
" Boleh aku duduk di meja ini?" Pinta Liona memandang wajahku dan Luna bergantian. Aku hanya membisu menunggu reaksi Luna. Aku bisa melihat Luna tampak kurang nyaman, namun aku tak bisa lancang memutuskan bergabung tidaknya Liona, apalagi ini adalah kafe milik Luna.
" Baiklah, mungkin aku mengganggu kalian. Sebaiknya aku duduk di meja lain." Liona tersenyum kecut. Tubuhnya berbalik mencari meja yang masih kosong. Baru saja Liona melangkah, tangannya tertahan oleh Luna yang mencegahnya.
" Kamu bisa bergabung dengan kami !" Ucapnya dingin menoleh ke arah jendela. Dengan cepat Liona menarik salah satu kursi yang masih kosong dari meja sebelah dan duduk di antara kami.
" Terimakasih." Ucapnya senyum palsu. Aku hanya menunduk, melanjutkan makanku.
" Oh,iya aku lupa belum pesan makanan. Pelayan..." Liona tampak memanggil seorang pelayan perempuan mendekat. Ia mulai memesan beberapa makanan, dan pesanannyapun hampir memenuhi meja kami.
" Kak Luna, aku baru melihatmu minggu-minggu ini, sekarang kamu sudah berani datang kesini lagi rupanya, apa kamu sudah membuat kesepakatan?" Liona menoleh ke arah Luna yang sedang menikmati makanannya. Hampir saja membuatnya tersedak namun segera ia telan dengan air minumnya.
" Berhenti memanggilku kakak !" Seru Luna menekan.
Aku sangat terkejut dengan jawaban cepat Luna. Ada apa ini? Apa mereka bersaudara?
" Jangan ikut campur urusan keluargaku ! Kalau kamu masih mau makan satu meja denganku, jangan memancing emosiku."
Liona menutup mulutnya dengan satu tangannya mendengar reaksi Luna yang di luar biasanya.
" Maaf, maaf... Aku gak bermaksud mencampuri urusanmu, cuma aku berpikir mungkin Ibumu akan mengurungmu lagi."
Aku dan Luna menoleh bersamaan ke arahnya dengan tatapan tajam. Tingkah Liona yang santai seolah tak menanggapi sikap kami yang tidak senang keberadaannya. Bagaimana dia baru saja duduk bergabung dan melemparkan pertanyaan yang mungkin menyinggung privasi Luna. Bahkan di situ aku tidak mengerti situasi semacam apa ini, Liona seperti salah menempatkan diri di tempat itu dengan berbicara tanpa otak memancing emosi Luna.
" Tari... Ayo kita pulang ! Selera makanku udah hilang." Luna menatapku dan ia bangkit dari kursinya. Akupun mengikutinya bangkit dengan pikiran yang membingungkan.
" Hey, tunggu... Aku baru gabung makan dengan kalian. Duduklah kak Lun... Um maksudku Luna dan...kamu" Liona menunjuk diriku dengan matanya, nada suaranya menjadi menekan saat di akhir kalimatnya.
" Jangan terlalu sensitif lah, aku hanya memperingatkanmu untuk berhati-hati disini. Kamu harus paham gimana Ibumu cukup keras kepala."
" Aku bisa menjaga diriku dengan baik. Dan jangan sok peduli denganku ! Kamu tidak ada urusan di keluargaku."
" Baiklah, kita lihat aja nanti gimana aku berpengaruhnya di keluargamu." Balas Liona menyunggingkan senyum di satu ujung bibirnya.
__ADS_1
Tanpa membalas lagi, Luna seperti tidak ingin berdebat ia melangkah pergi dengan emosi yang bergumul di dadanya. Aku yang di tinggalkan di meja itu bersama Liona si perempuan menyeramkan membuatku menyusul tubuh Luna yang sudah keluar kafe.
" Jangan pernah mencoba ambil apa yang udah jadi milik gue, cewek jelek !" Liona menahan tanganku dengan menatapku tajam seperti pembunuh. Aku mengkerut menatapnya melepaskan cengkramannya dan beringsut segera keluar menemui Luna.
Apa yang terjadi di antara mereka? Aku tidak mengerti maksud ucapan Liona. Dan sebenarnya di meja itu aku hanya jadi penonton tapi aku tidak mengerti aku sedang menonton apa. Mereka seperti tampak bermusuhan sejak lama. Apa mereka saudara, teman, atau memang benar musuh, aku tidak tahu.
Di perjalanan pulang, Luna tampak membisu melihat ke luar jendela mobil. Aku ingin bertanya apa yang terjadi dan mengharap penjelasan dari Luna sepertinya kurang pantas untuk saat ini, mengingat bagaimana wajahnya penuh emosi saat bersama Liona di kafe itu. Untuk saat ini aku cukup diam dulu sampai emosinya menguap, dan mungkin di lain waktu aku akan menanyakannya.
" Apa rumahmu ada di dekat jalan saat aku menabrakmu?" Luna memulai percakapan membelah di tengah kesunyian tadi. Wajahnya tetap fokus ke arah kaca jendela mobil.
" I-iya." Jawabku pelan.
" Bisakah aku menginap di tempatmu malam ini?"
" Maaf bukannya aku lancang, tapi aku mohon untuk malam ini aja. Aku gak bisa kalau harus pulang. Apalagi setelah bertemu dengan orang tadi." Jawabnya lirih mulai menolehku.
" Tap-tapi... Besok hari terakhirmu ujian. Sekolahmu di jakarta. Gimana bisa sampai ke sekolahmu kalau kamu tidur di rumahku."
" Maksudmu?" Tanyaku curiga.
" Aku hanya memohon padamu untuk kali ini aja Tar. Kalau kamu gak izinin juga aku gak akan maksa kamu, tapi mungkin kita akan sulit ketemu lagi. Bahkan tak akan ada lagi kesempatan. Tolong Tar... Please..." Imbuhnya menyentuh tanganku. Tatapan permohonannya seakan dalam. Tapi aku tidak bisa menyentuh urusan pribadinya saat ini.
" Suatu saat aku akan cerita masalahku sebenarnya." Sejenak aku menghela nafas dalam. Aku memperhatikan matanya lekat-lekat. Matanya yang sendu membuatku merasa bahwa hidupnya seperti sedang terancam dan menyedihkan.
" Iya. Aku izinin." Jawabku lirih. Tiba-tiba wajah di hadapanku yang layu berubah tampak senyum terkembang di bibirnya.
" Makasih Tar... Aku janji kita akan selalu berteman baik dan aku akan bantu kamu saat kamu lagi kesulitan juga." Luna memelukku menggerak-gerakkan tubuhku. Aku segera melepaskannya karena terasa napasku terhambat.
" Ah maaf-maaf Tar aku terlalu senang. Hehe..."
Aku mengangguk tersenyum menepuk bahunya.
" Pak, tolong jangan bilang sama Papih kalau saya menginap di rumah teman ya Pak, sampaikan saja saya ada di apartemen biasa. Satu lagi jemput saya besok jam 5 subuh ke rumah teman saya ini, saya akan berangkat kesekolah."
__ADS_1
" Baik Non." Balas Pak Sopirnya Luna.
***
Akhirnya kami tiba juga di rumahku yang sederhana, Pak Sopir cukup lihai melewati gang sempit jalan rumahku. Walaupun aku sudah tahu ban mobilnya sedikit keluar dari jalan gang dan hampir masuk ke selokan. Kami berdua turun membuka pintu pagar rumahku, sementara Pak Sopir langsung memundurkan mobilnya keluar gang dengan hati-hati mulai membelok mobil menuju jalan utama dan hilang.
" Maaf rumahku seperti ini." Ucapku memecah perhatian Luna yang mematung menatap rumahku.
" Eh, gak apa. Aku senang kamu bersedia ngasih aku penginapan gratis." Balasnya berseru.
" Apa kamu punya saudara yang lain di rumahmu ini? Selain Mamakmu?" Tanya Luna setelah aku memperkenalkannya ke Mamak dan menceritakan maksud Luna datang kesini. Mamak juga mengizinkannya untuk menginap. Aku membuka seragamku dan mengganti bajuku dengan baju santai.
" Aku anak tunggal. Dan hanya Mamak lah satu-satunya keluargaku disini. Saudara dari Bapakku lebih banyak di kampung masih satu provinsi di sini, hanya beda daerahnya. Tapi mereka sudah tua-tua. Aku terakhir kesana saat umurku sembilan tahun. Dan sampai hari ini kami tidak pernah kesana lagi. Karena rumah Mamak ini saja satu-satunya tempatku pulang. Makanya tidak ada kata mudik. Mamakku juga dulu sudah anak yatim piatu yang di titipkan ke tetangganya. Aku gak tahu pasti sih kejadiannya. Karena itu cerita lama Mamakku." Paparku mulai terbuka dengan Luna. Ia hanya mengangguk-angguk.
" Gimana dengan kamu? Keluargamu." Aku mencoba mengorek tentang keluarganya setelah apa yang terjadi dari maksud ucapan Liona tadi sore. Itu membuatku penasaran. Luna terdiam dan wajahnya mulai berubah layu. Aku menyadari ucapanku mungkin salah saat tampak ia menunduk diam memeluk lututnya di atas kasurku. Aku mendekatinya berhadapan.
" Maaf, kalau membuatmu tak nyaman. Jangan di teruskan. Aku tidak ingin tahu lagi jika kamu belum mau cerita."
Ia tersenyum ketir.
" Aku lagi malas membahas keluargaku. Yang pasti kamu sudah bisa menebaknya. Keluargaku hancur. Hanya adikku satu-satunya yang ku harapkan bisa membelaku dan melindungiku."
Aku mengangguk menyudahi untuk tak bertanya lebih jauh.
" Kalau gitu ayo kita istirahat."
" Aku mau numpang mandi Tar." Ucapnya kemudian.
" Silahkan. Ada Mamakku di dapur lagi buat kue pesanan.
" Kalau gitu kamu duluan aja ya tidurnya." Luna bangkit keluar kamar setelah aku menyetujuinya.
***
__ADS_1