
Luna ini cantik, seperti orang berada juga. Apa aku tidak salah dengar kenapa dia dengan mudahnya ingin berteman denganku ?
" Apa kamu tidak buta mau berteman denganku?" Tanyaku kemudian.
"Hah ? Apa maksudnya? Mataku masih sehat-sehat aja nih. Emangnya kamu gak mau jadi teman aku?" Tanyanya menodong dengan wajahnya.
" Eh, bukan itu maksudku, kita kan baru kenal hari ini, tapi kamu dengan mudahnya ingin berteman denganku. Maaf aku ini kadang suka gak percaya diri. Hehe..."
" Hey, jadi orang harus percaya diri. Karena kalau kita gak percaya diri, orang lain akan sengaja menguasai diri kita dan menginjak kita. Aku emang ingin berteman sama kamu, karena aku yakin kamu orang baik. Lagipula aku di sini belum banyak teman." Ucapnya.
" Emang kamu orang mana?" Aku mulai penasaran.
" Aku... Aku..." Dia seakan sedang berpikir.
" Sebenanya aku asli dari jakarta, tapi selama setahun kemarin aku tinggal di Bandung dan sekolah di sana. Dan bulan ini aku baru kesini, karena pengen ketemu adikku."
" Oh gitu, terus sekarang kamu tinggal di mana?"
" Aku sekarang di jakarta meneruskan sekolahku di sana. Aku juga sering seminggu sekali datang ke sekolah ini !"
"Oya? Tapi kok aku belum pernah lihat kamu."
" Ya karena aku sering kesininya di luar aja. Hehe,,, ketemu sama pacarku." Bisiknya di akhir kalimat.
" Oh gitu." Aku mengangguk-angguk kepala. Sekarang aku mulai tahu sedikit tentang dirinya. Luna ini memang gadis yang supel dan terbuka, dia tidak sungkan cerita tentang dirinya.
Walaupun aku baru bertemu hari ini, rasanya obrolan kami sudah cukup banyak. Dia juga menanyakan tentang diriku, tapi aku memang menjawab seperlunya saja, dalam diriku selalu memberikan batasan yang memang tidak harus semuanya di ceritakan. Sementara Luna lebih dominan bercerita apapun tentang dirinya, aku hanya mendengarkannya. Aku mengamati bagaimana dia berbicara, dia sangat lihai dalam berkomunikasi, dari pertama bahkan dia tidak canggung.
Entah kenapa perempuan yang di sampingku ini mudah sekali mengakrabkan diri dengan orang yang baru di kenalnya. Aku seperti melihat sifat mudah bergaulnya ini seperti teringat sosok Bumi. Dia juga persis seperti Bumi dari garis wajahnya ketika tersenyum.
Eh, kenapa aku jadi teringat dia dan memiripkannya? Otakku selalu ngawur.
Tak terasa waktu sudah semakin sore, karena terlalu asyik mengobrol sambil makan kami jadi lupa waktu. Akhirnya kami mulai berpisah saat hp-nya berdering dan dia harus pulang. Tak lupa dia mengingatkanku untuk menyimpan nomornya. Aku meng-iyakannya. Dan akupun segera pulang ke rumah.
***
Sesampainya di rumah, aku merebahkan tubuhku yang butuh istirahat. Sore ini aku ingin tidur, mengingatkan pesan untuk Mamak : jangan menggangguku dulu, begitu kertas yang ku tulis di depan pintu.
Aku tidak bisa melawan kantukku, akupun tertidur pulas sampai malam.
Drrrttt.... Drrtt...
__ADS_1
" Aduh siapa yang mengganggu tidurku?" Gerutuku mendengar sumber suara benda itu. Aku terbangun menggeliat mencari bunyi hp-ku. Benda itu berdering berulang-ulang sampai aku menemukannya di tas sekolah.
" Halo?" Sapaku.
" Hai... Tari... Ini aku Luna. Maaf mengganggumu. Apa kamu tak keberatan aku meneleponmu?"
Aku sedikit terperanjat mengetahui Luna sudah menghubungiku lagi.
" Eh, maaf. Ya aku tidak keberatan. Ada apa Lun?"
" Lusa aku ingin mengajakmu main ke kafeku. Bisakah?"
" Ap-apa?" Dia umurnya yang masih 18 tahun sudah memiliki kafe? Berarti dia termasuk orang yang berada dan pintar punya usaha juga.
" Halo Tari? Kamu mendengarku?"
" Eh iya. Aku mendengar kok. Gimana ya?" Aku mulai berpikir caranya menolak karena gak enak hati. Ini terlalu cepat sebagai pertemanan.
" Ayolah... Jangan sungkan. Lusa aku jemput di warung biasa. Kamu tak boleh menolakku. Oke ! tanda diam berarti setuju. Sampai jumpa Tari..." Tut. Panggilan di akhiri sepihak olehnya.
Luna begitu cepat melakukan kesepakatan tanpa aku berpikir dulu. Akhirnya aku hanya pasrah. Memang seperti itulah Luna. Aku merebahkan tubuhku melanjutkan tidurku. Esok aku harus sekolah lagi.
***
Luna menjemputku hari ini sesuai janji, aku ikut masuk menaiki mobilnya. Sebenarnya aku tak terlalu suka berteman dengan orang-orang yang kastanya lebih tinggi dariku. Melihat Luna yang berada membuatku menciut, bagaimana bisa seorang Tari harus berteman dengan seorang Luna, untuk seorang Bumi saja, kami lebih nyaman bermain di luar sekolah. Dan yang membuatku tak sungkan menerima Bumi karena dia tak pernah menunjukkan seperti orang kaya. Dia selalu menyeimbangkan bagaimana aku berpakaian dan cara bergaulku.
Aku jadi kangen Bumi.
" Kita sudah sampai..." Luna menyeruku ceria. Ia membuka pintu mobil dan mengajakku keluar. Aku terperangah, terlalu banyak melamun, ternyata sudah sampai di tempat tujuan.
" Lho kafe ini?" Tanyaku mendongak ke atas nama kafe itu dan bagaimana dekorasi kafe itu.
" Apa kamu sering kesini?" Luna penasaran.
" Ah, enggak. Aku... Aku... Cuma ingat temanku pernah mengajakku kesini." Balasku mengalihkan pandangan ke arah lain sambil mengedarkan melihat suasana kafe cukup ramai di sore hari. Kafe ini tempat pertama Bumi mengajakku. Kenapa selalu menjadi kebetulan? Semoga dia tidak ada di sini. Batinku berharap.
" Kamu mau pesan apa?" Luna menyodorkan menu yang bulan lalu aku di buat bingung sikap Bumi yang menawarkan menu kafe yang sama.
Aku menerimanya dengan pikiran yang sama seperti dulu : aku tidak punya uang banyak, aku tidak bisa sembarang jajan !
" Kamu santai aja, aku yang bayar kok." Ucap Luna membuat mataku melotot dadakan.
__ADS_1
" Eh, gak perlu aku bisa bayar kok. Apalagi ini kafemu, tak baik minta gratisan karena sebuah pertemanan." Potongku sungkan.
Dia tersenyum.
" Udah tenang aja, karena kita berteman, aku gak mau membebani teman baruku ini untuk bayar makan disini, lagipula aku yang ajak kamu kesini."
Aku tersenyum ketir, bagaimana ini aku menerimanya. Semakin tidak enak saja.
" Hey, ayo pesan apa? Aku semakin gak enak nih kalau kamu sulit sekali untuk menerima traktiranku." Ucapnya memasang wajah sendu membuatku semakin tidak enak.
" Kamu tahu gak, di sini aku baru punya teman lagi tahu, selain pacar dan adikku. Aku ingin kita selamanya menjadi teman yang baik. Ya walaupun kita beda usia dua tahun, apa salahnya? Ya kan ? Ayolah..." Lanjutnya menyentuh tanganku.
Sejenak aku terdiam menimbang dalam pikiranku akhirnya aku mengangguk. Aku memilih beberapa menu yang harganya tak mahal, akan tetapi Luna menawarkan menu lain yang harganya cukup mahal, ia menggunakan alasan spesial untuk sebuah pertemanan. Aku hanya menghela nafas dan menerima saja.
" Baiklah,,, Ini untuk pertemanan kita. Kedepannya kalau aku punya uang, aku yang traktir kamu."
" Oke. Tapi tak perlu di paksakan. Aku senang berteman denganmu yang apa adanya." Luna menimpali sambil tersenyum.
Kami berdua menikmati menu kafe milik Luna. Disini memang makanannya enak dan suasananya menyenangkan. Kami saling mengobrol kesana kemari membuatku semakin tak canggung lagi.
" Mulai hari ini dan kedepannya, jangan ada lagi kata sungkan untuk pertemanan kita." Luna menyodorkan jari kelingkingnya di dekat wajahku sebagai tanda sepakat. Aku terdiam mencerna kalimatnya. Ini seperti Bumi kedua versi perempuan. Wajahnya yang selalu melambangkan keceriaan membuatku sebagai perempuan mendapat atmosfer kepercayaan diri. Ya seharusnya memang seperti itu, karena sifat cantik perempuan letaknya di hati yang baik dan wajah yang selalu tersenyum ceria.
Aku membalas senyumannya dan menautkan jari kelingkingku ke jarinya. Tanda janji walaupun tak terucap.
" Oya, aku boleh tahu... Kamu udah punya pacar?" Tanya Luna mulai mengorek urusan pribadiku.
Wajahku tiba-tiba melesu dan tersenyum ketir. Aku menggeleng.
" Oh, maaf... Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin tahu aja." Imbuh Luna.
" Gak apa-apa kok Lun, santai aja. Hehe..." Balasku sangsi.
Tak ada pertanyaan lagi yang di lontarkan Luna membuat kami melanjutkan makan di piring masing-masing. Hanya sebuah garpu dan sendok yang tak sengaja beradu beberapa kali di piring kami dan suasana kafe yang semakin ramai.
Tak berselang lama, seseorang datang menepuk pundak Luna. Aku yang menyadari sosok di samping Luna, sangat terperanjat. Begitupun Luna yang melihat ke samping siapa yang menyapanya.
" Eh, hai... Liona !" Sapa Luna dingin.
Aku menelan ludah, membisu melihat tatapan matanya yang tajam ke arahku.
Kenapa dia ada disini?
__ADS_1
***