Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Naik Level : Jadi Sahabat


__ADS_3

Aku menunggu Bumi di luar toilet tapi belum juga ia memunculkan batang hidungnya. Aku menggertak-gertakan telapak kakiku mulai pegal. Dari arah kejauhan tampak Bumi berlari-lari mendekat.


" Kenapa lama sekali?" Tanyaku masih dengan nada ketus. Padahal hatiku tadi sudah merencanakan untuk bersikap lembut. Kenyataannya lebih dulu mulut bicara daripada sikap yang di rencanakan.


Ia sedang mengatur ritme nafasnya yang tersengal. Tangannya menyodorkan satu plastik kecil bungkusan langsung ku terima.


"Maaf... Minimarket adanya di sebelah sana." Tunjuknya ke arah tadi dia berlari. Mataku mengikuti telunjuknya.


"Ehm, Ya udahlah. Tunggu disini. Aku mau ganti."


Ia mengangguk.


Setelah itu aku segera mengganti dan kembali ke tempat Bumi menunggu.


"Ayo kita makan." Ajaknya berjalan di depan.


Tanpa babibu aku mengikutinya. Tadi aku sudah meminta bantuan jadi aku harus membalasnya dengan tidak membuat hatinya kecewa, untuk sementara.


Kami masuk di sebuah resto cepat saji. Dan memesan beberapa menu yang cukup untuk mengisi perut kami, tentunya Bumi yang bayar. Karena uang dari mana aku? Ya cukup beruntung juga Bumi mau berteman denganku yang mana rumah Bumi aja cukup megah untuk kawasan elit dekat rumahku.


"Habis makan gimana kalau kita naik bianglala?" Tanyanya sambil memasukan suiran ayam kremesnya dengan lahap.


Aku terdiam sebentar, memasang wajah yang sesuai dengan apa yang ingin aku ucapkan.


"Bumi... Sebenarnya Mamakku sudah menelepon saat aku di toilet. Mamak bilang kita harus secepatnya pulang sekarang. Tadi saat kamu ajak aku kesini, aku lupa minta izin mamak."


Sejenak ia terdiam.


" Apa aku boleh menelepon Mamakmu untuk minta izin?" Tanyanya kemudian.


" Sudah terlambat. Aku takut kalau harus telat pulang." Jawabku menunduk.


" Gini maksudku, aku cuma minta waktu sebentar buat kita bisa naik bianglala. Sebentaaar aja... Aku yang bilang sama Mamakmu kalau aku akan menjagamu dengan baik dan pulang dalam keadaan selamat. Besok kan kita sudah sekolah lagi. Kembali ke aktifitas. Sayang banget kita udah jauh-jauh kesini." Ucapnya merajuk lembut.


Hatiku mulai tergoyah. Tapi... Aku juga gak mau membuat Mamak khawatir.


" Biar aku yang minta izin sama Mamakmu. Jam 08.00 kita pulang. Kita coba dulu, kalau Mamakmu gak izinin, sekarang juga kita pulang." Lanjutnya menegaskan.


Aku menghela nafas dalam.


" Baiklah... Kita coba." Ucapku pada akhirnya. Senyum tipisnya membuatku cukup percaya.


Akhirnya setelah kita makan, aku menyerahkan hp-ku untuk menelepon Mamak. Saat terhubung volume suara panggilan sedikit di naikkan.


" Halo? Tari kamu masih di mana?"


" Halo tante, maaf ganggu. ini Bumi."


" Loh Tari kemana?"

__ADS_1


" Ada tante di samping saya."


" Halo Mak?" Sapaku.


" Kamu baik-baik aja kan nak? cepat pulang."


" Aku baik-baik aja Mak. Oya Mak Bumi mau ngomong sama Mamak." Aku langsung mengarahkan hp ke arah Bumi yang juga mendengarkan. Aku mengedipkan mataku untuk segera bicara sesuai ucapan sebelumnya. Aku menatapnya dia seperti gelagapan. Aku melototinya, kenapa giliran dia bilang padaku berani, tapi di saat ada suara Mamak nyalinya menciut.


"Halo, Tari?" Suara dari ujung sana memastikan suara kami yang tiba-tiba membisu. Kami hanya ribut bisik-bisik. Akhirnya dengan mengumpulkan tenaga keberanian, Bumipun mencoba.


" Ha-halo tante. Maaf ini Bu-Bumi." Jawabnya gelagapan. Seperti mengulangi saat pertama tadi. Aku melototinya sekali lagi.


" Cepat ngomong !" Bisikku greget.


"Tante... Bu-Bumi mau minta izin."


"Izin apa nak?" Tanya Mamak lembut.


" Boleh gak aku pinjam anak tante satu jam lagi? Ka-kami memang lagi ada acara sebentar. Jam sembilan kami sampai rumah." Bumi mengusap-usap dadanya yang deg-degan. Sejenak suara dari ujung telepon menghilang.


" Baiklah. Tapi jaga anak Mamak ya, selamat sampai rumah dalam keadaan baik. Oke?" Mamak memberi izin.


Apa? Mamak dengan mudahnya mengizinkan?


" O-Oke Mah. Makasih ya Mamah, eh maksudnya tante." Bumi bersorak pelan mengepalkan tangannya ke udara. Aku mengernyit melihat tingkahnya, kenapa dia bisa sesenang itu. Padahal saat bicara pada Mamak dia seperti laki-laki cupu yang mau ajak gebetannya main dan minta izin sama Mamak. Aduh ! Apa sih pikiranku kok melantur. Aku memukul-mukul kepalaku, tak sadar Bumi langsung memasang tampang senyum 'So Cool-nya'.


" Ayo kita naik bianglala." Ajaknya menarik tanganku setelah ia selesai menelepon Mamak. Akupun tak bisa menolak karena Mamak sudah mengizinkan.


"Tari..." Bumi memulai obrolan saat bianglala mulai naik.


"Iya." Mataku tertuju padanya.


" Apa kamu senang hari ini?" Tanyanya tersenyum fokus pada mataku. Aku yang juga menatapnya jadi sedikit salah tingkah.


"Aku... Aku sangat senang." Jawabku memalingkan wajahku ke arah luar jendela.


" Senang aja atau senang banget?" Tanyanya lagi. Senyumnya tak pernah pudar. Aku yang dari tadi di serbu senyuman semanis itu membuatku terpana dan seperti terkunci.


" Aaaa... Se-senang banget pastinya." jawabku tak boleh mengecewakannya.


" Makasih ya Tar. Hari ini kamu mau menghabiskan waktu bareng aku. Ya... Aku tahu sebenarnya mungkin kamu tidak begitu mau. Tapi aku tetap akan berterima kasih karena kamu sudah mau temenan sama aku."


Sejenak suasana menjadi sendu.


" Iya sama-sama. Kan semuanya juga kamu yang bayarin. Jadi aku juga sangat berterimakasih karena kamu gak malu temenan sama aku." Ucapku menunduk.


" Aku justru beruntung ketemu kamu. Cewek galak tapi sebenarnya baik."


" Apa ? Aku galak ?!" Aku melototinya tak terima.

__ADS_1


" Tuhkan. Kalau gak galak, gak mungkin reaksimu seperti itu. Hahaha..." Ledeknya tertawa.


Aku menarik sedikit rambut jambulnya. Ia kaget dengan respon cepatku. Ia berusaha minta ampun sambil tertawa seperti tidak bersungguh-sungguh.


Tak terasa pertengkaran sepele kami menyudahi kami dalam wahana bianglala itu. Pintu di buka petugas menyaksikan Aku sedang menarik rambutnya. Akhirnya dengan cepat aku melepaskannya.


" Baiklah kali ini kamu bisa lepas." Ucapku sambil turun keluar. Bumi mengikutinya sambil mengusap-usap rambutnya yang sedikit sakit terkena jambakan.


" Ayo kita pulang." Ajakku masih dengan mood yang jelek.


" Yah Cewek galak tambah ngambeknya deh." Goda Bumi mencoba menaikan mood-ku. Tertawa mengejeknya mulai lagi. Wajahku masih berpaling ke arah lain. Hari ini aku benar-benar sensitif.


" Ya udah kita pulang. Tapi maafin aku, cuma bercanda Tar." Ucapnya menyudahi tertawanya yang menghilang.


" Ya udah Ayo." Aku berjalan mendahuluinya menuju pintu keluar dari wahana. Wajahku masih di tekuk, di sampingku Bumi sudah mensejajari seperti mencuri-curi pandangan, dia terus mencoba menggodaku tapi aku tetap cuek.


Akhirnya diperjalanan kami saling diam, seperti orang marahan. Padahal perasaanku sendiri hanya sedang tidak ingin di ajak bercanda. Hanya saja aku malas harus mengungkapkannya pada Bumi. Aku selalu melihatnya dari kaca spion, wajahnya tidak tampak di tekuk, rona wajahnya malam ini menghangatkan.


' Ah harusnya aku lebih banyak terima kasih padanya. Dia bahkan sangat baik hari ini. Dari pagi dia mengantarku ke Rumah Sakit, mengantar Ibunya Dian, mengajakku naik wahana gratis, makan gratis. Aduh aku tak tahu di untung.' Gumamku dalam hati sambil menepuk jidatku.


Sesampainya di rumah, aku turun dari motornya. Bumi tampak diam saja, seperti membiarkan hatiku membaik dulu, mungkin tebakanku. Padahal suasana hatiku sudah sedikit membaik setelah pikiranku berkecamuk mengutuki diri sendiri saat di perjalanan.


Bumi tanpa turun lagi segera menyalakan motornya. Aku menahan lengannya. Ia menoleh ke arahku seperti bertanya ada apa.


" Bumi, makasih ya untuk hari ini. Tenaga, waktu dan uangmu sudah banyak dikeluarkan untukku. Aku juga minta maaf soal kejadian tadi, aku seharusnya tidak seperti itu. Maaf..." Ucapku pelan meraba perubahan wajahnya.


Ia membuka helmnya dan memberikan senyum tipisnya membuatku terpana berdiam seribu bahasa.


" Tidak apa-apa. Jangan membahas hal sepele tadi. Kita kan sahabat. Bukannya sahabat itu selalu jadi tempat bercanda dan bertengkar selamanya. Akrab sampai tak ingin terpisahkan." Suaranya sangat lembut namun menghangatkan.


Aku tersenyum membalasnya.


" Mulai malam ini aku naikkan level pertemanan kita jadi... SAHABAT !" ucapku bersemangat mengangkat jari kelingkingku ke arah wajahnya.


Ia menatapku lekat. Senyumnya tetap pada posisinya.


" Dari awal aku sudah menganggapmu sahabat. Tapi karena sekarang kamu yang meresmikannya, aku mau dengan senang hati. Hahaha..."


Kami saling tertawa. Kemudian jari kelingkingnya ia pautkan pada kelingkingku erat. Matanya masih tertuju padaku membuatku seperti di ajak melayang ke angkasa. Buru-buru aku menyadarkan khayalanku untuk tidak berbuat aneh.


"Ehm, Bumi. Sepertinya udah malam. Aku harus masuk." Ucapku mengakhiri suasana bahagia itu.


Iapun mengangguk dan menyalakan motornya.


" Mimpi indah Tari... Good Night" Ucapnya berlalu. Aku mengangguk senyum.


Ah, hatiku berdesir. Kepalaku ku pukul lagi. Jangan sampai kamu goyah Tari. Kamu dan Bumi Sahabat. Batinku menyadarkan sambil melangkah masuk ke rumah.


***

__ADS_1


Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.


SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH


__ADS_2