
Malam hari, di sebuah ruang kerja yang luas tampak Gustav membaca berkas dan tak lama kemudian telepon berdering yang membuat fokus Gustav teralihkan.
“Tuan, Nona Lisa sudah menempati apartemen yang dibeli oleh Anda,” kata Jerri dari seberang telepon dengan suara lemas dan terengah.
Apa yang membuat suara Jerri terdengar terengah? Jawabannya tentu saja karena seharian ini dia kewalahan menangani Nona Lisa yang tak mau menerima hadiah apartemen.
Sampai-sampai Jerri dicurigai seorang penipu. Namun, pada akhirnya Lisa mau menempati apartemen yang dibeli Gustav setelah melihat langsung apartemen berikut juga surat kepemilikan yang mengatas namakan dirinya.
Setelah mendengar laporan dari Jerri, ujung bibir Gustav tertarik ke atas membentuk senyuman tipis.
“Good job, Jerri. Pastikan Grandma jangan dulu tahu tentang Lisa.”
“Baik, Tuan.”
Setelah telepon dimatikan, pintu ruang kerja diketuk dan beberapa pelayan masuk dengan membawa troli makanan.
Para pelayan menyajikan steik dan salad yang merupakan makanan kesukaan Tuan Gustav. Mereka tak memperhatikan raut wajah Gustav yang mengerut kesal.
“Siapa yang suruh kalian menyajikan ini?” tanya Gustav ketus.
Membuat para pelayan kebingungan dan saling menatap heran. Mereka menundukkan kepala takut menjawab.
“Jawab! Kenapa kalian diam saja?”
Salah satu pelayan memberanikan diri menjawab meski kepala tetap tertunduk menatap lantai.
“Maaf, Tuan. Bukankah ini makanan kesukaan Tuan Gustav.”
“Iya, tapi aku sedang tidak berselera menyantap makanan ini,” Gustav menunjuk steik dengan lirikan mata.
“J-jadi apa menu makan malam yang Tuan Gustav inginkan?” sang pelayan bertanya kembali.
“Aku mau ubi rebus,” ucap Gustav singkat.
Menjadikan para pelayan yang berbaris saling menoleh dengan tatapan heran. Apa mereka salah dengar? Jarang sekali Tuan Gustav makan dengan ubi rebus.
Sedangkan Gustav yang melihat para pelayannya diam saja, langsung mengayunkan tangan menggebrak meja dan membuat para pelayan tersentak kaget.
__ADS_1
“Apa yang kalian tunggu? Cepat siapkan ubi rebus! Aku tunggu dalam lima menit ubi rebus sudah ada di depanku.”
“I-iya, baik, Tuan Gustav,” jawab para pelayan yang gelagapan.
Detik berikutnya, para pelayan berlari keluar dari ruang kerja dan Gustav hanya berdecak kesal, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Selepas kepergian para pelayan, Gwen masuk dengan memasang raut muka keheranan sejak berpapasan dengan para pelayan yang berlari ke arah dapur.
Gwen pun duduk di hadapan Gustav yang sama sekali tidak melirik dan tidak memedulikan keberadaannya.
“Ada apa dengan para pelayan?” tanya Gwen menunjuk ke arah pintu. “Kenapa tampak tergesa-gesa?”
“Tidak penting bagimu,” sahut Gustav ketus.
Gwen menarik nafas panjang mencoba sedikit bersabar dengan sikap Gustav yang dingin pada siapa saja, termasuk kakak perempuannya.
Sebagai seorang saudara Gustav dan Gwen sering sekali bertengkar jika bertemu. Namun, akan saling rindu jika berpisah.
Terlebih Rafael, anak laki-laki Gwen, yang sangat dekat dengan Gustav. Menjadikan Gwen merasa sangat terpukul saat tahu Gustav menghilang.
“Ada apa kamu kemari?” tanya Gustav tanpa menatap Gwen sebab dia tengah membubuhkan tanda tangan di berkas yang dibacanya tadi.
Sesaat gerakan tangan Gustav terhenti. Dia menoleh pada Gwen sekilas lalu melempar pandangan ke berkas yang lain.
“Aku tidak tahu. Masalah dua orang itu, aku serahkan pada Gordon untuk menanganinya.”
“Gordon?” ulang Gwen mengernyit. “Kamu yakin Gordon dapat menanganinya?”
Gustav mengangkat bahu dan dengan santai menjawab, “Why not. Gordon saudara sepupu kita. Aku percaya dia dapat menemukan penjahat itu.”
Tak lama pelayan masuk sambil membawa ubi ungu rebus yang masih mengepulkan uap panas. Mereka meletakan di meja yang berada di antara Gwen dan Gustav.
“Ini makan malamnya, Tuan.”
Wajah Gwen bertambah mengernyit, melirik Gustav dan ubi ungu rebus secara bergantian, lalu tangannya bergerak mengambil satu potong ubi.
Ditelitinya ubi rebus itu dengan sorot mata tak percaya dari seorang Gwen.
__ADS_1
“Apa ini tidak salah? Kamu makan ubi rebus?”
“Kamu mau? Coba saja, rasanya enak.”
Gwen membuka mulut, sedikit ragu, lalu mengurungkan niatnya untuk memakan ubi rebus yang ada di tangannya.
“Ini tidak berbahaya kan?”
Gustav hanya menarik salah satu ujung bibirnya membentuk seringai, lalu mendengus pelan.
“Coba saja.”
Satu gigitan, tampak keraguan di wajah Gwen. Namun keraguan itu perlahan berubah menjadi binar mata yang tak bisa dijelaskan seiring Gwen yang terus mengunyah.
“Ini enak,” kata Gwen setelah makanan di dalam mulut meluncur di kerongkongan.
Kemudian Gwen mengulurkan tangan ingin mencomot lagi ubi ungu rebus yang masih hangat. Tapi belum sempat tangan itu menyentuh ubi, Gustav lebih dulu menarik piring ke dekapannya.
“Ini milikku. Kalau mau ubi rebus lagi, minta pelayan membuatkan untukmu.”
Gwen berdecak kesal. Tanpa banyak bicara, dia memutuskan untuk keluar dari ruang kerja adiknya.
Setelah Gwen, masuk lagi Gordon yang tersentak kaget karena Gustav langsung menggebrak meja. Ditatapnya Gustav yang melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
“Apa tidak bisa aku bekerja tanpa diganggu oleh kalian?” sentak Gustav frustrasi.
“Sorry, Gus. Tapi aku ingin menyampaikan informasi penting. Aku sudah menemukan dua orang yang menyiksamu.”
Gustav menoleh cepat pada Gordon yang kini menghampiri dirinya.
“Bagus. Kamu sudah interogasi mereka?”
Gordon menggelengkan kepala dengan ekspresi datar. Membuat Gustav mendengus dan bangkit berdiri.
“Kenapa?”
Gordon menatap intens pada manik mata hijau milik Gustav.
__ADS_1
“Karena mereka...”