Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
26. Sebelum Aku Pergi


__ADS_3

Gustav membelalakkan mata saat melihat kondisi ruangan sebuah penginapan yang berantakan seperti kapal pecah.


Tapi yang lebih mengejutkan Gustav adalah dua tubuh yang terbaring di lantai yang sama-sama memiliki luka tembak di dada. Mereka berdua adalah James dan Billy. Orang yang sudah menyiksa Gustav dan membuang tubuhnya di pinggir hutan.


Gustav mengeratkan rahang dan tangan mengepal sebab kini dia tengah menahan amarah yang membuncah di dalam dada.


Yang Gustav inginkan James dan Billy ditangkap hidup-hidup supaya dia bisa menginterogasi mereka dan mencari tahu alasan dirinya disiksa.


Beberapa polisi sedang berjaga dan mengumpulkan bukti di sekitar tkp. Hanya Gustav dan Gordon yang dipebolehkan masuk hanya sekedar melihat.


“Dugaanku mereka saling berkelahi dan berakhir dengan keduanya saling tembak,” jelas Gordon dengan menatap lekat pada dua mayat yang tergeletak di lantai.


Lalu Gordon melirik pada saudara sepupunya.


“Tidak ada yang perlu dicemaskan lagi,Gus. Orang yang menyiksamu telah mati tanpa kita berbuat apapun."


Gustav menggelengkan kepala dengan mantap.


"Bukan itu yang mengganjal di pikiranku sekarang."


"Lalu apa, Gus?"


Gustav melempar pandangan pada Gordon sehinggamanik mata mereka saling bertemu.


“Aku yakin mereka dibayar oleh seseorang, dan aku tidak akan tenang sebelum menemukan orang itu," ucap Gustav dengan tangan mengepal kuat.


Detik berikutnya, Gustav berbalik dan melangkahkan kaki meninggalkan penginapan yang dihuni oleh James dan Billy.


*


*


*


Pagi hari menyambut.


Byur.


“Aarrghh,” pekik Lisa ketika dirinya tiba-tiba saja disiram saat berbelok di salah satu koridor kampus.


Tak lama terdengar suara gelak tawa dan Martha muncul dari balik tembok. Dia memegangi perut yang terasa geli.


Sementara Lisa langsung melayangkan sorot mata tajam pada Martha, sebab badannya kini basah kuyup akibat ulah wanita itu.


Merasa tak terima, Lisa mendorong tubuh Martha dan mengimpitnya di dinding. Dua wanita itu saling menatap penuh benci satu sama lain.


“Apa-apaan ini?”


Martha menepis tangan Lisa lalu mengusap titik di mana Lisa menyentuh bajunya. Dia tidak sudi baju mahal yang melekat ditubuhnya tersentuh oleh tangan gadis kampungan.


“Itulah kalau mencari gara-gara denganku,” sahut Martha berkacak pinggang.


Lisa yang mendengar hal itu langsung menautkan alis.


“Apa kamu bilang? Cari gara-gara? Bukannya kamu yang mulai duluan?”

__ADS_1


Martha tak menggubris ucapan Lisa. Dia memandang Lisa dari atas ke bawah, lalu menerbitkan senyuman mencemooh.


“Ada hubungan apa kamu dengan Tuan Gustav?” Martha malah balik bertanya.


Sejujurnya Martha penasaran, adakah kedekatan Tuan Gustav dengan Lisa? Kenapa Tuan Gustav ingin sekali Martha meminta maaf pada Lisa?


Pertanyaan itulah yang bersarang di benak Martha sejak kemarin.


“Tuan Gustav? Siapa Tuan Gustav? Aku tidak kenal,” kata Lisa santai dan hendak melenggang pergi.


Namun, Martha menyambar lengan Lisa untuk menahan gadis itu.


“Jangan bohong!”


“Aku tidak bohong.”


Martha memicingkan mata menelisik raut wajah Lisa yang santai dan sepertinya tidak menyimpan sebuah kebohongan.


Lalu Lisa mengempaskan tangannya dan berniat untuk pergi. Akan tetapi baru dua langkah dia berjalan, Lisa berhenti seketika.


“Tunggu! Aku lupa sesuatu.”


Plak.


Lisa berbalik badan, tangannya bergerak menampar pipi Martha.


"Itu balasan karena kemarin kamu menamparku dan ini balasan karena sudah membuat badanku basah."


Lisa menjambak rambut Martha yang tentu saja membuat wanita itu menjerit kesakitan.


Lisa tak habis pikir, kenapa Martha selalu membuat masalah dengannya?


Tak mau kalah, Martha juga menjambak rambut Lisa, dan detik berikutnya terjadilah jambak-menjambak rambut. Hingga menjadikan mereka tontonan gratis oleh mahasiswa lain.


*


*


*


Jerri masuk ke ruang kerja yang mana sang empunya ruangan sedang berjibaku dengan laptop dan sesekali melirik ke sebuah dokumen.


“Tuan, Nona Lisa bertengkar dengan Nona Martha di kampus,” lapor Jerri pada Gustav yang tetap fokus pada pekerjaannya.


“Sudah kamu selidiki siapa yang memulai terlebih dahulu?”


Jerri menganggukkan kepala, “Nona Martha yang lebih dulu menyiram Nona Lisa, Tuan.”


“Sudah kuduga. Sepertinya, Martha ingin cari mati,” gumam Gustav


Gustav menutup laptop, menghela nafas panjang lalu bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.


“Apa yang harus kita lakukan, Tuan?”


Gustav memalingkan pandangan pada asisten pribadinya itu dengan memancarkan aura dingin.

__ADS_1


“Kenapa kamu malah bertanya? Tentu saja kita buat perusahaan Mario bangkrut.”


Tepat saat itu juga, pintu ruangan terbuka yang menjadikan Gustav dan Jerri menoleh. Di ambang pintu, Camilla berdiri sangat angkuh dengan menenteng clutch bag.


Camilla melenggang melintasi ruangan sambil menampilkan senyuman pada cucu kesayangannya. Dan ketika tepat berdiri di samping Jerri, dia melirik asisten pribadi itu memberi isyarat untuk keluar.


Jerri yang mengerti arti tatapan Camilla hanya menundukkan kepala dan berjalan menutup pintu dari luar.


Lalu Camilla pun duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Gustav.


“Ada apa Grandma kemari? Kalau hanya untuk membahas perjodohan lagi, sudah aku katakan aku sudah memiliki calon istri.”


Bukannya menjawab, Camilla justru tertawa geli.


“Mana calon istrimu itu? Jangan-jangan kamu berbohong agar Grandma tidak menjodohkanmu lagi.”


“Nanti akan aku kenalkan pada Grandma,” jawab Gustav dengan nada santai.


Gustav memang sudah memiliki rencana untuk mempertemukan Lisa dengan Camilla berikut juga saudara-saudaranya.


Akan tetapi Camilla tidak begitu antusias. Wanita tua itu berdecak dan menghela nafas.


“Tapi sayangnya ada yang lebih penting dari itu. Grandma ingin kamu kembali menetap di London karena perusahaan kita di sana sangat membutuhkanmu.”


Gustav tersentak dan menoleh cepat pada Camilla. Dia sungguh tidak akan menyangka neneknya akan meminta dia kembali menetap di London.


Padahal semenjak ingatan Gustav pulih, dia telah memberitahu pada Camilla bahwa dia akan tinggal di Indonesia.


“Aku tidak bisa. Aku ingin di sini. Masalah perusahaan kita di London, Gordon saja yang menanganinya,” ucap Gustav tegas.


Penolakan Gustav menjadikan Camilla menyipitkan mata menelisik raut wajah Gustav yang sepertinya menyembunyikan sesuatu dan sangat mengherankan.


Selama ini Camilla mengingat Gustav sebagai seorang yang profesional dalam bekerja. Camilla yakin ada sesuatu yang membuat cucunya itu tidak mau meninggalkan Indonesia.


“Grandma kurang mempercayai Gordon. Mau tidak mau besok pagi kita harus berangkat,” kata Camilla beranjak dari duduknya.


Gustav pun mendongak dengan manik mata yang melebar.


“Besok? Kenapa mendadak sekali?”


“Karena ini masalah genting dan harus segera kamu tangani, Gus.”


“Tapi Grandma...” Gustav ikut beranjak berdiri dengan rahang yang mengetat menahan marah.


Jika wanita di depannya itu bukan sang nenek yang harus Gustav hormati, mungkin sudah Gustav bentak sejak tadi.


Secepat kilat Camilla mengacungkan jari telunjuk memberi tanda agar Gustav diam dan tak membantah.


“Pokoknya besok pagi kita terbang ke London. Titik.”


Camilla memutar badan dan melangkah pergi dari ruangan kerja Gustav. Dia tahu jika terus berada di ruangan itu, sang cucu akan melayangkan protes padanya.


Sepeninggalan Camilla, tatapan Gustav kosong lalu memijat pangkal hidungnya.


Hanya ada satu kalimat yang ada di benaknya.

__ADS_1


Aku harus menemui Lisa sebelum aku pergi ke London.


__ADS_2