
Keluar dari Rumah Sakit aku dan Bumi langsung menaiki motor menuju arah pulang. Di perjalanan kami selalu terbiasa membisu, aku hanya sekilas menatapnya lewat kaca spion. Bumi yang menyadari di perhatikan, ia sengaja tersenyum menatapku sebentar bertemu mata di kaca spion. Aku langsung mengalihkan mataku ke arah lain.
"Tar.." Ia menyeru sedikit keras karena tekanan angin yang menghembus ke arah motor.
"Ya.." Jawabku sedikit keras juga.
" Gimana kalau ki@#%^&*() !"
"Apa?" Telingaku yang tertutup helm kurang mendengar.
"Gimana kalau kita main dulu !"
Dia mengulangnya sedikit berteriak. Mulutku membulat paham.
Sejenak otakku berpikir baiknya gimana.
"Emang kamu mau ajak aku kemana?"
"Ada. Rahasia."
Ish ! Kebiasaan. Dia suka sekali bikin penasaran.
"Kamu mau ya?" Tanyanya lagi sambil kepalanya sedikit menoleh ke arah samping bermaksud memastikan wajahku dan berbalik lagi ke arah jalan.
"Hey ! Lihat jalan ! Kamu mau kita mati di jalanan?" Teriakku sedikit panik memukul bahunya.
"Tenang... Aku sudah punya perhitungan. Yang penting kamunya jangan banyak gerak." Jawabnya enteng.
Semakin sebal aku dengan cara dia menganggap gampang tentang hal yang bisa membahayakan.
"Ya kamu bikin orang was-was aja. Nyawaku cuma satu ya !" Jawabku mendengus kesal.
"Yaudah maaf kedepannya aku gak gitu lagi ! Tapi kamu sekarang harus ikut aku."
"Terserah..." Teriakku masih sedikit kesal.
Motor Bumi pun berbelok ke arah lain yang bukan jalan pulang. Dia mengarah seperti ke arah Ibukota. Aku hanya memperhatikannya duduk di belakang.
Tak sampai satu jam kami akhirnya tiba di sebuah tempat wahana hiburan. Ah, dia mengajakku kesini? Untuk apa?
"Mari kita bersenang-senang..." Ucapnya tersenyum saat sudah memarkirkan motor. Aku hanya bengong dan melihat-lihat ke arah lain dengan kebingungan.
"Kamu kenapa?" Tanyanya.
"Kamu serius ajak aku kesini ?"
" Ya seriuslah. Udah ayo kita beli tiketnya. Aku yang bayarin, nanti keburu tutup. Hari ini cuma sampai jam 08.00 malam loh." Dia menarik tanganku untuk segera membeli tiket. Kami antri di sebuah loket, aku mengedarkan pandangan melihat masih banyak orang yang juga mengantri membeli tiket. Padahal hari ini sudah cukup sore. Mungkin karena hari minggu ya, beberapa orang menghabiskan waktu berliburnya.
Akhirnya tiket sudah di dapatkan dan kami masuk di berikan cap di tangan dan kamipun masuk.
Di dalam banyak orang ramai lalu lalang, ada yang terdengar riuh berteriak. Ya aku ingat pernah menikmatinya karena waktu SMP kelas 1 aku pernah ikut rombongan sekolah. Tempat di Ibukota ini memang sangat terkenal. Banyak dari daerah lain yang menyempatkan waktu jauh-jauh untuk mencari wahana hiburan kesini. Kalau sudah membeli tiket, naik apapun gratis. Ada wahana yang aman untuk anak-anak, ada juga untuk dewasa yang suka memacu adrenalin.
Di keramaian ini tangan Bumi tetap menggenggam tanganku dengan erat. Aku hanya menatapnya dari belakangnya yang terus mengikutinya.
"Kamu mau naik apa?" Ia bertanya sedikit berteriak karena suara orang-orang yang sedang naik wahana menyeramkan berteriak-teriak membuat pekik telinga.
" Yang santai aja. Hari ini kan udah sore, jadi tenagaku sedikit berkurang." Jawabku. padahal aku malas. Aku ingin pulang beristirahat. Perutku juga sedikit rasa mulas.
"Apa kamu lapar?" Bumi menoleh ke arahku. Ia seolah mencari mataku yang jujur.
"Ah enggak ! Nanti aja. Sehabis maghrib aja kita makan."
Ia mengangguk.
" Gimana kalau kita naik itu?" Ia menunjuk ke arah perahu yang isinya banyak orang-orang di buat seperti terombang-ambing.
" Baiklah." Jawabku tersenyum.
__ADS_1
Akhirnya kami ikut dalam antrian naik wahana tersebut. Setelah giliran sebelumnya selesai tibalah giliran kami.
Jantungku sedikit deg-degan karena aku dulu sudah pernah merasakannya. Bumi tampak sangat bahagia. Aku melihat senyum yang tidak pudar dan mata yang berbinar. Aku cukup menikmatinya, wahana yang membuat jantung berpacu lebih lambat bahkan bisa lebih cepat dari yang kita rasakan. Sampai beberapa putaran akhirnya giliran kami sudah selesai. Kami turun dengan rasa puas dan seperti ketagihan. Keluar dari wahana itu, Bumi langsung menarikku menunjuk beberapa wahana yang lebih ekstrim. Aku hanya menggeleng kepala. Dia bisa ku lihat tampangnya sedikit kecewa.
"Kita naik Komedi putar aja gimana?" Tanyaku melempar senyum ke arah wajahnya.
Ia tampak memutar bola matanya.
"Aku malu. Itukan lebih banyak buat anak-anak." Dalihnya.
" Tapi aku mau naik itu. Tadikan habis di ombang-ambing, Aku pengen yang santai dulu. Bentar lagi kan maghrib. Aku mau istirahat dulu." Ucapku memohon.
Ia hanya menghela nafas.
"Baiklah. Ayo." Ia menarik tanganku.
Saat tiba giliran kami naik, Bumi dengan cepat menaiki kuda sementara aku sedikit kesulitan menaiki kuda berputar tersebut. Bumi yang melihatku mencoba menaiki, ia turun dan mengangkat tubuhku tanpa minta izin akan tetapi seperti memerintah.
"Naiklah cepat." Aku menurutinya dalam kebisuan.
Komedi putar mulai berputar yang kedua kalinya. Di temani bersama kerlap kerlip lampu.
"Aku seperti orang bingung naik ini mau ngapain..." Ucapnya menoleh ke arahku yang duduk di kuda sampingku.
" Nikmati aja. yang penting kita senang." Ucapku tersenyum sambil melepaskan tanganku ke udara.
" Kalau kamu senang, aku juga senang." Ucapnya lagi. Sejenak mendengar nada bicaranya tadi menyiratkan seperti dia sedang menggombaliku. Aku langsung buru-buru membuang pikiran anehku.
Sampai maghrib tiba, akhirnya kami istirahat. Bumi mengajakku langsung ke arah foodcourt.
"Sebentar Bumi, aku mau ke toilet dulu. Sekalian mau ke mushola." Ucapku melepas pegangannya.
"Baiklah, aku ikut."
"Ikut kemana ?" Tanyaku polos.
" Ya ke toilet sama mushola."
Dia mengernyit aneh.
" Ya iyalah... Tarii.. Kok kamu kadang-kadang suka dong-dong sih." Ia menyentuh jidatku dengan telunjuknya.
"Ish apaan sih ! Aku cuma mau tegasin !"
"Hahaha... Kamu sih pertanyaannya ada-ada aja." Jawabnya mulai mencubit pipi kiriku. Aku menepisnya.
" Sekarang kamu semakin bertingkah kurang ajar ya sama aku !" Jawabku sedikit ketus.
Matanya membelalak.
" Hey kamu kenapa? kok sensitif gitu? aku kan cuma mencubit pipimu aja." Ia berusaha memperjelas.
" Ya Aku gak suka. Kita kan baru berteman belum lama."
" Oh....jadi gitu. Baiklah kita bersikap biasa aja. Padahal aku sudah menganggapmu sebagai sahabat sejak malam itu kamu mau jalan sama aku." Ucapnya terdengar kecewa.
" Udahlah jangan debat lagi. Aku mau ke toilet. Jangan ikuti aku." Jawabku merengut memicingkan mataku.
Dia yang mau melangkah sepertinya tertahan dengan kalimat terakhirku. Ia hanya menaikan tangannya ke udara.
" Berarti kalau kamu tersesat, aku cukup pulang sendiri aja." Jawabnya memutar bola matanya.
Aku tidak menanggapinya dan langsung melangkah berlalu.
^
Aku masuk ke kamar mandi, disana ada beberapa wanita yang sedang bercermin. Aku masuk ke toiletnya untuk buang air kecil. Saat aku mengecek celana dalamku ada bercak darah.
__ADS_1
' Aduh ya ampun hari ini malah aku datang bulan.' Gumamku dalam hati.
Mengutuki diri kenapa aku gak bawa pembalut. Pantas saja aku begitu sensitif bicara sama Bumi. Mungkin dia juga pasti marah karena aku bersikap menyebalkan hari ini. Sekarang aku mau minta tolong sama siapa. Saat kepalaku muncul diantara pintu toilet, ternyata beberapa wanita dewasa yang sedang bercermin juga sudah tidak ada disana.
Aku menghela nafas dalam, berpikir jernih mencari jalan keluar. Saat di timbang beberapa kali akhirnya tetap aku mau meminta tolong pada Bumi. Aku harus mencobanya, barangkali Bumi masih ada rasa kasihan padaku.
Aku langsung mengeluarkan hp dari tas kecilku, Aku mencari nama si cowok nyebelin ini di kontakku dan langsung aku menyentuh tombol panggil. Saat sudah tersambung beberapa kali dia reject ? kurang ajar. Dia benar-benar marah denganku. Huh ! Tak ada cara lain selain aku pulang sendiri naik Bis umum.
Aku menghela nafas dalam. Tak lama hp-ku berdering, dengan cepat aku langsung melihat siapa yang menelepon.
'Aduh Mamak ! Angkat atau enggak ya?' Aku menimang-nimang beberapa detik. Lalu dengan cepat jariku mengangkatnya.
"Ha-Halo mak?'
"Kamu dimana? kenapa jam segini kamu belum pulang juga?" Tanya mamak dari seberang sana. Suaranya begitu khawatir. Aku merasa bersalah karena hari ini aku pergi tanpa minta izin dulu.
"Ma-maaf Mak, sekarang aku lagi sama Bumi kok. M--Mamak tenang aja. Aku baik-baik aja. satu jam lagi aku pulang kok." Jawabku sedikit gugup.
"Jangan keluyuran aja. Ini udah mau malam. Cepat pulang." Suara Mamak sedikit menekan.
"I-Iya mak. Aku pulang nih."
" Ya udah. Hati-hati kamu di jalannya." Mamak menyudahi.
'Huuh... Gimana ini?'
Lama berpikir tanpa solusi. Tiba-tiba hp-ku berdering lagi.
'Bumi menelepon... ? Yes ! Syukurlah...' Aku mengangkat kepalan tanganku ke udara. Segera aku mengangkatnya tanpa mendahului bicara.
" Kamu di mana?" Tanyanya terdengar khawatir.
"A-Aku masih di toilet."
"Kamu kenapa? Apa kamu terkunci di sana?" Suaranya semakin menderu seperti panik.
"Ti-tidak !" Jawabku semakin gugup.
"Lalu apa?!"
"A-Aku bingung..."
" Ya coba katakan dengan cepat biar aku bisa cepat tahu dan bisa bantu kamu." Suara dari sana tidak sabar.
"Aku... Aku butuh pembalut." Jawabku memelankan suaraku.
Sejenak di ujung sana tampak diam. Aku bingung melihat layar hp-ku masih terhubung dengannya.
"Halo ? Apa kamu mendengarku?" Tanyaku memastikan.
"Ehm, Ya. terus..." Suara dari sana muncul kembali.
"Bantu aku...Tolong kamu belikan aku pembalut di situ, cari minimarket disitu." Ucapku memohon.
"Apa ?! Enggak. A-Aku malu." Tolaknya.
Sejenak percakapan itu terhenti dalam sepuluh detik.
Hiks. Aku sedikit mengeluarkan suara tangisku. Semoga dia mendengar, batinku.
Diujung sana terdengar suara helaan nafas melemah.
"Hm, baiklah. Tetap tunggu disitu. Aku akan membelikanmu." Jawabnya memutus panggilan.
Aku menghela nafas. Ah syukurlah... Bumi masih mau membantuku.
***
__ADS_1
Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.
SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH