
Sampai di kontrakan, Lisa membuka papper bag dan menarik laptop serta ponsel yang baru saja dia dapatkan. Kedua manik mata Lisa berbinar menatap dua benda canggih itu.
“Rasanya seperti mimpi. Aku bisa kuliah lagi dan mendapatkan apa yang selama ini aku impikan,” Lisa bermonolog sambil menatap langit malam melalui jendela kamarnya.
Terlihat dua bintang bersinar terang di langit gelap. Senyuman manis terlukis di wajah Lisa saat memandangi dua bintang di atas sana.
Seketika ingatan Lisa melayang akan nasehat sang ayah.
“Benar apa yang dikatakan ayah. Balasan dari berbuat baik mungkin bukan berasal dari orang yang pernah kita tolong tapi percayalah balasan itu pasti akan datang di waktu yang tepat.”
Lisa menarik nafas panjang. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan melupakan Edgar dan mulai menata hidupnya untuk meraih mimpi sebagai seorang dokter.
“Ayah, Ibu, lihat aku dari atas sana ya? Aku pasti akan membuat kalian bangga,” seru Lisa mendongakkan kepala menatap bintang-bintang di langit sambil berjingkrak kecil.
Kemudian perhatian Lisa berpindah dan menyalakan ponsel yang ternyata sudah dipasang sim card.
Malam itu Lisa habiskan untuk mengutak-atik ponsel baru, membuat akun sosial media, dan mencari akun teman-teman kuliahnya dulu.
Hingga saat Lisa bermain ponsel sambil rebahan di tempat tidur.
Plak.
Ponsel yang ada di genggaman Lisa jatuh tepat mengenai wajahnya.
“Huft,”
Lisa menjauhkan ponsel dari wajah dan manik matanya melebar kala melihat postingan video yang memperlihatkan Martha mengakui telah memfitnah dirinya.
Lisa bangkit duduk seketika. Dia mengucek mata serta menepuk-nepuk pipinya berulang kali.
Dia mengira apa yang baru dilihatnya adalah mimpi. Namun, saat dia merasakan sakit akibat cubitan di pipi, dia yakin Martha memang benar mengakui kesalahannya yang telah dia perbuat.
Ting. Ting. Ting.
Rentetan notifikasi masuk ke ponsel. Lisa mengerutkan alis saat membaca satu per satu pesan dari mantan teman kuliahnya. Kebanyakan dari mereka ikut meminta maaf pada Lisa karena dahulu sempat percaya akan tuduhan Martha.
“Hari ini aku mengalami banyak kejadian yang tak terduga,” gumam Lisa pada dirinya sendiri.
Perlahan pandangan Lisa melayang saat dirinya dituduh mencuri kalung berlian milik Martha. Meskipun Lisa membantah, tapi tak satu orang pun percaya padanya.
Sekarang keadaan seperti terbalik 180 derajat hanya dalam satu hari.
Orang yang dulu menghujatnya, kini berbalik menuliskan komentar-komentar kasar di laman sosial media Martha.
Akan tetapi Lisa tak mau ambil pusing. Dia ambil hikmahnya saja dari kejadian dia difitnah mencuri, kini dia tahu mana teman yang palsu dan memiliki perangai licik.
“Lebih baik aku tidur saja,” Lisa menarik selimut dan berusaha memejamkan mata.
Akan tetapi Lisa justru membayangkan wajah Edgar. Wajah pria tampan itu tersenyum dengan manik mata hijaunya yang tajam menatap Lisa.
__ADS_1
Segera Lisa membuka mata, menarik nafas panjang dan berdecak. Dia mengubah posisi tidur dan mencoba kembali untuk tidur.
Sekali lagi, bayangan Edgar merasuki pikiran Lisa. Membuat gadis itu memekik dan menendang selimut.
“Lisa, apa-apaan kau ini. Kau masih saja memikirkan suami orang lain,” kata Lisa pada dirinya sendiri sambil menepuk jidat.
“Lupakan dia!”
“Lupakan dia!”
“Lupakan dia!”
Lisa terus mengucapkan dua kata itu sampai dirinya terlelap memasuki dunia mimpi.
*
*
*
Hari pertama kuliah tampak biasa saja bagi Lisa. Semua orang menyapa dengan ramah. Bahkan sikap mereka lebih hangat dibandingkan saat sebelum Martha mengungkapkan maafnya.
Kelas sudah berakhir dan Lisa memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke toko buku sebelum pulang ke kontrakan.
Namun, mendadak langkah kaki Lisa berhenti ketika manik matanya menangkap sosok Martha yang berdiri menghalangi jalan.
Dari sorot matanya, tampak kebencian masih terpendam di dalam diri Martha dan Lisa yang tak mau berurusan dengan teman licik itu memilih terus berjalan melewati Martha.
Martha menarik nafas dalam. Sungguh dia tak mau melakukan hal ini jika bukan ancaman dari sang ayah.
“Aku ingin mengajakmu makan siang bersama Daddy.”
Lisa memutar badan dengan dahi yang mengerut. Dia melirik tajam pada Martha.
“Apa aku tak salah dengar?” tanya Lisa memancarkan aura dingin.
“Ck, kamu mau atau tidak? Tinggal jawab, tidak perlu banyak tanya!”
Martha berdecak kesal, memutar bola matanya malas dan melipat tangan di depan dada. Membuat Lisa yakin jika Martha mengunggah video minta maaf karena terpaksa.
“Aku tidak mau,” jawab Lisa singkat.
“Kamu harus mau!” bentak Martha membelalakkan mata.
Kini Lisa yang berdecak sambil menerbitkan senyum seringai.
“Kalau kamu memaksa, kenapa juga harus bertanya,” gumam Lisa sangat lirih tapi tetap saja terdengar oleh Martha.
“Ah, sudahlah. Aku ikut!”
__ADS_1
Dan di sinilah mereka berada, di sebuah cafe yang tak jauh dari kampus. Lisa menatap Martha dan Mario secara bergantian.
Ayah dan anak itu menunjukkan raut wajah yang berbeda. Jika Mario melengkungkan senyuman pada Lisa, berbeda terbalik dengan Martha yang justru mengerucutkan bibir.
Di dalam diri Lisa, dia yakin ada sesuatu yang memaksa mereka untuk melakukan ini.
“Nah, Lisa silakan dimakan,” ucap Mario menunjuk jejeran makanan yang tersaji di meja yang baru saja dibawakan oleh pelayan cafe.
Lisa diam tak bergeming. Dia masih saja menatap Mario dengan intens.
“Kenapa? Apa kamu ingin pesan makanan yang lain?” tanya Mario yang berusaha sebisa mungkin bersikap lembut.
Martha yang melihat tingkah Mario hanya menghela nafas serta membuang muka tak mau melihat wajah Lisa yang menurutnya sangat jelek.
“Dad, gadis kampungan seperti dia mana mungkin terbiasa makan makanan seperti ini,” Martha berbisik mencemooh.
Segera Mario membelalakkan mata dan menempelkan jari telunjuk di bibir. Memberi isyarat agar Martha diam. Sebab tepat di samping meja mereka, ada Jerri, asisten pribadi Gustav, yang tengah mengawasi mereka.
“Katakan saja apa mau kalian!” kata Lisa dengan sikap jengah menghadapi ayah dan anak yang sama saja kelakuannya.
Mario berdehem sebelum berbicara. Menegakkan punggung dan menatap Lisa dengan sorot mata yang teduh.
“Begini, Lisa. Saya ingin menyampaikan minta maaf terkait Martha yang dahulu memfitnahmu mencuri kalungnya.”
Lisa menarik salah satu ujung bibirnya.
“Dulu kalian bilang itu sebuah kenyataan, tapi kenapa baru sekarang kalian mengakui kalau itu adalah fitnah?”
Martha melempar pandangan pada Lisa, mendengus kesal, serta menampilkan raut tidak suka.
“Hai, gadis kampungan, sudah mulai sombong rupanya ya? Mentang-mentang sekarang banyak yang memujimu,” teriak Martha.
“Martha, jaga sikapmu!” Mario berbisik di dekat telinga Martha sambil ekor matanya melirik Jerri.
Sejak tadi asisten pribadi Tuan Gustav itu telah memantau Mario dan Martha dengan tatapan yang tajam. Seolah sedang mengingatkan Mario akan persyaratan kontrak kerja sama perusahaannya.
“No, Dad. Lisa yang harus jaga sikap.”
Martha bangkit berdiri dengan dada naik turun karena menahan amarah.
“Semua orang kini menghujat aku dan semua itu gara-gara kamu, Lisa. Apa susahnya sih menerima maaf dari kami.”
Plak.
Tangan Martha bergerak menampar pipi kiri Lisa. Dan detik berikutnya...
Plak.
Satu tamparan juga mengenai pipi Martha. Namun, pelaku penamparan bukan lah Lisa. Melainkan Mario.
__ADS_1
Martha menatap tak percaya pada sang ayah sambil mengusap pipi yang terasa panas dan perih.
“Daddy? Kenapa Daddy tampar aku?”