Cinta Pria Tak Dikenal

Cinta Pria Tak Dikenal
38 Cemburu


__ADS_3

"Nyonya Camilla," sapa seorang wanita paruh baya sambil tersenyum dan membungkukkan badan.


Camilla mendongakkan kepala dari buku yang sedang dia baca untuk menatap wanita di depannya. 


"Ada apa, Serena?" 


"Begini, Nyonya," sesaat Serena tampak gugup. Sehingga dia menghirup nafas panjang dan mengeluarkannya lewat mulut. 


Sementara Camila menatap intens Serena sambil memberengut. Sebab dia tidak suka jika waktu santainya diganggu oleh orang lain. Apalagi jika orang itu membahas sesuatu yang tidak terlalu penting. 


"Katakan! Ada perlu apa kau menemuiku?"


"Saya datang kemari untuk membahas masalah perjodohan Gustav dengan Keysha," sahut Serena dengan senyum tertahan di bibir. 


"Bukankah sudah jelas jika aku membatalkan perjodohan itu karena Gustav telah memiliki seorang kekasih," ucap Camilla menatap tajam Serena.


Mendadak senyum di bibir Serena hilang dalam sekejap. Dua bola mata wanita itu membelalak tampak terkejut mendengar penuturan Camilla. 


"Ta-tapi Nyonya Camilla bukankah kita sudah sepakat untuk menikahkan Gustav dengan Keysha."


Camila menghela nafas dan membuang muka. Sungguh kentara sekali jika Camilla malas meladeni protes dari Serena. 


"Iya, tapi kamu juga harus ingat jika kesepatakan itu batal jika Gustav memperkenalkan kekasihnya padaku. Dan Gustav sudah mempertemukan aku dengan Lisa saat pesta ulang tahunku kemarin."


Sontak Serena bangkit berdiri, wajah wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Keysha itu memperlihatkan amarah yang tak dapat disembunyikan lagi. 


Bagaimana tidak marah? Jika perjodohan yang telah mereka sepakati terkesan dibuat main-main oleh Camilla. Bahkan tampak jelas Camilla tidak peduli akan kemarahan Serena. 


"Jika tidak ada urusan lagi, tolong keluar dari sini. Aku ingin bersantai," Camila berkata tanpa menatap lawan bicara. 


Merasa diusir, Serena segera angkat kaki dari rumah Camilla dengan amarah yang bergejolak di dada. 


Kedua tangan Serena terkepal kuat. Sekuat tekadnya untuk mendekatkan Keysha dengan Gustav. 


"Memangnya sehebat apa wanita yang menjadi kekasih Gustav itu. Tidak akan aku biarkan."


Kemudian, Serena merogoh ponsel yang ada di dalam tas kecilnya untuk menghubungi seseorang. 


*


*


*

__ADS_1


Malam hari. 


Gustav berjalan terburu-buru hendak masuk ke dalam mobil. Dia sudah ada janji akan makan malam di restoran bersama Lisa. 


Tiba-tiba langkah Gustav terhenti saat melihat seorang gadis muda telah berdiri di samping mobilnya. Gadis itu melambaikan tangan serta menampilkan senyum ceria. 


"Hai, Kak, mau pergi ke mana? Buru-buru sekali," tanya Keysha tanpa menghilangkan senyum di wajah bundarnya. 


Gustav tak menjawab. Dia hanya melenggang masuk ke dalam mobil dan Keysha pun tak kalah cepat ikut masuk dan duduk di samping Gustav. 


Keysha tak peduli jika saat ini dia mendapatkan lirikan tajam dari seorang Gustav karena gadis itu asyik memainkan ponsel. 


"Turun dari mobilku!"


Sebisa mungkin Keysha berusaha untuk tetap tenang meski tubuhnya gemetar melihat sorot mata menakutkan di kedua manik mata Gustav. 


"Kak, apa boleh aku ikut? Aku juga mau pergi ke restoran," kata Keysha memberanikan diri sambil tersenyum kaku. 


Drt… drt… 


Belum sempat Gustav menjawab, ponsel miliknya berdering menandakan ada satu panggilan masuk. Dia segera mengangkat telepon begitu melihat nama Lisa tertera pada layar. 


"Sayang, kamu di mana? Aku menunggu kamu sejak tadi," kata Lisa terdengar ketus dan kesal dari seberang sana. 


Tak mau membuang waktu, Gustav melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia tak menghiraukan Keysha yang duduk ketakutan di samping kursinya. 


Ingin sekali Keysha turun dari mobil yang melaju seperti dikejar setan itu. Kalau bukan karena perintah dari sang ibu, Keysha juga tidak mau mendekati Gustav.


Karena bagi Keysha, Gustav sudah dia anggap kakaknya sendiri. Dia memang mengagumi Gustav tapi hatinya telah tertambat pada sosok pria yang dia temui saat pesta ulang tahun Camilla. 


Andai aku bisa bertemu lagi dengan pria itu. Akan aku kejar dia sampai dapat. Gumam Keysha dalam hati.


Sementara itu, di sebuah restoran Lisa menggeram kesal saat Gustav memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Dia menghempaskan punggung ke sandaran kursi sambil melipat tangan di depan dada. 


Tak lama seseorang memanggil nama Lisa yang membuat wanita itu menoleh. Seketika Lisa menegakkan kembali punggung begitu melihat pria yang menyapanya. 


"Kak Devan? Kakak sedang apa di sini?"


"Menurutmu jika seseorang datang ke restoran untuk apa?" Devan balik bertanya dengan mengulum senyum. 


Devan menunjuk kursi yang ada di depan Lisa. 


"Boleh aku duduk di sini?"

__ADS_1


Sesaat Lisa ragu. Dia tidak mau ada salah paham jika Gustav datang dan melihatnya bersama Devan. 


"Kamu yang bilang sendiri jika kita masih bisa berteman kan, Lisa? Lagipula pacarmu itu belum datang."


Setelah menarik nafas, Lisa pun menjawab, "Iya boleh tapi sebentar saja ya, Kak. Aku takut Gustav marah."


Kemudian Devan dan Lisa terlibat perbincangan santai dan merekatkan kembali kerenggangan yang sempat tercipta di antara persahabatan mereka. 


Hingga tanpa sadar mereka telah mengobrol banyak tentang pekerjaan mereka masing-masing dan pemandangan itu dilihat oleh Gustav yang baru saja masuk ke dalam restoran. 


Bara api cemburu langsung berkobar di hati Gustav. Membuat dia melangkah cepat untuk menarik Lisa ke belakang punggungnya. 


Dan jangan lupakan tatapan dingin yang menghunus ke arah Devan. 


Tak jauh dari mereka, Keysha seketika terpaku saat melihat pria yang pernah dia temui di ulang tahun Camilla. Dia mengulum senyum dengan tatapan terpana. Bahkan lupa akan ketegangan yang tengah terjadi. 


"Kamu sudah melanggar kesepatakan yang kita buat, Dokter Devan," ucap Gustav dengan suara berat menahan amarah. 


Devan menyeringai, dengan santai dia berkacak pinggang. 


"Bukankah sudah aku bilang, jaga Lisa dengan baik karena jika lengah sedikit saja, aku bisa merebut dia dari sisimu. Siapa suruh kamu biarkan dia duduk sendirian?"


"Kau… " raung Gustav meluapkan emosi. 


Untung saja Lisa segera menahan dada Gustav yang berniat maju menghajar Devan. 


"Sayang, sudah. Kita dilihat banyak orang," bisik Lisa sambil mengedarkan pandangan. 


Untuk kali ini, Gustav lebih memilih mendengarkan Lisa untuk menahan amarah. Lalu dia menarik lengan Lisa dan membawa wanita itu ke restoran lain. 


Keysha yang belum sadar ditinggal oleh Gustav hanya memandang pada Devan seorang. Menjadikan Devan merasa risih lalu memilih pergi


"Hai tunggu!"


Keysha berlari mengejar Devan dan berhasil menangkap lengan pria itu saat mereka berada di halaman restoran. 


"Kamu pria yang tangannya terluka saat pesta ulang tahun Nyonya Camilla kan?"


"Iya," jawab Devan malas. 


"Boleh aku ikut ke mobilmu? Aku ditinggal sendirian," cicit Keysha bernada sedih. 


Devan berdecak dan melirik sebal pada gadis yang kini menggelayut manja di lengannya. 

__ADS_1


"Aku pesankan taksi saja untukmu," kata Devan datar tanpa ekspresi. 


__ADS_2