
Aku bangun pagi dalam keadaan segar, semalam tidurku cukup nyenyak. Mungkin aku tidak banyak pikiran, atau memang sudah kelelahan saja.
Matahari pagi mulai menunjukkan sinarnya. sepertinya aku dan matahari sama-sama sedang dalam hati yang baik. Pagi ini juga akhirnya aku bisa sempatkan sarapan. Tak lama suara dari luar memberi salam sambil mengetuk pintu.
"Tari, tolong buka pintunya nak." perintah mamak dari dapur.
" Iya mak." aku bangkit dari meja makan melangkah ke pintu depan.
Saat ku buka, seseorang tersenyum menyapa.
"Selamat pagi, Mentari...!"
"Eh, hai.. kamu ! Iya pagi." jawabku membalas senyum sangsi.
"Mau ikut sarapan?"tawarku.
Ia hanya menggeleng.
"Silahkan di lanjutin sarapannya, aku akan menunggu kamu di luar."
"O-oh, oke! Tunggu ya !" ucapku sambil melebarkan pintu sampai habis.
Dia lalu duduk di kursi yang semalam ia duduki. Aku membalikkan badan masuk ke ruang makan segera menyelesaikan sarapanku. Pikiranku melayang mengingat setiap ucapannya, apapun yang di ucapkannya dia selalu menepati. Entah kenapa hatiku mulai melunak merasa percaya kalau seorang Bumi bukanlah laki-laki buruk.
Selesai makan aku langsung pamit menyalami mamak untuk berangkat ke sekolah. Aku melangkah ke depan mendapati dia sedang fokus main hp. Ia merasa tersadar aku sudah berdiri di depan pintu.
"Ayok." Ajaknya bangkit dari duduk sambil melemparkan senyum.
Posisi badanku masih mematung, pandanganku mengedarkan ke arah depan pagar. di sana tidak terparkir kendaraan apapun. lalu aku meliriknya, dia tersenyum seakan tahu apa yang aku pikirkan.
"Aku tidak membawa kendaraan apapun." Jawabnya tersenyum. "Kan sekolahnya dekat."
"Oh, syukurlah !" balasku lega.
"Aku tahu kamu tidak akan mau naik motorku."lanjutnya.
Semua yang aku pikirkan sepertinya dia sudah bisa menebaknya.
"ya sudah, yuk!" Ajakku berjalan mendahului.
Saat di gang, dia seperti melangkah panjang-panjang membuat kami berjalan sejajar beriringan, ia melirikku tanpa bicara sementara aku tetap fokus jalan ke depan. Lumayan lama kami berjalan dalam kebisuan, akhirnya aku memulai obrolan.
"Bumi, sebenarnya kamu kelas berapa sih? kok aku belum pernah lihat kamu sebelumnya?" tanyaku melirik wajahnya.
Ia menoleh ke arahku, bibirnya masih belum terbuka.
"Coba tebak, menurutmu aku kelas berapa?" tanyanya balik sambil tersenyum.
"Mungkin kelas XI atau kelas XII ?" jawabku menebak. Sebenarnya aku malas harus main tebak-tebakkan. bicara saja langsung to the point.
"Ya, hampir ketebak." jawabnya senyum menyeringai.
"Bisa gak sih kamu gak usah bertele-tele ! Aku gak suka main tebak-tebakan. Aku jadi berpikir ulang untuk memutuskan berteman sama kamu !" seruku sebal menghentikan langkahku.
__ADS_1
Dia mendelik melihat ucapanku, lalu seperti biasa ia selalu menertawakanku. Aku menatapnya kesal, lalu ia merasa harus meluruskan kesalahpahaman tertawanya.
kemudian aku melanjutkan langkahku.
"Oh, maaf, maaf. Aku hanya bercanda. kamu serius banget sih. Ngambekan mulu, dasar cewek galak." ucapnya tidak bisa menahan tawa.
"Apa kamu bilang?" tanyaku menahan emosi.
"Oke,oke. sekali lagi aku minta maaf. Aku kira kamu bisa di ajak bercanda. kalau gitu kita serius aja." Kedua tangannya mengapit ke atas dadanya.
"Aku ini sebenarnya murid pindahan di sekolahmu, baru sekitar satu minggu, Kelas XI IPA. Aku pindahan dari SMA Jakarta. Aku ikut pindah karena ikut orangtuaku. Mereka membeli rumah di sekitaran sini. Jadi kamu masih mau temenan sama aku kan?" ucapnya meliriku.
"Ya walaupun kita beda angkatan, tapi gak masalah kan? masih satu sekolah juga. Aku belum hapal suasana dan kegiatan di sekolah sini, daerah sini juga aku belum hapal." lanjutnya bercerita panjang.
Aku meliriknya. Emosiku mulai menguap.
"Kalau kamu gak hapal, kenapa kamu semalam bisa ajak aku ke cafe ?"tanyaku menyelidik.
"Um...Aku hanya tahu ke tempat situ aja sih, belum ke tempat lain."Jawabannya seperti hanya alasan.
"Ke depannya sih, aku mau kamu ajak aku ke tempat yang lain biar aku bisa hapal daerah sini." Ia tersenyum usil seperti memancingku memberi jawaban iya.
Akhirnya kami tiba di persimpangan jalan menuju gerbang sekolah. Langkahnya berhenti lalu menolehku.
" Maaf, aku cuma bisa nganter kamu sampai sini." Ucapnya.
"Iya gak apa-apa. Kita berpisah di sini." balasku tersenyum.
Aku memasuki gerbang, kepalaku menoleh ke belakang, ia tidak melangkah masuk gerbang sekolah, tapi belok ke arah warung yang tempo hari ia ditangkap pak ismail.
Aku menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa aku sampai mau berteman dengan anak nakal !" Gumamku menyadari aku sudah salah langkah.
***
Bel istirahat berbunyi, seperti biasa para murid berhamburan keluar kelas dengan kebahagiaan. Dian juga seperti biasa mengajakku ke kantin. Kami beriringan bersama beberapa teman yang lain menuju kantin. kami juga langsung memesan makanan dan minuman. Lalu duduk di meja bergabung di antara beberapa murid lainnya. Tak lama makananpun tiba di meja kami. Kami mulai menikmatinya.
"Tar, cowok yang kemarin kamu tabrak itu siapa sih? dia kok bisa kenal kamu gitu ?" tanya dian sambil memasukan satu bulat bakso ke mulutnya.
Mataku terbelalak. Aku yang sedang menyedot es hampir tersedak. Dian segera menepuk tengkukku, aku lepaskan tangannya bilang tidak apa-apa. Lalu aku memposisikan dudukku.
"Cowok... cowok yang kemarin itu?"aku memastikan sambil memutar otakku.
"Hai... Tari!" Sapa seseorang di belakangku. Dian dan aku saling menoleh ke belakang.
"K-Kak Bintang?" sapaku gugup.
Ia tersenyum.
" Boleh aku duduk di meja kalian?"tanyanya.
Aku dan Dian saling berpandangan membisu.
__ADS_1
"Eh, boleh kak ! Silahkan. " Dian tersadar mempersilahkan.
Aku tertunduk malu. Jantungku dag dig dug tak karuan.
"Um, apa kakak mau ikut makan di sini?" tanya Dian.
Aku tetap terdiam aja.
"Ah iya. Sebentar kakak mau pesan minum dulu." jawabnya bangkit dari duduk dan memesan ke ibu kantin.
Dian menyikutku berbisik " Jangan diam aja, mumpung lagi ada keajaiban dia mau duduk makan bareng kita."
Aku hanya mendengarnya dengan perasaan yang campur aduk. Harus gimana aku berhadapan dengan kak Bintang dalam satu meja.
Kak Bintang menghampiri kami lagi dan duduk berhadapan denganku. Dari arah depan seorang pelayan kantin mengantar es jeruk dan meletakkannya di meja kami. lalu ia langsung menyedot minuman itu dengan cepat seperti kehausan.
"Tar, kata Dian besok kamu ikut lomba puisi juga ya?" tanyanya memulai.
Aku mendongak kikuk. Mataku tak sengaja bertemu dengannya. Buru-buru aku menunduk lagi. Dian menyikutku lagi, aku tersadar.
"Eh, eh iya kak." jawabku singkat merasa di ingatkan kalau aku sampai hari ini belum sempat bikin puisi.
Entah kenapa siang itu panas sekali. Matahari seakan menyinari kantin ini secara langsung. Aku mengelap keringat di keningku.
"Kayaknya kamu kepedesan tar, minum dulu." Kak Bintang menyodorkan minumanku seperti melihat keringatku berjatuhan. Aku menerima dan meminumnya dengan tetap menunduk.
Dian yang melihat adegan kami(read Aku dan kak Bintang) seperti ingin menghindar, membiarkan kami berdua.
"Oya Dian, kamu kan panitiannya. Besok jam berapa mulai acaranya?" tanya kak Bintang beralih ke Dian.
"Jam 09.00 pagi kak. Nanti untuk puisi kita ngadainnya di aula barengan sama pidato, sama pameran kebaya. Cuma yang puisi kita taruh di bagian akhir acara." jawab Dian memaparkan.
Kak Bintang mengangguk-angguk mendengar kan seksama.
Dari arah belakang kak Bintang, temannya menepuk pundaknya mengajak masuk ke kelas. Kak bintang mengiyakannya.
"Tari, Dian... kalau gitu kakak duluan ke kelas yak." pamitnya tersenyum berlalu menjauh dari pandanganku. Kami membalas senyumnya.
Setelah tubuhnya hilang di belokan kelas, aku menghela nafas.
"Syukurlah, akhirnya aku bisa bernapas juga."
"Huuu... kebiasaan ! giliran dia deket dengan pandangan mata, seorang mentari bisa mengkerut seketika. Saat jauh, di pandanginnya lama-lama." Dian meledekku.
"Ish, Dian mulai lagi deh. ya mau gimana lagi? jantungku udah mau copot, gimana aku harus memposisikan diri coba?" Belaku pada diri sendiri.
Dian mengangkat tangan dan bola matanya berputar seperti sudah basi dengar alasanku.
****
Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.
SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH
__ADS_1