Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Sakit


__ADS_3

Sesampainya di rumah. Aku bertemu Mamakku di dapur yang sedang sibuk membuat kue. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Namun terhenti saat Mamak bertanya.


" Kenapa kamu pulang dalam keadaan basah kuyup? Ini juga udah sore banget. Dari mana aja kamu?"


" Maaf Mak, tadi aku ada kegiatan tambahan di sekolah, aku tadi buru-buru ingin cepat pulang." Jawabku bohong melanjutkan langkahku masuk kamar mandi.


Di kamar mandi, aku mengguyur tubuhku sambil menahan isak tangis yang ingin keluar pecah. Aku hanya sesenggukan kecil berharap Mamak tak mendengar tangisku.


Setelah tangisku mereda, aku langsung melewati Mamak yang tidak begitu memperhatikanku, beliau fokus mencetak kue-kuenya.


Sesampainya di kamar, aku mengunci rapat pintu dan aku segera memakai pakaian hangat. Rasa dingin sudah terlanjur menusuk tulangku, bibirkupun terus bergetar. Aku segera memasukan tubuhku di balik selimut tebal. Tapi kepala yang penat ini tak bisa membuatku tidur nyenyak. Kepalaku lumayan nyut-nyutan, hidungku beberapa kali bersin. Sepertinya kali ini aku benar-benar sakit.


Aku meminta bantuan Mamak gak enak karena Mamak sedang sibuk. Aku hanya masuk dapur menuangkan air hangat dalam gelas, aku meminumnya lalu aku langsung masuk kamar lagi.


Suara hp-ku berdering, aku mengeceknya ternyata Bumi meneleponku. Tapi aku tak mengangkatnya, aku gak bisa bicara dalam keadaan tubuhku menggigil ini. Lebih baik aku matikan saja hp-nya.


Kemudian aku berbaring lagi dalam selimut, pikiranku mulai melayang mengingat kejadian hari ini di sekolah dan perlakuan Dian terhadapku.


Aku benar-benar tak menyangka, Dian akan semudah itu percaya tanpa menanyakan kebenarannya padaku. Gimanapun juga seorang sahabat seburuk apapun dia, jangan pernah meninggalkannya. Apalagi Dian belum mencari tahu kebenarannya. Kak Bintang juga begitu, seperti menahan amarah dan kecewanya padaku. Aku merasa dunia ini sebentar lagi terhenti, melihat langit atap kamar saja mulai samar-samar dan tiba-tiba gelap. Hanya terdengar suara sayup memanggilku...


" Nak, badanmu panas sekali." Mungkin suara Mamak dan setelah itu aku tidak ingat. semua menjadi gelap.


***


Lamat-lamat mataku mulai terbuka menatap ke atas samar-samar. Dimana aku? Apa aku sudah meninggal? Tapi... Aku seperti masih mengenali atap langit diatas. Oh, ternyata ini kamarku. Aku masih hidup. Aku mulai mengedarkan pandangan, ada sesuatu yang tertempel basah di keningku. Tanganku pelan-pelan mengangkat benda itu, sebuah handuk basah yang lumayan hangat. Mungkin panas di tubuhku berpindah sedikit ke handuk itu.


" Mak... " Seruku serak. Aku menahan kerongkonganku yang sedikit sakit untuk bisa memanggil Mamak. Aku memanggilnya beberapa kali tapi Mamak tak kunjung masuk. Akhirnya aku menurunkan kakiku ke lantai melangkah pelan-pelan. Rasa meriang di sekujur tubuhku tak terelakkan. Sampai akhirnya aku bisa membuka pintu kamar mencari Mamak. Tak sampai keluar pintu, Mamak berjalan dari arah dapur membawa sebuah nampan berisi satu gelas air putih dan satu mangkuk bubur.


" Nak, kenapa kamu maksain buat keluar? Ayo sayang kembali ke kasurmu. Sebentar Mamak bantu." Mamak meletakkan nampannya dan segera memegang bahuku membantu mapah tubuhku ke kasur. Lalu menarik selimut yang tergeletak di lantai menutupkan ke setengah badanku.

__ADS_1


" Mak... Aku gak mau sakit Mak..." Rengekku terisak.


" Sstt.. Tari... Kamu jangan banyak ngomong dan gerak. Kamu harus istirahat sayang. Tadi Mamak sangat khawatir saat suhu badanmu sangat panas. "


" Kalau emang ada kegiatan tambahan di sekolah, sebaiknya kamu kabari Mamak, kalau diluar lagi hujan juga jangan suka maksain diri, Inilah akibatnya."


" Maafin Tari ya mak." Lirihku menyesal menyentuh tangan Mamak. Mamak mengangguk senyum ketir.


" Buburnya di makan yuk mumpung masih hangat." Ajak Mamak sambil mengangkat badanku duduk bersender di ganjal bantal. Dengan pelan-pelan Mamak mulai menyuapiku. Menatap raut wajah Mamak, aku selalu ingat masa kecilku saat aku sakit. Mamak selalu merawatku penuh perhatian. Aku selalu nyaman berlama-lama ingin di rawat manja sama Mamak. Tapi setelah aku menjelang remaja, Mamak sudah jarang memperhatikanku karena cukup sibuk membuat kue pesanan. Sekarang aku merasakannya lagi bagaimana kehangatan itu tercipta.


" Makasih ya Mak udah mau rawat aku. Maafin aku juga Mak masih selalu ngerepotin Mamak." Imbuhku pelan.


" Kamu ini ngomong apa sih Nak, selama Mamak masih hidup, Mamak gak pernah merasa di repotin kamu. Kamu anak Mamak satu-satunya. Cuma kamu yang Mamak punya di dunia ini." Lirih Mamak menunduk. Tampak Mamak seperti menutupi air matanya yang sudah mengambang.


" Mak..." Aku menyentuh tangan Mamak dan memeluknya. Aku mengusap lembut punggung Mamak. Pikiranku mengawang lagi, kejadian di sekolah seperti berputar-putar di depanku. Aku merasa sudah mengecewakan Mamak. Aku harus segera menyelesaikannya sebelum Mamak tahu. Aku gak mau Mamak terlibat. Intinya aku harus sembuh dulu, setelah itu aku akan cari cara untuk mengungkapnya.


^


***


Keesokan paginya, aku terbangun saat sinar matahari mulai mamantulkan cahayanya ke jendela kacaku. Aku mengangkat tubuhku, sekujur tubuhku keluar keringat. Suhu panas di tubuhku sudah turun. Aku merasa enakan, hanya saja rasa pegal-pegal di badan, dan perasaan yang menyesakkan dada masih tersimpan di lubuk hati dan mengganjal di pikiranku.


Otakku semakin tertekan ketika aku mulai cek media sosialku, banyak sekali komentar dan pesan yang masuk ke akunku dengan kalimat-kalimat menghujat. Bahkan ada beberapa meme usil menertawakanku tentang pribadiku yang pendiam bisa terjerat kasus asusila di sekolah, begitu pandangan mereka. Aku men-scroll ke bawah, postingan teman-temanku yang tega menghinaku sesuka hati mereka. Hatiku semakin di deru kesesakan luar biasa. Seperti terkena hantaman batu besar ke dadaku. Tak terasa air mata mengalir di pelupuk mataku.


" Bumi... Kenapa kamu tak menghubungiku lagi? Kenapa sekarang aku merasa sakit sendirian. Apakah kamu tahu tentang ini?" Lirihku terisak.


Tok ! Tok ! Tok !


Suara pintu di ketuk.

__ADS_1


" Tari... Ini Mamak. Apa kamu udah bangun? Mamak masuk ya..."


Ceklek. Pintu terbuka, sosok Mamak muncul membawa sepiring sarapan.


"I-iya Mak." Ucapku segera menyeka air mataku. Semoga Mamak tidak curiga dengan wajahku yang sembab ini. Lalu Mamak meletakan piring di tangannya ke meja belajarku.


" Kamu sudah mendingan sayang?" Mamak duduk di pinggiran kasur menatapku sambil tangannya mengusap kepalaku. Aku mengangguk lemah.


" Nak, tadi Nak Bumi kesini."


Mataku reflek beralih menatap wajah Mamak.


" Terus...?" Tanyaku lirih.


" Seperti biasa dia jemput kamu berangkat bareng tapi Mamak bilang kamu sakit."


" Terus dia bilang apa Mak?" Tanyaku penasaran.


" Dia mendoakanmu cepet sembuh. Katanya habis pulang sekolah ini dia akan nengok kesini."


" Oh..."


Rasa kecewa seperti mengalir di tubuhku ini.


Apa Bumi tidak begitu peduli padaku? Kenapa tadi dia tidak menyempatkan membangunkanku, menjengukku langsung ? Tapi... Kenapa sekarang aku sangat peduli dan butuh sekali perhatian Bumi? Aaahh... Otakku selalu mengharapkan lebih. Padahal kita baru saja sahabatan. Jadi gak pantas aku meminta lebih.


Batinku terus bertengkar di dalam dada ini.


" Nak, cepat habiskan sarapanmu." Mamak membuyarkan lamunanku. Aku tersentak. Akupun meng-Iyakan ucapan Mamak yang kemudian di barengi langkah Mamak yang keluar dari kamarku. Setelah Mamak menghilang dari balik pintu, Aku langsung mengambil sepiring sarapan buatan Mamak, dan aku melahapnya dengan memaksakan mulutku mengunyah.

__ADS_1


Aku harus segera pulih dan kembali seperti semula. Batinku.


***


__ADS_2