
Martha tergugu, ingin bicara tapi suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Terlebih saat dia melirik pada Gustav yang menatapnya tajam.
Lisa yang menyadari ketakutan di wajah Martha saat wanita itu melirik suaminya langsung mengerti dan menarik Martha untuk memberikan sedikit ruang.
"Lisa, kamu mau mau kemana?" Gustav bertanya pada Lisa yang berjalan bergandengan tangan dengan Martha.
"Aku ingin bicara sebentar dengan Martha."
"Tapi dia itu…"
"Please. Kali ini saja."
Gustav dan Lisa saling beradu pandang. Lalu Gustav mengengguk memberikan izin pada Lisa setelah dia melihat kemantapan hati istrinya.
Meskipun Gustav tak tahu apa yang akan Lisa bicarakan dengan Martha. Sehingga dia berdiri tak jauh dari mereka yang kini sedang duduk di bangku.
"Apa kabar, Sa? Sekaranga kamu sudah jadi istri konglomerat ya?" Martha bertanya dengan mengeluarkan suara yang terdengar tulus.
Raut wajah Martha pun berbeda dari biasanya jika bertemu Lisa. Sebisa mungkin agar Lisa bisa menerima Martha.
"Martha, ada apa denganmu? Kamu baik-baik saja kan?"
Bukannya menjawab pertanyaan Martha, Lisa justru mencecar teman lamanya itu dengan balik bertanya.
Lisa mengamati penampilan Martha yang ala kadarnya. Kaos yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya dan celana jeans robek di bagian lutut.
Jelas bukan penampilan yang menggambarkan Martha seperti yang Lisa kenal selama ini. Belum lagi wajah Martha yang tak terpoles make up sama sekali.
Jauh berbeda dengan Martha yang dulu. Dimana setiap detik harus mengusapkan bedak setiap kali bedak itu luntur dari wajahnya.
"Aku…" Martha menundukan kepala dan mulai terisak.
"Kamu kenapa, Marta?" tanya Lisa iba.
Lisa yang memang sedang hamil muda dan mudah terbawa emosi pun menjadi iba pada Martha. Meskipun wanita itu dulu pernah memgitnahnya.
"Apa kamu tahu, Sa, kalau Daddy aku bangkrut karena suami kamu."
"Suami aku? Memangnya ada apa sih, Martha? Cerita sama aku!"
Yes. Kena kamu, Lisa. Baru begini saja kamu sudah terbawa emosi. Atau memang akunya saja yang pintar akting. Tahu kalau aku punya bakat akting, mending aku ikut casting jadi artis aja kali ya?
Martha membatin sambil menyunggingkan seringai tipis.
__ADS_1
"Martha, kamu kenapa? Jawab dong. Kok melamun?"
Pertanyaan Lisa membuyarkan lamunan Martha. Dia menggaruk kepala salah tingkah. Lalu kembali menjalankan sadiwaranya.
Martha menceritakan bagaimana Gustav membuat perusahaan Mario bangkrut dengan menolak kerja sama, padahal saat itu perusahaan Alastar Corp sangat diharapkan dapat membantu Mario dari hutang yang menjerat.
Martha pun menjelaskan jika semua itu, Gustav lakukan karena Martha yang telah menuduh Lisa dan dulu Martha terkesan tak mau meminta maaf.
"Sekarang aku sudah khilaf, Lisa. Dulu aku terlalu kekanak-kanakan dan sangat manja. Tapi kini aku sadar aku salah. Kamu mau memaafkan aku kan, Lisa."
Martha menatap sendu pada Lisa dengan satu bulir bening mengalir di pipi.
Lisa mengangguk dan menggenggam tangan Martha.
"Iya, aku maafkan kamu kok. Lagipula itu kan sudah berlalu."
"Dan sekarang aku dan ayahku hidup terlunta-lunta, Lisa. Jika boleh aku ingin meminta satu permohonan," kata Martha sambil menundukan kepala.
Martha menundukan kepala karena tasa senang yang membuncah. Dia dapat menebak jika Lisa pasti akan mengiyakan permintaannya tanpa berpikir dua kali.
"Permohonan apa?"
"Aku mohon beri aku pekerjaan. Menjadi pelayan di mansion kalian juga tidak apa-apa."
"Tidak bisa."
"Gustav," Lis menautkan alis tidak suka jika Gustav menguping pembicaraan mereka tadi.
"Lisa, kamu harus ingat dia itu wanita seperti apa," seru Gustav melirik jijk pada Martha.
"Tapi selama lima tahun ini aku sudah berubah. Aku bukan Martha yang seperti dulu lagi," Martha membela diri sangat menyakinkan.
Menjadikan Lisa yang sedang dalam fase terbawa emosi akhirnya mengabulkan permohonan Martha.
"Baiklah. Tapi apa tidak apa-apa jika kamu bekerja jadi pelayan."
"Tidak apa-apa. Aku mau mepakukan apa saja asal halal."
Martha menyeka jejak air mata, tersenyum, dan menghamburkan pelukan pada Lisa.
Tanpa ada yang melihat jika di belakang Lisa, Martha sedang melengkungkan senyum penuh arti.
"Tapi Lisa, aku tidak mengizinkan dia bekerja di mansion. Tidak akan pernah setelah apa yang dia perbuat padamu," kata Gustav tegas. Dia yakin Martha telah berubah.
__ADS_1
"Sayang, aku mohon beri dia pekerjaan, kalau tidak di mansion di mana saja asal dia punya pekerjaan," pinta Lisa memelas.
Gustav melirik Martha sejenak. Meneliti raut wajah wanita itu untuk mencari niat terselebung yang sedang ditutup-tutupi.
Gustav menyeringai. Firasatnya tak salah lagi jika Martha memiliki niat buruk pada Lisa.
Coba kita lihat seberapa pintar dirimu, Martha.
"Sayang, kenapa kamu diam saja? Martha boleh bekerja di mansion kan?" Lisa bertanya harap-harap cemas.
"Ya, dia akan bekerja sebagai pelayan," jawab Gustav namun manik matanya tak lepas mengamati raut wajah Martha.
*
*
*
Beberapa pelayan rumah yang sedang bekerja di halaman, menundukan kepala memberi hormat pada tuan merek yang baru saja keluar dari mobil.
Memang seperti itulah kebiasaan mereka tiap kali berpapasan dengan sang tuan Gustav. Namun, kali ini ada yang membuat kening mereka mengerut.
Sebab selain Lisa, ada wanita lain yang juga keluar dari mobil yang ditumpangi Gustav.
Benak para pelayan menjadi bertanya-tanya akan siapa sosok wanita itu.
Salah satu pelayan bahkan ada yang berasumsi jika wanita itu adalah wanita kedua tuannya. Sungguh liar sekali pemikiran pelayan satu ini.
"Bawa barang-barang di bagasi!" perintah Gustav pada Martha yang tentu saja tak bisa ditolak mengingat status dia kini sebagai pelayan.
Melihat Martha yang membawa barang-barang belanja, membuat para pelayan menyimpulkan jika Martha adalah pelayan baru. Mereka mengangguk pelan dan melanjutkan pekerjaan mereka.
Gustav berjalan memasuki mansion dengan satu tangan yang memeluk pinggang Lisa. Sedangkan Martha ada di belakang mereka, diam-diam menatap sinis.
Mereka disambut oleh kepala pelayan yang sudah berdiri di pintu.
"Dia akan bekerja sebagai pelayan mulai hari ini. Berikan pekerjaan apapun asal bukan yang berhubungan langsung dengan istriku," tutur Gustav pada kepala pelayan.
Pria paruh baya itu hanya mengangguk mantap. Setelah Gustav dan Lisa berjalan melewatinya, barulah dia menatap Martha.
Martha sendiri sedang keheranan sebab sejak tadi dia mengamati raut wajah Lisa yang tampak biasa saja. Tidak ada kesedihan padahal wanita itu tengah ditimpa gosip miring.
"Apa jangan-jangan Lisa tidak tahu jika dia dituduh melakukan malpraktek?" gumam Martha menyipitkan mata.
__ADS_1
Dan satu informasi batu yang Martha dapatkan, dia tahu jika Lisa sedang hamil. Itu Martha ketahui saat Lisa membeli susu ibu hamil.
Martha menyeringai menatap punggung Lisa yang menjauh. Di dalam benaknya telah tersimpan rencana untuk membalas dendamnya.