Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Hari Eksekusi Bagian 2


__ADS_3

Mamak membawaku ke luar ruang BK itu, begitupun Bumi dan Mamaknya berada di belakangku.


" Narsih ! Tunggu !" Suara Mamanya Bumi memanggil nama Mamak. Tapi Mamak tetap tak menggubris.


" Mak, berhenti dulu." Ucapku melepaskan tanganku dari genggaman Mamak. Mamak menoleh, wajahnya yang tanpa ekspresi tiba-tiba memperlihatkan wajah yang penuh amarah.


" Hey, kamu Narsih kan?" Tanya Mamanya Bumi menyusul aku dan Mamak yang berhenti.


" Kenapa kamu sombong sekali padaku ? Harusnya aku yang sombong padamu !"


Aku melihat tatapan Bumi biasa saja. Apakah Bumi sudah mengetahui kalau Mamakku dan Mamanya adalah sahabat lama.


Mamak tampak menghela nafas menurunkan emosinya yang didalam.


" Aku sedang tidak ada waktu banyak. Aku harus pulang mendidik anakku."


" Oya, anakmu juga harus kamu didik dengan benar. Dia sudah memberi pengaruh buruk untuk anakku !" Suara Mamak penuh penekanan.


" Apa maksudmu? Kamu pikir aku tidak becus mengurus anakku hah?! Gara-gara anakmu, citra keluargaku jadi tercoreng !"


" Harusnya kalau kamu becus mengurus anakmu, tidak mungkin anakmu tiap hari membawa anakku. Dia sudah membuat kepercayaanku runtuh dengan kejadian ini. Mungkin kamu tidak kenal anaku juga. Tapi aku tahu anakmu !"


Aku dan Bumi yang melihat perdebatan kedua Orangtua ini membuat kami bingung. Keduanya sama-sama emosi.

__ADS_1


"Mih, Mamih ! Udah cukup Mih ! Malu jangan berdebat di sini. Ayo kita pulang." Bumi menarik tangan Mamihnya. Aku yang melihatnya hanya terdiam membisu.


" Apa ? Kenapa ucapanmu selalu memancing emosiku. Kita ini dulu sahabat. Aku juga selalu membantumu membeli kue mu, tapi kamu malah seperti ini !" Mamanya Bumi masih menyahut.


" Mih !" Bentak Bumi pada Mamanya.


" Baiklah. Dengar Mamih sayang, jangan pernah kamu berhubungan dengan anak ini lagi." Ucap Mamanya ikut menyaut tangannya Bumi.


Aku melirik Mamak kembali dengan sikap tanpa ekspresinya. Di saat seperti ini kenapa masalahnya jadi tambah runyam apalagi kedua Orangtua ini ikut berdebat juga.


" Ayo pulang." Ajak Mamak. Aku hanya mengangguk. mengekor di belakang Mamak keluar dari sekolah.


***


" Tari... Sejauh mana kamu sudah melakukan itu dengan Bumi?" Tanya Mamak memulai. Nadanya cukup membuat telingaku teriris.


" Ma-maksudnya apa Mak?" Tanyaku gugup.


Mamak menoleh, tatapannya dingin sekali. Di ruang tamu kecil ini suasana bukan jadi panas, tapi seperti dingin sekali, apalagi dengan ekspresi Mamak.


" Mamak kira kamu bisa menjaga diri baik-baik. Kamu sudah menghilangkan kepercayaan Mamak."


" Mak..." Suara pelanku. Aku mendekat bersimpuh, kepalaku tetap menunduk.

__ADS_1


" Aku berani bersumpah, aku tidak pernah melakukan hal yang tidak sepantasnya sama Bumi, Mak. Ini jebakan orang. Aku dan Bumi bisa buktikan itu Mak."


" Kamu tahu ini jebakan atau tidak, kamu tetaplah salah ! Mamak bilang apa dari kemarin jangan berhubungan lagi dengan Bumi ! Dia bawa pengaruh buruk buat kamu. Kamu tahu gimana hati Mamak sekarang Nak ? Sedih dan kecewa. Mamak udah gagal didik kamu, Mamak malu Nak." Suara Mamak semakin meninggi.


" Sekarang dengar Mamak, si Bumi itu jangan pernah menginjakkan kakinya lagi disini. Ingat itu." Mamak bangkit dengan perasaan hancurnya. Beliau masuk ke kamarnya. Sementara aku hanya membisu di ruangan sederhana itu.


" Maafin aku Mak." Lirihku berderai air mata.


Kenapa aku bisa sejauh ini terlibat? Bumi adalah laki-laki yang baik, tapi aku tidak tahu di sekelilingnya. Dengan kepolosanku, aku hanya bisa berpasrah diri tak mampu melakukan apa-apa. Aku sudah membuat Mamak kecewa. Gimanapun dengan kejadian ini aku harus mengambil pelajaran penting bahwa aku harus bersikap hati-hati berhubungan dengan orang. Aku juga sudah membuat orang-orang yang ku sayangi pergi. Dian, Kak Bintang... Sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.


Di dalam kamar, seperti biasa aku memandang langit-langit kamar. Bulir air mata masih keluar dengan sendirinya. Melamunkan segala kejadian yang sudah terlewati. Ada rasa sesal dan juga kesedihan.


Apa yang akan aku lakukan selama seminggu ke depan? Aku sakit dua hari saja membuatku bosan di rumah. Aku juga sudah tidak boleh bertemu Bumi lagi. Lalu kalau seperti ini di mana keadilan yang akan ku dapatkan? Bukankah kebenaran belum terungkap.


Aku mengambil hp-ku membuka akun sosial mediaku. Mencari-cari hal yang bisa menghiburku. Tapi rasanya hari ini semua menjadi hambar, tak ada semangat. Sebenarnya jika kejadian tadi di ruang BK ada celah lubang kecil saja di sana, ingin sekali aku bersembunyi, atau sejenak menghilang juga tak apa.


Tiba-tiba sedang dalam lamunanku, hp di tanganku berdering. Ku lihat Bumi meneleponku. Aku menimang-nimang antara di angkat atau di biarkan, sampai akhirnya panggilan itu selesai. Tak lama berdering lagi, dengan perasaan bimbangku, aku takut Mamak mendengar di kamar kalau aku teleponan dengan Bumi. Lagi-lagi panggilan itupun di akhiri tanpa terangkat.


Aku menghela nafas panjang.


" Tari... Tolong jangan bikin kecewa Mamak. Oke..." Gumamku mengingatkan diri. Aku mematikan ponselku berharap Bumi tak bisa meneleponku sementara waktu.


***

__ADS_1


__ADS_2