
Hari menjelang sore, aku melangkah keluar menuju teras depan rumahku. Rasanya sumpek jika harus berlama-lama di dalam kamar, apalagi kegiatan yang dilakukan hanya makan-tidur-bangun-makan lagi. Sebenarnya aku ingin cepat-cepat bisa masuk sekolah, tapi Mamak melarangku dan menasihatiku untuk tetap beristirahat sampai benar-benar pulih. Mamak tidak begitu curiga dengan perubahan wajahku yang cenderung lebih banyak murung. Mungkin menganggapnya aku sedang sakit saja. Ya memang itu salah satunya. Tapi rasa sakit yang didalam dada ini lebih hebat daripada merasakan sakit di badan.
Di sore ini, aku menikmati secangkir teh hangat manis yang di buatkan Mamak, agar membuat perutku menjadi lebih nyaman dan sirkulasi di hidung juga jadi tidak terlalu tersumbat. Mataku di fokuskan mengarah ke pintu pagar depan. Ada seseorang sedang ku tunggu datang ke rumahku. Tapi sosoknya tak kunjung menunjukkan keberadaannya.
Petang sudah menunjukkan jati dirinya memperlihatkan matahari semakin tenggelam. Sebentar lagi Maghrib tiba tapi seorang Bumi tak kunjung ada. Raut wajahku mulai menampakkan segaris kekecewaan.
Dia tidak datang !
Ah, mungkin dia sedang ada kegiatan tambahan di sekolah atau mungkin sedang berjalan ke arah sini ? Aku harus tetap menunggunya dan menambah kekuatan rasa sabarku.
" Tari... Kenapa kamu masih di luar Nak? Ayo masuk. Langit sudah mulai gelap." Tiba-tiba Mamak sudah berdiri di pintu yang dari tadi sengaja terbuka lebar.
" Mak... Sebentar lagi ya. Aku lagi nyari udara segar. Di dalam aku sangat bosan." Ucapku merajuk.
" Siapa yang sedang kamu tunggu? Si Bumi itu?" Tanya Mamak menelisik membuatku sedikit tersentak.
" Ah, eng-enggak Mak. Aku emang lagi... Nyari udara segar aja. Biar aku cepat pulih." Dalihku memutar bola mataku ke kanan.
" Kalau gak ada yang di tunggu lebih baik masuk. Makan malam udah Mamak siapin. Ayo..." Ajak Mamak membuatku terdiam mematung. Kakiku tiba-tiba sulit di gerakkan sampai Mamak mengajakku yang kedua kalinya. Baru saja beberapa langkah suara seseorang yang ku kenal memanggilku dari arah pintu pagar. Aku menoleh ke arah suara itu, benar saja sosok Bumi sedang berdiri sambil melempar senyum khasnya padaku.
Senyum tersungging di bibirku yang melebar memperlihatkan deretan gigiku, aku menatap seseorang yang sejak sore tadi di tunggu. Kini Bumi berada satu meja denganku dan Mamak. Kami makan malam bersama setelah aku mempersilahkannya masuk dan Mamak merayunya untuk makan bersama. Walau sedikit di paksa akhirnya ia bersedia juga. Ini pertama kalinya Bumi masuk ke dalam rumahku dan makan bersama keluarga kecilku. Sikapnya cukup malu-malu kalau berhadapan dengan Mamak, tapi kalau denganku seakan tak ada pembatas bahkan ia sangat jahil padaku.
Malam ini tubuhku seperti mendapat aliran energi positif. Rasa sakit badan dan hati yang sejak dari semalam ku rutuki, sedikit lebih ringan setelah sosok Bumi berada di dekatku.
" Nak Bumi, kedepannya kamu gak usah sungkan dan malu sama Ibu. Anggap kesini seperti rumah sendiri. Di sini Ibu sangat senang kalau ada kedatangan tamu. Tari juga sangat senang begitu melihat kamu muncul di pagar tadi." Ucap Mamak sambil tertawa di ujung kalimatnya seolah mencoba meledekku.
" Ih apaan sih Mak. Jangan suka gitu. Aku sama Bumi kan sahabatan. Jadi wajar kalau sahabatnya datang menjenguk membuatku sedikit terhibur." Balasku memotong Mamak yang mulai kelewatan.
Aku melihat raut wajah Bumi tampak menerima ucapan Mamak dengan mengangguk-angguk tersenyum. Sementara mukaku seperti kacang rebus yang siap di kuliti.
" Nak Bumi, Ibu sih berharap Nak Bumi bisa tetap sahabatan sama Tari sampai kalian dewasa. Nanti kalau kalian udah waktunya tiba, Ibu insyaAllah merestui kalian." Imbuh Mamak tak kuat menahan tawa.
__ADS_1
" Mak, di meja makan harusnya cukup diam. Dan makan aja dulu, jangan ngobrol kemana-kemana." Tandasku mengingatkan. Mamak hanya meminta maaf namun tak bisa menarik kata-katanya lagi. Walaupun itu hanya bercanda, tapi mau di kemanakan mukaku setelah ini di hadapan Bumi.
Selesainya kami makan malam, Bumi mengajakku ke teras rumah. Seperti biasa dia duduk di kursi favoritnya, sementara aku duduk di kursi dekat pintu.
" Gimana kondisi kamu, mendingan ?" Tanyanya memulai.
" Iya lumayan." Jawabku pendek. Pikiranku sebenarnya sedang mencari-cari kalimat yang pas untuk menyampaikan padanya soal kejadian tadi, kalau ucapan Mamak yang tak perlu di ambil pusing, dan aku juga memulainya gimana untuk menceritakan kejadian di sekolah.
Sejenak aku baru mengingatnya, kalau Bumi tadi berangkat ke sekolah. Tadi gimana ya Bumi di sekolah, apa yang terjadi ? Apakah mereka memperlakukan Bumi sama sepertiku? Pikiranku terus berputar-putar disitu.
" Tar..."
Aku terbelalak sadar atas lamunanku.
" Apa yang kamu pikirin?" Tanya Bumi serius menatapku.
" Eng-enggak kok Bumi. Aku gak mikirin apa-apa." Jawabku tersenyum ketir.
" Ma-maaf Bumi. Ap-apa kamu tadi di sekolah mendapat perlakuan aneh dari teman-temanmu?" Tanyaku langsung memfokuskan ke masalah yang ku hadapi. Ia mengernyit lalu memutar bola matanya seperti sedang mengingat kejadian di sekolah.
" Aku merasa baik-baik aja. Teman-teman nongkrongku gak ada yang aneh-aneh."
" Kamu serius?"
Ia mengangguk.
" Ya... aku emang hari ini cuma datang absen aja. Selebihnya aku nongkrong di tempat biasa. Kan kamu tahu gimana aku." Imbuhnya seperti tanpa beban.
" Emangnya ada apa di sekolah?" Bumi balik tanya.
" Um... Sebenarnya..." Ucapku sedikit ragu. Lalu sejenak aku menghela nafas, dan akupun memantapkan diri cerita sesungguhnya tentang kejadian kemarin yang membuat mata Bumi membulat dengan sempurna. Aku melihat raut wajahnya memerah seperti menahan emosi.
__ADS_1
" Bu-Bumi... Kamu harus tenang dulu. Aku cerita ke kamu bukan untuk membuat pikiranmu jadi buntu. Aku gak tahu ini ulah siapa. Kita di sini jadi korban orang yang menjebak kita. Sebenarnya... Ada hal yang cukup mengganjal di pikiranku."
" Apa itu?" Potong Bumi penuh tekanan.
" Aku inikan di sekolah emang murid pendiam. Aku sadar juga aku jelek dan anak dari orang biasa. Tapi kenapa ada orang yang tega berbuat jahat sama aku. Salah aku apa sama orang itu?"
Bumi tampak tangan kanannya menopang dagunya di atas pegangan kursi. Matanya memandang kosong ke arah lain namun seperti sedang berpikir keras. Kami saling membisu sejenak suasana menjadi hening.
"Bumi..." Panggilku menyentuh lengannya. Ia hanya mendelik mengarahkan matanya ke wajahku.
" Aku tahu siapa orangnya. Pasti ini ulahnya." Ucapnya melepas topangan dagunya dan ia bangkit dari duduknya.
" Kamu mau kemana?" Tanyaku mendongak.
" Aku mau ketemu orang itu !" Jawabnya melangkah ke arah pintu pagar.
" Siapa Bumi?" Tanyaku menyeru.
" Nanti akan ku beritahu kalau sudah pasti. Kamu tenang aja. Jangan khawatir." Balasnya sambil memakai helmnya.
" Istirahatlah yang benar. Cepat sehat." Imbuhnya kemudian berlalu.
Aku menatapnya berlalu menghilang dari gang membuatku cukup menghela nafas.
Ya, semoga apa yang di katakan Bumi benar orang yang ia maksud. Sebelum ini menyebar luas, memang harus segera di selesaikan. Jangan sampai berita bohong ini menyebar sampai ke guru sekolah. Apalagi sampai melibatkan Mamak. Aku gak mau ini jadi mimpi burukku sepanjang hidupku.
^
Aku memejamkan mata membuang semua pikiran hal terburukku. Aku harus tenang dan ingat pesan Bumi terakhir. Aku harus istirahat yang benar dan cepat sehat kembali. Semangat dan Selamat tidur Bumi !
***
__ADS_1