
Gustav terbangun pagi hari dan mendapati Lisa tak ada di sampingnya. Padahal dia sangat mengharapkan dapat melakukan kegiatan yang semalam tertunda.
Dengan mata yang setengah mengantuk, Gustav mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan mencari sosok Lisa.
Dan tepat sekali, Lisa keluar dari walk in closet dengan pakaian yang rapi dan tas yang tergantung di lengan.
"Lisa, kamu mau kemana? "
"Tentu saja aku bekerja. Oh ya, ngomong-ngomong apa ponselku sudah bisa aku ambil?"
Gustav tersadar semalam menyita ponsel Lisa agar wanita itu tidak melihat kabar burung yang menimpa dirinya dan kini Gustav belum tahu apakah Jerri sudah membereskan hoax itu atau belum.
"Tidak boleh. Kamu tidak boleh bekerja," lagi-lagi Gustav berkata tegas dengan suara khas bangun tidur.
"Kenapa tidak boleh?"
"Turuti saja. Karena ini perintah!"
Lisa berdecak, meletakan tas, tapi tetap berjalan keluar kamar.
"Lisa, berani kamu keluar kamar, aku akan… "
"Sayang, aku lapar."
Gustav terdiam sesaat. Dia merasa bersalah telah membentak Lisa. Apalagi raut wajah wanitanya kini menunjukan kesedihan.
"Kalau begitu, biar pelayan mengantarkan makanan ke kamar."
"Aku tidak mau. Aku ingin berbicara dengan Kak Gwen."
Tanpa peduli akan ucapan Gustav, Lisa segera keluar daru kamar dengan wajah kesal.
Sepeninggalan Lisa, Gustav menyibak selimut, bangun dari tempat tidur untuk menelepon Jerri. Dia ingin tahu sudah sejauh mana asisten pribadinya itu menangani gosip miring yang menimpa Lisa.
"Beritanya sendiri sudah di take down, Tuan. Tapi masyarakat telah terlanjur percaya dengan gosip itu. Bahkan banyak yang menulis komentar negatif di situs resmi The Royal Hospital," lapor Jerri.
Gustav hanya bisa berdecak dan memijat kening. Sejenak dia menarik nafas untuk menenangkan pikirannya.
"Kamu sudah cari tahu kebenarannya?"
"Sudah, Tuan. Ini seratus persen fitnah, karena setelah kami mengecek resep yang diberikan dokter Lisa maupun apoteker rumah sakit sudah benar."
"Bagus. Kamu cari tahu dalang dari semua ini dan tuntun dia atas pencemaran nama baik."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Setelah menutup telepon, Gustav keluar dari kamar untuk menyusul Lisa dan Gwen sarapan di ruang makan.
Di sana dua wanita itu tengah asyik mengobrol di sela-sela makannya. Rafael ada di antara Lisa dan Gwen, makan sambil menimbrung sesekali.
Ketika Gustav duduk bergabung, raut wajah Gwen berubah serius dan Gustav tahu jika saudara kembarnya itu pasti akan membicarakan soal hoax yang menyudutkan Lisa.
"Lisa apa kamu tahu kalau kamu sekarang… "
Ucapan Gwen terhenti ketika melihat Gustav yang melirik tajam padanya.
"Kalau aku sekarang apa?" Lisa bertanya melirik Gwen dan Gustav secara bergantian. "Ada apa dengan kalian?"
"Tidak ada apa-apa. Iya kan, Gwen?"
Gwen mengangguk kepala kaku. Dia langsung mengerti kode yang diberikan Gustav untuk tetap diam dan jangan membahas apapun mengenai hoax itu.
Mendadak Lisa mendorong kursi, menyudahi makan paginya yang membuat Gustav dan Gwen mengerutkan dahi.
Mereka bingung akan Lisa yang ingin beranjak pergi padahal makanannya belum habis.
"Kamu mau kemana, Sayang?"
"Aku mau kembali ke kamar. Tiba-tiba saja selera makanku hilang begitu kamu datang," kata Lisa menatap Gustav.
"Whats? Aku? Memang aku salah apa?" tanya Gustav tercengang.
Lagi-lagi Gustav menghela nafas frustasi melihat Lisa yang seolah sedang menghindarinya. Sejenak Gustav mengingat-ingat kesalahan apa yang dia perbuat sampai Lisa selalu berupaya menghindar.
Kegelisahan Gustav itu dilihat langsung oleh Gwen yang mengerti akan isi pemikiran Gustav.
Gwen pun menyadari jika adik iparnya itu tampak selalu mengalami mood swing atau perubahan perasaan secara mendadak.
Dan Gwen mencurigai jika Lisa sedang hamil tapi dia tetap memilih diam. Takut jika nanti Gustav sudah berharap lebih tapi nyatanya Lisa tidak hamil.
Sesudah Gustav sarapan, dia kembali ke kamar hendak membicarakan sikap Lisa yang selalu berusaha menghindarinya.
Gustav masuk bertepatan dengan Lisa yang juga keluar dari kamar mandi. Sejenak suami istri itu saling menatap lalu Gustav berjalan mendekat.
"Ada apa denganmu akhir-akhir ini?" Gustav bertanya memasang wajah serius.
"Aku? Memangnya kenapa dengan aku?"
"Kamu tampak menghindar dariku. Kenapa?" tak sengaja Gustav berkata dengan nada tinggi sebab dia sudah tak mampu menahan emosinya yang berkecamuk sejak tadi malam.
"Aku… "
__ADS_1
Belum sempat Lisa meneruskan kalimatnya, Gustav lebih dulu melumaat bibir Lisa tanpa memberikan aba-aba.
Hasrat yang semalam Gustav tahan, dia luapkan semua saat ini juga. Dengan perlahan dia membaringkan tubuh Lisa sambil satu tangan yang sibuk melepas pakaian.
Di tengah pergumulan panas, Lisa kembali teringat akan sesuatu yang ingin dia sampaikan pada suaminya.
"Sayang, aku ingin pergi ke rumah sakit."
"Sudah aku katakan, hari ini kamu dilarang bekerja."
"Tapi aku ingin ke rumah sakit bukan untuk bekerja."
Alis Gustav menaut heran akan ucapan Lisa.
"Lalu?"
"Aku ingin memeriksakan kandunganku. Aku hamil, Sayang."
Ya, tadi saat berada di kamar mandi, Lisa mencoba memakai testpack karena dia terlambat datang bulan dan testpack itu menunjukan hasil positif.
Seketika tubuh Gustav membeku dengan manik mata yang membola sempurna. Dia segera menyudahi permainan panas yang tengah mereka lakukan, menyambar baju dan menggenakannya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
*
*
*
Sebelum kedatangan Lisa ke rumah sakit, Gustav sudah memberi intruksi pada semua staf rumah sakit untuk tidak mengungkit masalah yang sedang menimpa Lisa.
Gustav tidak mau jika Lisa menjadi banyak pikiran jika tahu ada pihak yang ingin menjatuhkan namanya.
Semua berjalan lancar, hingga Lisa dan Gustav berada di ruangan dokter kandungan. Dokter memberitahu jika usia kandungan Lisa saat ini menginjak tiga minggu.
Setelah pemeriksaan selesai, tiba-tiba saja Lisa ingin sekali makan di restoran yang menyajikan masakan timur tengah.
Tentu saja keinginan itu langsung disanggupi oleh Gustav. Terlebih dia calon buah hati yang ada di dalam perut Lisa, semakin membuat Gustav memanjakan sang istri.
Mereka datang ke restoran timur tengah yang memiliki reputasi terbaik di kota itu. Saat sampai di tempat parkir, mata Lisa bertemu dengan sosok wanita yang lama sekali tidak berjumpa sengannya.
Wanita itu pun membelalak, seakan tak akan menyangka pertemuannya dengan Lisa. Dia menundukan kepala karena malu pada penampilannya saat ini.
Wanita itu juga berniat untuk segera pergi. Namun, Lisa menagan lengannya.
__ADS_1
"Martha, tunggu! Kamu mau kemana?"