Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Dimana Dian yang dulu


__ADS_3

Langit hari itu tiba-tiba menjadi gelap. Sepertinya hujan akan turun. Langkahku semakin di percepat menuju Rumah Sakit setelah turun dari angkot. Aku berjalan di trotoar jalan raya, Rumah Sakit tempat Bapaknya Dian di rawat ada di seberang kanan sekitar sepuluh meter lagi aku tiba.


Sesampainya di sana aku mengirim pesan pada Dian untuk bertemu dengannya di kantin Rumah Sakit. Selang tak berapa lama balasan Dian muncul di hp-ku bahwa dia akan turun. Senyum tersungging di wajahku saat Dian sudah turun dari lantai atas menuju ke tempat meja yang ku pesan di kantin itu.


" Dian... Maaf aku udah ganggu kamu. Gimana keadaan Bapakmu ? Apa semakin membaik?"


" Baik." Jawabnya tanpa ekspresi.


Aku mencoba membaca situasi dan raut wajahnya, seperti dia menutupi sesuatu. Tapi kalau itu menyangkut kondisi Bapaknya, aku takut bertanya lebih jauh takut menyinggungnya.


" Aku doakan semoga Bapakmu cepat sembuh dan bisa segera kembali ke rumah." Ucapku menyentuh tangannya. Tapi dengan reflek ia menepis tanganku dan menurunkannya dari atas meja. Aku sedikit terbelalak.


' Mungkin dia sedang kelelahan atau dia sedang begitu khawatir memikirkan keadaan Bapaknya. Aku memang tidak bisa membantunya, hanya mampu mendoakannya. Aku semakin gak enak hati cerita keadaanku sekarang' Batinku menimang-nimang.


" Kamu ada perlu apa kesini ?" Tanyanya tiba-tiba dengan nada ketus.


"Di-Dian... Kenapa kamu ngomongnya gitu? Aku... Aku kesini mau nengok keadaanmu, dan juga sebenarnya... Aku mau cerita apa yang terjadi di sekolah." Jawabku pelan mengamatinya dengan sedikit khawatir.


" Aku lagi gak bisa Tar. Maaf..." Ucapnya bangkit dari duduknya hendak pergi.


" Yan... Kamu kenapa gitu sama aku? Apa kita gak bisa ngomong baik-baik?" Cegahku menahan lengannya.


" Lepaskan tanganmu yang kotor itu !" Serunya penuh penekanan. Aku gelagapan melihat sikap Dian yang tak biasanya. Sementara tanganku tetap menahan lengannya.


" Yan... Tolong dengarkan aku. Aku minta maaf kalau kesini udah ganggu kamu. Aku akan pulang kok."


" LEPASKAN TANGANMU YANG KOTOR ITU !" Serunya menekan lebih keras. Mataku mengamati sekitar yang turut memperhatikan kami. Dengan terpaksa aku menuruti permintaan Dian.


" Sebaiknya kita gak usah sahabatan lagi." Imbuhnya menatap mataku tajam.


" Yan apa maksudnya? Salah aku apa Yan?" Tanyaku meminta penjelasan.


Tanpa menjawab, Dian mengeluarkan hp-nya dan dia menunjukkan sebuah akun media sosialnya, di berandanya ia tunjukkan beberapa foto yang tersebar yang tak lain fotoku dengan Bumi yang seperti di mading tadi. Aku menutup mulutku tak menyangka foto editan itu langsung tersebar dengan cepat. Apalagi di sebuah media sosial.


" Yan... Ini gak seperti yang kamu bayangkan. Aku berani bersumpah kalau aku gak ngelakuin itu sama Bumi." Aku menarik tangan Dian yang selalu ia tepis.

__ADS_1


" Yan please... Percaya sama aku. Kamu gak mungkin percaya gitu aja kan dengan foto editan ini?" Aku menatapnya mengharap ia mau mendengarku.


" Tapi ini kamu kan?" Tanyanya tanpa ekpresi.


" I-Iya itu memang aku. Tap-tapi... Itu aku dan Bumi tidak melakukan seperti di foto itu. Itu jelas ada yang mengeditnya dan menjebakku dan Bumi dengan sengaja. Tolong yan... Percayalah. Aku ini sahabatmu."


" Kalau jelas ini kamu ? Kenapa kamu masih mengelak ?! Mungkin kalau kejadiannya bukan di sekolah dengan memakai seragam sekolah, aku masih bisa sahabatan sama kamu. Kalaupun kamu benar pacaran dengan Bumi juga aku tidak peduli. Tapi sekarang aku cukup tahu dan bisa nilai kamu, kamu munafik Tar ! Kamu bilang suka dengan kak Bintang tapi baru juga ada laki-laki yang dekat denganmu, kamu sudah berpaling aja. Cih !" Ucap Dian menekan setiap kalimatnya. Tatapan matanya seakan muak terhadapku.


" Jadi aku anggap kita udah cukup sahabatannya sampai sini. Aku juga berpikir sekarang kamu lebih banyak bersama si Bumi itu daripada berbagi cerita apapun denganku. Jangan pernah datang ke kelasku lagi. Kita anggap seperti gak kenal." Imbuhnya membalik badan dan berlalu menuju lift.


" Yan... Kamu gak bisa mutusin persahabatan kita ! Aku yakin kebenaran akan terbuka untukku dan menjawab semua kebohongan orang yang menjebakku. Kamu harus ingat itu Yan." Seruku bersama hilangnya tubuh Dian saat masuk lift.


Tanpa di sadari air mata terjatuh di pipiku yang sudah sembab ini.


Ya Allah, kenapa nasibku malang seperti ini ? apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku takut Mamak juga akan tahu dan terlibat dengan masalahku. Aku sadar aku jelek tapi aku juga punya harga diri. Semua teman-teman menghinaku, kak Bintang juga percaya begitu saja, bahkan Dian sampai memutuskan persahabatan....Huuu...


Aku segera keluar dari Rumah Sakit itu berlari menuju trotoar. Aku sampai tak sadar kalau di luar hujan sedang turun. Seragam, tas dan sepatuku basah kuyup. Aku bingung harus kemana sementara hujan cukup deras dan angkotpun tak kunjung lewat. Aku melihat di seberang jalan ada halte, tanpa pikir panjang aku menyeberang ke arah halte yang sepi itu. Baru juga aku beberapa langkah sebuah mobil memberi klakson padaku. Aku tersadar atas kecerobohanku. Kakiku masih menahan tubuhku untuk tidak tersungkur karena kaget. Aku juga tidak merasakan nyeri apa-apa. Nyatanya jarak tubuhku dan mobil hanya sekitar tiga puluh centi-an.


Dari arah kaca kiri mobil itu terbuka muncul kepala seorang laki-laki muda seperti seumuranku.


" Hey, apa kamu tidak apa-apa ?" Tanyanya mendelik.


" Kamu mau kemana? aku antar. Naiklah." Ajaknya.


Aku terbelalak.


"Ah, gak perlu. Terimakasih, maaf aku mau kesitu." Tunjukku ke arah halte. Sebelum ia bicara lagi aku langsung menyeberang dengan hati-hati tanpa peduli orang yang sok kenal itu. Lalu aku sampai di halte, aku membuka tasku mencari hp-ku.


" Hey... Apa yang kamu cari?" Suara seorang laki-laki mendekatiku. Ia menurunkan payungnya.


Aku mendongakkan kepalaku ke arahnya.


" Kenapa kamu kesini? Apa kamu mau minta rugi padaku?" Tanyaku.


" Maaf aku gak punya uang. Lagian juga aku gak bikin mobilmu lecet." Imbuhku sambil mengeluarkan hp-ku yang baru ku temukan di lembaran buku.

__ADS_1


" Tidak. Tidak perlu ganti rugi. Aku yang akan ganti rugi sama kamu !" Jawabnya.


Dahiku mengernyit.


" Kamu mau ganti rugi apa? Aku gak kenapa-napa kok. Badanku masih utuh. Kamu pergi aja. Biarkan aku disini." Ucapku.


" Aku hanya ingin membantumu memberi tumpangan. Aku kasihan melihatmu basah kuyup. Kamu habis pulang sekolah atau darimana?"


Aku menatap matanya.


" Bukan urusanmu. Kita juga gak kenal. Jadi aku tidak mau gegabah dengan orang yang sok akrab sepertimu." Ucapku sedikit ketus.


Aku langsung mencari salah satu kontak agar bisa segera aku hubungi. Aku takut orang yang sok akrab di depanku ini berbuat jahat.


" Namaku Ilham. Ini kartu namaku. Kalau kamu merasa aku orang jahat, kamu bisa lihat kartu namaku disitu. bisa melaporkannya ke polisi." Ucapnya menyodorkan kartu namanya di tangannya.


Aku meliriknya sekilas lalu menunduk tanpa menyambut kartu namanya. Aku langsung menelepon kontak Bumi. Namun panggilan selalu teralihkan. Aku terus mencoba beberapa kali panggilan tapi tetap di alihkan. Akhirnya aku hanya mengirim satu kalimat pesan untuk Bumi.


Bumi, Kamu kemana? bisakah kamu bantu aku?


Tring. terkirim centang satu. Berharap kalau dia sudah online akan membaca pesanku. Si laki-laki sok akrab ini memperhatikanku.


" Apa kamu takut aku orang jahat?" Tanyanya.


Aku menatapnya dengan malas dan tak menghiraukan pertanyaannya. Ia terdengar menghela nafas kesal. Aku pura-pura melihat ke arah lain.


Tak lama dari arah sebelah kanan ada sebuah angkot berhenti sesuai dengan tujuan rumahku. Ah, Tuhanku menyelamatkanku dari orang yang sok akrab ini. Terimakasih ya Allah, batinku langsung melangkah masuk ke dalam angkot tersebut.


" Hey tunggu ! Kita belum berkenalan !" Laki-laki itu menyeru melambaikan tangan.


" Semoga kita gak akan pernah ketemu lagi!" Balasku berseru bersama angkot yang berjalan menjauhi tubuhnya yang terus melambaikan tangannya.


Aku hanya mengelus dada lega, bersyukur aku tidak sampai ikut naik mobilnya. Pikiran burukku berseliweran membayangkan jika aku naik mobilnya. Aku memukul-mukul kepalaku menyadarkan. Tubuhku semakin menggigil, kepalaku seperti penat dan berat. Aku bertahan di angkot sampai tiba di rumah.


***

__ADS_1


Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.


SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH


__ADS_2