Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Kue merah jambu


__ADS_3

"Tari, tolong kamu antarin kue ini ke rumah seberang ya,nomor rumah A-20. Ini nota tagihannya. Tolong jaga sikap, ucapkan salam" pesan mamak menyodorkan satu bungkus plastik besar warna hitam. Di dalamnya terdapat dua tumpuk kotakĀ  besar berisi kue buatan mamak.


"Iya mak. Siap." Jawabku sambil berlalu keluar.


Pukul 07.00 malam, di luar ada beberapa orang berjalan dan kendaraan lalu lalang. Aku cukup jalan kaki keluar gang menuju jalan besar. Karena jaraknya tidak jauh dari gang rumahku, di seberang jalan banyak perumahan mewah beruntun. Lebih banyak yang bertingkat dua atau tiga, tergantung luas tanah bangunan yang di beli dari pihak developer. Kalau rumahku termasuk rumah lama desain sendiri. Model sederhana hanya satu lantai dasar. Rumah lama yang tinggal lebih dulu bersama rumah-rumah lain yang berderet satu barisan denganku.


Di gang ini, rumahku hampir di apit di antara rumah-rumah elit. Karena daerah ini memang sudah di sulap menjadi kota metropolitan. Tinggallah kami beberapa rumah, kaum kaum miskin yang masih mempertahankan tanah dan tempat tinggal kami disini.


Rumah kami hampir tidak terlihat. Syukur kami tidak terkena gusuran orang-orang berduit. Beberapa tetanggaku dulu sudah pergi karena terkena gusuran, dan mereka mendapat kompensasi dari orang-orang berduit itu. Tapi syukurnya untuk jalanan, daerahku tidak seperti Jakarta, Yang jalanannya penuh dengan kemacetan. Di sini masih lancar-lancar saja.


Aku menyeberang jalan menuju arah rumah yang di tuju. Aku mencari nomor A-20. Tak berselang lama, aku menemukan rumah tersebut.


Aku terpaku.


'Ups ! Kenapa nomor rumah ini mengarah ke rumah yang di tunjuk si laki-laki menyebalkan?apa aku tidak salah rumah?' gumamku dalam hati. Tanpa pikir panjang aku mencoba menekan bel rumah tersebut.


Ting tong ting tong


"Permisi...."


"Assalamu'alaikum..." panggilku sedikit teriak menunggu pemilik rumah keluar.


Tak lama dari dalam rumah itu, keluarlah seorang ibu-ibu berdaster kisaran hampir 50 tahunan, tapi wajahnya masih sedikit lebih muda daripada ibuku. Lalu ibu itu Membuka kunci gembok pagar menyapaku.


"Kue dari bu Minarsih ya?"tanyanya tersenyum memastikan.


"Iya bu." Aku mengangguk tersenyum, sambil menyodorkan bungkusan plastik dan nota tagihan.


"Kamu anaknya ya ?" Tanyanya lagi.


Aku mengangguk. "Wahh terimakasih ya nak. Ini uangnya" lanjut ibu itu menyerahkan sejumlah uang sesuai nota. Aku


menerimanya dengan senang hati.


"Kalau begitu saya pamit pulang bu, jangan lupa untuk terus berlangganan kue ibuku." pamitku sekaligus menawarkan lagi.


"Itu pasti nak, kue buatan ibumu sangaatt enakk." jawabnya penuh penekanan sambil tersenyum.


Aku balas tersenyum juga.

__ADS_1


"Terimakasih untuk pujiannya bu, semoga ibu puas. Kalau begitu saya pamit sekali lagi, Permisi..." pamitku sopan, undur dari rumah itu.


Ibu itu mengangguk tersenyum lalu membalik badan masuk ke rumahnya.


Aku menyeberang jalan lalu aku menoleh sebentar ke arah rumah berlantai dua itu. 'Apa benar si laki-laki menyebalkan itu tinggal disitu?'gumamku dalam hati.


'Ah ! Kenapa tiba-tiba pikiranku tertuju kesana? Urusannya apa aku sama dia ?! Mau dia benar tidaknya tinggal disitu, kenapa aku harus peduli ?!'


tiba-tiba pikiranku normal lagi. Aku hempaskan hal-hal yang tidak penting tadi. Aku melanjutkan langkahku menuju rumah.


(tanpa tari sadari, ada seseorang di balik jendela rumah itu yang memperhatikannya dari kejauhan. Ia hanya tersenyum menyungging). Author ikut tersenyum.


****


Sesampainya dirumah, aku ke dapur menyerahkan uang pembayaran dari langganan mamakku. Lalu aku langsung menuju kamarku.


Kurebahkan tubuhku dikasur minimalis, lalu mataku menghadap ke langit-langit. Aku mengingat kejadian tadi pagi. Hari yang sial dan menyebalkan. Gara-gara kesiangan, akhirnya harus di hukum. Di tambah lagi ketemu laki-laki sok akrab, menggangguku di sekolah sampai di rumah sore tadi.


Pak ismail memang kejam. Kaki ku sampai pegal harus jalan jongkok sambil tangan menjewer telinga. Berjalan sekitar 50 meter dari gerbang menuju barisan teman-teman, dan kakak kelas yang selesai upacara. Aku melihat ke sekeliling, mereka melihat kami dengan tertawa kecil. Itu membuatku malu.


Aku sadar di antara deretan kakak kelas, ada seseorang yang aku suka sejak lama. Aku menyukai ketampanannya, kepribadiannya dan kecerdasannya. Namanya BINTANG MAULANA IBRAHIM. Ia kakak kelasku dari sejak SMP. Saat aku masuk SMA, aku bertemu dengannya lagi. Sekarang dia kelas XII. Sebentar lagi dia lulus, sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian akhir sekolah.


aku memandang langit dengan seksama menerawang pikiran dalam balutan pertanyaan. 'Kapan ya kak Bintang akan melirikku? kapan dia bisa merasakan kalau aku sudah menyukainya sejak lama?' aku selalu tersenyum getir kalau mengingat dia pernah menerima buku yang ku pinjamkan, Buku itu dari perpustakaan yang berisi motivasi hidup. Dia menerimanya dengan tersenyum. Selang hari dari situ, aku berjumpa dengannya di depan mushola, dia menyapaku setelah sholat dzuhur. Lalu dia memulai pembicaraan "Buku yang kamu kasih itu udah kakak baca. Isinya bagus ya. bikin semangat hidup ! kita jadi tahu bagaimana menentukan arah jalan hidup kita !" Ia memulai menyampaikannya dengan semangat berapi-api.


Aku tersenyum mendengarkan, ia memberikan ulasan buku yang ku beri waktu itu. Ya walaupun itu pinjaman dari perpustakaan.


"Kakak sekarang mulai sadar bagaimana menjalani hidup ini. Makasih ya tar" lanjutnya tersenyum. Matanya berbinar membuat hatiku ketar-ketir.


Wajah gembiramu indah kak, seperti namamu. Aku memujimu dalam hati.


Aaahh... aku menelengkupkan wajahku di bantal guling yang ku peluk erat. Kak Bintang mengajakku bicara seperti itu saja, membuat jantungku loncat kesana kemari. Segitu saja, aku berusaha mencoba menutupi salah tingkahku. Rasanya ingin banyak sekali kejadian interaksi bareng kak Bintang. Entah kapan itu, aku tidak bisa memastikan. Hanya mimpi.


drrrtt... drrttt... tiba-tiba hp-ku menyala.


Aku terbangun mencari hpku. Ku dengar asal suara dari arah meja belajarku. Aku bangkit dari rebahanku, lalu aku mengambil hp yang tergeletak di meja.


Aku membuka kunci pola hp-ku, kulihat ada satu pesan masuk dari Dian. huh ! paling cuma nanya-nanya gak jelas. biasalah sama-sama jomblo. jadi nyari kesibukan biar gak bosan. biar hp gak kayak kuburan aja. Aku membukanya, ku baca isinya


Tari, jangan lupa naskah puisi, cepet buat. katanya mau ikut lomba bareng ka Bintang. nanti aku bikinin juara 1 dan 2 nya antara kamu dan kak Bintang. haha

__ADS_1


Ish, dian apaan sih. mengingatkan tapi selalu iseng sangkut pautin ke kak Bintang.


oke. nanti aku pikirin dulu puisinya mau kayak gimana. tapi kamu jangan nyangkut pautin soal ka bintang dong ! entar kamu keceplosan lagi pas acaranya. Aku membalasnya.


oiya satu lagi ! biarkan siapapun yang juara. jangan main curang. walaupun kamu panitianya. Aku mengirimkan satu balasan lagi bernada peringatan.


wkwk...Aku becanda tar ! kamunya aja yang terlalu berharap juara bareng kakak tercintamu. hahaha... balasnya mengejek.


Dian memang suka sedikit menyebalkan. Dia sahabat yang mau membantu tapi sekaligus menjatuhkan. Udahlah, aku tak membalas pesannya lagi. Aku letakkan hp-ku di tempat semula, aku berbalik badan menuju tempat tidurku.


Tak berselang lama notif pesan masuk berbunyi lagi. Langkahku terhenti.


'pasti si dian mulai lagi deh lanjutin ngejek aku.' pikirku, aku mengabaikannya.


Kududukan pantatku di kasur, tiba-tiba hp di atas meja berdering melantunkan lagu beberapa detik. Aku terbangun, berjalan menyambar hp di meja.


Nomor baru? siapa ya, rasa penasaranku menebak-nebak. belum juga mau di angkat, panggilan tersebut berhenti. Aku buka ke menu hp. muncul satu pesan masuk di layar dari nomor tersebut.


Aku membukanya. dahiku mengernyit membaca pesan itu.


Selamat malam cewek galak... Tadi aku cicip kue buatan ibumu. lumayan enak. hehe


otakku berpikir sejenak.


'jadi benar si laki-laki menyebalkan itu tinggal di rumah itu? terus kenapa dia tahu nomorku? dari siapa dia dapatkan?'


"ishhh... kenapa dia mulai mengganggu pikiran dan aktifitasku ?!" gerutuku menggenggam hp dengan greget.


"dia sebenarnya kelas berapa sih ?! terus ngapain coba ganggu-ganggu hidup aku!"


eh, kenapa aku terus membicarakan dia. Aku memukul kepalaku untuk sadar.


Ayolah Tariiii... kamu jangan sampai teralihkan dari kak Bintang. Fokus, fokus, fokus ! aku mencegah memikirkan hal-hal yang menghalangi tujuanku.


Aku menghela napas sembarang. aku merebahkan tubuhku kembali di tempat tidur. ku pejamkan mataku untuk istirahat. Besok masuk sekolah jangan sampai kesiangan lagi. tekadku.


***


Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH


__ADS_2