Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Kunjungan ke Rumah Sakit


__ADS_3

Hari minggu yang cerah. Jadwalku hari ini menuju Rumah Sakit menjenguk Bapaknya Dian. Aku berjalan melewati gang menuju jalan besar dengan membawa satu plastik sedang berisi kue coklat yang semalam di buat. Kalau hari minggu kendaraan tak banyak lalu lalang, kendaraan umum seperti angkot saja hanya beberapa yang lewat. Karena memang hari libur aktifitas setiap orang juga berkurang dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Sementara matahari sudah mulai naik ke atas kepala, mengingat Dian memberi informasi jadwal kunjungan pasien pada jam 12.00 sampai jam 01.00 siang saja. Keringat mulai bercucuran padahal dari rumah sudah rapi dan wangi. Sebenarnya ada lagi jadwal jenguk pasien pada jam 06.00 sore, hanya saja angkot kalau malam sudah mulai jarang lewat, aku juga jarang keluar malam jadi sedikit takut.


Pada jam saat itu angkot ada beberapa yang lewat tapi belum ada yang satu jalur ke arah Rumah Sakit. Tiba-tiba kerongkonganku mulai mengering, akhirnya aku memutuskan mencari minuman di sekitar jalan besar. Setelah aku mendapatkannya, sesegera aku langsung meminumnya hampir setengah botol.


'Aahhh.. Segar banget.' Gumamku dalam hati.


Setelah mendapat air minum, tak lama lewatlah satu angkot, akan tetapi saat aku mau masuk kondisi di dalam sangat penuh. Aku membatalkannya tak jadi naik, angkot itupun berlalu.


"Kalau tahu gini, aku nanti gak bisa cepat sampai kesana." Aku mendengus kesal. sambil tetap mengedarkan pandangan mencari angkot yang sesuai tujuan.


"Biar aku yang antar." Tiba-tiba Seseorang berbisik di telingaku.


Aku terperanjat menoleh ke arah seseorang yang berdiri di sampingku.


"Bumi ?! Kenapa kamu ada disini?" Tanyaku terperangah.


"Suka-suka aku dong. Kan ini jalan untuk umum."Jawabnya tersenyum usil.


"Iya aku tahu, tapi kan..."


"Sekarang aku tanya kamu mau kemana? biar aku yang antar." Potongnya cepat.


"Euu.. Aku...Aku mau ke Rumah Sakit." Ucapku sedikit ragu.


Dahinya mengernyit. "Siapa yang sakit?"


"Bapaknya Dian, sahabatku."


"Tunggu... Maksudnya yang jadi sahabat kamu Dian atau Bapaknya?" Tanyanya memutar bola matanya sok serius membuatku mengernyit.


"Ya Dianlah... Masa Bapaknya." Jawabku merengut.


"Masa kamu gak ngerti sih?!" Aku melipat kedua tanganku sebal dengan pertanyaan anehnya. Penyakit anehnya mulai kambuh lagi sepertinya.


"Uwhhh... Si cewek galakku gak pernah bisa di ajak bercanda nih.. Hahaha." Ucapnya tertawa usil sambil telunjuknya mencolek hidungku.


"Ish ! Gak usah colek-colek ! Satu lagi gak usah ngatain aku cewek galak ! dan satu lagi kalau lagi serius tolong ngomong serius juga." Tegasku mendengus kesal menepis telunjuknya. Aku membuang muka sebal ke arah lain.


"Itu bukan cuma satu tauu... tapi banyak. Hahaha..."


Ia tertawa lagi bahkan semakin kencang seolah-olah bercandanya lucu, padahal tidak.

__ADS_1


"Ihhh.. Kamu sebenarnya mau apa kesini ?! kamu mau membantuku atau cuma meledekku hah?!" Tanyaku sebal sambil memukul sekali bahunya untuk berhenti tertawa.


Aku lihat wajahnya memerah dan matanya berair setelah puas menertawakanku. Hatiku semakin mengkel aja ingin sekali aku menjambak rambutnya dan memukul dadanya tanpa ampun. Tapi perasaan itu urung saat dia langsung menarik tanganku ke arah yang ia tuju. Aku terbelalak.


"Hey... Kamu mau ajak aku kemana?!" tanyaku sambil mengikuti tarikan tangannya.


Ia menoleh. " Katanya mau ke Rumah Sakit..." Jawabnya tetap memegang tanganku.


"Aduh.. Tapi lepasin tanganku dulu. Lagian arahnya bukan kesini."Ucapku menahan langkahku. Iapun ikut berhenti.


"Aku tahu ! Kita ambil motornya di sana. Tadi aku habis dari cafe itu, gak jauh." katanya sambil menujuk ke arah cafe yang di maksud.


Akhirnya aku tak menjawab lagi, hanya menuruti apa yang di katakan Bumi. Kamipun berangkat ke Rumah Sakit dan tiba tepat jam kunjungan pasien sedang di buka.


Aku langsung menuju ke ruang rawat yang Dian kirimkan lewat hp tadi pagi. Ruang pasien berada di lantai 2. Aku langsung menaiki lift di ikuti langkah Bumi. Saat itu kami hanya saling melirik tanpa bicara apapun. Ia juga seperti tak ada yang di obrolkan.


Kami mencari ke setiap pintu. Di lorong kedua kamar pasien yang berederet mataku menangkap Dian tengah duduk menunduk, di sampingnya ada Ibunya. Aku mendekatinya menyapa dan menyalami Ibunya Dian. Mereka seperti tengah menahan kantuk, aku bisa melihatnya dari kantung matanya yang menghitam di kedua anak Ibu ini. Dian terperanjat karena kedatanganku bersama Bumi, matanya seolah bertanya padaku kenapa Bumi bisa bersamaku.


"Dia hanya mengantarku yan."Jawabku tersenyum ke arah Bumi yang bisa ku baca raut wajahnya menunjukkan dirinya ingin di akui di tempat itu.


"Oh gitu... Kirain dia pacar barumu." Celetuk Dian memberi senyum usil. Aku melototinya. aku melirik ke arah Bumi merespon ucapan Dian dengan senyuman.


" Oya maaf Bu ,Tari hampir lupa. Ini kue dari mamak, kata mamak maaf gak bisa ikut nengok soalnya kerjaan Ibu yang gak bisa di tinggalkan. Nah mamak cuma titip ini buat Ibu sama Bapak. Um,, Kalau boleh Tau, Keadaan Bapak gimana?" Ucapku mengalihkan pembicaraan Dian sambil aku menyerahkan satu plastik kue ke tangan Ibunya Dian, beliau yang sejak tadi hanya diam dan bersikap biasa saja sedikit terperangah menerima kue dan seperti menyimak ucapan terakhirku saja.


"Iya Bu gak apa-apa. Yan, mending Ibu suruh pulang aja. Kasian Ibu butuh istirahat." Ucapku pada Dian.


"Iya sih Tar, emang dari kemarin kita berdua nunggu Bapak terus. Ibu juga belum tidur semalaman. Tapi...Ibu gak ada yang antar." Ucap dian melemah lalu menunduk seperti memikirkan sesuatu.


Aku melirik ke arah Bumi, iapun melirikku sebaliknya.


"Baiklah, Dian biar aku aja yang antar Ibumu." Bumi bersuara seolah ia sadar dari lirikanku terhadapnya.


"Um...Tapi..Sa-saya takut ngerepotin kamu." Ucap Dian tidak enak hati.


"Gak apa-apa. Sekalian saya juga ada keperluan mendadak. Jadi Ibumu jangan di khawatirkan saya siap mengantarnya sampai rumah dengan selamat." Ucap Bumi meyakinkan.


Aku cukup diam saja menyerahkan pada Bumi.


"Bu, mari saya antar." Ajak Bumi sopan.


"Apa Ibu tidak merepotkan nak? Euu.. maaf siapa namanya nak?" Tanya Ibunya Dian.

__ADS_1


"Panggil saja Bumi, Bu. Tidak merepotkan bu, Ibu kalau tidak istirahat nanti Ibu juga ikut sakit sama kayak Bapak." Jawab Bumi merajuk Ibunya Dian untuk mau diantar olehnya.


Ibu memandang Dian, ia hanya mengangguk tanda menyetujui.


"Baiklah, Sayang, Tari, Ibu pulang dulu ya. Sayang tolong jaga Bapak. Kalau Bapak butuh bantuan kamu segera temani ya, kalau ada apa-apa segera panggil Dokter. Nanti habis maghrib Ibu kesini lagi." Pesan Ibu pada Dian sambil menepuk pundak Dian.


"Iya Bu. Lagian disini masih ada Tari kok yang nemenin juga." Jawab Dian meyakinkan memberi senyum pada Ibunya.


Kedua anak ibu itu saling memeluk dan mengusap-usap punggungnya. Aku yang melihatnya menjadi terharu terbawa suasana.


"Mari Bu." Bumi mengingatkan Ibu Dian untuk segera pulang. Mereka pun melepaskan pelukannya.


"Kamu kalau mau pulang nanti aku jemput." Bisiknya pelan tapi Dian sedikit mendengarnya. Mataku membulat mendengar dia bicara seperti itu. Akhirnya aku hanya anggukan kepala saja agar dia tak berlama-lama disana.


Akhirnya Bumi mengantar Ibunya Dian sampai rumah, kabar sampainya setelah Bumi memberi tahuku lewat pesan. Akupun membalasnya mengucapkan kata terimakasih. Tak lama balasan dari dia muncul lagi.


Jam berapa kamu pulang?


"Kamu dari tadi sibuk chat-an sama siapa?" Dian tiba-tiba ikut duduk di sampingku di tempat duduk ruang tunggu. Aku terperanjat menyadari kepala Dian yang melihat ke arah layar hp-ku.


"Ih, Dian ! kok kamu tiba-tiba udah disampingku sih? tadi kan kamu masih di ruang rawat Bapakmu." Ucapku gelagapan mendekap hp-ku di dada.


"Abisnya kamu sibuk sama hp aja sih ! Jadi gak sadar kalau aku udah di samping kamu berdiri lama." Jawabnya tersenyum menyeringai.


"Apa ?! Terus... Jangan-jangan kamu tahu aku chat sama siapa lagi !" Ucapku menyelidik.


"Ya udah sih mau aku tahu atau gak tahu juga, yang pasti aku tahunya kamu lagi deket sama cowok yang tadi kan...Siapa tuh namanya, Budi ! Eh, bukan. Bu-Bu...Bumi ! Iya kan...? Cie..." Ucap Dian menggoda menyenggol bahuku pelan.


" Ih apaan sih Dian. Enggak ! Enggak ada." Dalihku sambil mengusal bahuku yang tersenggol.


Tiba-tiba mukaku seperti panas terbakar, padahal hatiku mengatakan untuk mencoba menutupinya.


"Tuhkan mukanya merah... Cie.." Dian semakin meledekku.


Aku memalingkan wajahku, rambutku menutupi wajahku yang memerah dan malu.


"Enggak Dian. Dia cuma temen baru." Ucapku meyakinkan Dian. Tapi ia seakan tak percaya dan terus menggodaku. Sampai aku menyerah terserah dia mau meledekku sampai mana aku tak mau mendengar. Karena kenyataannya memang yang kukatakan pada Dian kalau Aku dan Bumi : Hanya Teman. Titik !


****


Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH


__ADS_2