
Tampak gurat kebingungan pada wajah Jerri yang tengah menyetir mobil. Pandangan pria itu menelisik setiap kendaraan yang ada di depannya.
Motor yang di tumpangi Devan melaju sangat kencang seperti sedang dikejar setan. Membuat Jerri kehilangan jejak motor sport biru itu.
Dan keraguan yang terpancar di wajah Jerri terbaca dengan jelas oleh Gustav yang duduk di kursi belakang. Dia melirik tajam melalui kaca spion tengah sambil melipat tangan di depan dada.
“Di mana Lisa?” tanya Gustav dengan nada ketus.
Jerri susah payah menelan saliva. Tangann gemetar dan mendadak tengkuk juga merinding merasakan aura dingin dari orang yang duduk di belakang.
“M-maaf, Tuan. Saya kehilangan jejak mereka?”
Bugh.
Gustav menendang jok yang ada di depannya membuat Jerri terlonjak kaget.
“Gajimu dipotong lima puluh persen bulan ini,” ucap Gustav enteng.
“T-tapi kenapa Tuan?” Jerri yang kelabakan menoleh ke belakang memastikan bahwa Tuan Gustav hanya sedang bercanda.
Namun, hanya dari ekspresi wajah tuannya, Jerri sudah dapat mengetahui jika Gustav tidak main-main dengan ucapannya.
“Hai, menyetir dengan benar! Kamu mau kita mati?” sentak Gustav melihat Jerri menoleh ke belakang saat melajukan mobil.
Secepat kilat Jerri melempar pandangan ke depan dan kembali memfokuskan penglihatannya ke arah jalanan.
“Maaf, Tuan.”
“Gajimu dipotong tujuh puluh persen!”
“Tapi...”
Sesaat Jerri terdiam, melirik Gustav melalui kaca spion tengah, lalu menghela nafas. Menyadari jika tak ada gunanya membantah.
Jerri memusatkan perhatiannya hingga akhirnya dia menemukan kembali motor yang ditumpangi Lisa. Akan tetapi saat ini Lisa dan Devan sedang dikerubungi setidaknya oleh lima orang.
Gustav yang juga melihat Lisa dipukul dengan tongkat besi, segera keluar begitu Jerri menghentikan mobil. Dia menghajar pria yang telah berani memukul Lisa dan membuat gadis itu pingsan.
Jerri, sang asisten pun tidak tinggal diam. Dia ikut membantu menghajar pria yang lain dan terjadilah pertikaian yang cukup sengit.
Akan tetapi bagi Gustav sangat mudah mengalahkan kelima orang itu sebab dia mengerahkan semua kekuatan.
Setelah lima pembegal itu pergi, Gustav buru-buru mendekati tubuh Lisa yang terbaring di atas jalan aspal. Dia meletakan kepala Lisa di dalam pangkuan dan menepuk lembut pipi mulus itu.
“Lisa, bangun please!” pinta Gustav yang begitu khawatir karena Lisa tak kunjung membuka mata.
__ADS_1
"Bertahanlah, Lisa. Aku akan membawamu ke rumah sakit.
Tak mau membuang waktu lama, Gustav segera menggendong tubuh Lisa untuk membawanya ke dalam mobil.
“Tuan, tunggu! Bagaimana dengan pria ini?” Jerri menunjuk Devan yang juga tak sadarkan diri di tepi jalan.
“Dia jadi urusanmu,” jawab Gustav singkat lalu melajukan mobil meninggalkan Jerri.
“Sial, aku ditinggal.”
*
*
*
Keesokan pagi, di sebuah ruangan VIP rawat inap rumah sakit, Gustav duduk di samping brankar di mana Lisa masih menutup mata.
Semalaman Gustav tidak tidur hanya untuk menunggu gadis itu terbangun. Ditatapnya dengan intens wajah Lisa yang memiliki bulu mata lentik.
Gustav mengacak rambut yang membuat penampilannya semakin berantakan. Dia bahkan tak peduli lagi dengan dasi yang longgar menggantung di leher dan kemeja yang kusut.
“Lisa, apa kamu tak mau melihatku sebelum aku pergi?” tanya Gustav sambil mengusap lembut pipi wanitanya.
Manik mata Gustav menelisik setiap patahan wajah Lisa dan menyimpannya di dalam benak. Mengingat ini adalah terakhir Gustav dapat memandang Lisa dari jarak dekat.
Tangan Gustav meraih tangan Lisa lalu mendaratkan kecupan di sana. Dia menarik nafas panjang kala tak ada pergerakan sama sekali dari seorang Lisa.
Meskipun dokter telah meyakinkan Gustav bahwa Lisa baik-baik saja. Namun, Gustav tidak tenang. Terlebih dia belum menceritakan satu hal penting yang ingin sekali dia sampaikan sebelum pergi ke London.
Dering yang meraung-raung serta memekakkan telinga dari ponsel Gustav diabaikannya begitu saja sebab dia tahu panggilan itu tidak lain dan tidak bukan dari Camilla.
Bahkan Gustav sengaja mematikan ponsel agar tak lagi mengganggu.
“Dengar, Lisa. Aku akan pergi ke London dan aku tidak tahu apakah aku akan kembali lagi dalam waktu dekat.”
Gustav membelai rambut hitam Lisa.
“Tapi harus kamu tahu, aku selalu mengawasimu dari jauh. Aku akan menempatkan orang-orangku untuk menjagamu. Tak akan aku biarkan satu orang pun menyakitimu dan satu hal yang penting, aku pasti akan kembali menemuimu.”
Bibir Gustav melengkungkan senyum tipis. Kini belaiannya tangannya juga jatuh pada bibir tipis Lisa yang terasa lembut dan kenyal.
“Ketika kita bertemu nanti, kamu sudah menjadi dokter yang hebat. Aku ingin semua orang melihatmu sebagai dokter yang hebat karena kemampuanmu sendiri.”
Gustav menurunkan kepala, melabuhkan satu kecupan di kening yang perlahan turun ke hidung dan terakhir mendarat di bibir.
__ADS_1
“I love you."
Sesaat hening tak ada suara di ruangan itu dan tak ada tanda-tanda Lisa akan terbangun.
"Kamu dengar itu? Aku sangat mencintaimu," ucap Gustav bersungguh-sungguh. Dia sangat berharap Lisa dapat mendengar suaranya.
"Aku harap kamu selalu menjaga dan jangan pernah merubah perasaanmu padaku. Aku yakin, suatu saat kita pasti akan bertemu lagi."
Sekali lagi satu ciuman mendarat di bibir Lisa. Gustav mengecup bibir merah itu sangat lama. Pertanda dia sangat menginginkan wanitanya.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuat Gustav mengangkat kepalanya dan mempersilahkan orang yang dibalik pintu sana untuk masuk.
Rupanya orang yang mengetuk pintu adalah Jerri. Dia melangkah menuju ke tengah ruangan.
“Tuan, sudah waktunya kita berangkat.”
Sebelumnya Gustav telah memerintahkan Jerri untuk menyiapkan keperluan yang harus dia bawa. Berikut juga pesawat jet pribadi yang akan membawanya pergi jauh dari orang yang dicintai.
Gustav menarik nafas panjang, tangannya mengusap lembut ujung kepala Lisa, dan tak lupa kecupan singkat di kening.
“Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik dan tunggu aku kembali!” bisik Gustav tepat di depan telinga kanan Lisa.
Kemudian Gustav mengayunkan kaki menuju pintu. Gustav tak menyadari jika sesaat setalah dia pergi, satu bulir meluncur dari pelupuk mata Lisa.
*
*
*
“Akhirnya kamu datang juga, Gus?” ucap Camilla yang telah duduk di kursinya di dalam pesawat.
Gustav yang tak menggubris ucapan Camilla lebih memilih menghempaskan punggung ke sandaran kursi dan memejamkan mata.
Hingga pesawat yang ditumpangi mengudara, bayangan Lisa tak mau enyah dari benak Gustav. Lalu dia mengalihkan perhatian dengan menatap ke luar jendela.
Di waktu yang sama, kedua kelopak mata Lisa perlahan mulai terbuka. Dahi gadis itu mengernyit saat menyadari dirinya berada di sebuah tempat yang asing.
Namun, tak lama Lisa dapat menyimpulkan bahwa dia berada di rumah sakit dan dia pun menarik nafas panjang dengan pandangan kosong menatap langit-langit.
"Aku bermimpi Edgar menciumku dan memintaku menunggunya."
Detik berikutnya, Lisa menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
"Astaga, apa-apaan aku ini."