
" Selamat pagi Mentari..." Sapa Bumi tersenyum secerah matahari pagi.
"Bumi ? ayo masuk. Mau ikut sarapan denganku?"
" Gak perlu, makasih Tar. Aku duduk di sini aja. Aku juga udah sarapan." Tolak Bumi dengan halus.
" Oh, begitu. Baiklah. Tunggu sebentar." Ucapku kemudian berbalik menuju meja makan. Aku segera menghabiskan sarapan.
Selama beberapa hari dari sejak pertama kami berteman, Bumi memang selalu menjemputku berangkat bareng ke sekolah. Bahkan dia selalu lebih dulu menjemputku, sementara aku belum pernah menjemputnya lebih dulu. Yang sebenarnya terjadi, aku malu harus menyapanya ke rumah besarnya.
Setelah sarapanku selesai, aku pamit menyalami Ibu dan segera menemui Bumi yang sedang menunggu di depan.
"Ayo." Ajakku. Iapun bangkit dari duduknya.
Kami berangkat berjalan beriringan. Langkah kami cukup santai karena Bumi menjemputku cukup pagi.
" Tar... Sore ini kayaknya aku gak bisa ajak kamu main, soalnya aku lagi ada keperluan." Bumi memulai obrolan saat keluar gang rumahku.
"Gak apa-apa Bumi. Lagian juga aku emang lagi mau bantuin Mamak, lagi ada pesanan kue." Balasku tak mempermasalahkan.
"Bumi... Aku baru ingat kamu masih punya hutang sama aku."
Bumi menoleh mengernyitkan dahinya.
" Hutang apa?"
" Hutang jawaban. Gara-gara kemarin kita berdebat hal sepele, jadinya ngelupain hal yang aku tanyain."
Bumi tampak sedang mengingat-ingat pertanyaan kemarin, tapi sepertinya ia tidak ingat.
" Aku gak ingat Tar. emang apa?"
Huft ! Aku menghela nafas. Dasar laki-laki mudah sekali lupa.
" Aku kan nanya kemarin ' Siapa Liona ' ? Tanyaku geregetan.
" Oh... Liona." Jawabnya seperti malas menyebut namanya.
"Orang gak penting." Jawabnya pendek.
Aku menaikkan kedua alisku.
" Apa dia pacarmu ? Terus kamu lagi berantem sama dia, jadinya kamu menganggap dia orang gak penting ? Apalagi saat dia mengguyur tubuhku di depan semua teman dan kakak kelas mengataiku cewek murahan. Dia jelas sedang cemburu sama kamu." Tukasku menjelaskan.
__ADS_1
" Sejak kapan kamu jadi peramal Tar?" Tanyanya tersenyum usil.
Aku mengernyit.
" Udahlah jadi cowok harus tegas. Jangan suka berbelit-belit. Kasih tahu si Liona itu Aku sama kamu cuma sahabatan aja."
"Hey untuk apa?" Tanyanya menantangku.
" Ya aku gak mau terlibat urusan kalian." Jawabku memutar bola mataku.
" Hahaha... Tari.. Tari... Kamu lucu banget sih." Bumi tergelak. Aku hanya mematung melihat tingkahnya yang selalu senang menertawakanku. Bumi yang menyadari aku melototinya, tawanya ia paksa berhenti dan seperti ia mulai paham reaksi aku akan seperti apa.
" Tari... Dengarkan aku. Aku gak ada hubungan apa-apa dengan yang namanya Liona. Dia memang suka sama aku sejak masih sekolah menengah di Jakarta. Aku udah sering menjelaskan perasaanku padanya. Tapi ia tak pernah mau mendengar."
" Dia selalu melakukan segalanya, bahkan dia mendekati Mamihku untuk bisa mendekatiku. Ya, dia memang anak orang kaya. Ibunya seorang pengacara kondang. Pernah waktu dulu terjadi konflik perceraian antara Mamih dan Papihku melibatkan Mamanya Liona yang menangani kasus ini. Mamih menang dengan hak asuh aku dan kakakku. Akan tetapi sebagai bayaran, Liona meminta Mamanya untuk aku pacaran dengannya. Tapi aku kabur ke rumah temanku. Ah, tapi itu sebenarnya masa lalu. Aku malas membahasnya." Bumi menyudahi seperti enggan menjawab detail.
Aku yang konsentrasi mendengar sedikit penjelasannya merasa masa lalu Bumi cukup rumit. Apalagi ia sampai menyebut kalau ia keluarga broken home. Aku jadi tidak tega sebenarnya.
" Lanjutkan lagi Bumi..." Rengekku merajuk mencoba memfokuskan ceritanya tentang Liona.
" Udahlah. Intinya aku gak ada hubungan apa-apa sama dia." Tandasnya menekankan.
" Berarti Liona dan teman-temannya sampai kesekolah sini, mereka pindah cuma buat deket sama kamu?" Tanyaku membuat hipotesa.
Bumi menghela nafas berat.
Aku mengangguk tersenyum.
Huh ! Liona emang bukan cewek biasa. Dia anak orang kaya. Dia bahkan rela pindah demi dekat dengan Bumi. Lucu sekaligus merinding. Namun dalam hatiku yang paling dalam merasa firasat buruk akan datang jika aku dekat dengan Bumi. Aku hanya berdoa semoga tak ada kejadian buruk yang menimpaku.
Sampai obrolan kami tak terasa tiba di persimpangan jalan menuju gerbang. Seperti biasa aku lebih dulu berjalan mendahuluinya. Sementara ia lebih memilih berbelok ke warung. Entah teman-temannya seperti apa yang membuat Bumi betah di sana.
***
Saat jam istirahat tiba, semua murid berhamburan. Aku keluar kelas sendirian, biasanya bareng Dian. Karena ia masih menjaga Bapaknya yang di rawat, membuatku seperti tak punya teman.
Aku berjalan melewati lorong sekolah menuju kantin, dari arah jauh tampak para murid berkerumun di sebuah papan mading sekolah. Aku semakin penasaran mendekati mereka. Tatapan mereka tiba-tiba tertuju padaku dengan tatapan misterius.
' Mereka kenapa ? tiba-tiba jadi seperti hantu. Benar-benar menyeramkan.' Gumamku dalam hati.
Saat aku lebih mendekat ke mading, mereka secara sukarela membubarkan diri masih dengan tatapan sinis dan mengejek. Aku yang di buat bingung memilih masa bodo dan melihat apa yang di pajang di mading. Aku melihat di sebelah kiri papan mading menginformasikan kejuaraan lomba hari kartini minggu kemarin. Aku membaca bagian lomba puisi. Juara 1 namaku tercantum di situ, sementara kak Bintang yang ke-2. Mataku terbelalak. Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku tak menyangka mereka membiarkan aku yang picik ini juara.
Ah, pantas tatapan teman-temanku yang tadi seperti itu. Mereka juga tak rela aku juara dengan hasil curang.
__ADS_1
"Bin... Lihat Bin. Ada info menarik nih." Seorang laki-laki menarik kerah baju temannya menuju mading yang sebelah kanan.
"Mana. Lihat..." Suara temannya yang kerah bajunya di tarik. Aku mendengarnya seperti kenal suaranya. Lalu kepalaku menoleh ke arah mereka.
"Kak Bintang ?" Sapaku tersenyum ceria.
Kak Bintang hanya menatapku datar. Teman satunya lagi menggerak-gerak bahunya.
" Eh, liat Bin. Bocah yang nyapa lu mirip yang di foto ini. Hahaha..." Bisiknya sedikit keras. Mata kak Bintang langsung beralih yang di tunjuk temannya itu. Sejenak ia menatapku cukup lama dengan tampang datar dan seperti menahan amarah.
" Kak Bintang, kenapa kakak menatapku seperti itu?" Tanyaku pelan meraba ekspresinya.
" Aku tahu kakak kecewa dengan keputusan juri tentang lomba kemarin itu...Tapi..."
" Saya sudah tahu !" ucapnya menekan tiap kata-katanya. Tatapannya tak seperti dulu yang hangat dan bersahabat.
' Apa kak Bintang sampai sekecewa ini? Apa kak Bintang sangat marah padaku? Kemana Bumi yang katanya mau menjelaskan semuanya sama kak Bintang? Aku bisa memberikan hadiah dari sekolah untuk kak Bintang, aku rela. Ini kesalahpahaman. Kenapa dia menatapku seperti membenci luar biasa?'
" Kak..." Langkahku mendekatinya.
"Lihat ini !" Telunjuknya menekan kaca mading sampai berbunyi dan segera ia melangkah berlalu mengajak temannya.
Mataku membelalak melihat sikapnya yang di luar kendalinya. Suaranya seperti petir menggelegar membuat jantungku berdegup kencang.
Aku terpaku dalam kebisuan menatapnya menjauh dan hilang di antara lorong kelas. Lalu aku teringat dengan kata terakhir kak Bintang, aku langsung berbalik menoleh ke arah mading yang sebelah kanan. Beberapa foto sekitar tiga adegan membuatku melebarkan mataku dengan membulat sempurna.
"Apa-apaan ini? Kenapa... Kenapa fotoku dan Bumi di pajang disini ?! Ini gak seperti yang di foto ini." Seruku menutup mulutku. Dengan cepat aku langsung membuka kaca mading itu dan mengambil foto-foto yang di dalamnya ada aku dan Bumi. Foto-foto tersebut memperlihatkan aku dan Bumi sedang berciuman di taman belakang, kami berpelukan mesra. Aku merobek-robek isi foto itu. Langkahku langsung menuju ke kelas untuk menjelaskan pada teman-temanku. Tapi apa daya, di sepanjang lorong kelas seluruh murid melempariku dengan bola kertas. Mereka meneriakiku dengan sebutan ' Lont* '. Aku melindungi kepalaku dari lemparan mereka.
" Dasar lu lont* ! Sikap lu yang pendiam, tahu-tahunya lu lebih parah dari kita-kita." Ucap temanku yang waktu kemarin menyindirku saat ada Bumi ke kelas.
" Keluar lu dari sekolah ini !!!" Ucap yang lain di sambut teman yang lain.
" Kalau lu mau mesum, nyari tempat yang lain. Jangan di sekolah. B*go lu ! Huhhh
.."
.Satu lorong itu riuh menghujaniku berbagai hujatan yang di limpahkan padaku. Aku tetap membisu karena mau membelapun aku tak bisa. Hanya mampu mengeluarkan air mata terisak, aku keluar membawa tasku menuju gerbang.
Pak Satpam yang mencegatku bertanya, aku beralasan tak enak badan. Mataku sudah mengering dengan dada yang terasa sesak. Saat aku keluar gerbang, aku tak menemui Bumi di warung tempat biasanya. Aku terus berjalan gontai, menutup setengah wajahku dengan jilbabku.
" Mamak... Dian... Bumi... Apa kalian tahu sekarang aku seperti apa?" Isakku memecah di pinggir jalan yang di lewati berbagai kendaraan. Aku sudah tidak peduli, yang pasti aku tak akan pulang ke rumah dulu. Aku lebih baik bertemu Dian dan menceritakan semuanya.
***
__ADS_1
Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.
SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH