
Hari ini rutinitas sekolah seperti biasa. Senin semangat walaupun cukup membosankan setiap kali upacara bendera. Tapi setelah di lewati semuanya begitu cepat berlalu.
Semenjak aku dan Bumi resmi menjadi SAHABAT , kami menyepakati untuk saling bersama dalam suka dan duka. Tak ada canggung berbagi cerita, keseruan bahkan berbagi uang jajan. Yaaa walaupun yang lebih banyak mentraktir itu Bumi.
Istirahat hari ini Bumi mendatangi kelasku, teman-temanku yang perempuan merasa seperti sedang bermimpi di datangi oleh laki-laki tinggi, tampan, dan juga keren. Walaupun penampilannya cukup berantakan dengan baju yang selalu dikeluarkannya. Di sekolah Bumi memang jarang terlihat, karena ia lebih banyak nongkrong di luar. Aku tak pernah bertanya untuk apa ia nongkrong? karena bagiku itu pilihan dia.
Bumi berdiri di pintu kelas memberi kode untukku segera keluar. Aku mengedarkan pandangan, teman-teman yang perempuan tersenyum sipu seolah Bumi menunjuk di antara mereka. Aku menghampirinya dengan perasaan bangga sekaligus penasaran gimana respon teman-temanku. Ternyata wajah mereka langsung berubah kecewa dan ada beberapa yang tidak percaya kalau Bumi memang mencariku.
" Eh, masak kakak kelas itu buta ya, lebih milih si Tari yang jelek itu !" Bisik sayup dari temanku yang lumayan cantik.
" Iya ya,,, Paling dia pakai cara murahan." Ucap temanku satu lagi ikut-ikutan.
'Apaan sih? mereka terlalu naif menilaiku. Aku sadar aku jelek. Tapi Bumi yang mau menjadi temanku.' Gumamku dalam hati. Aku cukup bersyukur saja.
Ucapan mereka seakan sengaja ingin di dengar olehku. Aku hanya membalas mereka dengan senyum masam. Sementara tubuh Bumi sudah lebih dulu ke kantin tak menghiraukan ucapan temanku yang sedikit mengejek, akupun menyusulnya tanpa peduli mereka.
"Kamu mau pesan apa?" Bumi bertanya setelah kami duduk di meja kantin.
" Aku es teh manis sama mie ayam aja." Jawabku.
"Oke tunggu." Bumi bangkit dari duduknya dan memesan makanan. Lalu ia kembali duduk.
"Mereka ngomong apa sama kamu?" Tanyanya serius.
Aku terperangah. " Ngomong soal apa?" Tanyaku sedikit bingung maksud dari pertanyaan Bumi soal 'Mereka'.
"Tadi saat aku datangi kamu ke kelas, teman-temanmu yang sok cantik itu ngomong apa sama kamu?"
Aku terhenyak. Ah, rupanya dia juga tahu.
" Um, bukan apa-apa. Mereka sepertinya nge-fans sama kamu." Jawabku mencari jawaban lain.
" Aku tahu mereka bisik-bisik tentang kita. Tapi ya udahlah, kita emang harus jadi orang yang tidak peduli. Apalagi untuk urusan hal-hal yang gak penting." Ucapnya menegaskan.
Aku mengangguk menyetujuinya.
Selang tak berapa lama pesanan makanan sudah sampai. Ternyata Bumi juga memesan makanan yang sama.
" Kamu juga pesan mie ya?" Tanyaku iseng.
" Iya. Biar samaan." Jawabnya sambil menumpahkan dua sendok sambal dan saus pedas lalu mengaduknya menjadi satu.
Aku mengernyit.
"Memangnya semua mesti samaan aja?" Tanyaku penasaran.
"Iya." Jawabnya sambil menyuapkan mie yang ia sumpit dengan lahap.
" Kenapa?" Tanyaku sambil menyuapkan mie yang di sumpit.
__ADS_1
Belum ada jawaban. Ia menyelesaikan suapan di mulutnya.
" Kamu mau tahu jawabannya?" Ia berbalik nanya membuatku sedikit jengkel. Mulutnya tetap fokus mengunyah makanannya.
" Mau."
"Karena... Karena.. Biar kamu gak minta." Jawabnya enteng sambil tertawa.
Aku mencubit tangannya yang hendak memasukkan mie kedalam mulutnya.
AUWW...
Ia meringis, mulutnya belepotan karena makan mie terburu-buru saat aku mencubitnya.
"Hahaha... Syukurin... Makanya jangan suka bikin aku kesel.. Hahaha" Aku tertawa terbahak-bahak.
Saat mulutku terbuka lebar, ia sengaja memasukkan mie kedalam mulutku juga. Bibirku yang tak siap kepanasan dan terasa pedas dilidah memuntahkan ke dalam mangkukku. Ini jelas bukan mie dari mangkuk ku. Ini mie dari mangkuknya Bumi. Aku segera menyedot es teh manisku banyak-banyak. Bahkan aku merasa sedikit terbakar. Bumi yang melihat tingkahku merasa tertawa puas. Sejenak pusat perhatian teman-teman yang di kantin melihat.
" Bumi... Aku kepedesan. Aku gak suka pedas ! Huh.. Hah." Bulir air mata sedikit keluar dari ujung mataku.
Ia yang tertawa terbahak-bahak berhenti merasa kasihan dengan keadaanku. Iapun segera membantuku menyodorkan minumannya untuk di berikan padaku. Setelah meminumnya rasa pedas di bibir dan lidahku berkurang. Seperti drama kebakaran jenggot itu sudah sedikit membaik.
Ia menatap mataku dengan wajah yang
memerah sisa tadi dia tertawa dan wajah yang terpasang kasihan padaku.
"Aku minta maaf, aku kira kamu suka pedas."
" Iya. Aku janji." Tegasnya mengangkat jari kelingkingnya ke arah wajahku. Aku membalas sama dengan mengaitkan jari kelingkingku tanpa melihat wajahnya.
Kemudian kami melanjutkan sisa makan yang tadi. Tiba-tiba dari arah belakangku seseorang menarik jilbabku lalu...
Byurrr....
Di siang hari panas ini, aku seperti mandi satu ember air. Reflek aku terbangun begitu juga Bumi yang terbelalak. Semua pusat perhatian tertuju pada meja kami.
" Liona ?! Apa yang kamu lakukan?!" Bumi berteriak memekikan satu kantin. Beberapa murid menjauhkan diri mereka dari keributan tiba-tiba ini.
Aku menatap seorang perempuan bersama dua temannya di belakang saling melipatkan kedua tangan mereka di dadanya.
'Siapa mereka?' batinku dengan jantung berdegup kencang dan rasa malu di tonton para murid di kantin. Mereka memang memakai seragam sama sepertiku, hanya saja aku tidak pernah kenal mereka. Memang mereka cantik, tapi disekolah ini yang cantik biasanya jadi primadona para murid lelaki walaupun beda angkatan. Tapi aku belum pernah melihatnya sama sekali.
Perempuan yang di panggil Bumi 'Liona' ini seperti Ibu tiri yang siap menyiksaku. Senyum tersunggingnya menyiratkan seolah kebenciannya begitu dalam.
" Dasar cewek murahan !" Pekiknya di telingaku.
Telingaku seperti terbakar mendengar ucapannya yang salah menuduh. Aku tidak mengerti maksud ucapannya. Karena aku tidak merasa.
Sementara tubuhku mulai menggigil. Bumi yang melihatku langsung merangkulku meninggalkan kantin tanpa menghiraukan perkataan Liona.
__ADS_1
" Hey kamu ! Bumi !" Liona menyeru memanggil Bumi.
"Kurang ajar kalian." Liona mengepalkan kedua tangan di samping bahunya merasa tak dihiraukan aku dan Bumi. Semua murid yang menyaksikan membubarkan diri tanpa di beritahu. Mereka berbisik-bisik tentang kejadian tadi dan saling menerka-nerka. Mungkin bahan gosippun akan berkembang. Sementara Bumi mengajakku ke arah toilet. Di depan pintu ia menghentikannya dan menghadap ke tubuhku.
" Kamu tunggu disini. Aku akan ambilkan jaketku di motor. Sekalian kita pulang." Ucapnya menatap mataku.
Aku termangu dengan tubuhku kedinginan.
" Kamu gak usah pikirin pelajaran terakhir, biar aku yang kasih tahu ketua kelasmu kalau kamu sakit. Kamu nurut ya sama aku, Aku gak mau kamu sakit." Tegasnya lagi. Aku menatap matanya seperti khawatir keadaanku.
Aku hanya mengangguk. Lalu ia membalasnya dengan senyuman.
" Tunggu disini ! Aku ambil tasku dan tasmu di kelas." Ia bergegas berjalan cepat.
Aku hanya mematung melihatnya menjauh bersama pikiranku yang kalut.
Kenapa ia bersikap seperti ini? apa karena kita 'Sahabat' ? Ah mungkin iya. Tidak mungkin yang lain. Tari... Kamu jangan berharap ! Batinku menelusup membaca mata dan sikapnya.
Selang lima belas menit tubuh Bumi muncul mendekat. di bahunya ia menggendong dua tas. Lalu tangannya merangkulku berjalan menuju parkiran motor.
" Pakailah." Ia menyodorkan jaket kulitnya dari dalam jok motornya.
Dengan segan aku memakainya. Karena baru pertama kali seorang laki-laki menawarkan jaketnya untukku. Walaupun langit cerah dan panas, tetap saja mandi satu ember air itu membuat kedinginan.
Setelah itu kami segera menuju gerbang sekolah. Saat di tanyai pak Satpam, Bumi beralasan mengantarku yang sakit dan akan balik lagi. Merekapun mempersilahkan dan membuka gerbagnya. Motor Bumi melaju dengan kecepatan sedang. Kamipun akhirnya tiba di rumahku.
"Bumi... Makasih yah. Maaf aku ngerepotin kamu." Ucapku turun dari motor.
"Gak apa-apa. Ini tugasnya seorang sahabat." Balasnya tersenyum hangat.
"Kalau gitu aku masuk ya. Mau ganti bajuku yang basah ini."
Bumi mengangguk mempersilahkan. Saat aku beberapa langkah menuju pintu rumah, aku membalikan badan. Ia masih mematung di dekat motornya memberi respon menaikan kedua alisnya.
"Bumi... Apa aku boleh tahu hubunganmu dengan cewek yang tadi?" Tanyaku mengingatkam kejadian tadi.
"Nanti sore aku menjemputmu. Aku mau ajak kamu main ke suatu tempat." Ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku.
" Aku gak mau sebelum kamu jawab pertanyaanku !" Aku memonyongkan bibirku.
Ia menghela nafas.
" Iya nanti sore saat aku sudah ajak kamu."
"Oke baiklah. Aku setuju." Ucapku sambil berbalik badan, menoleh lagi dan melebarkan senyumku melambaikan tangan.
Iapun membalas sama. Setelah aku masuk, ia menaiki motornya dan berlalu. Aku baru ingat saat dia menjemputku di depan pintu toilet membawa dua tas pertanda dia tidak akan kembali ke sekolah.
***
__ADS_1
Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.
SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH