
Devan terdiam di salah satu sudut aula pesta. Pandangan matanya kosong menatap ke depan di mana tamu undangan yang semuanya memakai pakaian mahal saling mengobrol.
Sejak melihat Lisa yang memilih pergi bersama Gustav, Devan menjadi tak bersemangat hadir ke pesta ulang tahun Camilla. Sehingga Devan memutuskan untuk keluar sejenak, berusaha mencari ketenangan.
Devan melangkah melintasi taman, menyalakan rokok sambil menyenderkan punggung ke sebuah pohon palem. Tepat saat itu, Devan merasa ada dua orang yang berada di atas balkon, membuat Devan mendongak.
Dan betapa terkejutnya Devan, saat dia melihat Gustav mencoba mencium Lisa. Rasa marah seketika membara di hati Devan. Bahkan mampu membuat ubun-ubunnya berasap.
Akan tetapi Devan juga melihat Lisa menampar Gustav dan Devan menarik kesimpulan sendiri, jika Gustav berusaha mendekati dan bahkan menggoda Lisa.
Tangan Devan mengepal kuat, lalu dia meninju batang pohon palem sebagai bentuk pelampiasan kemarahan. Devan tahu Gustav adalah orang yang memiliki kekuasaan lebih tinggi dibanding dirinya, tapi dia juga tak terima jika Gustav berani menggoda Lisa.
Devan melempar puntung rokok ke atas tanah lalu menginjaknya dengan penuh penekanan dengan tatapan tajam dia layangkan pada Gustav yang masih berdiam diri di atas balkon.
Kemudian, Devan kembali masuk ke aula pesta untuk mencari keberadaan Lisa. Tak sulit mencari gadis itu, sebab Lisa berdiri di lorong sepi sambil bersender ke dinding.
“Lisa...”
Sebelum Devan mendekat, ada suara lain yang memanggil Lisa dan orang itu adalah orang yang paling dibenci oleh Devan sejak satu menit yang lalu.
Gustav kembali memanggil Lisa meski gadis itu hanya tertunduk. Devan yang melihat itu, tak mau tinggal diam. Dia pun berjalan setengah berlari mendekati Lisa.
“Lisa, are you oke?” tanya Devan yang kemudian melempar pandangan sinis pada Gustav.
“Aku baik-baik saja, Kak.”
“Tapi badanmu gemetar, Sa.”
Astaga, Kak Devan. Tujuan aku kabur dari Gustav kan supaya dia tidak menyadari aku yang gugup setengah mati. Kak Devan malah bicara blak-blakan di depan Gustav. Lisa menggerutu di dalam hati.
“Aku tidak apa-apa, Kak Devan. Serius,” ucap Lisa untuk meyakinkan Devan.
“Bagaimana kalau kita pulang saja,” Devan memberi saran sambil menarik pergelangan tangan Lisa.
Sontak perbuatan Devan membuat api cemburu di relung hati Gustav berkobar seketika. Gustav menepuk keras punggung tangan Devan agar melepaskan Lisa.
“Aku masih ada urusan dengan Lisa,” kata Gustav ketus. Namun, saat melirik Lisa tatapannya berubah teduh.
“Come on, Lisa. Aku ingin memperkenalkanmu dengan Grandma Camilla.”
Lisa lebih menuruti ajakan Gustav, berjalan bergandengan tangan, memecah keramaian orang-orang yang memenuhi aula pesta. Hingga langkah Gustav terhenti tepat di belakang Camilla.
__ADS_1
Wanita yang kini berusia delapan puluh lima tahun itu sangat serius berbicara dengan seorang pria yang menjadi teman bisnisnya dahulu waktu muda. Saking seriusnya mengobrol, Camilla sampai tak menyadari keberadaan Gustav dan Lisa.
“Grandma orang yang perfeksionis. Jadi sebisa mungkin kamu harus mendapatkan kesan pertama yang bagus di depan Grandma. Oke?” Gustav berbisik di depan telinga Lisa yang refleks mengangguk patuh.
Tepat di saat itu, Camilla baru saja mengakhiri perbincangan dengan teman lama. Lalu Gustav menepuk lembut lengan Camilla yang menjadikan wanita tua itu menoleh.
“Grandma, perkenalkan ini Lisa, wanita yang selama ini ingin aku pertemukan dengan Grandma.”
Pandangan Gustav beralih pada Lisa yang tersenyum dan menundukkan kepala dengan sangat anggun.
“Oh my god. You are really beautifull, Dear,” Camilla memuji sambil manik matanya meneliti penampilan Lisa dari atas hingga ke bawah.
Mendengar hal itu, pipi Lisa kembali bersemu merah seperti saat tadi Gustav menciumnya. Ada perasan senang ada orang yang memujinya cantik, terlebih orang itu adalah Camila.
Perasaan senang pun bukan hanya dialami Lisa. Namun juga Gustav yang kini melengkungkan senyum tipis.
“Jadi, Grandma tidak akan lagi menjodohkan aku dengan wanita lain kan?”
“Wait a minute. Tunggu sebentar!”
Camilla menarik Gustav ke jarak aman dari pendengaran Lisa. Camilla mencondongkan tubuh dengan mata memicing dan berbisik. “Apa pekerjaan Lisa?”
Seketika Camilla terkekeh dan saking senangnya dia sampai menepuk bahu Gustav.
“Oh ya. Grandma semakin menyukai wanita ini. Tadinya Grandma pikir, kamu tidak akan membawa Lisa kemari dan jika itu terjadi, Grandma akan menjodohkanmu dengan Keysha.”
Camilla melempar pandangan pada Lisa dan tersenyum. “Selamat menikmati acara pestanya, Lisa. Grandma ingin menemui Gwen dulu.”
Selepas kepergian Camilla, alunan musik berubah lambat pertanda sudah saatnya acara dansa.
Dan Gustav langsung mengulurkan tangan meminta Lisa untuk menjadi pasangan dansanya.
“Kita pernah dansa di tepi jalan. Kamu masih ingat?” tanya Gustav yang dijawab oleh Lisa dengan anggukan.
Sepanjang merek berdansa, Lisa tak sanggup untuk berkata-kata. Dia ingin sepuasnya memandang wajah Gustav yang selama ini dia rindukan.
Terlebih manik mata hijau Gustav yang selalu membuat Lisa seolah tersihir dan mampu melupakan dunia sekitar.
Kamu masih seperti dulu. Suka sekali memandangi bola mataku, kata Gustav yang hanya diucapkan dalam hati sambil tersenyum samar.
Sementara, di sudut ruangan, Devan menggenggam erat tangan yang sedang memegang gelas ketika menyaksikan Lisa dan Gustav begitu dekat. Hingga gelas itu pecah dan serpihan kaca melukai tangan Devan.
__ADS_1
Tak ada orang yang melihat luka di tangan Devan kecuali gadis muda yang hendak mengambil minuman di dekatnya.
“Astaga, Tuan. Tangan Anda terluka,” seru gadis muda itu dengan nada panik. “Biar saya bantu mengobati tangan Anda, Tuan.”
Devan menoleh memasang wajah datar tanpa ekspresi pada gadis yang berdiri di sampingnya.
“Jangan khawatir, Nona. Saya dokter, saya bisa mengobati tangan saya sendiri.”
Setelah itu, Devan melangkah pergi menghilang di balik keramaian orang. Dia tidak tahu jika gadis muda yang menawarkan bantuan, terus memandanginya dari kejauhan.
*
*
*
Acara pesta telah berakhir, Gustav mengantar Lisa menuju tempat di mana gadis itu memarkirkan mobil. Lalu dari arah lain, datanglah Devan yang tiba-tiba muncul menghadang mereka berdua.
Tubuh Lisa membeku dan merasakan aura dingin yang dipancarkan oleh Devan dan Gustav. Kedua pria itu sama-sama memberikan tatapan menghunus mengisyaratkan permusuhan.
“Lisa, aku antar kamu pulang,” kata Devan yang terdengar sedikit memaksa.
“No. Dia akan pulang bersamaku,” ucap Gustav tak kalah tegas.
Lisa yang mendengar perdebatan dua pria di hadapannya hanya bisa menghela nafas.
“Sudah, jangan bertengkar! Apa kalian lupa? Aku bawa mobil sendiri. Jadi tidak perlu ada yang mengantarku pulang.”
Lisa melenggang melewati Gustav dan Devan untuk masuk ke dalam mobil. Namun, belum sempat Lisa sampai, Devan lebih dulu menyerobot masuk ke kursi kemudi.
“Aku yang akan menyetir mobilmu, Lisa,” ujar Devan dengan raut wajah menahan amarah.
“Tapi Kak Devan...”
“Bagus. Dia yang menyetir mobilmu, Lisa. Dan kita duduk di belakang.”
Secepat kilat, Gustav menarik lengan Lisa untuk duduk bersama di kursi belakang. Samar-samar senyum penuh kemenangan terulas di bibir Gustav.
Bahkan Gustav sengaja merapatkan duduknya sebagai tanda bahwa Lisa adalah miliknya.
“Kenapa diam saja? Ayo cepat jalan!”
__ADS_1