dari deretan kursi.
Tanpa banyak bicara, Martha menurut, menelan salivanya dengan kasar sebab dapat dia rasakan aura mencekam yang dipancarkan oleh Gustav.
Lisa yang masih belum mengerti, mencondongkan tubuh dan berbisik di depan telinga sang suami.
"Sayang, ada apa sih?"
"Makan!" perintah Gustav tapi bukan kepada Lisa, melainkan Martha.
Semua orang kecuali Gustav mengernyit heran. Terlebih Martha yang mendadak berwajah tegang dengan bibir pucat.
Tubuh Martha bergetar hebat dan dia menoleh untuk menatap sang majikan.
"Kenapa diam? Cepat makan apa yang ada di depanmu!"
"Tapi ini kan makanan untuk Lisa, Tuan."
"Nyonya Lisa," Gustav mengoreksi ucapan Martha.
Cih mana sudi aku memanggil dia dengan sapaan Nyonya. But by the way, kok Gustav sepertinya tahu kalau aku menaruh obat pencahar perut ke makanan Lisa ya?
Martha sibuk dengan pikirannya hingga saat ini dia tidak sadar jika Gustav menatap tajam padanya.
__ADS_1
Ehem.
Suara deheman yang keras membuat Martha terlonjak. Dia kembali sadar dan tersenyum malu. Terlebih saat melirik Gustav yang sudah siap untuk menikamnya.
Martha menggaruk kepalanya tampak bimbang.
Aduh bagaimana ini? Tidak mungkin Gustav curiga. Jelas-jelas saat aku mencampurkan obat itu tak ada yang melihat.
"Tuan, kenapa aku harus makan makanan yang disajikan untuk Nyonya Lisa. Anda tampak mencurigai saya menaruh sesuatu pada makanan itu," tutur Martha.
Gustav hanya tersenyum tipis. Tak menyangka jika Martha jauh lebih bodoh dari perkiraannya.
Sedangkan Martha melempar pandangan pada Lisa.
"Sa, kamu percaya sama aku kan? Sejak tadi aku melakukan tugas di halaman belakang. Mana sempat aku ke dapur."
"Siapa juga yang sedang mencurigaimu? Cepat makan saja. Aku sedang berniat baik padamu, kenapa kamu malah memiliki prasangka buruk," ucap Gustav tersenyum penuh arti.
"Iya, Gustav ada benarnya juga. Kamu juga ikut makan bersama kami," timpal Lisa yang kini mulai mengerti.
"Tapi kenapa aku? Bagaimana dengan para pelayan lain?"
Martha gelagapan dan sekilas menoleh pada barisan pelayan.
"Tradisi penerimaan pelayan baru di mansionku memang seperti ini. Jadi jangan banyak tanya lagi! Cepat makan!" Gustav menaikkan nada suaranya akibat sudah tak dapat bersabar lagi.
Martha menepuk perutnya perlahan sambil tersenyum singkat.
"Tapi sayangnya aku sudah kenyang."
Kruyuukk.
Gustav menaikan alisnya sekaligus menyeringai melihat Martha yang terkekeh kaku sambil menggaruk tengkuknya.
"Baiklah aku akan makan."
Tak ada pilihan, Martha pun menyendok dan melahap makanan dengan perlahan. Satu sendok, dua sendok, tak terjadi sesuatu pada Martha.
Namun, Gustav tetap menatap tajam pada Martha yang terus mengunyah.
"Tuan Gustav, Nyonya Lisa, bisa lihat kan? Aku baik-baik saja."
Baru saja Martha mengucapkan itu, mendadak perutnya terasa dililit oleh tali. Sontak Martha menjatuhkan sendok yang berdenting keras membentur piring.
Dua bola Martha membelalak, tangan Martha refleks memegang perut dan dia berdiri hingga kursi yang didudukinya terjungkal.
Martha membungkukan badan tak dapat menahan sesuatu yang ingin sekali keluar dari dalam perutnya. Pandangan Martha berputat mencari pintu menuju kamar mandi.
"Toilet mana toilet!" teriak Martha yang kemudian lari menerobos pintu meski dia tak tahu pintu itu akan mengarahkan dia kemana.
Para pelayan yang sejak tadi melihat ekspresi wajah Martha hanya bisa terkikik pelan. Sebenarnya mereka ingin sekali tertawa lepas namun, di ruangan itu masih ada Tuan Gustav.
"Trevor! Suruh koki untuk memasak lagi makanan untuk Lisa. Dan kau…" Gustav menunjuk dada Trevor penuh penekanan.
"Kau harus mengawasi secara langsung dari bahan-bahan itu disiapkan sampai tersaji ke hadapan istriku."
__ADS_1
Trevor mengangguk mantap. Tanpa menginterupsi perintah dari tuannya, dia pun berjalan ke dapur.
Setelah itu, Gustav menarik lengan Lisa agar wanita itu berdiri.
"Kita mau kemana? Aku lapar."
"Kita tunggu makanannya diantar ke kamar."
*
*
*
Dua jam berlalu, Martha akhirnya bisa keluar dari kamar mandi dengan bernafas lega. Tapi baru dua langlah dia meninggalkan kamar mandi, Martha kembali membungkukan badan.
"Aduh, kenapa masih sakit?"
Dengan tertatih-tatih, Martha berjalan masukkembali ke dalam kamar mandi.
Setelah untuk kesekian kali, Martha bisa dengan tenang berjalan melenggang di lorong. Namun, ketika dia berbelok, kedua lengannya dicekal oleh dua orang pria di samping kanan dan kirinya.
"Hai, ada apa ini? Siapa kalian?"
"Ikut kami!"
*
*
*
Di atas tempat tidur, Gustav menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Lisa yang terlelap setelah pergulatan panas mereka. Dia duduk bersandar pada headboard, lalu menyambar ponsel di atas nakas.
Ujung bibir Gustav terangkat kala melihat foto kiriman dari anak buahnya yang telah menyiksa Martha dan menelantarkan wanita itu di jalanan.
"Kerja bagus," gumam Gustav meletakan kembali ponselnya
"Sayang," panggil Lisa lirih.
Gustav menoleh ke samping. Dia mengira jika Lisa telah terlelap tapi nyatanya salah.
Wanitanya itu masih terjaga dengan mata yang setengah mengantuk.
"Kamu belum tidur rupanya."
"Aku teringat sesuatu jadi aku terbangun."
"Sesuatu apa?" Gustav bertanya sambil mengerutkan alis.
"Kamu tidak menyiksa Martha kan? Gustav, kamu harus ingat aku sedang hamil. Jadi jangan menyiksa makhluk hidup atau nanti anak kita akan kena imbasnya."
Deg.
"Sungguh?"
__ADS_1